
Hari demi hari telah terlewati, siang dan malam telah berganti.
Diandra duduk di dekat kolam renang menikmati semilirnya angin di sore hari.
Wajahnya terlihat berseri dan terlihat bahagia.
Entah apa yg membuatnya bahagia yg jelas saat ini hatinya telah berbunga.
"Hai sayang." sapa seseorang dari kejauhan.
"Hai, kau ke sini, ada apa?"jawab Diandra terkejut lalu berdiri dan menghampirinya
"Kau terlihat cantik hari ini." tambahnya lalu memeluk Rosi.
"Benarkah? Kau juga terlihat cantik. Mana Suami mu?" Tanya Rosi.
Mereka kembali duduk di kursi panjang dekat kolam.
Bibi datang membawa minum dan beberapa cemilan lalu meletakkannya di atas meja depan mereka.
"Silahkan di minum Non. " ucap bibi lalu kembali ke dapur.
"Terima kasih Bi.'' jawab mereka barengan.
"Dari mana kamu tahu kalau aku tinggal di sini?" Tanya Diandra heran. Diandra tersenyum tipis memandang wajah ayu Rosi.
"Dari Kafka, Maaf ya kemaren aku tidak sempat menjengukmu waktu kamu sakit." jawab Rosi sendu sambil mengenggam tangan Diandra.
"Ah, tidak masalah toh sekarang aku juga sudah sehatan. Rosi, benarkah aku sudah menikah tapi kapan?" Tanya Diandra menyelidik. Dirinya belum juga percaya jika benar sudah menikah.
"Seingat ku kita tu masih sekolah, tapi kata mereka aku sudah menikah."Diandra mendekatkan wajahnya ke Rosi.
"Kau sedang apa? Kenapa menatap ku seperti itu?" tanya Rosi sedikit risih karena Diandra terus memlototinya.
Diandra menarik wajahnya dan kembali membenahkan duduknya.
"Tidak apa, aku cuma ingin tau saja." Jawabnya sambil memainkan bibir dan matanya.
Rosi heran dengan tingkah laku Diandra saat ini.
Rosi menaikkan alisnya dan melebarkan bola matanya untuk memperhatikan tingkah Diandra.
"Hei, apa kau baik-baik saja?" Rosi menepuk bahu Diandra pelan.
"Iya, aku baik-baik saja, memangnya apa aku terlihat sakit ?" jawabnya sinis.
"Rosi, kau belum jawab pertanyaan ku tadi?"
"Pertanyaan ya mana, soal kapan kamu menikah?" jawab Rosi yg hanya di angguk'i oleh Diandra.
"Kau dan Kafka sudah menikah beberapa bulan yg lalu, kata Kafka kepala mu terkena benturan yg cukup keras makanya kau hilang ingatan. Sudahlah jangan pikirkan apapun, yg harus kamu pikirkan sekarang adalah bagaimana melayani suami mu dengan baik, udah gitu aja." Jelas Rosi.
"Bagaimana aku harus melayaninya, Dia aja seperti orang asing bagi ku. Aku tidak tahu Ros, yg aku ingat hanya wajah Raffa." jawab Diandra sendu. Wajahnya kembali terlihat sedih saat mengingat wajah Raffa.
"Aku paham dengan keadaan mu, tapi Kak Raffa sudah meninggal, dan saat ini hanya ada Kafka yg selalu mencintai dan menjaga mu. Kamu harus bisa terima kenyataan kalau Kak Raffa adalah masa lalu mu sedangkan Kafka adalah masa depan mu. Kau harus berusaha bisa terima dia sebagai Suami mu." jelas Rosi dengan mengusap punggung tangan Diandra.
Diandra menarik nafasnya panjang dan menghempaskan kasar.
Wajahnya terlihat sendu saat menatap ke arah yg jauh entah ke mana.
"Entahlah Ros, aku masih tidak tahu dengan apa yg terjadi sama hidup ku." Jawabnya dengan pandangan kosong.
"Sudahlah jangan terlalu berfikir. Yakinlah jika semua akan baik baik saja.
Apa kamu tahu jika Kafka adalah orang yg paling mencintaimu, dia rela melakukan apapun asal kau bahagia. Kamu adalah wanita spesial dalam hidupnya. Dia sangat mencintai mu melebihi apapun yg ada di dunia ini. Kamu harus percaya dengan ketulusan hatinya dan kebaikan hatinya. Dia akan menjaga dan menyayangi mu dengan sepenuh hatinya, percayalah itu. Kau adalah wanita yg sangat beruntung karena bisa mendapatkan suami seperti dia yg tulus mencintai mu apa adanya bukan ada apanya." Rosi mencoba menjelaskan dan menenangkan hati Diandra agar mau menerima Kafka sebagai suaminya.
"Benarkah?" jawab Diandra singkat.
