Terpaksa Menikahinya

Terpaksa Menikahinya
71. Buah Asam


"Apa harus sekarang ya makannya?" Tanyanya sambil mengaruk kepalanya yg terasa gatal padahal tidak sedang gatal.


"He'em." jawab Diandra sambil tersenyum dan mengangguk.


Kafka tidak habis pikir kalau istrinya akhir-ahir ini pingin makan yg aneh-aneh.


Sebagai suami yg baik Kafka hanya bisa mengikuti dan menuruti kemauan si Istri.


Kafka pun segera keluar dan mencari buah asam yg ada di dekat rumah warga di temanni Pak Ali. Untungnya di dekat situ ada pohon asam yg sedang berbuah.


Pak Ali segera memanjat pohon itu dan mengambil beberapa tangkai saja.


Pak Ali turun dari atas pohon langsung merasa geli dan gatal semua tubuhnya karena banyak semut yg mengerubunginya.


Kafka membantu Pak Ali untuk membersihkan semut dari tubuhnya.


Ia merasa kasihan sama Pak Ali karena ulah Istrinya Pak Ali harus jadi korban.


"Maaf ya Pak, saya sudah bikin Bapak kaya gini." Ucapnya sambil membersihkan punggung Pak Ali.


"Tidak apa-apa Den, namanya juga Istri yg minta kan harus di turuti." jawab Pak Ali.


Kafka hanya tersenyum sambil mengangguk.


Mereka kembali ke Vila dengan mengendarai sepeda motor.


Kafka langsung masuk dan memberikan asam itu ke Istrinya.


Diandra langsung girang bukan kepalang saat melihat buah asam itu, Ia langsung membersihkan dan kembali duduk di ruang tv. Ia segera melahapnya seperti orang sedang makan kerupuk yg renyah tanpa ada rasa kecut sama sekali.


Kafka hanya bisa menelan ludahnya yg dari tadi sudah terasa penuh ada di tempatnya.


Kafka tidak habis pikir bagaimana rasa kecutnya buah asam itu saat masuk kedalam mulut. Lihat aja sudah bikin ngilu apa lagi memakannya, ampun deh.


"Sayang, jangan terlalu makan banyak nanti perut kamu sakit lo." ucap Kafka sambil menyesap air putih dari dalam gelas.


"Iya aku tahu." jawabnya.


"Kamu mau incip ngak." tanya Diandra sambil menyodorkan buah asam ke Suaminya.


"Ngak,lihat aja bikin gigi ku ngilu apa lagi makan." jawabnya sambil menggeliat karena tidak tahan membayangkan rasa asam itu.


"Seger tau." ketus Diandra.


Kafka hanya mengelengkan kepala melihat tingkah Istrinya yg aneh itu.


"Buah asam kaya gitu di bilang seger, aneh." batinnya


Hari pun sudah mulai gelap, Kafka dan Diandra istirahat di dalam kamarnya.


Bising suara katak dan jangkring dari persawahan membuat Diandra merasa nyaman, katanya seperti alunan lagu yg merdu dan indah di telinganya.


Lagi lagi Kafka hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Sudah malam ayo kita tidur." ucap Kafka lalu memeluk tubuh istrinya.


Bukannya tidur Diandra malah asyik mendengarkan suara katak dan jangkrik dari luar.


"Sayang." panggilnya.


"Heem.." jawab Kafka dengan mata terpejam.


Kafka merasa lelah dan mengantuk saat itu.


"Kamu sudah tidur?" tanyanya lagi.


"Ada apa?" ucap Kafka dengan mata masih terpejam.


"Aku lapar." jawab Diandra sambil menarik kedua ujung bibirnya.


"Tapi ini sudah malam, di sini ngak ada orang jualan di malam gelap seperti ini." jawab Kafka sambil berusaha mengerjipkan matanya yg tinggal beberapa watt itu.


"Tapi aku lapar." ucapnya memelas.


Kafka bangun dan keluar menuju dapur mencari sesuatu yg bisa di masak.


Ia mencari setiap lemari kecil yg ada di dapur berharap ada makanan yg bisa di makan.


Untung kemaren dia beli susu dan mie instan.


Kafka langsung masak mie itu dengan mata yg sangat mengantuk.


Diandra duduk di meja makan sambil melihat punggung suaminya yg berdiri leyot itu.


Gimana tidak leyot/lemas kalau seharian dia harus mondar mandir cari makanan buat istrinya.


Ia langsung menyajikan mie rebus itu di depan Istrinya.


