Terpaksa Menikahinya

Terpaksa Menikahinya
73. Hasil Tes


An segera keluar dan menyuruh seseorang untuk membelikan pesanan Bos nya.


An tersenyum saat ingat kejadian tadi.


"Syukurlah kalau Nona hamil berarti Tuan akan jadi seorang ayah." batinnya.


Diandra berdiri di samping Suaminya sambil melingkarkan tangannya di leher Kafka.


"Sayang, gimana kalau kita ke rumah sakit, aku khawatir dengan kesehatan mu." ucapnya sambil menyilakan rambut Kafka.


Kafka masih diam dan berfikir sejenak, ia mendongakkan pandangannya dan tersenyum manis saat menatap wajah cantik istrinya.


"Tidak perlu ke dokter, besok juga sembuh mungkin karena aku kecapekan aja." jawabnya lalu merangkul pinggang Diandra.


"Yakin kamu ngak apapa?" tanyanya lagi, Diandra duduk di pangkuan suaminya sambil melingkarkan tangannya di leher suaminya.


Kafka hanya mengangguk dan mencium pipi istrinya.


Akhir-akhir ini Diandra hanya ingin selalu di dekat Suaminya, ingin di manja dan di perhatikan.


Untungnya Kafka adalah suami yg perhatian dan penuh kasih sayang jadi Diandra tidak akan kekurangan kasih sayang dari suaminya.


Kafka membelai rambut istrinya yg kini masih duduk di pangkuannya. Senyumannya terlihat sempurna saat Istri yg paling Ia cinta berada selalu di sisinya.


Tok ..Tok.. Tok..


Diandra pindah dari pangkuannya setelah ada seseorang mengetuk pintu ruangannya.


Dia kembali duduk di tempat duduknya sambil tersenyum licik. Sedangkan Kafka merasa kesal karena ada seseorang yg


sudah mengganngu kemesraanya.


"Masuk !" ucap Kafka kesal.


An masuk membawa roti tawar lengkap dengan isiannya dan juga satu kg buah kedondong.


"Maaf Tuan, ini pesenannya." jawabnya setelah masuk ke dalam ruangan Kafka.


An meletakkan roti dan juga kedondong di atas meja yg ada di pojok ruagan itu.


An melirik wajah Kafka yg masih terlihat kesal.


Diandra bangkit dari duduknya dan langsung menghampiri buah kedongdong itu.


Ia langsung mengambil dan mencucinya di wastafel.


Ia kembali sambil mengunyah buah yg terasa asam itu.


An melebarkan matanya dan menelan ludahnya dalam-dalam.


Ia tidak bisa membayangkan betapa asamnya buah kedondong itu. Ngelihatin saja sudah bikin mulut penuh dengan air liur apa lagi memakannya bisa-bisa bikin seluruh mulut ngilu semua.


Kafka pun sama dengan An, Ia hanya bisa memandang Diandra dengan tatapan yg tak biasa. Seluruh tubuhnya terasa menggeliat saat membayang kan buah kedondong itu masuk kedalam mulutnya.


Air liur mempenuhi mulutnya hingga Ia tak sanggup lagi menampungnya.


Diandra masih asik dengan buah kedondongnya tanpa merasa ngilu atau gimana, tak sedikitpun Ia merasa kalau buah itu sangatlah asam.


"Ada apa dengan kalian, kenapa menatap ku seperti itu." Ucapnya saat melihat Suami dan An menatapnya heran.


"Kak An mau mencobanya, ini sangat enak dan bikin mulut seger lo." ucapnya lagi sambil menyodorkan buah kedondong ke An.


An menerimanya dan menatapnya ragu, Ia ragu jika akan memakan buah itu.


Tidak ada pilihan lain An pun segera mengigitnya sedikit.


Sesampai didalam mulutnya kedonndong itu langsung membuat kepala An dan seluruh tubuhnya mengeliat tak karuan.


Ternyata buah itu sungguh asam menurutnya.


An mengecapkan mulutnya cepat agar rasa asam itu cepat hilang dari mulutnya.


Kafka penasaran dengan rasa buah itu, Ia tidak mau kalah dengan An dan langsung meminta buah itu dari tangan Diandra.


"Sini aku juga mau !" ketusnya.


Diandra langsung memberinya tanpa berkata apa.


Kafka menggigitnya dengan keras, sesampai di dalam mulutnya sangat terasa pyar..... Tubuh Kafka langsung mengeliat seperti cacing kepanasan, Kafka kembali memuntahkannya lagi sambil mengecap bibirnya kasar.


"Astaga buah apa ni kok rasanya asam sekali." ketusnya lalu minum air putih.


Diandra dan An tertawa renyah karena berhasil mengerjain Kafka.


"Itu buah kedondong Bos makanya rasanya sangat asam, hahah." jawab An sambil tertawa.


"Kalian ini aneh buah seenak dan sesegar ini kalian bilang gk enak dan asam dasar aneh." celetu Diandra sambil menatap Kafka dan juga An secara bergantian.


An mendekati Kafka lalu membisikkan sesuatu pada Bosnya itu


"Bos, sepertinya Nona saat ini sedang hamil deh." bisik Kafka lirih di samping telinga Kafka .


"Apa kata mu !" teriak Kafka keras dan membuat Diandra menatap mereka curiga.


An langsung menutup mulut Kafka dengan telapak tangannya.


"Jangan keras-keras nanti Nona curiga." Bisiknya lagi.


"Lepaskan tanganmu yg bau itu." ketusnya sambil memukul tangan An keras.


Kafka yg tadinya ingin marah jadi berubah tersenyum dan segera mengangguk paham dengann ucapan An.


