Terpaksa Menikahinya

Terpaksa Menikahinya
11.Cemburu


"Tidak, aku bilang makanannya sangat enak."jawab Diandra berbohong.


Selesei makan malam Raffa mengajak Diandra istirahat di kamar .


Diandra sekarang mengerti kenapa kemaren Raffa membela Kafka itu semua karena memang dia adiknya.


"Waktu aku bilang jika pemilik Restoran itu sombong tapi Raffa bilang dia baik hati.


Ruangan itu ruang pribadi milik Raffa juga berarti Restoran itu Restoran Raffa juga, makanya 2 pelayan itu sopan banget sama Dia."


kata kata itu kembali terlintas dalam benaknya.


Diandra membuka lemari Raffa untuk mengambil baju piyamanya yg sudah di siapkan Mama mertuanya.


Menarik sepasang piyama kasar dan


ada secarik kertas foto jatuh dari bawah piyamanya.


Dia mengambil dan melihatnya.


Deg...


Hatinya merasa hancur lebur, senyumannya berubah menjadi suram devil.


Diandra melihat Raffa dengan seorang gadis sedang berfoto bersama.


Raffa memeluk pundak gadis itu dari samping.


Mereka seperti akrab, senyuman mereka dalam foto membuat hati Diandra terbakar api cemburu.


Entah apa yg ia pikirkan saat itu.


Melihat suaminya tajam dan mendekatinya.


Memeluk dan menciumnya hingga dia berubah menjadi kucing liar.


Raffa heran melihat tingkah istrinya yg tiba tiba menjadi liar tak terkendali.


Dia menikmati permainan istrinya dan tersenyum puas.


''Sayang, bisakah kita tidur sekarang."tutur Diandra manja sembari membuka kancing piyama suaminya satu persatu.


Raffa mengangguk dan membaringkan istrinya di atas ranjang.


Raffa memeluk istrinya dan menciumi pipinya.


Sebenarnya Diandra merasa risih tapi dia berusaha tidak menolaknya.


Diandra memejamkan matanya erat namun


Raffa menikmatinya penuh gairah.


Tangannya mulai berlari ke sana ke sini,


bibirnya mulai berjalan lembut ke setiap tubuh jenjang istrinya.


Nafas Diandra semakin terasa sesak susah untuk bernafas. Diandra melakukannya demi mempertahankan suaminya, tidak ingin ada wanita lain yg merebut atau menggodanya.


Dia merelakan seluruh tubuhnya di cabik cabik kucing liar itu asal kucing itu tetap di sisinya.


Entah setan apa yg merasuki mereka hingga mereka bisa menggila seperti kucing liar mendapatkan mangsanya.


Diandra hanya pasrah menikmati permainan suaminya. Mengatur nafasnya yg terasa hampir putus karena ulah suaminya. Rasa sakit, perih dan ngilu dia tahan demi memuaskan suaminya. Sungguh ingin mati rasa sekujur tubuhnya terasa tercabik cabik. Lelah, letih tak berdaya di buatnya.


Puas dengan permainnya, kucing liar itu tergeletak tak berdaya. Menatap kucing betinanya merintih kesakitan.


Memeluk dan menciumnya lembut.


"Maafkan aku, sayang."tuturnya lembut.


Mengendong istrinya menuju kamar mandi.


Dia sangat perhatian dan menyayangi Istrinya.


Begitupun dengan Diandra yg sudah jatuh hati pada pandangan pertama.


"Bersihkan diri mu."


Kata- kata Raffa sangat lembut terdengar dan sangat manis untuk di resapi.


Jam setengah lima Diandra dan Raffa bangun dan di lanjutkan sholat subuh.


Usai sholat Diandra turun kebawah melihat mama mertuanya sibuk di dapur dan dia pun berjalan menyusulnya.


"Pagi Ma." Sapanya renyah.


" Sayang kamu sudah bangun."


"Iya Ma."balasnya


Diandra membantu Mama yg sibuk di dapur.


Tak sadar jika ada seorang tamu tak di undang datang kerumah mertuanya.


Papa dan Raffa main catur di halaman belakang.


Kafka dan Iffa bermain bulu tangkis.


Mama membuatkan teh hangat untuk mereka, menaruhnya di atas nampan.


"Ma, biar aku saja yg mengantarnya."ucap Diandra meraih nampan dari tangan mama mertuanya.


Diandra berjalan pelan tidak ingin cangkir dalam nampannya jatuh dan pecah.


Dia menghentikan langkahnya menatap suaminya tajam. Dia mulai mengatur nafasnya tidak ingin mereka tau jika hatinya kini sedang di landa rasa cemburu. Dia masih memandang tajam gadis yg duduk di samping suaminya.


Ingin rasanya ia menarik rambutnya dan mencabik cabiknya lalu melemparnya ke laut.


"Pa, ini tehnya." Dia berbicara sama Papa tapi bola matanya masih melirik suaminya.


"Terima kasih Nak, oh..ya kenalkan ini Vera." Ucap Papa mengenalkan gadis yg telah membuatnya semalam menjadi kucing liar.


"Aku Diandra." Dia memperkenalkan diri dan pergi meninggalkan mereka.


Dia duduk di atas ayunan melihat Kafka dan Iffa bermain bulu tangkis, tapi sepasang bola matanya masih tetap melirik suaminya.


