
Suasanapun kembali hening dan terasa sangat canggung.
Mereka saling melempar pandangan dan senyuman, menunggu siapa yg akan memulai pembicaraan.
Kafka menggengam tangan Diandra sambil menganggukan kepalanya, bertanda jika Diandra lah yg harus bisa mencairkan suasana.
Diandra mengangguk dan paham dengan bahasa tubuh Kafka.
"Rosi, gimana kalau besok kita jalan. Kita kan sudah lama tidak pergi bareng." ucapnya yg di hiasi senyuman bahagianya.
Rosi mendongakkan pandangannya. Ia menatap sorot mata Diandra dengan hati yg berkecambuk tak karuan, antara senang dan sedih bercampur jadi satu.
"Iya, boleh." jawab Rosi singkat mencoba berdamai dengan hati.
"Besok aku akan mengajak jaka sekalian."
Rosi kembali menyesap jus orange untuk menutupi rasa canggungnya.
"Ide bagus itu. Baiklah besok aku yg jemput kamu ya." balas Diandra tersenyum sambil meremas tangannya di bawah kolong meja.
Hatinya merasa lega, setelah kata maaf terucap dari bibir Rosi.
"Diandra, aku harus pulang karena masih banyak tugas kuliah yg belum aku seleseikan." Rosi segera berdiri dari duduknya dan mendekati Diandra.
Memeluk tubuh Diandra erat sambil berucap kata manis.
"Aku menyayangimu." bisiknya lirih di telinga Diandra.
"Aku juga menyayangi mu, karena kita kan teman." jawab Diandra diiringi dengan tetesan air mata.
Rosi mengangguk dan menyeka air matanya. Ia sedikit memaksakan senyumannya, karena sejujurnya Ia ingin sekali menjerit dan menangis melihat pertemuan yg mengharukan ini.
Rosi segera melangkahkan kakinya dan pergi meninggalkan apartemen Diandra.
"Terima kasih Tuhan, kau masih berikan aku kesempatan kedua untuk menebus semua kesalahanku. Terima kasih Egi, kau adalah pria yg selalu menyadarkankan ku di saat aku berada di jalan yg salah." ucapnya dalam hati.
Hatinya merasa lega setelah meminta maaf sama sahabat kecilnya.
Perasaan yg tk bisa di gambarkan dengan apapun, ini suatu kebahagian yg luar biasa bagi Rosi.
Rosi mengemudikan mobilnya kencang menuju rumah Egi.
Ia tak sabar ingin menceritakan semua kebahagian yg Ia rasakan saat ini.
Ting... tong...
Rosi segera menekan tombol bel rumah Egi.
Ia tersenyum tipis sembari menata nafasnya dan membenahkan riasannya yg sedikit berantakan.
Kreekk...
Tak berselang lama Egi membuka pintu.
Egi terkejut melihat kedatangan Rosi yg tiba tiba.
"Sayang, tumben kamu ke sini di siang bolong seperti ini, ada apa?" Tanya Egi menyelidik sembari menyunggingkan senyumannya.
"Maaf, apa aku menganggu mu." Jawab Rosi ragu-ragu.
"Tentu saja tidak, ayo masuk." Egi menarik pergelangan tangan Rosi pelan lalu mengajaknya duduk di ruang tamu.
Mereka duduk sejajar bahkan tak ada sela di antara mereka.
" Apa kau ada masalah?" tanya e
Egi penuh kecurigaan.Tangan Egi mengusap pipi sembab Rosi dengan pelan.
"Iya, terima kasih kamu sudah menyadarkan ku. Aku dan Diandra sudah baikan." ucapnya antusias yg di iringi senyuman indahnya.
"Benarkah? Syukurlah kalau begitu. Aku tidak salah memilihmu sebagai kekasihku." Jawab Egi lalu mencium punggung tangan Rosi.
Rosi menundukkan pandangannya karena merasa geli dengan sikap Egi yg sok romantis itu.
"Hei, aku berbicara pada mu, kenapa kau malah menunduk begitu." Egi segera mengangkat dagu Rosi pelan hingga dekat dengan wajahnya.
"Rosi, maukah kau menikah dengan ku?" Tanya Egi serius dari dalam hati.
Mata Rosi terbelalak tak percaya. Rasanya seperti habis dapat undian emas sekarung.
Ia merasa bahagia bercampur aduk tak karuan.
"Apa kau serius ingin menikahiku?" Tanya Rosi tak percaya sembari mengerutkan keningnya.
"Tentu saja aku serius. Papa memintaku untuk segera menikahi mu."
"Apa..! Papamu yg menyuruh." tegas Rosi sedikit menaikan suaranya.
Egi hanya mengangguk yg di ulasi dengan senyuman seriusnya.
"Minggu depan aku dan Papa akan melamar mu?" Ucap Egi tegas.
