Terpaksa Menikahinya

Terpaksa Menikahinya
49.Nasib sial menimpa Vera


Ke esokan harinya vera bangun dengan wajah lesunya.


"Sialan, gara gara ucapan Iffa aku gk bisa tidur.Apa benar kamar ini banyak setannya, hii ngeri." ucap lirih sambil berlari keluar menuju dapur.Ia segera mengambil segelas air putih lalu.meneguknya hingga habis.


Iffa tertawa renyah melihat Vera berlari ketakutan.


"Rasain lo.." ucap Iffa puas.


Iffa keluar kamar langsung menuju ruang makan. Disana sudah ada Mama, Papa.dan juga Vera.


Iffa duduk sambil melirik ke arah Vera.


Vera menatap Iffa tajam. Ia masih kesal sam Iffa karena ucapannya semalam.


Namun Vera berusaha tersenyum meskipun hatinya masih kesal padanya.


"Ma, nanti aku mau ke apatemen Kak Diandra ya?" ucap Iffa ke Mamanya. Hari ini hari hari sabtu jadi tidak ada jadwal kuliah.


"Iya pergilah, salam buat kakak mu ya." jawab Mama lembut sambil menyesap jus woterlnya.


"Iffa, nanti bilang ke kakak mu ya, minggu besok suruh dia kesini." sahut Papa.


"Beres Papa."jawab Iffa sambil mengunyah makanannya.


"Iffa, bolehkah aku ikut denganmu?" tanya vera menyela pembicaraan mereka.


"Maaf kak, tapi aku harus pergi ke rumah temen aku dulu. Mending kaka temenin Mama belanja aja, benarkan Ma." jawab Iffa sambil nenatap ke arah Mama nya.


Sebenarnya Ia tidak mampir ke rumah temannya, namun ia malas jika ada vera ikut dengannya.


"Bener tu kata Iffa, kamu ikut Mama belanja ya, sayang." jawab Mama.


"Iya Ma." jawab Vera kesal sambil memasukkan sesendok nasi ke mulutnya secara kasar. Lagi lagi Iffa telah membuat Vera kesal. Vera memandang Iffa tajam dengan perasaan emosinya.


Iffa tersenyum puas melihat Vera kesal karena ulahnya.


"Syukurin tu, emanbg enak aku kerjain." ucap Iffa dalam hati sambil tersenyum menang.


Iffa segera pergi ke aparteman Kafka setelah selesei sarapan. Iffa pergi di antar sopir Han.


Sebelum menuju Apartemennya Iffa menelpon Kafka dulu. Iffa takut jika Kafka tidak ada di apartemennya.


"Pak, kita langsung ke Apartemen kak kafka aja ya." Perintah Iffa ke Han.


"Baik Non." jawab Han singkat.


"Pak, nanti segera pulang ya.Mama meminta Pak Han untuk mengantarnya ke pasar."


"Beres Non." jawab Han sembari mengancungkan jempolnya.


"Bagus, Pak Han emang keren." balas Iffa tersenyum,Ia juga mengancungkan dua jempolnya sebagai tanda bangga sama pekerjaan Han selama ini.


πŸŒΊπŸŒΊπŸŒΊπŸŒΊπŸ€πŸ€πŸŒΊπŸŒΊπŸŒΊπŸŒΊ


"Siapa yg telfon?" Tanya Diandra setelah melihat Kafka menutup telfonnya.


"Iffa mau ke sini." jawab Kafka sambil berganti pakain santai.


"o,,,! Apa, Iffa mau kesini?" Jawab Diandra terkejut.Ia segera berjalan menuju lemari mencari baju yg berkerah. Ia tak ingin jika Iffa melihat ada bekas merah di lehernya.


"Sayang, kamu kenapa, kenapa terkejut mendengar Iffa mau ke sini." Tanya Kafka yg heran melihat Diandra mengobrak ngabrik pakainnya.


"Sudah jangan banyak tanya, cepat bantu aku cari atasan yg berkerah." jawab Diandra sambil mencari-cari pakaian itu di lemari.


"Memang kenapa?" tanya Kafka masih binggung.


"Kafka Sayang, lihat ini." jawab Diandra sambil menunjuk lehernya yg ada bekas merahnya .


"O itu." jawab Kafka sambil tertawa renyah.


"Sayang, memangnya kenapa kalau Iffa lihat." Tanya Kafka meledek.


"Sudah diam jangan ketawa." jawab Diandra kesal.


Diandra segera barganti pakain setelah mendapatkan baju yg Ia inginkan.


Ting..tong...


Diandra segera membuka pintu setelah mendengar bel berbunyi.


"Pagi Sayang." sapa Diandra ramah ketika melihat Iffa datang.


"Pagi kakak." Jawab Iffa girang lalu memeluk Diandra.


"Aku kangen tau." imbuhnya lagi.


Wajah Iffa terlihat bahagia setelah melihat Diandra.


"Apa kamu ngak kangen sama aku." Tanya Kafka menggoda Iffa sembari mengerutkan matanya.


