Terpaksa Menikahinya

Terpaksa Menikahinya
13.kafka sakit


"Sayang, aku pingin buang air kecil." Ucap Diandra.


Raffa mengangguk lalu membopong istrinya menuju kamar mandi.


Kembali ke kamar dan menidurkan istrinya di atas ranjang.


Raffa membaringkan tubuhnya di pinggir istrinya.


Memeluk sambil menyandarkan kepalanya di punggung Diandra pelan.


"Sayang." Panggilnya pelan dia mengubah posisi tidurnya dan kini ia terlentang.


"Iya." Jawabnya singkat


"Bolehkah aku bertanya." Balasnya ragu- ragu takut jika suaminya akan marah dengan pertanyaanya nanti.


"Tanyalah emang ada apa?" Jawabnya sembari mengecup kening istrinya lembut.


Diandra sedikit mendongakkan wajahnya sejajar dengan suaminya.


Menggigit bibirnya pelan dan memain kan jarinya sambil meliriknya pelan.


"Apa, apa Kafka itu adik, adik kandung mu?" Tanyanya gagap sambil memejamkan matanya erat dan menyatukan giginya rapat.


" Iya dia adik kandung ku, emang kenapa?" Tanya Raffa balik.


"Kenapa kau berfikir seperti itu apa karena soal kemaren?" Lanjutnya sembari menatap wajah istrinya dan tersenyum manis.


Deg..


Hati Diandra terasa tak karuan ternyata Raffa masih mengingat kejadian kemaren.


"Soal kemaren."Diandra mengulang katanya.


"apa dia tau jika kemaren Kafka mencium ku, matilah aku gimana ini kalau sampai dia beneran tau, apa dia akan menceraikan ku?" gumannya dalam hati.


"Tidak, aku cuma berpikir jika kalian bener bersaudara tapi kenapa sifat kalian berbeda, ya begitu maksud ku."jawab Diandra berbohong.


"Iya begitulah tapi kau jangan marah padanya. Sikap dia memang dingin dan tertutup tapi sebenarnya dia baik." Jelasnya


"Aku rasa dia pernah patah hati sama seorang gadis yg ia cintai tapi gadis itu meninggalkannya dan memilih laki laki lain. makanya sikap dia kaya gitu" Tambahnya.


"Ow..begitu ya." Diandra mengangguk dan diam sejenak mencerna setiap kata yg keluar dari bibir manis suaminya.


"Lalu kenapa kemaren dia mencium ku, apa wajah ku mirip dengan mantannya? Entalah hanya dia yg tau." Bisiknya dalam hati.


Diandra tidak tahu jika gadis yg Kafka cintai adalah dirinya karena selama ini Kafka tidak bisa bicara jujur tentang perasaanya.


"Sudah malam tidurlah."Ucap Raffa pelan lalu


meninggalkan kecupan mesra di kening dan bibir seksi istrinya.


*****


Di pagi hari Diandra bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan.


"Bi?" Panggilnya sopan.


"Iya Non, ada apa?" Jawab Bibi


"Apa Raffa sedang sakit, maksud aku kenapa Bibi tidak boleh masak pakai penyedap rasa?"tanya Diandra.


"Apa benar jika Raffa sedang sakit yg serius, bukan kah penyedap rasa itu bisa bikin oarnag punya penyakit kangker, tidak mungkin itu terjadi padanya mungkin emang dia hanya tidak suka saja sama penyedal rasa." Diandra mencoba menepis pikirannya itu.


Semenjak jatuh sakit Raffa tidak makan makanan yg mengandung msg karena dia benar mengidap penyakit mematikan.


"Kata Tuan, Tuan hanya ingin hidup sehat saja Non makanya Tuan tidak suka kalau saya masak ada penyedap rasanya."jawab bibi berbohong.


Diandra mengangguk mencoba percaya begitu saja tidak ingin berfikir aneh-aneh.


Kembali ke kamar untuk menyiapkan pakaian yg akan di kenakan suaminya ke kantor.


Lalu pergi mandi karena merasa tubuhnya lengket kena air keringat.


Kembali untuk berganti pakaian santai.


Dia melihat suaminya baru saja kembali dari ruang belajar.


"Kau sudah mandi?"tanya Raff sembari masuk kamar mandi.


"Iya baru saja selesei mand."


Raffa kembali dari kamar mandi memakai handuk putih yg terlilit di pinggangnya.


"Sayang, nanti kamu ikut sopir ke kantor ku ya."ucap Raffa yg sibuk barganti pakaian.


"Untuk apa?"jawabnya singkat.


"Biasanya Bibi yg mengantar makan siang ku, tapi kini aku sudah beristri jadi aku ingin istriku yg mengantarnya."


Diandra tersenyum sambil berjalan mendekati suaminya.


Membantu mengancingkan baju Raffa dan juga memakaikan dasinya.


"Terima kasih."Ucap Raffa dengan tangan memeluk pinggang istrinya.


"Kak, bolehkah aku kuliah lagi?"tanya Diandra yg memandang suaminya lekat.


"Tentu saja boleh, nanti aku akan mengurusnya."jawab Raffa, mencium kening istrinya lembut sebagai tanda cintanya.


"Terima kasih suami ku, i love you." Diandra tersenyum licik lalu memeluk suaminya manja.


Mereka keluar kamar dan melangkah ke ruang makan.


Diandra masih muda tapi dia cekatan dalam segala hal dan tidak malas


Dia sudah terbiasa mandiri dan bekerja keras sejak dulu.


Diandra menyiapkan makanan di atas piring suaminya dan menyiapkan untuk dirinya.