Vera tau jika Diandra mengawasinya. Dia mencoba melingkarkan tangannya di atas pundak Raffa namun Raffa menepisnya pelan.


Seperti terputus urat malunya Vera terus berusaha mencari perhatian Raffa tanpa rasa malu.


Diandra menyadari jika Vera mencoba merayu Raffa. Dia semakin geram di buatnya dan tidak tahan lagi melihat pemandangan itu.


"Kak, ayo main."teriak Iffa mengajak d


Diandra main bulu tangkis.


Kafka menatapnya dingin, menyadari tatapan Kafka, Diandra segera mengalihkan pandangannya.


"Ayo lah Kak, Kak Kafka akan mengajari mu, ok."ucap Iffa sembari menarik tangan Diandra dari ayunannya.


"Maaf sayang ku, aku harus istirahat." Tolaknya lembut dan melangkah pergi meninggalkan Iffa.


Iffa mengerti jika Kakak iparnya pasti capek ngurusi kakaknya itu. Apa lagi dia kan pengantin baru.


Diandra melangkah pelan tanpa memperhatikannya jalannya.


Sepasang bola matanya masih melirik suaminya tajam.


Tidak sadar jika di depannya ada pot bunga kecil.


"Bruuk."


Diandra tersandung dan jatuh tersungkur di lantai.


Kafka langsung menolongnya dan membangunkan karena tempat Kafka berdiri lebih dekat darinya.


Raffa berlari mengambil alih tubuh istrinya yg masih dalam pelukan adiknya.


"Sayang, kamu ngk papa kan."tanya Raffa khawatir.


"Iya,.aku gk apa- apa."


Raffa mengendong istrinya masuk lalu mendudukannya di ruang tengah. Mengambil


kotak obat dan segera mengobatinya.


Dia sangat khawatir melihat lutut istrinya lecet berdarah.


Mama melihatnya dan berlari mengahampirinya.


"Sayang, kamu kenapa?"tanya Mama.


"Ngak apa- apa Ma, cuma luka kecil aja."


Diandra tersenyum melihat suaminya yg perhatian dan begitu mengkhawatirkannya.


hatinya merasa lega dan tersenyum licik.


"Terima kasih pot bunga, meski kau membuat luka di lutut ku tapi kau juga menolong ku untuk membawa suamiku jauh dari wanita itu." bisiknya dalam hati.


Kafka melihat kemesraan mereka menjadi kesal dan pergi meninggalkan Iffa.


Iffa melihatnya menjadi heran dan bertanya tanya .


"Ada apa dengannya kenapa dia marah marah, dasar kakak yg aneh."ucap iffa lirih.


Vera merasa puas melihat Diandra terluka.


Dia tersenyum licik dan kembali masuk ke dalam rumah. Dia berhenti dan menatap Diandra tajam. Senyuman liciknya kini berubah menjadi buas. Hatinya terasa perih seperti teriris sembilu yg tajam.


Dia tidak suka melihat kemesraan


Diandra dan Raffa saat itu.


Diandra menyadari jika Vera sedang kesal memperhatikannya.


Dia merayu manja kepada suaminya,


mencium kening suaminya dan memeluknya.


"Sayang, aku ingin istirahat di kamar."tuturnya manja.


Raffa mengendong tubuh kurus istrinya.


Diandra melingkarkan tangannya di leher jenjang suaminya sembari


melirik Vera dengan senyuman puas bisa membalasnya.


Vera semakin terbakar hatinya.


memukul dinding di sampingnya dengan keras.


"Sialan, beraninya dia membuat ku marah, awas kau sialan."ucapnya lirih


Kafka di dalam kamar masih dalam marahnya.


Menjambak rambut dan mengacaknya kasar.


Memandang wajahnya di depan cermin dan tersenyum dangkal, tangannya mengepal dan memukulnya ke meja pelan.


entah apa yg terjadi dengan Kafka, kenapa dia begitu benci dan marah melihat kemesraan mereka. Apa yg dia sembunyikan. Hanya dia dan Tuhan yg tau.


****


Diandra duduk di atas ranjang bersama suaminya.


"Sayang?"panggilnya Mesra.


"Hem, ada apa?" Jawab Raffa


"Siapa Vera?"tanyanya yang masih penasaran dengan status Vera sekarang.


"Dia anak dari sahabat dekat Papa. Ayah dan Ibunya meninggal dalam kecelakaan ketika dia masih SD. Sebelum meninggal mereka menitipkan Vera ke Papa. Karena Vera sudah tidak punya siapa siapa lagi. Papa mengasuhnya hingga dia dewasa. Papa sudah menganggapnya seperti anak sendiri." jelas Raffa jujur.


"Ow.. Apa dulu dia tinggal di sini."tanyanya lagi.


"Tidak, Papa membayar asisten untuk mengurusnya di rumahnya sendiri. Papa dan Mama sering menjenguknya. Kadang dia menginap di sini, emang ada apa?"tanya Raffa


"Tidak, tidak ada apa-apa cuma sekedar bertanya saja. Sayang aku lapar." ucapnya manja.


Raffa mengambil ponsel dari atas meja dan menelpon Bibi untuk membawakan dua porsi sarapan.


bersambung....


🙏🙏🙏🙏


habis baca jangan lupa tinggalkan 👍like,komen dan saran.


vote ,rate ⭐dan tekan tanda♥️


terima kasih🙏


mampir juga di novel aku yg berjudul


**tujuan hidup


**roda kehidupan