Terpaksa Menikahinya

Terpaksa Menikahinya
12. Kafka lepas kendali


"Sayang aku lapar." ucapnya manja.


Raffa mengambil hp dari atas meja lalu menelpon Bibi untuk membawakan dua porsi sarapan.


Bi Us mengetuk pintu pelan dan


Raffa pun membukanya. Mengambil nampan berisikan sarapan pagi dari tangan Bi Us.


"Terima kasih Bi."ucapnya sopan.


"Iya Tuan."jawab Bi Us lalu pergi.


"Sayang ayo cepet di makan."


"Iya terima kasih." Diandra tersenyum manis.


Dia sangat bersyukur ada malaikat penjaganya yg selalu memanjakannya. Raffa begitu menyayangi seperti ratu dalam rumah tangga.


Rasa itu tidak bisa di ungkapkan dengan kata kata.


Selesei sarapan pagi Diandra dan Raffa keluar kamar dan duduk di ruang tv.


Ada Kafka dan Iffa duduk di sana.


Diandra tidak ingin duduk bersama mereka namun suaminya yg membuat tubuhnya terpaku di dekat mereka saat itu.


"Kak apa lukanya masih sakit." Tanya Iffa sedikit mendekatkan pandangannya ke lutut Diandra.


"Tidak sakit kan cuma luka kecil." Jawab nya sedikit menarik lututnya menjauh dari pandangan Iffa.


Iffa kembali menarik wajahnya pelan.


Kafka hanya meliriknya pelan karena hatinya masih mengumpal melihat Diandra duduk samping Suaminya.


Dia menganti- ganti chanel tv, sesungguhnya dia tidak ingin melihat tv namun emosinya membuat chanel itu berpindah pindah.


Diandra melihatnya sangat geram.


Ingin rasanya ia menarik remot tv itu dari tangan Kafka namun niatnya terhenti karena ada suaminya di sana.


"Apa yg dia lakukan kenapa menggantiny terus-teruan, dasar resek kurang kerjaan banget sih dia itu." Batinnya.


Raffa pergi setelah Papa dan Mama memanggilnya karena ada sesuatu yg harus mereka bicarakan.


"Sayang, aku tinggal sebentar ya karena mama memanggilku."Ucap Raffa.


"Iya, tapi cepat kembali ya."


Raffa mengelus rambutnya pelan dan mencium kening istrinya lalu pergi meninggalkan Diandra.


Ucapan Diandra membuat rongga telinga Kafka terasa ingin meledak. Wajahnya masih terlihat datar dan masam saat itu. Tentu saja dia marah karena dia cemburu.


Iffa juga pergi meningglkan ruang tv hendak mengerjakan tugas kuliahnya.


Hanya ada Kafka dan Diandra yg duduk di ruang tv.


Diandra merasa tidak nyaman dan canggung karena ada Kafka di ruangan itu namun dia berusaha menyembunyikannya.


Diandra merasa haus, dia berdiri dan ingin mengambil air yg ada di dekat dapur. Lututnya masih terasa ngilu jadi berdirinya pelan tidk bisa tegak.


"Aw..." Diandra merintih kesakitan tidak mampu berdiri.


Kafka meliriknya, dia tau jika Diandra ingin mengambil minum.


Kafka berdiri melangkah pergi mengambil sesuatu dari dapur.


Kembali membawa segelas air putih dan memberikannya pada Diandra.


Diandra ragu menerimanya namun rasa haus membuat tangganya meraih dan menerimanya.


"Terima kasih." ucap Diandra sedikit mengangguk meskipun batinnya terasa canggung.


Kafka masih diam tanpa membuka mulutnya sedikit pun


Hatinya masih dingin sedingin es batu.


Pikirannya masih berkeliaran entah kemana.


Bayangan itu membuatnya ingat sesuatu yg membuat batinnya tersiksa.


"Apa kau bahagia bersamanya?" Tanya Kafka tiba-tiba.


