
Sudah sekitar seminggu Diandra di rawat di rumah sakit.
Pihak rumah sakit sudah memperbolehkan Diandra pulang.
Kafka ingin mengandeng Diandra menuju mobilnya, namun Diandra menolaknya.
Diandra lebih memilih berjalan bersama Vera.
Kafka hanya bisa menghela nafasnya dan tidak ingin menyerah.
"Sayang, kau bisa duduk di dekat ku?" Kafka berharap kali ini Diandra tidak menolak
ajakkannya.
Diandra menggelengkan kepalanya dan menolak ajakkan Kafka.
"Maaf, aku duduk di belakang sama Vera saja, kau bisa duduk bersama Tuan An." Jawab Diandra lalu masuk dan duduk di bangku belakang bersama Vera.
Mobil Vera di bawa Han dan mobil Han di bawa sama Papa.
Kafka hanya mengangguk tanpa memprotesnya.
Ingin rasanya Kafka memeluk dan mencium Diandra, namun Ia berusaha menahan keinginannya itu.
An mengemudikan mobilnya dengan kencang, karena Kafka telah memerintahnya agar cepat sampai apartemen.
An menghentikan mobilnya di depan gedung apartemen Kafka.
Vera mengandengnya menuju kamar apartemen, sedangkan Kafka dan An membututinya dari belakang.
Mama dan papa sudah pulang duluan.
"Ini apartemen mu, kamu tinggal bersama Kak Kafka di sini." Vera menunjukkan ruangan dan kamar apartemen Kafka.
Diandra memoncongkan bibirnya dan hanya manggut-mangut saja mendengar ucapan Vera.
Mata Diandra menyapu setiap sudut ruangan.
"Vera, apa kau juga tinggal di sini?" tanya Diandra sambil melihat foto dia dan Kafka saat menikah.
"Tidak, aku tinggal di rumah Mama sekarang. ow,, ya, maaf aku harus pergi karena hari ini aku ada syuting." Ucap Vera lalu menyeret tangan An keluar dari apartemen.
Mereka berjalan cepat agar Diandra bisa berduan dengan Kafka.
"Non, kenapa jalannya buru-buru." tanya An dengan senyuman manisnya.
"Kau tidak perlu tau, yg penting kita bisa lolos dari mereka." jawab Vera yg membuat An bertanya-tanya.
Mereka sudah berada di dalam mobil.
Vera memang sengaja menyuruh An membawakan mobilnya.
An hanya tersenyum sumringah karena Vera masih memegang tangannya.
"Nona sangat imut kalau kaya gini." ucap An lirih.
Vera memandang An sayup dengan memincingkan telinganya
"Barusan Kak An bilang apa?" Tanya Vera yg tak begitu mendengar dengan jelas tentang omongan An.
Vera tersenyum tipis saat An mengusap pipinya.
Wajah Vera berubah semu merah karena malu.
"Nona sangat cantik dan imut saat ini." jawab An dengan tatapan mata yg membuat hati Vera terpanah asmara. Senyuman An membuat jantung Vera berdegup kencang.
"Terima kasih." tanpa rasa malu Vera langsung memeluk An hangat.
Vera merasa nyaman saat ada di dekatnya.
Perasaan itu muncul begitu saja tanpa dia sadari, entah itu rasa cinta atau hanya sekedar kagum saja, yg jelas Vera merasa bahagia saat itu.
Jantung An seperti ingin copot saat Vera memeluknya. Bukit kenyal terasa menyentuh di dadanya, An merasa tidak tahan lagi dengan api yg membara di dalam hatinya.
An membalas pelukannya dan mencium bi*ir Vera lembut.
Tak ada perlawanan atau penolakan dari Vera.
Vera begitu menikmatinya dan membalas ciuman An.
kemesraan mereka langsung buyar begitu saja saat ada orang membunyikan klakson mobil dari belakang.
An kembali duduk dan menata nafasnya
Bagian bawa An semakin menegang tapi An berusaha menahannya.
Vera duduk tegak dan membenahkan riasannya.
Vera merasa malu karena sudah melakukan hal bodoh itu bersama An.