"Tentu saja aku juga kangen." jawab Iffa manja lalu berganti memeluk Kafka.


Kafka membalasnya sambil mengacak rambut Iffa pelan.


" Kak, Papa bilang besok kakak di suruh ke rumah. Katanya ada hal penting yg ingin Papa bicarakan." ucap Iffa lagi.


"iya." Jawab Kafka singkat.


Mereka bertiga duduk di ruang tv sambil menikmati cemilan dan jus advokat buatan Diandra.


"Kak, apa kakak punya alergi makannan" Tanya iffa lirih sambil melirik ke arah leher Diandra.


"Tidak, memang kenapa?" jawab Diandra heran.


"Ow... lalu kenapa leher kakak ada bekas merahnya?" tanya Iffa tanpa basa basi.


Diandra terkejut dengan pertanyaan Iffa.


Padahal tadi Ia sudah memakai baju berkerah tapi tetap saja masih kelihatan..


"Oh ini... e..!" jawab Diandra binggung.


"semalam kakak mu di gigit serangga." sahut Kafka yg asal bicara.


"Oh,,, begitu ya ." balas Iffa percaya begitu saja.


"Semalam kak Vera tidur di kamar aku, terus aku takut takutin tu......." Iffa menceritakan kejadian semalam saat ia menakut nakuti Vera.


Diandra dan Kafka tertawa renyah mendengar ucpan Iffa.


"Kamu mang keren ,Pao." jawab Kafka sambil tertawa.


Di saat mereka bertiga sedang asyik bercanda ria, Eh ada vera yg lagi cemberut di seberang sana.


Vera sangat kesal sama Iffa, saharusnya kini ia sudah bisa ngerjain Diandra, E...malah ia terjebak di pasar bersama Mamanya.


"Ma, aku udah capek, pulang yuk." Rengek Vera kesal.


"Sebentar dong sayang." Jawab Mama kalem.


" Tapi Ma aku udah capek." jawabnya lagi.


"Ya udah kamu duluan ke mobil,sekaliam bawa ini belanjaan mama." Balas mama sambil menyodorkan beberapa kantong plastik berisikan belanjaan dan sayuran.


Vera menerima dengan hatinya yg kesel.Ingin rasanya Ia berteriak dan menolak perintah mamanya, namun apalah daya itu tidak mungkin terjadi.


Vera kembali ke mobil dengan menenteng plastik belanjaan.


Tak sengaja Ia menendang bak berisikan lele.


Satu bak lele tumpah menimpah dirinya.


Bajunya kotor dan basah semua terkena air lele.


Kantong belanjaan terlepas begitu saja dari gemgamannya.


"Sialan, siapa yg naruh bak di sini." teriak Vera kesal.


"Maaf Nona, tapi bak itu dari kemaren memang letaknya di situ." jawab pemilik kios itu.


"Nona harus menangkap lelenya, karena Nona yg menabraknya." Ucap pemilik kios itu dengan nada sedikit tinggi.


Vera bangun dan menangis melihat tubuhnya sudah berlumuran air bercampur sedikit tanah.


Bahkan Baunya yg harum tadi kini berubah menjadi bau amis seperti bau ikan lele.


"Diam kamu,aku ngak mau ngambilin tu lele sialan.Kamu ngak tau siapa aku, aku adalah putri dari pemilik rumah sakit terbesar di kota ini." ucap Vera dengan Pedenya.


Pemilik kios itu hanya diam sambil mengelengkan kepalanya.


Ia tak percaya jika Vera adalah putri dari keluarga kaya raya itu.


Namun apalah daya, dari pada kena masalah akhirnya pemilik kios itu membiarkan Vera pergi.


Vera segera masuk ke mobil sambil menangis


"Semua ini karena Iffa, awas kamu Iffa." ucap vera sambil mengepalkan tangannya.


Ia ingin muntah karena mencium bau badannya yg sama persih seperti ikan lele yg amis.


Han ingin ketawa melihat nasib sial yg menimpa Vera, namun Ia berusaha menahannya.


"Syukuri tu, makanya jangan jadi orang jahat, tu karma buat kamu yg suka jahatin orang." Bisik Han dalam hati.


"Kenapa kamu lihat lihat, awas aja kalau kamu berani tertawa." ucap Vera mengancam Han sambil mengepalkan tangann ya ke arah Han


"Tidak Non, mana berani aku tertawa." Jawab Han sambil mengalihkan pandangannya.


Mama terkejut melihat vera yg sudah ambur adul ngak karu karuan itu.


"Sayang, kamu kenapa kok kamu bau amis." tanya Mama penasaran sambil menutup hidungnya.


"Tadi aku habis jatuh di bak lele ,Ma." jawab vera sambil tersenyum tipis.


Mama bukannya kasihan malah tertawa mendengar jawaban Vera.


Vera semakin kesel di buatnya.


😑😑😑😑😑


Di mana mana orang jahat akan selalu mendapatkan balasan yg setimpal ya kaka-kaka.


Ingatlah jika tak ada kejahatan yg sempurna


karena karma itu masih berlaku.


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™