Terpaksa Menikahinya

Terpaksa Menikahinya
7.makan bareng


Diandra duduk di samping Raffa.


Dia masih heran dan tak menyangka jika Raffa akan mengajak ke tempat itu. Memandang Raffa lekat ingin rasanya bertanya sesuatu tapi ia tak mampu berkata dan lebih memilih diam membisu. Tidak perlu banyak tanya karena mungkin itu tidaklah penting.


Diandra beralih memandang dua pelayan itu dan tersenyum tipis.


"Apa kabar kalian?" Sapa Diandra kepada dua pelayan itu. Diandra anak yg ramah tidak heran jika pelayan itu juga baik padanya.


"Baik Ndra, kamu di sini?" Tanya Kiki


"Iya kak Raffa yg mengajakku ke sini. Oh..ya, apa si bos sombong itu masih sering ke sini dan marah marah ngak jelas. Gara gara dia aku di pecat, ingin rasanya aku memukul kepalanya agar dia tidak sombong lagi." Ucapan Diandra membuat dua pelayan itu membulatkan matanya dan menelan ludahnya kasar takut jika orang yg di sebelah Diandra akan melaporkannya ke Kafka.


Diandra tidak tau jika orang di sebelahnya itu siapanya Kafka. Yang dia tau dia adalah Raffa si tampan dan si baik hati.


Bahkan dia tidak pernah tau siapa si bos sombong yg ia bicarakan tadi.


"Ehemmm." Raffa mencoba menghentikan obrolan mereka yg semakin menegang itu.


"Maaf Ndra, aku harus kembali kerja." Ucap pelayan itu yg langsung pergi meninggalkan Diandra.


Pelayan itu takut terkena masalah dan bos akan memecatnya.


"Makanlah, nanti keburu dingin." Lanjut Raffa.


Tidak ingin Diandra semakin membenci Kafka. Raffa sudah punya rencana laen untuk mereka tapi entah rencana apa yg di fikirkan Raffa saat ini.


Diandra makan dengan lahap, makanan itu terasa enak di lidahnya walaupun sudah lama kerja di tempat itu tapi dia tidak pernah sekalipun mencicipinya. Harganya yang mahal membuat Diandra tidak mampu membelinya.


Diandra tersadar jika kini dirinya tidak makan sendiri tapi ada orang lain di sebelahnya. Merasa malu dia pun menghentikan makannya dan melirik ke arah Raffa. Dengan anggun Raffa memakan makanan itu. Cara makannya sangat berbeda dengan


Diandra yg rakus itu. Berusaha pelan mengikuti cara Raffa.


"Kakak kenal sama yg punya restoran ini?" Tanya Diandra penasaran.


"Iya aku kenal, dia memang seperti itu sifatnya tapi sebenarnya dia sangat baik." Jawab Raffa membela.


Raffa berharap Diandra tidak akan membenci Kafka lagi. Karena dia sangat menyayangi Kafka dan juga Diandra.


Diandra kembali menyendok makananya mengunyahnya pelan memikirkan sesuatu yg membuatnya mengganjal dalam benaknya.


Mungkin Raffa tidak suka gadis yg cerewet seperti dia makanya ia lebih memilih diam saja.


Tidak perduli penjelasan dari Raffa, yg jelas Diandra sudah terlanjur sakit hati dan membenci sikap Kafka.


Gara gara kesombongan kafka kini Diandra harus kehilangan pekerjaanya yg sangat ia butuhkan.


Hari sudah siang Diandra ingin cepat pulang tidak ingin kena omel Ayahnya lagi.


Ayah sungguh berbeda dengan Ayah yang lain.


Ayahnya telah memperlakukan Diandra seolah dia anak tiri pembawa sial. Sungguh malang nasib Diandra harus berapa lama lagi ia akan hidup dalam penderitaan seperti itu.


Hanya ingin Ayahnya menyanginya seperti Ayah menyangi kakaknya.


"Kak, aku harus pulang."


Sesungguhnya dia tidak ingin cepat berpisah dengan pria yg ia kagumi itu.


Namun keadaan yg tidak memungkinkan untuknya berlama berada samping Raffa.


"Baiklah, aku akan mengantar kamu pulang." jawab Raffa sembari bangkit dari duduknya.


Meraih tangan Diandra menggandengnya keluar dari ruangan itu.


Diandra sangat bahagia, tangannya terasa hangat dan lembut. Jantung Diandra semakin berdegup kencang, bibirnya tersenyum merekah setidaknya bisa merasakan sentuhan lembut Raffa yg selalu memperlakukan seperti putri raja.


Raffa membukakan pintu mobil untuk Diandra,


Diandra pun masuk dan duduk di samping setir.


Raffa memutar balik melewati depan mobil, masuk dan duduk di bangku pengemudi.


Diandra terus menatap wajah Raffa yg duduk sejajar di sampingnya. Raffa membalas pandangannya karena dia tau jika sejak tadi Diandra terus memelototinya.


Tubuh Raffa menunduk dan mendekati diandra, wajahnya hampir menyentuh wajah diandra, tangan kanannya mengambil sabuk pengaman dan memasangkannya di tubuh Diandra.


Diandra tersenyum malu karena ia berfikir jika Raffa akan menciumnya, ternyata hanya ingin memasang sabuk pengamannya.


