
Hari sudah mulai gelap banyak mata orang jahat berkeliaran di mana-mana.
Termasuk Lusi yg saat ini merencanakan sesuatu untuk mencelakai Diandra.
Malam ini Lusi ketemuan sama Vera di sebuah lestoran.
"Malam Vera, Maaf terlambat." ucap Lusi saat melihat Vera sudah datang lebih duluan.
"Malam, aku juga baru datang kok. Apa kabar, lama kita tak berjumpa." jawab Vera basa-basi.
"Seperti yg kau lihat, aku masih segar bugar." Nada bicara Lusi terlihat sombong dan angkuh.
"Kamu mau pesan apa?"
"Terserah kamu aja. Ada apa kamu ngajakin aku ketemuan di sini?" Tanya Vera menyelidik.
Vera menajamkan pandangannya dan tersenyum kecut seakan tahu jika ada sesuatu yg ingin di katakan Lusi.
Lusi mengangkat pandangannya dan menatap Vera dengan senyuman liciknya.
"Heh...santai saja, kenapa kau terlihat serius begitu. Kita kan udah lama tidak bertemu, wajarlah jika aku ngajakin kamu ketemuan." jawabnya.
Tak lama dua minuman segar tersaji di atas meja.
Vera tak percaya dengan jawaban Lusi yg terkesan mencurigakan.
Vera menyipitkan matanya dan sedikit menarik sudut bibirnya.
"Sudahlah katakan saja apa tujuan mu saat ini." Tanya Vera sambil menyesap minumannya.
"Ternyata kau pandai menebak jalan pikiran orang ya. Baiklah aku akan katakan apa mau ku." jawabnya yg terkesan sok itu.
Lusi menyedot minumannya dengan wajah liciknya.
"Kenapa kamu tidak mem beriku kabar jika Kafka sudah menikah?"
pertanyaan gi*a itu keluar begitu saja dari mulut Lusi.
"Untuk apa aku harus beritahu kamu soal pernikahan Kafka? Bukannya Kafka dulu sudah menolakmu?" Vera entah kenapa enggan rasanya membahas Masalah Kafka.
"Tapi aku tak perduli dengan itu, aku hanya ingin mendapatkan Kafka, apapun caranya."
Lusi menyipitkan mata dan mengerutkan keningnya seakan Ia benar benar benci dengan pernikahan Kafka.
"Jangan gi*a kamu, dia sudah menikah untuk apa kau merebutnya kembali. kamu cantik, kamu bisa dapatkan yg lebih dari dia bukan?"
Vera mencoba memberi nasehat agar Lusi tidak salah jalan.
Setelah lama mengobrol akhirnya Vera berpamitan pulang karena besok ada syuting pagi.
Lusi masih duduk dengan wajah liciknya.
Lusi terlihat sibuk menelpon seseorang untuk membantu rencana jahatnya.
😣😣😣😣😣😣
Diandra dan Kafka sudah berbaring di atas ranjang.
"Sayang, aku takut jika Lusi akan punya niat jahat padamu." Diandra mulai cemas setelah mendengar ancaman Lusi tadi sore.
Kafka mengusap pipi Diandra lembut.
"Sudahlah jangan berfikir yg macam-macam.
Dia tidak akan berani berbuat jahat pada ku, itu hanya gretakan saja biar aku mau menerima cintanya ." Kafka berusaha menenangkan Istrinya.
"Sudah malam tidurlah." Kafka mengecup kening dan bibir Diandra lembut.
Diandra mengangguk dan tersenyum tipis.
Ia berusaha menepis semua pikiran jeleknya tentang ancaman Lusi yg terdengar menyeramkan.
Akhirnya mereka tertidur pulas karena haripun sudah larut malam.
Kafka tidak sempat meminta jatahnya karena hatinya sedang tidak dalam keadaan yg baik.
Selera na*sunya hilang begitu saja akibat kehadiran Lusi.
😴😴😴😴😴😴😴😴
Hari sudah mulai pagi tapi Diandra enggan untuk beraktifitas. Badannya terasa sakit semua. Kepalanya terasa pusing berkunang-kunang banyak bintang berputar putar.
Diandra kembali memejamkan matanya dan kembali mengistirahatkan tubuhnya.
Kafka bangun dan heran melihat istrinya masih tertidur di sampingnya.
"Tumben jam segini dia masih tidur." Batinnya.
Kafka memegang jidat Diandra tapi badannya tidak panas.
"Sayang, apa kamu sakit?" Kafka cemas melihat wajah Istrinya yg agak pucat itu.
"Jangan khawatir, aku hanya merasa lelah saja. Hari ini aku ngak ikut ke kantor ya, aku mau istrahat saja." Diandra masih memejamkan matanya enggan untuk membukanya.
"Baiklah, kalau begitu biar aku pesankan makan untuk sarapan." Kafka segera mengambil ponselnya yg tergeletak di atas meja kecil dekat ranjangnya.
Kafka segera memesan makanaan secara online.
Kafka segera mandi karena hari ini ada tamu penting yg akan Ia temui.