"Maaf, jika aku sudah kebablasan." An merasa bersalah telah membuat Vera malu.
An menutup matanya erat dan mengusap wajahnya dengan telapak tangannya.
Vera hanya mengangguk menahan malu.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️
Kafka memeluk Diandra dari belakang dan menciumi rambutnya.
Ia sudah lama merindukan pelukan itu, pelukan yg begitu lembut dan hangat. Kafka tak sanggup jika harus jauh darinya.
"Sayang, kamu mau makan apa?" tanya Kafka
Diandra melepaskan pelukannya karena merasa risih dengan sikap romantis Kafka.
Diandra membalikkan badannya dan berjalan mundur agak jauh dari Kafka.
"Maaf, jangan perlakukan aku seperti itu, aku merasa risih dengan sikap mu." jawab Diandra
"Baiklah aku akan jaga sikap ku, lalu kamu mau makan apa, biar aku masakin." Kafka kembali bertanya dan tersenyum tipis.
Kafka tak sanggup jika harus seperti itu.
Kafka seperti orang asing bagi Diandra, namun Kafka berusaha sabar demi mengembalikan ingatannya.
Diandra duduk di kursi ruang makan sambil melihat punggung Kafka yg terlihat sibuk memasak.
Diandra berdiri dan mendekati Kafka.
"Bolehkah aku membantu mu, sini biar aku yg mencuci ikannya?" Diandra mengambil ikan yg di pegang Kafka.
Senyumannya membuat hati Kafka sedikit lega dan tenang.
"Terima kasih." jawab kafka dengan senyuman dan pandangan yg sumringah, bisa sedekat itu saja sudah bahagia apa lagi jika Diandra sudah ingat semuanya, hati Kafka pasti jauh lebih bahagia.
"Apa setiap hari kamu yg memasak, jika aku istrimu lalu aku ngapain aja di rumah ini? Bisa kah kau jelaskan semua kegiatanku di sore hari seperti ini?" Tanya Diandra berusaha mencari tau tentang dirinya yg sebenarnya.
Kafka menjelaskan semua hal yg di lakukan Diandra setiap hari tanpa ada yg terlewatkan.
Kafka begitu antusius menceritakannya berharap Diandra akan mengingatnya walau hanya sedikit saja.
Mereka sudah selesei memasak dan mulai menikmati hasilnya.
Diandra terlihat menyukai masakan Kafka.
"Masakanmu lumayan enak juga." Ucap Diandra sambil menikmati ikan goreng kesukaanya.
"Terima kasih, ini adalah makanan kesukaanmu." jelasnya.
Kafka tersenyum melihat Diandra yg menikmati masakannya dengan lahap.
"Selesei makan mandilah biar aku yg membereskan semuanya." tambahnya yg hanya di angguk'i Diandra.
kafka membereskan bekas makannya, sedangkan Diandra pergi ke kamar mandi.
Setelah Semua beres Kafka kembali duduk di sofa depan tv.
Diandra kembali dan ikut duduk di samping Kafka.
Diandra hanya diam mematung enggan untuk berbicara.Ia menatap wajah Kafka lekat.
Ingatannya masih terlihat samar, namun perlahan Diandra mulai mengingatnya.
"Kafka, apa benar kalau kita sudah menikah?" Tanyanya yg masih tidak percaya dengan pengakuan Kafka.
kafka tersenyum dan mengangguk lalu pergi meninggalkan Diandra.
Tak berselang lama Kafka kembali membawa buku surat nikah dan menunjukkannya ke Diandra.
Diandra mengambilnya dan membukanya.
Memang benar di sana ada foto dan namanya.
Diandra diam dan menaruh buku surat nikah itu di pangkuannya.
"Iya, benar ini ada foto dan nama aku, lalu kenapa aku tidak mengingatnya?" Diandra masih binggung dan berusaha mengingatnya.
Kepalanya terasa pusing saat brusaha mengingat kejadian masa lalunya.
🤕🤕🤕🤕🤕🤕🤕
Kakak" jangan lupa bantu like, vote dan rate ya.
Jangan lupa juga mampir di karya aku lainnya.
🙏🙏🙏