Terpaksa Menikahinya

Terpaksa Menikahinya
75. Pelukan


Susana mengangguk dan tersenyum tipis.


"Seharusnya yg makan rakus tu kamu bukan dia."


Ia berbisik di telinga adiknya yg membuat Diandra ikut tertawa.


"Kak, jangan gitu ah, kasihan lihatnya." Diandra kembali tertawa.


Susana memutuskan pulang lebih dulu karena ada urusan lain yang harus di seleseikan, sedangkan Diandra kembali pulang bersama Kafka.


💚💚💚💚💚💚💚


Di tempat berbeda ada Vera dan An bersantai sambil mendengarkan alunan musik yg di putar lewat audio ponselnya.


An melepaskan jaketnya dan berbaring di kursi panjang samping Vera,


An mengakat Kakinya lalu memiringkan tubuhnya.


Matanya terus menatap Vera yg asik bernyanyi menirukan setiap alunan musik itu.


Vera paling suka dengan lagu-lagu dari Bang Thomas Arya.


Dia sangat betah lama-lama mendengarkan lagunya, entah kenapa lagu Bang Thomas Arya selalu menyentuh hatinya hingga Dia mabuk di buatnya.


"Kak, coba dengarkan lagu ini pasti kamu suka." Vera menempelkan handset yg satu ke telinga An.


An yg awalnya tidak suka musik karena keseringan dengerin musik bersama Vera akhirnya sekarag An juga menyukainya.


"Apa kau suka semua lagu Dia?" An bertanya karena penasaran. An kembali duduk dan menyandarkan kepala nya di pundak Vera.


"Semua lagunya aku suka." Vera ikut menyandarkan kepalanya di kepala An.


Vera meyatukan jemarinya di jemari An lalu menghentak-hentakkannya.


Tak terasa hari mulai gelap, An numpang mandi di rumah Vera.


An berganti pakaian yg Dia bawa dari rumah.


Kemana-mana An selalu bawa baju ganti hanya untuk berjaga-jaga.


Dia terlihat tampan dengan kaos putih polos dan celana jeansnya.


Vera kagum melihat ketampana An, berbeda di hari biasanya yg selalu memakai celana kain dengan jas nya, kini An benar-banar seperti anak mudah yg baru gede.


Vera berdiri di depan An sambil melihatinya mulai dari bawa hingga atas.


Dia menaruh tangan kirinya di pusarnya dan menaruh jemari kanannya di bawah bibir.


"Kau tampan sekali sampai aku pangling sama kamu!" Serunya sambil memainkan matanya.


"Benarkah?"


An tersenyum lalu melingkarkan tangannya di leher Vera.


An mendekatkan wajahnya di depan wajah Vera sambil memandangnya aneh.


"Kau juga sangat cantik."


Jawab An lalu mencium pipi Vera.


Vera yg tadi berusaha mengoda An kini justru dirinya yg di goda balik sama An.


Dia tersipu malu lalu menundukkan pandangannya, bibirnya kembang kempis karena menahan malu.


"Kak, apa kau yakin mau menikahi ku?"


Vera mengangkat wajahnya lalu menatap An sendu.


An menarik nafasnya dalam lalu mengangguk.


"Iya, aku akan menikahi mu, apa kau masih ragu dengan ku?" An berbalik bertanya.


Mata mereka saling bertemu dan saling bertegur sapa.


"Tidak, awalnya aku memang ragu, tapi sekarang aku sudah yakin dengan mu.


Apa Kak Kafka sudah tau soal rencana mu? Aku takut kalau Kak Kafka akan marah sama kita." Wajahnya terlihat sendu saat mengucapkan kata itu, Ia tahu Jika akan ada salah satu keluarganya yg tidak setuju dengan hubungan mereka, entah itu Papa atau Mamanya, bisa juga Kafka.


An memegang pipi Vera lalu menatapnya penuh keyakinan.


"Kau harus percaya dan yakin dengan ku, aku akan berjuang demi mendapatkan restu orang tua mu." An meyakinkan Vera, Vera hanya mengangguk lalu memeluk An erat.


"Terima kasih kamu sudah mau menerima ku apa adanya, aku janji aku juga akan mencintai mu sepenuh hati ku." Ucap Vera yg di iringi dengan jatuhnya air mata yg membasahi pipi mulusnya.