Raffa mengemudikan mobilnnya pelan santai. Tidak ingin rasanya ia berpisah dengan gadis pujaanya tapi apalah daya waktulah yg memisahkannya.


Sangat berharap Diandra akan menjadi pasangannya hidupnya. Dia adalah obat dalam kehidupannya karena Diandra lah alasan Raffa untuk berjuang hidup, bahkan dokter bilang ini sebuah keajaiban dan mukjizat yg luar biasa karena Raffa bisa bertahan lama untuk melawan penyakitnya, setidaknya Raffa masih punya kesempatan kedua untuk bertahan hidup lebih lama lagi.


Mobil yang mereka tumpangi melenggang mulus di depan rumah yg tampak mungil dan sederhana itu. Rumah orang tua Diandra memang kecil tapi tertata cukup rapi.


"Kak, terima kasih sudah mentraktirku."ucap Diandra pelan dan lirih.


Kembali menatap wajah Raffa lekat seperti ada yg ingin ia katakan.


Raffa mencium bibir Diandra pelan dan lembut.


Wajah Diandra menjadi merah merona, matanya menjadi bulat melebar,


hati dan jantungnya terasa mau copot.


pikirannya terasa melayang ke angkasa.


Raffa mengakhiri ciumannya dan mengelus rambut Diandra pelan. Diandra menunduk malu, malu untuk menatap wajah Raffa.


Dia keluar dan berlari kecil sembari memegang bibirnya.


Masih sangat terasa di bibirnya bekas ciuman itu.


Raffa kembali melajukan mobilnya pelan.


Merasa bahagia bisa sedekat itu dengan Diandra. Tersenyum dan mengelus bibirnya pelan, ia berjanji akan membuat hidup Diandra lebih bahagia lagi.


Tidak akan membiarkan laki- laki tua itu menyakitinya apa lagi menelantarkannya.


Diandra masuk rumah dan berdiri di depan pintu, masih tak percaya dengan apa yg terjadi barusan. Menata nafasnya supaya kembali normal seperti sedia kala.


Suara keras seseorang telah membuatnya kaget.


"Hey..ngapain kamu di situ? Cepet bantu ibu menjahit sukanya keluyuran saja. Saya aduin ke Ayah baru tau rasa." Bentak susana kasar.


Diandra langsung berlari kecil masuk kamar dan berganti pakain.


Selesei mengganti pakainnya Diandra keluar dan langsung membantu ibunya menjahit.


Tapi bentakan itu tak membuatnya sakit hati karena ia tidak ingin merusak suasana hatinya yg masih berbunga itu.


"Sayang, makanlah dulu sana pasti kamu lapar." Ucap Ibu Laela.


"Enak saja makan, hari ini kamu tidak dapat jatah makan karena ayah menghukummu." Sahut Susana kesal, Dia tau jika hari ini Diandra di antar pulang Raffa.


Makanya ia tidak terima dan marah melihat kedekatan mereka. Susana berencana akan mengadukan ini ke Ayahnya. Tidak ingin anak haram ini mendekati pria tampan dan mapan seperti Raffa.


Sedangkan Diandra hanya diam tidak perduli dengan ocehan Susana yg seperti burung beo itu.


Menurutnya Susana adalah kakak yg agak gila yg tiap harinya hanya mengomel tidak jelas.


Untung tadi Diandra sudah makan jadi hari ini ia tidak mungkin akan kelaparan lagi.


"Susana, dia kan adikmu tidak sepantasnya kamu bicara kasar padanya. Seharusnya kamu menyanginya dan menjadi contoh yg baik untuknya." Ibu laela menasehati


Susana pelan tapi Susana malah semakin marah.


"Heh,,, adik, dia bukan adikku dia hanya anak haram yg terlahir dari rahim Ibu."jawab Susana Marah.


"Jaga omonganmu, dia bukan anak haram hanya Ayahmu saja yang salah paham."


Bentak Bu Laela.


Diandra kaget dengan ucapan Susana hingga membuat hatinya terluka dan sedih.


"Apa maksudnya, aku anak haram apa aku bukan anak kandung ayah, sehingga selama ini ayah membenciku."ucap Diandra dalam hati. Kristal bening jatuh bercucuran dari pelupuk matanya.


Diandra menatap ibunya yg sedih. Omongan Susana sungguh keterlaluan telah membuat hati mereka tersakiti.


"Bu, apa benar yg di katakan kak Susana jika aku bukan anak ayah?"tanya Diandra lirih.


Bu Laela hanya memandang Diandra sambil menangis.


Bingung hsrus gimana menjelaskannya. Mungkin kini Diandra saatnya harus tau kebenarannya kenapa selama ini ayah dan kakaknya sangat membencinya.


Ini semua kesalahan ibunya di masalalu hingga saat ini membuat hidupnya Diandra menderita. Dia tidak berdosa dia bukan anak haram tapi karena wanita sialan itu telah membuat ayahnya membenci Diandra hingga saat ini.


Hati ibu Laela merasa sakit melihat perlakuan Suami dan Susana yg memperlakukan Diandra seperti budaknya.


Sungguh sangat sakit dan pilu namun apalah daya Suaminya lah yg telah berkuasa


Bersambung...


____


terima kasih udah mau mampir ke karya aku.


jangan lupa juga mampir ke karya aku yg laen ya.


--tujuan hidup


--roda kehidupan


salam hangat dari aku (dwi rinawati)