
"Maafkan aku, maafkan aku sayang, aku sudah tidak jujur padamu. Adik mu sendirilah yg menyukai ku lalu apa kau akan membunuhnya?"ucapnya dalam hati.
\_\_\*\*Jam 00.00\*\*\_
Hingga larut malam Diandra masih terjaga dari tidurnya.
Memiringkan tubuhnya hingga sejajar dengan suaminya.
Menatap wajah Raffa yg sudah tertidur pulas.
Diandra tak sanggup jika harus berpisah dengan suaminya.
Raffa telah menjaga dan menyayanginya dengan tulus tanpa lelah.
Dia telah membuat kehidupannya berubah hingga bisa merasakan kebahagian yg sesungguhnya, semua itu karena suaminya.
Diandra ingin berkata jujur pada suaminya namun ia takut jika hubungan adik kakak itu akan berantakan karenanya.
"Maafkan aku sayang, aku telah menjadi orang yg paling berdosa di dunia ini. Aku telah membiarkan perasaan itu tumbuh di hatinya. Aku telah menghianatimu, ku mohon maafkan aku." ucapnya dalam hati dengan tetesan air matanya yg jatuh bercucuran.
Butiran bening telah jatuh dari pelupuk matanya. Dia tak sanggup membendung dan menahan rasa bersalahnya.
Dia selalu menyalahkan dirinya, seandainya dia tidak hadir di kehidupan mereka maka semua tak akan serumit itu.
Hingga pagi menjelang Diandra masih belum bisa memejamkan matanya.
Wajahnya terlihat sembab dan matanya bengkak, Diandra pergi membasuh mukanya lalu sholat. Dia berdoa memohon agar Allah memberikan jalan yg terbaik untuknya.
Ketika mata Raffa terbuka ia tak menemukan sosok istrinya, Ia memilih sholat dulu sebelum mencari istrinya.
Selesei sholat Raffa pergi keluar menuju dapur.
Dia melihat istrinya sibuk memasak bersama Bibi.
Raffa merasa lega dan kembali tersenyum sambil duduk di kursi makan.
Diandra tak menyadari jika suaminya sudah duduk di belakangnya dan memperhatikannya.
Semua sudah siap, giliran Diandra menatanya di atas meja makan.
Dia tersenyum ketika melihat suaminya sudah duduk di situ.
"Sayang,, kenapa kau di situ, bukannya kamu harus bersiap." Tanya Diandra yg masih sibuk menata makanan di atas meja.
"Aku akan bersiap setelah kamu selesei menata makanan ini."jawab Raffa.
"Jangan manja Tuan,, ingatlah umur mu itu, hehe..." Balas Diandra sambil tertawa ringan.
"Umur boleh tua Nona tapi jiwa tetap masih muda." Balas Raffa licik.
"Tapi tetep saja kamu sudah om- om, ya ampun kenapa aku harus menikah dengan om-om setampan dirimu."
Raffa dan Bibi ikut tertawa mendengar ucapan Diandra.
Diandra dan Raffa kembali ke atas. Diandra masuk kamar mandi untuk membersihkan badannya.
Raffa menyiapkan beberapa pakaian yg akan di bawa ke Negari seberang.
Diandra sudah terlihat rapi, mendekati suaminya dan membantu mengancingkan bajunya.
"Sayang,, berapa hari kamu di sana?"
"Tidak sampai seminggu, aku pasti akan cepat kembali. Selama aku pergi jaga dirimu, jangan sampai nakal, jaga hatimu untukku." Pesan Raffa
lalu memeluk dan mencium kening istrinya mesra.
"He'em,, pasti aku akan menjaga hatiku, kau juga jangan nakal di sana. Sering- sering menelpon ku, aku pasti akan merindukan mu." jawab Diandra sedih.
Diandra merasa sedih karena ini pertama kalinya ia harus jauh dari suaminya.
Sebenarnya Raffa ingin mengajaknya namun Mama melarangnya. Mama tak ingin membuat hati menantunya bersedih.
Raffa pergi bukan karena pekerjaan tapi ia pergi hanya ingin memeriksakan kondisinya.
"Sayang,, maaf aku tidak bisa mengantar mu ke Bandara karena hari ini aku ada kuliah pagi." ucap Diandra.
Diandra baru masuk kuliah sekitar seminggu yg lalu jadi tak mungkin jika ia akan cuti kuliah.
"Tidak masalah. Fokuslah belajar dan jangan khawatirkan aku, aku akan baik baik saja."jawab Raffa .
Selesei bersiap mereka kembali ke ruanga makan. Diandra tidak ingin makan karena perutnya masih terasa kenyang.
Dia sangat cemas di tinggal suaminya pergi.
Dia takut jika Kafka akan sering datang ke rumah menemuinya. Pikirannya semakin tak tenang dan gelisah memikirkan Kafka.
"Sayang,,, kenapa kamu tidak makan? Apa kau memikirkan sesuatu?" tanya Raffa sembari mengusap rambut istrinya lembut.
"Aku tidak apa-apa, aku hanya memikirkan mu. Aku pasti akan merindukan mu."jawab Diandra berbohong.