"He'em...." An membalas pelukan Vera lalu mengusap rambutnya pelan.


Dia berjanji tidak akan melukai Vera ataupun menyakitinya. Dia akan selalu menjaga dan mencintainya dengan tulus.


"Sekarang sudah malam, tidurlah."


An membopong tubuh Vera dan menaruhnya di atas kasur lalu menyelimutinya.


An hendak pergi tapi Vera menarik tangannya pelan.


"Kak, kau yakin mau menginap di sini?" Vera bertanya sebelum Dia melepaskan tangan An.


An berhenti lalu membalikkan badannya.


"Iya, aku akan menginap di sini, sekarang tidurlah. Jika ada apa-apa kau panggil aku karena aku akan tidur di kamar sebelah."


Vera hanya mengangguk lalu melepaskan genggamannya.


An berbalik badan lalu keluar dari kamar Vera.


Dai tidak mungkin tidur sekamar dengan Vera karena mereka belum menikah.


An membaringkan badannya lalu menarik selimut itu sampai atas dada.


Dalam sekejap An pun tertidur pulas.


Vera masih terjaga dari tidurnya, Dia membayangkan betapa baiknya hati An saat ini. Bayangan An salalu hadir dalam hidupnya.


Dia tersenyum lalu mengigit bawah bibirnya kemudian menguling-gulingkan badannya. Dia sangat bahagia dengan Kehadiran An di sisinya.


Ia tidak perduli dengan status An saat ini, karena Dia sudah terlanjur cinta sama An.


Vera melihat jam yg ada di layar ponselnya, jam menunjukkan 00.30 namun matanya masih terjaga dengan terlihat bening.


"Sudah larut malam tapi aku belum bisa tidur."


Ucapnya lirih.


Vera bangun dari ranjang lalu berjalan mendekati kamar An yg ada di sebelah kamarnya.


kreeeek...


Perlahan Vera membuka pintu kamar An karena tidak ingin membuat An terbangun


Dia berjalan mengendap-endap seperti mau maling di rumah orang.


Sesampai di samping An, Vera berjongkok sambil memandang wajah An.


Minimnya cahaya lampu tak membuat ketampanan An memudar, Dia masih tetap tampan seperti sore tadi.


Vera tersenyum lalu mengecup pipi An pelan.


An yg merasakan ada sesuatu yg lembut menempel di pipinya langsung membuka matanya sedikit lalu kembali menutupnya lagi.


Vera tersenyum memandangi wajah An tanpa jemu.


"Kau sangat tampan hingga membuat ku tidak bisa tidur." ucapnya lirih tapi begitu jelas di telinga An, namun An berusaha menahan tawanya.


Vera berdiri dan ingin melangkah keluar, namun An langsung menarik tangan Vera hingga Vera terjatuh di pelukannya.


"Kau belum tidur?" Tanya An lalu mengulingkan badan Vera di sampingnya.


An memeluk tubuh Vera lalu menindihi kakinya.


"Ka,,, ka,,, kau belum tidur?" Vera bertanya balik dengan nada gugupnya. Vera malu jika An benar melihatnya dari tadi.


"Gimana aku bisa tidur kalau kau selalu memandangku seperti tadi." Jawab An jujur.


"Maaf, aku kira kamu sudah tidur, tadi aku tidak bisa tidur makanya aku ke sini." Balas Vera malu.


An menyelimuti tubuh Vera lalu kembali memeluknya.


"Sekarang tidurlah, aku sudah di samping mu." Perintah An yg di angguk'i oleh Vera.


Vera merasa nyaman saat ada di samping An


Dia tersenyum lalu mencium pipi An.


"Terima kasih." ucapnya.


"Hemm." jawab An tanpa membuka mulutnya.


Vera berusaha memejamkan matanya agar bisa tidur.


Hanya hitungan menit akhirnya Vera tertidur pulas dalam pelukan An.


Pelukkan An mampu membuat hatinya nyaman dan aman.


♥️♥️♥️♥️♥️♥️


Terima kasih kakak, sudah mau mampir ke novel aku.


Jangan lupa like, rate dan vote ya.


Mampir juga di karya aku yg terbaru


🌹Cowok Pecemburu🌹