
Vera berusaha memejamkan matanya agar bisa tidur.
Hanya hitungan menit akhirnya Vera tertidur pulas dalam pelukan An.
Pelukkan An mampu membuat hatinya nyaman dan aman.
Hari mulai pagi, An sudah bangun lebih dahulu lalu mencuci muka dan lanjut memasak.
An memang hidup sebatang kara, selain tampan An juga cekatan dalam segala hal, Dia juga pandai memasak lo.
Selesei memasak An langsung mandi lalu berpakaian rapi.
An mendekati Vera yg masih tertidur pulas di atas ranjang. Mengusap rambutnya lalu membangunkannya.
"Sayang, ayo bangun sudah siang lo." Tuturnya terdengar lembut di telinga Vera.
Perlahan Vera membuka matanya lalu merenggangkan tangannya, mengoyangkan kepala kekanan dan kekiri.
"Pagi Kak!" Sapanya dengan suara serak dan lirih.
"Kamu kok sudah rapi, apa kamu mau kerja hari ini?" Vera bertanya karena heran melihat An sepagi ini sudah rapi.
"Hari ini kan hari minggu jadi aku libur, sudah sana cepat mandi lalu ayo kita sarapan!" jawab An sambil membereskan tempat tidurnya.
"Aku masih mengantuk." Vera kembali membaringkan badannya karena enggan untuk bangun apalagi mandi.
"Kamu cewek jadi jangan malas bangun pagi, cepetan bangun atau aku akan mandiin kamu." An sengaja mengancam Vera agar Vera segera bangun dan mandi.
An menarik selimut yg menutupi tubuh Vera lalu mengangkat Vera dan menurunkan di kamar mandi.
"Cepetan mandi." Perintahnya.
An menutup pintunya lalu kembali membereskan tempat tidurnya.
An duduk sambil memainkan ponselnya, tak berselang lama Vera kembali dan berganti pakaian.
Vera merebahkan tubuhnya di pangkuan An.
Ia mengusap jenggot An yg masih terlihat tipis itu.
"Kak, kenapa kakak ngak punya kumis?" Goda Vera sambil tersenyum licik.
An menaruh ponselnya di meja lalu menundukkan pandangannya.
Dia tersenyum lalu mencium bibir Vera.
"Aku tidak suka punya kumis tebal, karena aku masih muda." Jawabnya.
An mengusap pipi Vera lembut lalu mengelus rambutnya.
"Bukannya cowok punya kumis itu keren dan terlihat lebih dewasa." tanyanya lagi.
"Kedewasaan seseorang bukan karena adanya kumis tebal tapi kedewasaaan orang itu di tunjukkan dari sini." jawab An sambil menunjuk pelipis kepalanya.
Maksudnya kedewasaan seseorang di tunjukkan dari pola berpikirnya bukan dari umur atau kumis tebal maupun tipis.
"He'em aku mengerti." Vera bangun dari pangkuan An dan duduk di sampingnya.
"Kakak tadi masak apa?"
"Kamu lihat saja di meja makan." Jawab An lalu menarik tangan Vera dan berjalan menuju meja makan.
"Wau.... pasti ini enak." Vera langsung mengambil nasi dan sup ayam kesukaannya.
Tanpa menunggu lama Vera segera menyendok dan memasukkan ke mulutnya, nyam... terasa enak di mulutnya.
Tadi An masak sayur sup ayam, bergedel kentang dan gurami goreng kesukaan Vera.
Masakan An memang cukup nyaman di lidah Vera. Vera yg tidak suka pedas langsung jatuh hati sama masakan An.
" Ternyata Kamu pinter masak juga ya." Vera tersenyum sambil memainkan matanya.
Vera kembali menyendoknya dan kembali mengunyahnya.
"Tidak juga, hanya sekedar bisa." Jawab An merendah.
An dan Vera asik menikmati makanannya, berbeda dengan Diandra dan Kafka justru sibuk memilih nama buat babynya nanti.
Setelah menemukan nama yg cocok akhirnya mereka pergi ke rumah Bu laila.
Diandra sudah lama tidak mengunjungi orang tuanya.
Sebelum pergi Diandra membeli oleh-oleh di toko Kue deket rumahnya.
Tidak lupa Dia juga membeli beberapa macam buah yg di bungkus cantik menjadi satu seperti parsel lebaran.
Diandra terlihat bahagia ketika akan berjumpa dengan kedua orang tuanya.
Sesampai di rumah Orang tuanya mereka langsung memberi salam dan masuk.
Ibu, Ayah dan Susana terlihat senang dengan kehadiran Diandra dan Kafka.
Dari pagi Ibu dan Susan sudah memasak khusus untuk menyambut mereka.
"Sayang, gimana kabar kamu dan Suami kamu?"
Tanya Bu Laila sambil mengengam tangan Diandra.
Matanya berbinar melihat wajah ceria Diandra dan berganti menatap Kafka secara bergantian.
"Sehat Bu, gimana kabar Ibu dan Ayah?" Balas Diandra dengan melirik ke arah Ayahnya.
"Ibu dan Ayah juga sehat Nak!" jawab Bu Laila.
Ayah yg dulu jutek dan dingin terhadap Diandra, kini Ayah justru terlihat hangat dan akrab sama putri dan menantunya.
Ayah dan Kafka duduk di halaman belakang sambil bermain catur.
Diandra dan Ibu Laila melihat ke akraban mereka.
"Bu, lihatlah Ayah dan Kafka, mereka terlihat akur ya." Vera memandang ke arah Ayahnya dan tersenyum lebar.