Sebenarnya Ia ingin menemani Istrinya di kamar saja tapi apalah daya pekerjaanya memaksanya harus pergi meninggalkan istrinya.
Kafka kembali dan segera bersiap.
Tak berselang lama bel apartemen berbunyi, Kafka segera membuka pintu.
Makanan yg Ia pesen lewat aplikasi sudah datang.
"Sayang, ayo sarapan dulu lalu minum obat."
Kafka membantu istrinya untuk bangun dan mendudukkannya di kursi.
Dengan telaten Kafka menyuapi Istrinya.
"Sayang, maaf ya aku ngak bisa menemani kamu di rumah." Kafka terlihat cemas melihat keadaan Istrinya.
"Tidak apa, aku hanya kecapean aja, bentar lagi juga baikan. Kamu harus kerja, bukankah hari ini ada tamu penting di kantor." Jawabnya lesu.
"Iya, nanti aku usahain akan pulang lebih cepat." Jawabnya lalu kembali menyuapi Istrinya.
Kafka kembali menidurkan Diandra di atas ranjang setelah Diandra minum obat.
"Sayang, aku harus pergi, nanti kabari aku jika kamu ingin sesuatu." Kafka mengecup kening Diandra lembut sebelum akhirnya pergi ke kantor.
Diandra kembali tertidur pulas, karena hari ini tubuhnya benar-benar lemas tak berdaya bahkan matanya sangat terasa ngantuk sekali.
Kafka pergi dengan hati yg tidak tenang dan cemas karena harus meninggalkan Diandra dalam keadaan sakit.
Kafka sampai di kantor langsung sibuk aja dengan laptopnya. Ia ingin cepet menyeleseikan semua pekerjaanya agar cepat bisa pulang.
Tok...tok...tok..
An megetuk pintunya pelan lalu masuk setelah Kafka menyuruhnya.
"Apa Nona tidak masuk kerja." Tanya An yg tidak melihat batang hidung Diandra di ruangan itu.
"Dia lagi ngak enak badan." jawab kafka seperlunya.
Ia tak menatap ataupun menoleh ke arah An.
Mata dan tangannya masih sibuk dengan laptopnya.
"Makanya Bos, kalau malam jangan lama-lama ngegenjotnya biar ngak cepat lelah." ledek An dengan gelak tawanya.
Pletak...
Ketukan gulungan buku mendarat di jidat An.
"Diam kamu!" Protes Kafka sinis.
"Jika tidak ada perlu keluarlah." ucapnya datar dan kesal.
"Astaga, kau ini bisa-bisanya bikin jidatku benjol." keluh An yg merintih kesakitan.
"Apa kurang pukulan ku tadi." Kafka melebarkan matanya dan menajamkan pandangannya. Tangganya masih memegang buku, Ia ingin memukul jidat An kembali, namun An segera menghindar.
"Ets...tidak kena." An ketawa lebar sambil menjulurkan lidahnya.
"Dasar kau ini." Kafka melempari An dengan buku tebal yg di pegangnya tadi.
Kali ini An ingin menghindar tapi nasib siyal menimpanya.
Ia menabrak Ayu hingga terjatuh.
An menindihi tu*uh Ayu
Ayu membulatkan matanya karena terkejut.
An tersenyum tipis memandang wajah Ayu yg terlihat cantik di matanya.
Benda kenyal itu terasa menyentuh dada An.
An bukannya cepat berdiri malah bengong terpesona dengan kecantikan Ayu.
Kafka menikmati adegan me*um itu dengan senyuman liciknya lalu mefotonya.
Cekreek...
Satu jepretan, dua jepretan, tiga jepretan berhasil Ia simpan dalam memori ponselnya.
Kafka sengaja menyimpannya karena punya tujuan lain dari foto itu
Ayu merasa malu dan geli dengan pandangan mesum An.
"Maaf tuan Anda sangat berat, bisakah kau turun dari badan ku." ucap Ayu jujur tapi menusuk hati dan sedikit mendorong tubuh An.
An segera bangkit dan berdiri tegak.
Ia juga sempat membantu Ayu untuk bangun.
"Maaf Nona, saya tidak sengaja. Apa ada yg sakit." An mulai beraksi modus untuk mendapatkan simpati Ayu
Aku tidak apapa Tuan.
Ayu menundukkan pandangannya karena menahan malu.
Ayu segera melangkah menuju meja Kafka untuk menyerahkan dokumen yg Ia minta tadi. Setelah itu Ayu segera pergi.
An masih mematung sambil senyum-senyum sendiri.
"Hei,,, apa kamu sudah mulai gi*a, kenapa senyum-senyum sendiri?" Ledek Kafka.
🤣🤣🤣🤣🤣
Terima kasih kaka sudah mau ngikuti Novel aku.
terus dukung karya aku dengan cara 👍 Like, komen, Vote dan ⭐ Rate 5.
buat yg sudah ngedukung terus karya aku saya ucapkan banyak terima kasih.
🙏🙏🙏🙏🙏