Diandra mengangkat wajahnya dan menatap Kafka lekat mencerna setiap kata yg keluar dari mulut kafka.


Batinnya masih bertanya- tanya, ada apa dia bertanya seperti itu.


"Iya, aku bahagia bersamanya memangnya ada apa." Memang dia sangat bahagia karena Raffa adalah pria yg dia dambakan sejak dulu.


Kafka memandang Diandra tajam penuh kebencian.


Diandra menunduk merasa tidak nyaman dengan tatapan mata itu.


"Kafka sungguh tampan tapi sayang dia sombong."batinnya.


Kafka menggeser duduknya sejajar dengan Diandra.


Diandra gelagapan dan jadi salah tinggkah.


Tidak tau apa yg akan di lakukan Kafka kepadanya nanti.


Kafka mengambil dagu Diandra pelan. Diandra terkejut dan menatapnya lekat.


Tatapan Kafka membuat jantungnya dag dig dug tak menentu. Matanya melebar bulat dan hatinya ingin menjerit memanggil suaminya.


"Cuups." Bibir Kafka mendarat mulus di bibir Diandra.


Diandra mendorong tubuh Kafka namun dia tidak perduli dengan status Diandra yg sekarang.


Dia semakin lekat menempelkan bibirnya tak ingin melepaskannya. Entah setan apa yg merasukinya hingga dia bisa nekat seperti singa kelaparan.


Diandra menggigit bibir Kafka keras.


Kakfa merintih kesakitan dan langsung melepaskan Diandra begitu saja.


Akhirnya dia pun mampu melepaskan diri dari jeratan singga yg ingin menerkamnya.


Diandra menata nafasnya yg hampir lenyap.


Hatinya sangat marah ingin memukul wajah Kafka keras.


Diandra berusaha berdiri tidak perduli sakit di lututnya.


Plaakk,,,


"Sialan, beraninya kamu mencium ku, dasar cowok brengsek." Makinya keras dan marah.


Dia pergi dengan kaki pincangnya dengan


hatinya menangis, batinnya sangat terluka dan jiwanya memberontak penuh amarah.


Kafka berteriak dan mengacak rambutnya kasar.


Dia menyesal tidak mampu menahan nafsunya.


Sungguh tersiksa batinnya tidak mampu menahan gejolak api yg begitu membara.


Vera mendekati Kafka dan mengelus bahunya pelan.


"Ada apa dengan mu."tanyanya yg heran melihat Kafka kesal marah.


Vera masih penasaran apa yg di lakukan kedua kucing itu tadi di sana.


Diandra duduk di atas ranjang mengusap kasar bibirnya dengan telapak tangan.


Menangis menyesal telah menghianati suaminya.


"Maafkan aku sayang, aku menodai cinta kita, aku bodoh tidak mampu menjaga diriku."ucapnya menyesal.


Raffa membuka pintu kamarnya pelan


mendekati istrinya yg masih menangis.


Memeluknya hangat dia merasa bingung melihat istrinya menangis.


"Sayang ada apa kenapa kamu menangis."tanya Raffa lembut.


Tangisan Diandra semakin pecah dan langsung memeluk suaminya erat, menyembunyikan wajahnya di dada suaminya.


"Aku hanya rindu pada ibu ku."jawabnya berbohong.


"Jangan nangis lagi, minggu depan kita ke sana untuk mengunjungi ibu."jawab Raffa membujuknya.


Diandra hanya mengangguk .


Dia tidak ingin suaminya tau jika singa itu telah menodai kesucian cintanya.


Raffa melepaskan pelukannya, mencium keningnya dan menyeka air mata istrinya.


Diandra merasa sedikit tenang dan lega karena Raffa selalu membuatnya bahagia.


Hanya Raffa sseorang yg mampu membuat hatinya meleleh.


Semua berkumpul di meja makan termasuk Diandra dan juga Kafka.


Diandra yg duduk di depan Kafka hanya menunduk menahan amarah.