"Rosi, terima kasih ya karena kamu begitu baik pada ku, maaf jika selama ini aku selalu menyusahkan mu." Diandra menepuk dan mengusap punggung tangan Rosi.
"Sama-sama karena kamu adalah sahabat terbaik ku." Jawab Rosi.
Mereka menyesap minuman dan makan cemilan sambil menikmati semilirnya angin sore itu.
"Hai semua." Sapa Egi sambil berjalan ke arah Rosi dan Diandra.
"Apa kabar, Dra?" sapa Egi dengan gayanya yg sok cool itu.
"Aku baik, kamu siapa?" tanya Diandra heran karena ada pria masuk rumahnya dengan sok gaya.
"Diandra kenalkan Dia adalah calon Suami aku." Rosi memperkenalkan Egi dengan wajah bahagainya.
"Rosi, apa kamu mau menikah dengan pria brandalan seperti dia, lihat saja dandanan saja seperti anak nakal." Bisik Diandra lirih di dekat telinga Rosi. Waktu itu Egi pakai celana panjang yg sobek sobek gitu dan mengenakan jaket kulit berwarna hitam dengan anting besar di telinganya, kalung besar di lehernya dan gelang rantai di pergelanga tangannya. Bahkan
wajahnya di rias seperti anak band yg terlihat menyeramkan, bawah mata hitam dan bibir hitam dengan gaya rambut seperti anak pang.
Rosi tertawa mendengar bisikan Diandra.
"Kau ini bisa saja, Dia anak yg baik cuma tadi ada kegiatan di kampus jadi mau ngak mau dia harus dandan seperti ini." jawab Rosi terkekeh.
"Benarkah, tapi dandanannya tidak meyakinkan dan terlihat menyeramkan ." Jawab Diandra dengan pandangan sinisnya.
"Diandra, kau benar tidak mengingat cowok setampan diriku, itu sangat menyedihkan sayang." sahut Egi sambil menepuk kepalanya pelan.
"Bagiamana mungkin Istriku akan mengingat wajah jelek mu itu." Sahut Kafka dari dalam.
Kafka berjalan santai mendekati mereka.
"Hei, Tuan Kafka yg paling tampan kenapa kau menurukan semangatku buat menggombal. Kau ini benar benar tidak mengerti perasaan ku." Jawab Egi sambil makan cemilan.
"Hehe, siapa suruh kau mengombal sama istri orang." Ketus Kafka.
"Sayang, ayo kita masuk sebentar lagi gelap." Ucap Kafka.
Diandra masih Diam mematung sambil melirik ke arah Rosi.
Rosi tersenyum dan mengangguk yg menandakan jika Diandra harus nurut dengan ajakan Kafka.
Diandra pun mengangguk paham.
"Sayang, ayo kita pulang sebentar lagi malam, kayaknya di rumah ini juga ngak asyik karena Tuan rumahnya galak." Ucap Egi meledek.
"Kau ini, baraninya ngatain aku jelek." Ketus Kafka kesal lalu mengancungkan kepalan tangannya.
"Ayo sayang cepatan." ucap Egi lalu menarik tangan Rosi.
"Kalian ini kenapa sih kalau bertemu seperti kucing sama tikus bertengkar terus." jawab Rosi kesal.
Rosi memeluk Diandra dan tersenyum tipis.
"Diandra, aku pulang dulu ya." pamit Rosi.
"iya, hati-hati di jalan, sering-sering datang ke sini ya." Jawab Diandra lalu membalas pelukannya.
"Tentu saja, kalau ada waktu luang aku akan ke sini lagi."
Rosi dan Egi lalu pulang dari rumah Raffa, kini Diandra dan Kafka naik ke lantai dua.
Diandra masuk ke kamarnya dan duduk di samping ranjang.
Kafka mandi karena baru pulang dari kantor.
Kafka menguyur tubuhnya dengan air hangat.
"Sayang, tolong ambilkan aku handuk." teriak Kafka dari dalam kamar mandi.
Diandra berdiri dan mengambilkan handuk untuk Kafka sambil ngedumel.
"Dasar cowok aneh, kenapa juga harus lupa bawa handuknya dasar pikun, bagaimana nungkin aku punya suami yg pikun kaya dua, huh...." Ucapnya lirih.
"Buka pintunya dan ini handuknya." ucap Diandra kesal.
Kafka membuka pintunya dan tersenyum licik sambil menaik turunkan alisnya.
"Terima kasih sayang." Jawab Kafka yg hanya di pelototi sama Diandra.
ππππππππππ
Habis baca jangan lupa πlike, komen dan βrate5, syukur-syukur kalau mau kasih votenya ππ
Mampir juga di novel aku lainnya.
β₯οΈAku & Maru ku
πLove in Facebook.
πΉTujuan Hidup
ππππππππππ