
Selesei masak Diandra langsung mandi sedangkan Bu Ratna masih sibuk menata masakan tadi di atas meja makan.
Bu Ratna pun segera pergi setelah semua pekerjaannya selesei.
Diandra sudah berganti pakaian rapi dan duduk di samping suaminya.
Ia mengusap kepala Kafka lembut lalu mengecup keningnya.
Ia tau jika Kafka masih mengantuk karena sejak kemaren Ia sudah membuatnya kelelahan.
"Sayang, sudah siang bangun dong." ucapnya lembut tidak seperti biasanya.
"Hem..." jawab Kafka sambil mengeliat di atas kasur, Ia mengucek matanya pelan sambil menguap.
"Memangnya sudah jam berapa ini?" tanya Kafka yg masih terlihat lesu dan mengantuk.
"Sudah jam tujuh tau." jawab Diandra sambil mengusap pipi Kafka.
"Cepat bangun dan mandi sana." ucapnya lagi.
Kafka duduk sambil merenggangkan tangan atau bisa di bilang olahraga kecil.
Ia langsung mandi sedangkan Diandra sibuk membereskan ranjangnya yg sudah terlihat berantakan.
💙💙💙💙💙
Diandra dan Kafka duduk di meja makan menyantap masakan Bu Ratna tadi pagi.
Kafka terlihat tidak berselera dengan masakannya, perutnya terasa mual dan ingin muntah, mungkin karena masuk angin.
Diandra merasa cemas melihat suaminya yg dari tadi muntah terus.
Diandra memberi obat dan mengosokan minyak angin ke perut Kafka.
Diandra masih bingung di buatnya, karena wajah Kafka terlihat pucat pasif dan badannya terlihat lemas tak bertulang.
Kafka membaringkan badanya di atas kasur sambil memejamkan matanya.
"Sayang, kepala ku pusing sekali." ucapnya sambil memegang kepalanya.
Diandra langsung memberikan pijatan ringan di kepalanya dan pelipis keningnya.
"Sayang, kita ke dokter aja ya." Ucap Diandra karena cemas dengan kondisi suaminya.
"Tidak usah, aku hanya masuk angin saja." jawab Kafka.
Diandra keluar dari kamar dan langsung menelpon An untuk menjemputnya.
Dia tidak ingin terjadi apa-apa sama suaminya.
Ia tidak ingin hal serupa menimpa suami ke duanya.
An yg mendengar kabar dari Diandra langsung menyusulnya tanpa memperdulikan pekerjaan yg menumpuk di kantornya.
Sekitar hampir dua jam lebih An datang dan segera memapah Kafka menuju mobilnya.
An melajukan mobilnya sedikit kencang agar sampai cepat rumah.
An menghentikan mobilnya di depan rumah sakit sesuai perintah Diandra.
Dokter segera memeriksanya dan langsung memberi kabar pada Diandra dan juga An.
"Tidak perlu ada yg di khawatikan kok Nyonya, Suami Nyonya hanya kecapekan saja." Tutur nya lembut.
Diandra merasa lega mendengar kabar itu.
Mereka kembali masuk mobil setelah dokter selesei memberikan resep obat.
An kembali melajukan mobilnya menuju rumahnya.
Sesampai di rumah Kafka kembali mual dan muntah lagi setelah mencium bau masakan.
Kafka segera berlari menuju kamar mandi yg ada di dekat dapur.
Diandra kembali cemas di buatnya.
Ia kembali dari kamar mandi sambil menutup mulutnya.
"Sayang, suruh Bibi jangan masak lagi, baunya bikin aku mual." katanya sambil mendudukkan badannya di sofa yg ada di ruang tamu.
Diandra merasa heran dengan tingkah suaminya, tanpa pikir panjang Diandra segera pergi ke dapur dan berbicara ke pada Bibi agar menghentikan semua aktifitasnya di dapur.
Kafka menyandarkan kepalanya sambil memijat pelan keningnya.
"An, besok suruh semua karyawan jangan pakai wangi-wangian karena aku mual dengan baunya." ucapnya memerintah An.
"Siap Bos, memangnya Bos sedang hamil apa kok mual terus." ledek An dengan senyuman tipisnya.
"Diam kamu atau aku akan menghajar mu." ketusnya Kafka sambil melempar bantal sofa ke tubuh An.
"Maaf Bos, biasanya cuma orang hamil yg suka mual ketika mencium bau yg menyengat." Tutur An masih kekeh dengan kepercayaanya.
"Apa kau gi*a, mana ada pria tulen sepertiku hamil yg ada kamu tu hamil karena kamu kan pria jadi-jadian." celetunya.
An ketawa renyah sambil mengaruk kepalanya.
"Ah, si Bos bisa aja." jawabnya malu. An segera pamit pulang karena mau istirahat.
Badannya terasa lelah setelah perjalanan jauh.
Diandra kembali dan langsung memapah Kafka menuju kamarnya untuk istirahat.
Diandra membaringkan tubuk Kafka di atas ranjang lalu melepaskan seluruh pakain Kafka dan mengantinya dengan pakain biasa.
"Kamu mau makan apa?" tanya Diandra pada Kafka.
