Terpaksa Menikahinya

Terpaksa Menikahinya
8.Menikah


Kini saatnya Diandra mengetahui kebenarannya. Ibu Laela menceritakan apa yg terjadi di 18 tahun silam. Diandra mengerti dan paham atas apa yg terjadi pada Ibu nya di masalalunya.


Tidak ingin membuat masalah ini semakin rumit dan membuat Ibunya lebih sedih lagi, yg penting dia bukan anak haram seperti yg mereka tuduhkan.


Penjelasan itu membuat hatinya tenang dan bisa bernafas lega.


___


Hari ini terakhir ia menghadapi ujian. Ia yakin dan percaya diri jika dirinya pasti bisa dan akan lulus ujian nanti.


Dia pergi ke sekolah di jemput Rosi naik mobilnya.


"Pagi Ros?" sapa Diandra kepada sahabatnya.


"Pagi juga, sepertinya hari ini ada yg seneng nih!" Sindir Rosi.


Diandra hanya tersenyum menyunggingkan bibirnya.


Setelah kepergian Diandra tak berselang lama Raffa datang menemui orang tua Diandra.


Asisten An mengetuk pintu pelan berharap pemilik rumah akan segera membukakan pintu.


Ibu Laela yg mendengar ketukan pintu langsung bergegas membukakannya.


Betapa terkejutnya ketika melihat siapa yg datang.


Tidak ada angin tidak ada hujan ada seorang pengusaha kaya sudi mengunjunginya.


"Selamat pagi nyonya?" Sapa Raffa lembut dengan menundukkan kepalanya.


"Se..selamat pa..pagi Tuan." Jawab Ibu Laela gugup karena tidak menyangka jika akan ada tamu istimewa


"Silahkan masuk Tuan." Tambahnya mempersilahkan Raffa beserta asistenya masuk ke rumah.


Mereka duduk di ruang tamu yg terlihat kecil dan sederhana namun tertata dengan Rapi.


"Pak, ada Tuan muda datang." Ucap Ibu Laela Lirih.


Mendengar panggilan istrinya, Ayah Hardian menghentikan aktifitasnya yg sibuk mengurus burung kesayangannya bergegas menemui Raffa.


Ayah Hardian memang penggangguran kerjaanya hanya mengurus burung saja.


Ibu Laela pergi kedapur dan mengambil tiga cangkir teh hangat meletakkan di atas meja depan mereka duduk.


"Silahkan di minum Tuan, maaf ada nya cuma teh ini saja."


"Selamat pagi Tuan." Sapa Ayah menundukkan kepala yg duduk di seberang Raffa.


"Ada perlu apa Tuan kok Tuan datang ke sini? Apa yg bisa saya bantu?" Tanya ayah yg tk menyangka jika Raffa akan datang kerumah mungilnya.


Raffa tersenyum devil memandang dua orang tua itu secara bergantian.


"Saya datang kesini ingin melamar anakmu!" ujar Raffa tanpa basa basi.


Ibu Laela dan Ayah Hardian diam sejenak saling memandang bingung dengan ucapan Raffa.


"Maksud Tuan?" tanya ayah yang tidak percaya dengan ucapan Raffa.


"Saya akan menikahi anakmu?" tegasnya sedikit keras tanpa panjang lebar.


"Anak saya yg mana Tuan, apa susana?" Jawab Ayah, Dia sangat beruntung jika yg di nikahi adalah Susana. Dia yakin jika putrinya akan bahagia karena akan hidup bergelimbangan harta, selain itu Ia juga berfikir jika Susana menikah denganya maka harkat martabatnya akan menjadi terakat dan terhormat.


Raffa masih tersenyum devil dengan pandangan liciknya.


"Apa menikahi Susana, mana mungkin aku sudi menikahi gadis sombong seperti itu. yg ada bisa berantakan rumah tangga ku nanti." pikir Raffa dalam hati.


"Jangan salah sangka Tuan, saya akan menikahi anak mu yg satunya. Dia adalah Diandra." Sahutnya sengit.