Mie rebus pakai telur ceplok dan cabe yg pedas, karena Diandra memang suka pedas.


"Makan lah biar kenyang." ucap Kafka sambil menguap.


Diandra langsung melahapnya dengan rakus padahal mie itu sangat pedas dan panas.


Baginya mie itu sangat enak luar biasa seperti makan mie ramen di lestoran berbintang lima.


Kafka tidak kuat lagi menahan kantuknya.


Ia menyandarkan kepalanya di atas meja sambil menemani Istrinya makan mie.


Tak terasa matanya terpejam erat hingga beberapa detik.


Selesei makan Diandra pergi ke dapur untuk mencuci mangkoknya.


Ia merasa kasihan saat melihat suaminya tertidur di atas meja.


Ia sadar jika seharian Ia sudah menyusahkan suaminya tapi mau gimana lagi rasa pinginnya tidak bisa di tunda lagi.


"Sayang ayo bangun aku sudah selesei makannya." Diandra berusaha membangunkan suaminya. Ia mengusap punggung suaminya lembut.


"Hem." Jawab Kafka mengerjipkan matanya berusaha untuk bangun.


Kafka bangun dan kembali ke kamarnya.


Akhirnya Kafka dan Diandra bisa tidur dengan pulas.


Di rasa baru tidur, eh ngak taunya ayam sudah berkokok begitu saja.


Hari pun sudah mulai pagi, Kafka masih tertidur pulas sedangkan Diandra sudah sibuk memasak di dapur di temani Bu Ratna.


Bu Ratna adalah Istri dari Pak Ali.


"Bu Ratna punya anak berapa?" Tanya Diandra penasaran.


"Punya anak satu tapi sudah kerja." jawab Bu Ratna yg sibuk mengaduk opor ayam kampung.


" Kerja di mana?" Tanyanya lagi sambil menoleh ke arah Bu Ratna.


"Kerja di kantor Tuan." Jawabnya Bu Ratna.


"Tuan Raffa yg mengajak anak saya kerja di kantornya." jawabnya dengan tersenyum.


Deg...


Hati Diandra sontak kaget, tiba-tiba Ia ingat dengan wajah Raffa saat itu. Ia tersenyum sendu dan kembali menunduk.


Tak terasa air matanya jatuh perlahan, Ia menyekanya sebelum Bu Ratna menyadari jika kini dirinya sedang menangis.


"Siapa nama anak ibu?" tanyanya lagi


"Novi, Non."


Sekilas Ia ingat nama gadis itu. Setahunya karyawan Raffa yg bernama Novi hanya satu yg sekarang jadi kekasih sahabatnya yaitu Jaka.


"Apa anak ibu namanya Novi Heni jaya."tanya Diandra, semoga Ia tidak salah sebut.


"Iya benar Non, Kok Non tau." jawab ibu Heran.


"Dulu aku sering ikut ke kantor bareng Kafka Bu, dan aku sempat jalan-jalan keliling kantor di temani Novi. Dia sangat cantik kok Bu, aku sempat kenalin Novi sama temen aku Bu namanya Jaka.


Jaka adalah anak yg baik, aku sudah mengenalnya dari kecil. Aku rasa mereka sangat cocok kok Bu." jelas Diandra panjang lebar.


Ibu Ratna tersenyum tipis saat mendengar cerita dari Diandra.


Ia seneng jika memang itu benar tapi sebagai seorang Ibu, Ia juga khawatir kalau anaknya akan terluka hatinya, secara status mereka sangat jauh berbeda.


Ia berfikir jika Jaka adalah anak orang yg terpandang dan punya status yg menohok, sedangkan anaknya hanya anak dari seorang pembantu yg tinggal di desa terpencil.


Ibu Ratna masih terdiam mendengarkan cerita dari Diandra sambil membuka telinganya lebar.


Ia sedikit lega setelah Diandra bilang jika orang tua Jaka juga sudah merestui hubungan mereka. Jaka adalah anak tunggal dan semua ke inginannya selalu di turuti orang tuanya.


Bu Ratna berharap jika Jaka adalah pilihan yg tepat untuk putrinya.


♥️♥️♥️♥️♥️♥️


Itulah cinta yg tak pernah pandang status.


Status bukanlah segalanya karena status juga butuh cinta.


🍀🍀🍀🍀🍀


Jangan lupa like, komen., rate dan vote ya.


Mampir juga di novel aku yg terbaru.


👉Cowok pecemburu


🌹Aku & Maru ku