"Iya, Nak. Sekeras apapun hati orang tua, pasti akan luluh jika sudah pada waktunya. Dia tidak akan mungkin selamanya membenci mu, Karena pada dasarnya hati Ayah mu juga bisa baik, Semua berkat kesabaran mu, Nak." Jawab Bu Laila sendum
"Iya, Bu!"
Dari arah belakang Susana datang setelah selesei menata makanan di atas meja.
"Bu, sarapan sudah siap." Ucap Susana memberitahu Ibunya.
Diandra segera berdiri dan memangil ayah dan Suaminya untuk sarapan bersama.
Ayah yg dari tadi sibuk dengan caturnya akhirnya berdiri dan mengikuti langkah putrinya.
"Sayang, tadi ayah hampir saja menang tapi sayangnya kita keburu sarapan jadi ayah kalah lagi." Ucap Ayah sambil memasukkan nasi ke mulutnya.
"Sejak kapan ayah pernah menang, yang ada pasti Ayah kalah." Sahut Susana.
"Yah, kamu bikin bapak hilang selera aja." jawab Ayah.
Mereka tertawa ketika mendengar Ayah dan Anak itu berdebat karena beda pendapat.
Akhirnya Mereka bisa berkumpul bareng dan juga tertawa bareng. Hal yg dulu di rindukan Diandra kini terjawab sudah.
Mereka bisa menerima kehadiran Dianrda, itu semua berkat kesabaran dan kebaikan hati Diandra dan juga Raffa saat masih hidup dulu.
Diandra menghentikan aktifitasnya lalu mengusap bibirnya dengan tisu.
Dia melirik ke arah Ibu dan Ayahnya yg dari tadi bercanda.
"Ayah, Ibu, Aku hamil." ucap Diandra lirih dan pelan.
Ayah dan Ibu langsung berhenti mengunyah, menatap satu sama lain secara bergantian.
"Kamu hamil?" tanya Bu Laila terkejut tapi bahagia mendengar kehamilan Putrinya.
"Alkhamdulillah, Pak, kita mau punya cucu." Bu Laila sangat senang lalu memeluk suaminya.
"Bener Bu, kita mau punya cucu. Aku ngak sabar melihatnya, nanti cucu kita akan manggil kita Kakek dan Nenek, Bu." Ayah pun juga bahagia dengan berita itu.
"Nak, kamu hebat. Kamu pandai bikin mertuamu seneng, akhirnya usaha mu tidak sia-sia." Ayah mengusap punggung kafka lembut.
"Tentu dong, menantu siapa dulu, ayah gitu lo." jawab Kafka dengan percaya diri.
Mereka kembali tertawa mendengar jawaban Kafka.
Mereka sudah tidak sabar menanti kehadiran Kafka kecil. Kafka kecil pasti akan terlihat keren nantinya, perpaduan antara Kafka yg tampan juga Diandra yg cantik.
Huh,,, author aja ngak sabar lihat wajah si baby mereka nantinya.
Selesei makan mereka berkumpul di ruang tengah, Kafka dan Ayah kembali main catur.
Sedangkan para Bidadari sibuk menggosip.
Tiba-tiba Diandra pingin makan rujak.
"Bu, panas-panas gini pasti enak deh makan rujak." Diandra berucap sambil memainkan matanya berharap Ibu akan membuatkan rujak yg Ia pinginin.
"Apa kamu pingin rujak, ya sudah kalau gitu Ibu bikinin dulu ya." Ibu langsung beraksi dan siap mengulek bumbu rujak di bantu Susana.
Diandra hanya duduk sambil memandang gerakan tubuh Ibu dan Kakaknya.
Susana tidak mengizinkan adiknya melakukan pekerjaan apapun.
"Kak, apa kakak sudah punya cowok?" Tanya Diandra di sela kesibukan kakaknya.
Uhuk...Uhuk..Uhuk..
Susana langsung terbatuk saat Diandra bertanya mengenai cowok.
"Apaan sih kamu, aku masih kuliah jadi ngapain mikirin cowok, aku belum punya cowok tapi aku juga belum pingin cari cowok." Jawab Susana glagapan. Susana menundukkan pandangannya untuk menyembunyikan rasa malu.
Sejauh ini Susana lebih suka membantu Ibunya mengurus butik daripada harus mikirin cowok. Ia hanya ingin membalas semua kebaikan Ibunya yg selama ini Dia abaikan.
Air liur Diandra sudah mempenuhi rongga mulutnya, tidak sabar ingin cepat menyantap rujak buatan Ibunya.
"Huh,,, pasti enak deh rujak bikinin Ibu." Ucapnya sambil menelan ludahnya.
Susana membawa rujak itu di depan Diandra lalu menaruhnya di atas meja.
"Silahkan di makan Bumil muda." Goda Susana sambil menyuapi Adiknya.
"Gimana rasanya, enakkan?"
Nyam,,nyam,,nyam,,
"Enak banget kak, sueger puol pokoknya."Diandra benar-benar menikmatinya apalagi Susana yg menyuapinya.
Ayah dan Kafka hanya melihatnya dari kejauhan sambil tersenyum tipis.
"Lihatlah mereka, kalau sudah makan rujak sampai lupa kalau ada kita di sini." ucap Ayah sambil menepuk bahu Kafka.
"Iya Yah, Ayah pingin rujak juga?" Tanya Kafka.
"Aku tidak suka pedas jadi jarang makan rujak, ayo kita main lagi." Ayah memang suka main catur, sangat cocok sama Kafka yg memang suka main catur dari dulu.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
Semoga keluarga mereka selalu bahagia
Hai,,, kaka semoga kalian juga selalu bahagia supaya bisa terus baca karya aku
Jangan lupa like, rate dan vote ya, supaya author semakin semangat up-nya.