"Apa, menikahi anak sialan itu. Apa untungnya menikah dengannya." ucap ayah ngedumel tidak terima jika Raffa memilih Diandra sebagai istrinya.


"Tapi Tuan....."Sebelum malajutkan pembicaraanya Raffa terlebih dulu memotong .


"Aku ingin dia yg jadi istriku bukan yg lainnya. Minggu depan aku akan menikahinya semua biaya aku yg akan menanggung." Ucap Raffa sinis sembari memberikan amlop cokelat berisi beberapa ratus lembar uang merah dan juga kunci toko.


"Apa Ini Tuan?"


"Ini ada sedikit uang untukmu dan ini kunci toko, kalian bisa mengelolanya dengan baik.


Sudah ada bebarapa lusin pakain yg siap di jual kalian juga bisa menjual hasil jahitan ibu Laela di sana." Raffa menjelaskan panjang lebar dan tidak ingin mereka menggangu Diandra lagi. Raffa juga mengancam akan membuat perhitungan dengannya jika berani menyakiti Diandra kelak.


Raffa pergi meninggalkan mereka dengan hati lega. Tidak sabar ingin hidup bersama Diandra gadis yg Ia cintai selama ini.


Senyuman mengembang terpancar jelas di wajahnya. Ingin mempercepat waktu dan memeluk sang bidadarinya.


Kini dia lebih bersemangat untuk melawan penyakitnya harus berjuang hidup demi bidadari kecilnya.


Asisten An hanya meliriknya dari spion depan.


Ikut merasakan kebahagian yg Raffa rasakan.


Harapannya sangat besar pada Diandra untuk membuat Raffa hidup lebih lama lagi.


"Semoga gadis itu mampu menjadi penawar racun dalam tubuh Raffa."


___


Diandra masih di sekolah mengikuti ujian akhir sekolahnya.


Dia sangat fokus dengan soal ujiannya karena tidak ingin menyia- nyiakan kesempatan ini.


Dua jam telah berlalu, lembar jawaban harus segera di kumpulkan. Dia telah selesei dan siap mengumpulkannya.


Masih seperti kemaren dia sangat percaya diri dengan jawabannya.


"Huh..lega rasanya."ucap Diandra pelan .


"Maaf Ros, aku balik duluan ya, daah...."Ucap Diandra dengan meninggalkan Rosi. Entah apa yg membuatnya ingin cepat pulang.


Diandra berjalan kaki santai melihat setiap sudut jalan berharap bertemu dengan sang idolanya namun dia harus kecewa karena tidak menemukan batang hidung pangeran Raffa.


Senyumnya kembali padam, hatinya kembali layu, langkahnya menjadi tersoyak letih karena orang yg Ia cari tidak ada.


Sampai rumah dia melihat ada Ayah, Ibu juga Susan duduk di ruang tamu memandangnya tajam seperti harimau ingin menerkamnya.


"ada apa dengan mereka, kenapa memandangku seperti itu." Bisik Diandra dalam hati.


Berpura tidak tau dan sok tidak perduli Dia nyelonong masuk begitu saja.


"Sayang, kemarilah?" Panggil Bu Laela lembut.


Diandra berhenti dan kembali melangkah mendekati ibunya.


Hatinya bertanya bertanya ada apa gerangan. langkahnya terasa berat, matanya menjadi bulat dan pikirannya menjadi tidak tenang.


Diandra duduk disamping bu Laela,


memandang Ayah dan Susana sebentar lalu kembali menunduk.


"Sayang, kamu kan sudah dewasa sebentar lagi kamu akan lulus."ucap bu Laela mengawali pembicaraan.


"Lalu."balas Diandra tidk berani melanjutkan pertanyaanya.


"Ada pria tampan ingin menikahimu, minggu depan acara akan berlangsung." lanjut Ibu Laela.


Deg....


Hati diandra merasa seperti di sambar petir, tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba Ibu akan menjodohkannya .


"Tapi bu." Diandra mencoba ingin memprotesnya namun Ayah lebih dulu menyambar pembicaraanya.


"Kau sangat beruntung menikahlah denganya atau aku akan menghukummu lagi."sahut Ayah tegas.