Kafka meliriknya seperti tidak berdosa. Melupakan kejadian tadi dan tidak ingin membahasnya lagi.


"Sayang makanlah."tutur Raffa.


Diandra mengangguk dan menyuapi mulutnya dengan sesendok nasi tanpa sayur.


Dia hanya asal menyendok tanpa melihat isi piringnya.


"Ma, habis makan kami langsung pulang."ucap Raffa.


"Sayang, kenapa ngak nginep lebih lama lagi Mama masih kangen sama kalian." Bujuk mama


"Maaf Ma, lain kali saja kami akan menginap lebih lama." jawab Raffa dan mengengam tangan istrinya dari balik bawa meja.


"Kamu harus jaga kesehatanmu dan jaga istrimu. Jangan sering bergadang, jangan terlalu memikirkan pekerjaan."tutur Papa karena tidak ingin Raffa jatuh sakit lagi.


"Iya Pa, Papa ngak usah khawatir aku pasti baik- baik saja."


Kafka melihatnya iri, mereka lebih perhatian sama Raffa daripada pada dirinya.


Hatinya masih terluka, sorot matanya masih terlihat tajam menyeringai.


Kafka berdiri dan meninggalkan meja makan.


Hatinya masih terasa berkecamuk tidak karuan. Batinnya masih terasa perih dan


luka itu masih teramat dalam meyakitkan.


Raffa dan Diandra pergi meninggalkan rumah mewah itu.


Mobilnya semakin jauh meninggalkan kenangan perih itu.


Raffa meraih dan menggegam tangan istrinya. Menciuminya penuh arti dan tulus dari lubuk hatinya yg paling dalam.


Cinta Raffa sangat murni dan tulus padanya


Diandra menatapnya sebentar dan tersenyum tipis.


Kembali menunduk dengan wajah penyesalan.


Menyesal telah menghianati cinta suaminya yg begitu tulus padanya.


"Sayang, kamu pingin mampir ke mana."tanya Raffa yg masih menggegam tangan Diandra.


"Pulang saja karena aku ingin istirahat." jawabnya.


Raffa mengangguk dan lanjut melajukan mobilnya.


Raffa memarkirkan mobilnya santai di garasi rumahnya.


Diandra turun menunggu suaminya.


Kaki Diandra masih ngilu jalannya pun masih agak pincang.


Raffa menggendong tubuh ramping istrinya masuk rumah.


"Kenapa kau mengendong ku, sayang." tanya Diandra manja.


"Bukankah, kaki mu masih sakit."tanya Raffa balik.


"Iya, tapi....!


"Tapi tidak apa, aku masih kuat menggendong tubuh mu."sahut Raffa memotong ucapan istrinya.


"Terima kasih sayang." Ucap Diandra manja.


Tangannya melingkar di leher jenjang suaminya.


Menggigit bibirnya pelan, kedua matanya menatap wajah tampan suaminya.


"Jangan menatap ku seperti itu."ucap Raffa.


Diandra tersenyum dan menyembunyikan wajahnya.


"Karena kamu tampan, sayang."goda Diandra mesra.


Raffa ketawa kecil dan menciun kening istrinya.


"Dasar penggoda."ucap Raffa.


"Apa salahnya jika aku menggoda suami ku sendiri."


Raffa mendorong pintu kamar dengan kakinya pelan.


Masuk dan membaringkan istrinya pelan di atas ranjang.


Menatap wajah istrinya mesra.


"Tidak salah kau menggodaku tapi jangan saat ini kaki mu kan masih sakit."jawab Raffa mengelus pipi Diandra pelan.


Raffa masuk ke kamar mandi mengganti piyamanya.


Keluar dan kembali mengambil ganti untuk istrinya.


Raffa dengan telaten mengganti pakain istrinya.


"Sayang, aku pingin buang air kecil."ucap Diandra.


Raffa mengangguk dan langsung membopong istrinya ke kamar mandi.


Bersambung....