"Jangan terlalu khawatir aku akan menelpon mu setiap jam agar kau tak kesepian, bahkan kalau bisa setiap menit."balas Raffa.
Selesei makan mereka pergi meninggalkan rumah. Mereka di antar Han pergi ke Bandara.
Diandra menyandarkan kepalanya di dada suaminya dengan wajah sendu.
Raffa melingkarkan tanganya di atas pundak istrinya.
Mengusap rambutnya pelan lalu menciumnya lembut.
"Sayang,, maafkan aku." Ucap Diandra.
"Maafkan aku jika aku pernah menyakiti mu tapi percayalah jika cintaku hanya untuk mu. Aku sangat mencintaimu." Ucapnya sembari menyembunyikan wajahnya di dada suaminya.
Air matanya kembali menetes tak tertahankan, dadanya terasa sesak menahannya.
"Mengapa kau menangis, ada apa denganmu? Apa kau ada masalah?" tanya Raffa sambil menyeka air mata istrinya. Memandangnya lekat lalu mencium keningnya. Raffa kembali mendekap istrinya dalam pelukannya.
Diandra hanya menggeleng tanpa membuka mulutnya.Dia ingin berkata jujur namun ini bukan waktu yg tepat, Dia tak ingin menganggu pekerjaan suaminya.
Han menghentikan mobilnya di depan gerbang kampus. Diandra melepaskan pelukannya memandang wajah suaminya sedih.
"Sayang,,, hati- hati di sana, jangan sering bergadang jangan sampai telat makan jaga kesehatan mu." Diandra membrondong banyak pesan.
Raffa mengangguk lalu mencium kening istrinya lembut.
"Jaga dirimu dan belajarlah yg rajin " ucap Raffa.
Diandra keluar meninggalkan Raffa, dia langsung masuk kelas. Menyandarkan kepalanya di atas meja entah apa yg ia pikirkan saat itu.
Rosi dan Jaka datang dengan seribu pertanyaan dalam otaknya melihat wajah kusut Diandra.
"Ndra,, ada apa dengan mu kenapa kau terlihat bersedih."tanya Rosi.
Diandra mengangkat kepalanya memandang wajah Rosi lalu berganti memandang wajah Jaka.
"Tidak ada apa-apa aku hanya mengantuk saja."jawab Diandra berbohong. Rosi dan Jaka percaya begitu saja dengan ucapan Diandra.
Kelas telah di mulai semua siswa memperhatikan dan fokus dengan apa yg disampaikan Dosen pembimbing.
Diandra hanya diam melamun tidak fokus dengan apa yg di jelaskan Dosen.
Pikirannya melayang tak tentu arah.
Dia mengambil hp dari tasnya, mengirim pesen ke se seorang.
"Aku ingin bertemu dengan mu, aku tunggu di taman."send.
Diandra kembali memasukkan hpnya ke dalam tasnya.
\_\_Di kantin\_
Diandra, Rosi dan Jaka menyantap bakso mercon di kantin.
Diandra makan dengan santai karena dia merasa tidak lapar dan tidak semangat untuk ngapa-ngapain.
Ada cowok tampan duduk di depan Diandra.
"Hai,, Nona, siapa nama mu? Namaku Ega."sapa cowok itu ke Diandra.
"Aku jaka dan ini temen ku Rosi."sahut Jaka.
Diandra hanya diam dengan sedikit tersenyum tipis.
"Terus siapa nama kamu."tanya Ega.
"Dia Diandra."jawab Jaka.
Ege berpikir jika Diandra adalh gadis bisu karena dia hanya diam dan tak menjawab pertanyaanya.
\_\_\*\*\*\*\*\*\*\_\_\_
Kafka duduk di kursi kerjanya Dia sibuk dengan pekerjaanya.
Raffa telah meninggalkan beberapa pekerjaan untuknya.
Dia mendengar ada suara pesan masuk dari ponselnya.
Mengambil lalu membuka dan menggesernya.
"Aku ingin bertemu dengan mu, aku tunggu kamu di taman."pesan dari Diandra.
Kafka tersenyum merekah setelah melihat isi pesan dari orang yg ia cintai.
Dia tak menyangka jika Diandra mengajaknya bertemu, ia tk ingin menyia nyiakan kesempatan ini.
Menutup laptopnya lalu keluar ruangan.
Dia melangkah dengan buru- buru tak ingin bunga kesayanggannya layu karena lama telah menunggu.
********
Diandra sudah menunggu Kafka di taman. Dua duduk di bangku panjang yg ada di tengah taman itu.
Berkali- kali ia menghela nafas panjang, hatinya sangat takut dan gemeteran takut jika Kafka akan marah kepadanya, namun ia harus menyeleseikannya tak ingin masalah ini semakin rumit dan berlarut kepanjangan.
♥️♥️♥️
jangan lupa
👍like,komen dan sarannya.
vote + ⭐rate 5.
jangan lupa mampir ke karya aku yg berjudul
*tujuan hidup
*roda kehidupan
terima kasih🙏🙏🙏