"Iya." jawab Diandra singkat.
Diandra turun ke lantai bawah dan mengambil roti tawar isi selei sekaligus air putih.
Diandra diam sejenak memikirkan sikap aneh suaminya.
Kafka tidak pernah mengalami sakit seperti ini sebelumya.
Ia kembali ke kamarnya dan memberikan roti itu ke Kafka, kafka langsung melahapnya dengan rakus.
Diandra heran melihat nafsu makan suaminya.
Biasanya makannya seperti seorang gadis pelan dan anggun namun kali ini ada yg beda dengannya, Ia makan seperti orang sedang kelaparan.
💚💚💚💚💚💚💚
Ke esokan harinya Kafka pergi ke kantor bersama Istrinya.
Semua karyawan melihatnya heran dan aneh, mereka pikir Bosnya itu sedang tidak waras karena menyuruh semua karyawannya tidak boleh memakai parfum.
Diandrapun merasakan hal yg sama yaitu aneh tapi nyata. Ia sadar kalau semua karyawan memandang suaminya aneh tapi Diandra tidak memperdulikan mereka.
Kafka duduk di kursi kerjanya begitupun dengan Diandra.
Tiba-tiba Iffa datang bersama Vera, Iffa langsung memeluk Kafka karena kangen.
Perut Kafka seperti di aduk-aduk rasanya, mual dan pusing ingin muntah lagi setelah mencium bau parfum Iffa.
Ia mendorong tubuh Iffa dan langsung pergi ke kamar mandi, Diandra pun segera mengikutinya.
Iffa dan Vera saling melempar pandangan dengan sedikit mengangkat pundaknya.
"Kak, ada apa dengan dia?" tanya Iffa.
"Mana aku tahu, mungkin dia sedang sakit kali." jawab Vera.
Kafka dan Diandra kembali dari kamar mandi.
Ia berdiri sambil menatap Iffa tajam.
"Pao, kenapa kau ke sini?" ketusnya
"Kangenlah, memangnya salah kalau aku kesini."jawab Iffa sinis.
"Bau mu membuat ku mual, sekarang pulanglah aku tidak suka dengan bau mu." celetunya sambil berdiri tegap.
Ia tak berani mendekati Iffa atupun Vera, Ia takut akan mual lagi nantinya.
"Sejak kapan kakak tidak suka bau parfum ku, biasanya kakak juga suka minta parfum ku kalau kakak kehabisan parfum, dasar aneh." Balas Iffa dengan jutek, Iffa masih tertegun heran dengan sikap kakaknya.
"Memang nya kakak sakit apa sih kok aneh banget?" Tanya Vera penasaran.
"Sudah sana pulang, jangan banyak tanya." Kali ini Kafka benar benar mengusir adik-adiknya.
Diandra langsung menjelaskan ke Iffa sama Vera apa yg sebenarnya terjadi pada Kafka.
Iffa dan Vera hanya mengangguk dan langsung pergi meninggalkan ruang kerja Kafka.
Iffa masih bingung dengan sikap aneh kakaknya, begitupun dengan Vera.
Sejak kapan Kafka tidak suka bau wangi, karena dulu Kafka selalu pakai parfum kalau kemana-mana, bahkan Ia tidak pd kalau bertemu orang tidak pakai parfum tapi kali ini sangat berbeda dengannga.
Iffa dan Vera tidak mau ambil pusing tentang kakaknya. Mereka pun kembali pulang dengan hati yg ngedumel.
An masuk membawa beberapa dokumen yg harus di tanda tangani Kafka.
"Tuan, sudah sehat kan?" tanyanya sok perhatian sambil menaruh dokumen di atas meja kafka.
"Sehat." jawabnya singkat lalu mengambil dokumen itu dan segera menandatanginya.
"An, tolong belikan aku roti tawar sama selei kacang, suruh orang dapur menyetoknya buat makan aku selama ada di kantor." perintahnya ke An.
"Hahaha, sejak kapan Bos suka makan roti tawar, bukannya dulu Bos paling ngak suka ya sama roti tawar, kayanya Bos memang sedang hamil deh." ledeknya sambil tertawa renyah.
Pletak....
"Diam kau." Kafka memukul jidat An dengan Pensil yg Ia pegang dari tadi.
"Astaga galak banget sih si Bos, jangan suka marah Bos nanti kena struk lo kaya tetangga saya." Jawab An asal ngejeplak aja kalau ngomong.
Diandra hanya tersenyum melihat mereka saling adu mulut.
"Kak An, nanti sekalian nitip buah kedondong muda ya?" ucap Diandra.
An terkejut mendengar ucapan Diandra, kini An yakin jika Diandra sedang hamil tapi An tidak mau tanya lagi lebih dalam takut jika Diandra akan tersinggung.
"Siap Non." jawab An lalu pergi meninggalkan ruangan Kafka.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️
Sebenarnya Diandra beneran hamil ngak ya??
ikuti terus untuk up selanjutnya.
Jangan lupa like setiap episodenya, komen, rate dan vote ya.
Mampir juga di novel aku yg baru
* Cowok pecemburu
🙏🙏