Raffa menyendok makanannya dan memasukkan kemulutnya.


mengunyahnya pelan dan anggun.


Diandra melihatnya dan tersenyum.


"Alkhamdulilah dia menelannya, berarti masakan ku enak."bisik Diandra dalam hati.


"Sayang?"panggilnya mesra.


"Iya."jawab Raffa


"Apa makanannya enak?"tanya Diandra.


"Iya enak, apa kamu yg masak."tanya Raffa balik.


"Aku tidak salah pilih istri ternyata kau pandai memanjakan lidah ku, terima kasih istri ku." Balas Raffa dengan senyuman manisnya.


Mengusap rambut Diandra pelan.


Diandra ketawa ringan mendengar ucapan suaminya.


Selesei makan Raffa pergi ke kantor diantar sopir pribadinya.


Diandra membantu Bibi membereskan meja makan.


"Nona sebaiknya kau istirahatlah biar Bibi saja yg beresin semuanya."ucap Bibi


"Tidak apa apa Bi, aku sudah terbiasa dengan pekerjaan ini."jawab Diandra.


Diandra masuk kamar dan duduk di sofa sambil memainkan hpnya.


Ada telepon masuk dari Rosi.


"Hallo, ada apa Ros?tanya Diandra.


"Apa kabar mu?"jawab Rosi.


"Aku sehat, kabar mu sendiri gimana?" tanya Diandra balik.


"Aku juga sehat. Gimana udah malam pertama belum?" Tanya Rosi sambil ketawa renyah.


"Menurut mu bagaimana, ngak usah bahas itu malu tau."jawab Diandra malu.


"Baik lah Nona Raffa, kapan- kapan aku mau main ke rumah mu bolehkah?"


"Tentu saja boleh."jawab Diandra.


"Ok, aku tutup dulu telponnya, da,,, ah."Rosi mengakhiri telponnya karena ada urusan lain.


******


Di tempat lain ada Kafka merasa tidak enak badan.


Wajahnya pucat, dia sempat pingsan di kantor.


Raffa segera membawanya ke rumah sakit.


Ada Mama dan Papa di rumah sakit menjaga Kafka.


Mereka sangat khawatir dengan keadaan Kafka walaupun Kafka hanya sakit deman biasa.


Terutama Mama, mama sangat khawatir tidak ingin putra keduanya mengalami sakit yg serius.


Diandra membawa satu rantang nasi komplit dengan sayur dan lauk pauknya.


Berharap suaminya menyukai masakannya.


Wajahnya terlihat sangat ceria ingin cepat sampai kantor dan menemani suaminya makan siang.


Sang sopir siap mengantar kemanapun Diandra pergi.


Diandra keluar rumah dan langsung masuk mobil.


Sang sopir mengemudikan mobilnya dengan santai.


Sopir menghentikan mobilnya di halaman kantor.


Diandra turun, dia kagum melihat kantor suaminya yg cukup besar dan mewah itu.


Mengambil hp nya dan menelpon suaminya.


"Hallo sayang." Sapa Raffa di seberang sana.


"Sayang, aku sudah di depan."jawab Diandra.


"Maaf sayang, aku lupa kasih kabar bisakah kau antar makanannya ke rumah sakit?"balas Raffa.


"Apa kamu sakit, sakit apa, trus sekarang gimana keadaan mu,rumah sakit mana?"Diandra membrondong dengan banyak pertanyaan khawatir jika suaminya kenapa- napa.


Raffa menjelaskan jika bukan dirinya yg sakit tapi Kafka lah yg sakit.


Dindra merasa lega dan kembali masuk mobil menuju rumah sakit.


Sopir menghentikan mobilnya di halaman rumah sakit.


Diandra turun dan langsung berjalan mencari ruangan Kafka di rawat. Masuk ke ruangan itu dengan langkah beratnya.


Ada Mama duduk di samping Kafka.


Raffa duduk di sofa dan papa sibuk masih sibuk memeriksa kondisi Kafka terkini.


Diandra ragu dengan langkahnya tidak ingin ia melihat Kafka tapi dia merasa tidak enak dengan suaminya. Raffa menghampirinya dan mengajaknya duduk.


Mama melihat kedatangan Diandra, dia berjalan menghampiri menantuny dan memeluknya hangat.


"Sayang, kamu datang."tanya Mama


"Iya ma, gimana keadaanya?"tanya Diandra sok perduli.


"Dia cuma kecapean saja dan badannya sedikit demam."jelas Mama.


Papa mendekati Diandra, bartanya kabar menantunya dan ngobrol ringan setelah itu papa kembali ke ruangannya.


"Ma, makan dulu ya tadi aku bawa makanan."ucap Diandra sembari membuka rantang yg ia bawa dari rumah.


Raffa dan Mama menikmati masakan Diandra.


Diandra menatap Kafka yg berbaring di atas ranjang rumah sakit sebentar lalu kembali menunduk.


"Sayang, kamu bisakan temani Mama sebentar di sini, nanti pulang dari kantor aku akan menjemput mu." Tanya Raffa.


Diandra diam sejenak sebenarnya dia tidak ingin lebih lama berada di rumah sakitsetelah apa yg Kafka lakukan kemaren.


Tapi Diandra tidak bisa menolaknya karena itu perintah suaminya.


Dia menyutujui saja ucapan suaminya itu meskipun hatinya ragu.


***


Jika kakak suka dengan ceritanya jangan lupa tinggalkan likenya ya.


jangn lupa komen dan tulis sarannya, vote dan rate 5 ya.


Jangan lupa mampir ke karya aku yg laen.


terima kasih🙏🙏🙏🙏🙏🙏