Terpaksa Menikahinya

Terpaksa Menikahinya
83 . Final


Masih ada waktu untuk bernegoisasi, Mereka masih berfikir keras untuk bertukar posisi.


Entah apa rencana mereka selanjutnya. Yg jelas hanya mereka yg tau kita para pembaca akan tau setelah membaca hingga akhir.


Tubuh An dan Denis terlihat tegang hingga peluh keluar bercucuran melewati lekukan tubuhnya. Mereka diam tertunduk sembari meremas jemarinya dan mengoyangkan jempol kakinya demi menutupi kegugupannya.


Papa duduk tegap dan menatap tajam para calon menantunya. Entah apa yg di pikirkan Papa saat itu, karena dari raut wajahnya terlihat menyeramkan bagaikan singa ingin menerkam mangsanya. Mama sebagai penengah hanya bisa memantau gerak gerik Papa agar tidak terlalu keras kepada mereka.


Vera dan Iffa juga merasakan ketegangan yg luar biasa saat itu, suasana terlihat hening dan menegangkan. Iffa dan Vera menatap mereka bergantian seolah banyak pertanyaan yg ingin ia tanyakan. Iffa dan Vera siap menjadi pendengar dan juga penonton yg setia.


Diandra dan Kafka duduk di tempat berbeda ingin mendengar pembicaraan mereka, rasa penasaran yg luar biasa tertanam di benak mereka.


Kafka duduk santai sambil menikmati kripik melinjo yg ada di depannya di temani secangkir teh hangat buatan Bibi.


"Apa yg ingin kalian bicarakan lagi, katakan sekarang." Suara Papa terdengar lantang dan jelas. Tatapan tajam membuat An dan Denis seakan seperti tersangka yg ingin di introgasi


"Maaf Tuan, sebelumnya saya dan Vera sudah berunding lebih dulu. Saya belum bisa menikahi Vera dalam minggu ini, saya minta waktu kurang lebih dua bulan lagi untuk menikahi Vera." Ujar An.


"Iya Pa, lagian saya kan masih ada kontrak kerja yg harus saya seleseikan dulu, dalam arti kita masih ada kesibukan lain, jadi saya dan kak An minta waktu dulu buat ngurus semuanya." Sahut Vera dengan nada bicara lirih.


"Lalu bagaimana dengan mu, Denis?" Papa bukan menjawab pertanyaan Vera dan An, malah melempar pertanyaan ke Denis.


"Kalau saya justru ingin cepat menikahi Iffa, Om. Karena umur saya kan sudah lebih dari cukup. Saya tidak ingin lama-lama pacaran. Jika Om setuju saya akan nikahi Iffa dalam waktu dekat ini." Jawab Denis dengan lantang.


Papa kembali memutar otaknya setelah mendengar pengakuan dari para calon menantunya. Bagaimana bisa semua persyaratan yg Papa ajukan justru ditentang mereka karena syarat dari Papa terus kebalik menurut mereka.


"Aku bingung sama kalian, kenapa semua jadi ketukar posisi seperti ini? Ujar Papa.


"Dari pada pusing dan biar lebih adil, maka saya mewajibkan kalian untuk nikah bareng saja. Vera, nanti aku akan panggil Pak De kamu untuk jadi Wali kamu. Ini keputusan Papa dan tidak bisa di ganggu gugat lagi.


Jika ada salah satu kalian yg keberatan maka lamaran kalian saya tolak dan kalian tidak boleh menikahi putri-putri saya. Apa kalian mengerti." Seru Papa keras sembari menunjuk An dan Denis.


Ini adalah keputusan Papa yg wajib untuk di patuhi dan tidak bisa lagi di ganggu gugat. Mau tidak mau ya harus mau, namanya saja wajib. Ok,,, pada akhirnya mereka setuju dengan syarat terakhir Papa, walaupun masih ada salah satu dari mereka yg masih mengganjal tidak setuju.


Apa boleh buat, dari pada tidak boleh menikahi pilihan mereka, ya lebih baik pasrah saja.


Keputusan telah final dan kini tinggal menyusun rencana untuk hari pernikahan yg akan di selenggarakan semingu lagi.


Mama mulai sibuk mempersiapkan segalanya di temani putri-putri nya dan menantunya.


Kebahagian terpancar jelas di wajah Mama.


Ini adalah kado pernikahan yg terindah semasa hidupnya.


Putri-putrinya akan segera menikah dan sebentar lagi Mama juga akan menimang cucu dari menantunya yaitu Diandra.


Diandra dan Kafka hari ini menginap di rumah orang tua Kafka.


Diandra bersandar di bahu suaminya merasakan kehangatan yg selama ini Ia rindukan. Kafka melingkarkan tangannya di pinggang sang Istri, sesekali Ia mengecup kening Istrinya lembut.


Entah karena Ia sangking cintanya sama Suami atau karena bawaan Si jabang bayi.


"Sayang, aku laper!" Ucap Diandra manja.


"Kamu tunggu sini ya biar aku belikan kamu makan, emang kamu mau makan apa?" Tanya Kafka.


"Ehm,,, aku pingin makan ketoprak di pinggir jalan itu." Jawabnya memelas.


Akhirnya Kafka dan Diandra keluar rumah mencari pedagang Ketoprak yg ada di pinggir jalan dekat rumah Papa. Ternyata keberuntungan berpihak padanya.


Abang penjual ketoprak itu masih ada di situ.


"Pak, satu porsi makan sini ya." Ucap Kafka memesan ketoprak sama Abang penjual ketoprak.


"Iya Mas, tunggu sebentar." Jawabnya.


Sambil menunggu ketoprak jadi, Kafka dan Diandra berbincang lirih untuk menutupi rasa bosennya karena lama menunggu.


Kebetulan para pembeli cukup ramai saat itu.


Satu porsi ketoprak pedas siap untuk di santap. Kafka menyuapi istrinya dengan telaten. Iya itulah bentuk perhatian yg di tunjukkan oleh Kafka untuk istrinya.


Semua mata melihat penuh kekaguman dan iri karena melihat kemesraan mereka.


Selesei makan mereka kembali Ke kamar untuk meistirahatkan tubuhnya.


Dalam sekejap mata mereka bisa terlelap tidur.


Iffa dan Vera malam ini berencana tidur sekamar di kamar Iffa. Mereka sibuk memilih gaun pengantin yg akan di kenakan di acara resepsi pernikahannya yg akan di selenggarakan seminggu lagi.


Untung selera mereka tidak terlalu berbeda jauh, jadi mereke memilih dengan cepat tanpa ada perdebatan.


Mereka sepakat memilih gaun pengantin berwarna putih dengan manik di dadanya.


Meskipun putih polos tapi tetap terlihat mewah dan elegan.


Apa lagi yg memakai gadis-gadis cantik seperti mereka, sudah pasti akan terlihat mewah dan cantik.


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


Jangan sampai ketinggalan ya, sebentar lagi tamat lo....


Mampir juga di Novel terbaru aku


"Cowok pecemburu"