"Ada apa dengan kalian, kenapa menatap ku seperti itu." tanya Diandra curiga sambil melihat perutnya.


Karena saat itu Kafka dan An melihat perut trepes Diandra secara bersamaan.


"Tidak ada apa-apa, iya kan An." jawab Kafka glagapan sambil menginjak kaki An keras.


"Aw,sakit bos." ucapnya karena marasakan sakit.


"Iya Non tidak ada apa-apa kok." jawab An dengan senyum yg memaksa sambil menahan rasa sakit pada kakinya.


"Maaf Tuan, apa masih ada yg di perlukan lagi?" tanya An pada Kafka untuk mengalihkan perhatian Diandra.


"Tidak ada kamu boleh keluar." jawabnya dengan menatap An tajam.


An pun segera keluar setelah akting mereka berhasil.


An dan Kafka memang pandai dalam berakting sehingga tidak membuat curiga Diandra.


Kafka berjalan mendekati Istrinya dan tersenyum manis.


Ia mengecup kening Istrinya sebagai rasa perhatiannya.


Ia berharap kali ini Diandra beneran akan hamil supaya Ia juga bisa merasakan betapa bahagianya menjadi seorang ayah.


"Sayang, aku ngantuk dan pingin tidur." ucap Diandra sambil memoncongkan bibirnya.


Diandra meletakkan sisa buah kedondong di meja kerjanya.


"Tidurlah nanti aku akan bangunkan kamu kalau pekerjaan ku sudah selesei." Kafka mengusap kepala Istrinya lembut lalu mengantarnya ke tempat istirahat.


Diandra membaringkan tubuhnya di atas ranjang lalu Kafka menyelimuti tubuh istrinya.


Sebelum pergi kafka mengusap kening istrinya lalu meninggalkan kecupan manis pada kening istrinya.


Kafka tidak sabar ingin cepat menyeleseikan pekerjaanya agar Ia cepat pulang untuk memeriksakan kandungan istrinya.


Senyuman bahagia terlihat jelas terpancar di wajah tampan Kafka.


Setelah kehilangan Anak pertma Kafka harus ekstra berhati hati untuk menjaga kandungan Istrinya agar tetap sehat dan aman. Ia tidak ingin hal serupa terulang kembali menimpa istri dan colon bayinya.


Hari pun sudah siang, Diandra bangun dan langsung mencuci mukanya di kamar mandi.


Ia kembali dan duduk di sofa yg ada di pojok ruangan Kafka sambil menyandarkan kepalanya.


"Sayang, kamu masih sibuk ya." tanyanya sambil menatap tubuh Kafka.


"Aku sudah selesei kok." kafka segera menutup laptopnya dan berjalan menghampiri istrinya.


"Sayang ayo kita pulang." ajaknya.


"Kok pulang, ini kan baru jam dua siang." Diandra heran dengan ajakan suaminya.


"Aku mau ke dokter." jawab Kafka singkat.


"Kamu mau periksa !" tanya Diandra yg masih bingung di buatnya.


Kafka hanya mengangguk lalu mengandeng istrinya keluar ruangan.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Kafka menghentikan mobilnya tepat di depan rumah sakit tempat Papanya bertugas.


Kafka dan Diandra turun lalu masuk ke ruagan pribadi yg sudah di siapkan Papanya.


Diandra duduk di kursi di temani Kafka.


Awalnya Diandra tidak curiga sama sekali dengan tingkah Kafka karena Ia pikir Kafka lah yg akan di periksa.


Tak berselang lama Dokter Evita datang dan segera menyuruh Diandra untuk melalukan tes.


"Nona silahkan kencing dan taruh di sini." ucap dokter itu sambil menyodorkan alat untuk tempat kencing.


"Dok, ada apa ini kenapa dokter harus memeriksa saya, bukannya Suami ku yg mau di periksa." Tanya Diandra masih bingung.


"Tidak ada apa-apa Nona, nanti Nona juga akan tau sendiri." jawan Dokter Evita.


Diandra masuk kamar mandi dan masih dengan pikiran yg bingung.


Ia kembali sambil membawa tempat beserta kencingnya.


"Ada apa sih ini kok aku jadi bingung." tanya Diandra pada Suaminya.


Kafka hanya tersenyum tipis sambil mengusap pundak istrinya.


Dokter itu sudah melakukan pemeriksaan dan duduk di depan Kafka dan juga Diandra.


"Nona kapan terakhir menstruasinya?" tanya Dokter itu pada Diandra.


"Sudah lama dok saya tidak Menstruasi tapi saya lupa tepatnya tanggal berapa." jawabnya


"Begini Nona, menurut hasil tes yg saya dapat sekarang Nona sedang hamil dan umur kandungannya sudah dua bulan." ucap Dokter itu.


Diandra masih bengong tak percaya.


Sedangkan Kafka terlihat girang saat itu.


"Istri saya beneran hamil Dok." tanya Kafka lalu memeluk dan mencium Diandra.


"Saya hamil, dua bulan, apa itu benar." tanya Diandra yg masih diam mematung.


Wajah Diandra terlihat sedih saat mendengar jika dirinya kini hamil. Entah apa yg Ia pikirkan saat itu.


"Iya sayang kamu hamil, kita akan punya baby." ucap Kafka sambil mengusap pipi Diandra.


Kafka dan Diandra keluar dari ruang pemeriksaan. Pandangan Diandra terlihat kosong dan wajahnya terlihat sedang memikirkan sesuatu.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Jangan lupa like, komen, rate dan vote karya aku ini.


Mampir juga di novel aku yang lainnya.


*Aku & Maru ku


*Cowok Pecemburu