"Dia telah memilihmu jangan kau buat malu keluargamu ini. Dengan ini maka harkat dan martabat kami juga akan menjadi terhormat. Apa kau mengerti."


"Sejak kapan dia menganggapku keluarga, apa karena uang dia tega menjualku lalu kenapa ibu tidak membelaku. Ada apa dengan mereka, siapa calon suamiku." Berontak Diandra dalam hati.


Menatap wajah ibu dan ayahnya penuh kebencian. Air matanya keluar tidak bisa terbendung lagi, hatinya sudah hancur berkeping keping.


Pupus sudah harapannya, ingin rasanya ia lari dan pergi jauh dari rumah itu tapi tidak ada tempatnya berlindung selain rumah itu.


Dia tidak mungkin minta tolong kepada sang pangeran.


Berhari- hari Diandra hanya diam meratapi nasibnya. Tidak tau apa yg akan terjadi setelah menikah nanti akankah Dia hidup dalam kebahagian ataukah dia akan hidup dalam kesingsaraan.


Hari pernikahan telah tiba, Diandra duduk di depan kaca dengan wajah sendu. Ada dua wanita cantik merias wajahnya. Dia sangat terlihat cantik memakai gaun berwarna putih dengan hiasan bunga merah di pinggir dadanya.


"Sungguh mengenaskan diri ku ini kenapa harus aku yg bernasib seperti ini. Apa salah dan dosa ku ini hingga kau hukum aku seperti ini." Batinnya meronta.


Rosi dan Jaka datang menemui Diandra.


"Sayang, kamu sangat cantik." Rosi memuji Diandra penuh kekaguman. Diandra memang tidak pernah merias wajahnya dengan benar selama ini.


Diandra hanya tersenyum tipis mendengar pujian itu dan menatapnya sedih.


"Kamu adalah pengantin paling cantik yg pernah aku lihat." Goda Jaka.


"Tunggu, darimana kalian tau jika hari ini aku akan menikah?"tanya Diandra.


Diandra sengaja tidak mengundangnya ingin merahasiakan pernikahan dari mereka.


Rosi dan Jaka saling memandang satu sama lain menunggu siapa yg akan menjawab.


"Dari seseorang, tidak penting itu yg penting kita sudah datang ke sini kasih suport untuk mu." Jawab Rosi gelapan.


Ibu Laela datang menjemput Dindra. Rosi merasa lega ada dewi penyelamat datang menolongnya.


Sebenarnnya kemaren Raffa datang menemui Rosi dan Jaka untuk bisa hadir dipernikahan Diandra namun mereka tida boleh memberitahu Diandra.


"Sayang, ayo keluar karena acara akan segera di mulai." Tutur ibu Laela dengan mengandeng lengan putrinya. Rosi juga ikut mengandeng tangan sahabatny sedangkan Jaka mengekor di belakang mereka.


Semua mata terpana akan kecantikan Diandra.


Acara di adakan secara sederhana. Raffa akan mengelar pesta mewah jika Diandra sudah lulus nanti itu pun jika Diandra menginginkannya.


Diandra tidak berani memandang wajah para tamu. Dia hanya menunduk dalam kesedihan. Mempelai pria sudah duduk di depan penghulu mengenakan jas berwarna senada dengan pakean Diandra.


Dia duduk disamping mempelai pria tanpa melihat atau meliriknya sama sekali karena hatinya masih berkalut kesedihan.


Ada ayah yg duduk di samping penghulu dengan tatapan membunuh penuh kebencian.


Semua telah siap dan acara ijab kabul di mulai. Diandra merasa kaget dan tidak asing mendengar suara pria yg mengucapkan ijab kabul dengan lantang dan jelas itu tanpa ada kesalahan satu katapun.


Dengan cepat dia menoleh dan memandang wajah pria itu ingin memastikan jika yg ia pikirkan adalah benar.


Matanya menjadi bulat melebar, hati dan pikirannya menjadi campur aduk, jantungnya terpompa kencang.


"Kakak."ucapnya lirih


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Bersambung...


____


Terima kasih bagi yg sudah mampir ke novel aku semoga kalian suka.


🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