"Apa minggu depan, sungguh ini tak bisa ku percaya. Apa aku akan menikah muda seperti Diandra dan Kafka. Aku bahagia tapi aku juga ragu, apa mungkin aku bisa mengurus suamiku nanti." Batin Rosi ragu dan tak percaya dengan ucapan Egi.
"Egi, aku akan bicarakan ini sama Mama ku dulu."Jawab Rosi.
"Iya, aku yakin Mama mu pasti setuju." Jawab Egi percaya diri dan sedikit menaikkan alisnya.
"Mana mungkin ada seorang ibu yg menolak pria setampan diriku untuk menjadi menantunya hehehe..!"
"Terserah kamu ajalah 😏." jawabnya
🙏🙏🙏🙏🙏
Sesampai di rumah Rosi segera mencari keberadaan Mamanya. Ia menceritakan semuanya tanpa ada yg terlupakan.
Tentu saja Mamanya setuju, karena Mama Rosi dan Ayah Egi sudah saling kenal, bahkan mereka satu sekolah sewaktu masih SMA.
"Apa, kenapa Mama langsung setuju begitu saja. Ma, aku kan masih kuliah, Lalu bagaiman dengan kuliahku?" Tanya Rosi tak percaya dengan jawaban Mamanya.
"Sayang, kamu masih bisa tetap kuliah kok, walaupun kamu sudah punya anak." jelas mama menggoda putri kesayangannya.
"Tapi Ma...!"
"Eh,,,tidak boleh membantah. Apa kamu mau kehilangan Egi." Sahut mama memotong pembicaraan Rosi.
Rosi hanya pasrah begitu saja dengan keputusan mamanya.
"Terserah Mama !" bengisnya lalu meninggalkan Mamanya dan masuk kamarnya.
"Mana mungkin aku rela jika Egi harus pergi meninggalkan ku." batinnya
Sesampai di kamar Rosi segera membanting tubuhnya di atas ranjang dengan kasar.
"Aku akan menikah lalu punya anak. OMG...
apa hidupku akan berhenti berputar setelah aku menikah nanti?" Rosi mengacak rambutnya kasar lalu menguling gulingkan tubuhnya di atas ranjang.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Sayang ." panggil Diandra mesra.
"Heem..." Jawab Kafka tanpa menoleh dan masih sibuk mantengin laptopnya.
"Sayang...!" panggilnya lebih mesra.
Kafka segera menghentikan aktifitasnya lalu menutup laptopnya.
Kafka mengerutkan alisnya dan menatap istrinya dengan tatapan mesumnya.
kafka segera mencium bibir istrinya lembut.
"Apa kau berusaha mengodaku." tanya Kafka lalu mengigit leher Diandra.
"Tidak,.aku hanya ingin kau yg mengodaku." Jawabnya sambil mengigit bawah bibirnya.
Kafka membopong tubuh Diandra lalu menidurkannya di atas ranjang.
Kafka mulai memainkah lidahnya
dengan lincah.
Diandra hanya pasrah dengan aksi buas suaminya.
Diandra pun ikut larut dalam permainan kafka.
Perlahan tapi pasti, tangan Kafka mulai bermain lincah kesana kemari menikmati setiap lekuk tu*uh Istrinya.
Dalam sekejap pakain mereka terhempas begitu saja ke lantai.
Hanya sebuah selimut tebal yg menutupi tu*uh mereka.
Kafka tak ingin melewatkan kesempatan ini.
Ini adalah pertama kalinya ia menikmati indahnya malam pertama bersama orang yg sangat dicintainya.
Ia tak menyangka jika nikmatnya malam pertama bisa melupakan segalanya.
Yg ada hanya rasa nikmat yg tiada duanya.
Bahkan dunia terasa milik berdua, yg lain hanya numpang 😁😁
Kafka menyudahi aksi gilanya setelah merasa puas dan kehabisan tenaga.
Diandra segera membersihkan badannya setelah selesei beraksi, begitu juga dengan Kafka.
Kini mereka sudah kembali tiduran di atas ranjang.
"Aku leleh." Ucap Diandra lalu memiringkan badannya dan memeluk suaminya.
"tidurlah kalau begitu." jawab kafka
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
sore pun telah tiba namun dua si joli ini masih terbenam dalam hangatnya selimut tebal itu.
Enggan rasanya untuk keluar dari selimut itu.
Rasa laparpun tak mampu mengoyakan tidurnya.
Mereka masih terlelap dalam tidurnya hingga matahari terbenam.
Diandra membuka matanya perlahan.
"Astaga, sudah malam." Diandra terkejut dan segera melompat dari atas ranjang.
Ia segera mandi dan melakukan kewajibannya.
Yg di ikuti dengan Kafka.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️
Terima kasih kaka sudah setia mengikuti setiap episode novel aku.
Jangan lupa mampir ke novel aku yg lainnya ya.
🙏🙏🙏