Terpaksa Menikahinya

Terpaksa Menikahinya
21.Kejutan 1


Diandra pulang dengan wajah sembabnya, kelopak matanya bengkak namun hatinya merasa lega bisa mengungkapkan semua unek- uneknya yg selama ini mengganjal di dalam batinnya.


Setidaknya ia sudah mengambil langkah yg benar.


Hari mulai gelap Diandra masih tengkurep di atas ranjang, enggan untuk bangun walau hanya sekedar mencuci mukanya.


Dia tak ingin melakukan apapun kini dirinya benar- benar mager.


Kring...Kring...


Suara ponselnya berbunyi, ia mengambilnya dari dalam tas yg tergeletak di atas ranjang yg tak jauh darinya.


"Hallo.."jawab Diandra males bahkan ia hanya asal pencet tanpa melihat siapa yg menelponnya.


"Sayang,,, apa kau baru bangun."tanya seseorang dari seberang sana. Dari suara serak Diandra, Raffa sudah bisa menebaknya jika kini istrinya baru bangun tidur.


"Sayang, maaf tadi aku tertidur."jawab Dindra lalu mengalihkan panggilannya ke vidio call.


Diandra bisa melihat wajah suaminya yg tampan itu dari layar ponselnya.


Senyumnya kembali merekah melihat suaminya baik- baik saja.


"Apa kamu sudah makan."tanya Raffa.


"Iya, aku sudah makan," jawab Diandra berbohong.


Dari siang Diandra belum makan hingga sekarang.


"Kapan kamu pulang aku merindukan mu, muachh..!" ucap Diandra manja lalu mencium suaminya lewat ponselnya.


Raffa tertawa ringan melihat istrinya yg manja.


"Aku akan segera kembali, aku juga merindukan mu."


"Sayang, jaga kesehatan mu jangan telat makan dan belajarlah yg rajin. Selama aku pergi kamu jangan nakal." pesan Raffa.


Diandra mengangguk lalu memoncongkan bibirnya dan tersenyum imut sembari memainkan matanya.


"Jangan menggodaku apa kamu tidak kasihan padaku."ucap Raffa menunujuk ke bawah( adik kecilnya).


Diandra tertawa renyah sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


"Maafkan aku tuan, aku lupa jika ada adik kecil yg juga merindukan ku. Aku janji aku tak akan mengoda mu lagi."jawab Diandra


Raffa ikut tertawa melihat Diandra yg lucu.


Diandra telah mampu membuat hati Raffa terus tersenyum.


Ia tak tau bagaimana caranya akan membuat Diandra selalu tertawa seperti itu. Ia takut akan membuat Diandra bersedih.


Cepat atau lambat Tuhan pasti akan mengambilnya hanya menunggu waktu dan gilirannya tiba.


Air matanya menetes namun ia mencoba menyembunyikannya dengan cara mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya. Dia sudah berjuang keras melawan penyakitnya, Diandra telah mebuatnya bangkit dan kembali bersemangat untuk melawan penyakitnya.


"Sayang, apa kau masih di situ?" tanya Diandra yg tak melihat suaminya di layar ponsel.


"Iya aku masih di sini."jawab Raffa pelan lalu kembali memperlihatkan wajahnya di layar ponsel.


"Ada apa, apa ada masalah ?" Diandra sedikit curiga.


"Tidak ada apa-apa aku hanya merindukan mu, aku ingin cepat pulang."jawab Raffa berbohong.


"Sayang, papa memanggil ku nanti aku telpon lagi..daah muaach..."ucap Raffa lalu mengakhiri panggilannya.


Raffa tak sanggup menatap wajah Diandra, ia ingin menangis takut Tuhan akan mengambilnya secepat mungkin.


Dia tak sanggup melihat istrinya bersedih melihat kepergiannya.


Diandra merasa heran dan aneh dengan sikap suaminya yg tiba- tiba berubah menjadi suram, namun Diandra menepis pikiran negatifnya itu. Dia percaya jika suaminya hanya meridukan dirinya hingga wajahnya berubah suram.


Hari sudah larut malam, Diandra tertidur pulas di balik selimut hangatnya. Malam ini pertama kalinya ia tidur sendiri setelah menikah namum Diandra merasa tidak ada yg aneh dengan kesendiriannya.


Dia sudah terbiasa tidur sendiri di waktu ia belum menikah.


Sekitar setengah lima pagi Diandra bangu lalu sholat shubuh.


Selesei sholat Diandra turun membantu Bibi masak. Dia sudah biasa bangun pagi lalu mengerjakan pekerjaan rumah. Selama jadi istrinya Raffa hanya sekedar membantu masak ia tak pernah melakukan pekerjaan rumah lainnya.


Diandra kembali ke atas lalu mandi.


Ia bersiap untuk pergi kuliah.


Sebelum berangkat kuliah Diandra mengirim pesen ke suaminya.


"Sayang, jangan hubungi aku dulu aku harus kuliah. I love u sayang... muachh."send.


Diandra turun lalu duduk di meja makan untuk sarapan.


Dia melihat bangku suaminya kosong kini suasana sangat berbeda biasanya ada Raffa di sampingnya.


Diandra tersenyum lalu mengambil ponselnya dari tasnya.


Bangku kosong itu ia foto lalu mengirimnya ke Raffa.


"Biasanya kamu duduk di situ menemani ku makan. Cepat kembali bangku dan istri mu sudah merindukan mu."send.


Dindra pergi ke kampus di jemput Rosi.


Dia duduk di samping Rosi ada Jaka duduk di samping sopir.


"Ndra, kapan suami mu pulang."tanya Jaka.


" Katanya seminggu lagi."jawab Diandra.


"Kenapa di sana ia sangat lama."tanya Rosi.


"Benarkah, tapi dia bilang begitu. Mama sama papa juga ikut menemaninya. Ah,,,ngak usah terlalu di pikirkan mungkin tugasnya sangat banyak kali."jawab Dindra cuwek.


Rosi masih tak percaya.


"Papa Raffa adalah seorang dokter kenapa harus ikut menemaninya sedangkan bisnis anaknya di bidang properti lalu apa hubungannya."tanya Rosi dalam hati namun ia tak berani mengatakan kepada Diandra. Rosi tak ingin Diandra merasa cemas dan khawatir.


___***___


Raffa sudah berada di rumah sakit untuk melakukan beberapa pemeriksaan.


Kini ia tinggal menunggu hasilnya berharap hasilnya sangat memuaskan. Mama dan Papa juga sedikit khawatir dengan hasil tesnya.


Dokter memanggil Raffa ke ruang prakteknya.


Papa dan Mama mengikutinya dari belakang.


Mereka duduk lalu mendengarkan penjelasan dari dokter.


Dokter menjelaskannya secara rinci dan detail mengenai kondisi Raffa yg sekarang.


Raffa merasa sedikit lega mendengar penjelasan dari Dokter, setidaknya masih ada waktu dan harapan untuk ia hidup lebih lama.


Ia janji akan mengikuti semua anjuran Dokter.


Meskipun begitu Raffa masih khawatir jika sewaktu- waktu Tuhan akan mengambilnya secara tiba- tiba, sebelum ia berhasil membuat istrinya bahagia. Rasa itu selalu berselimut dalam benaknya.


Raffa kembali ke tanah air dengan pesawat pribadinya.


Ia sudah tak sabar ingin bertemu istrinya.


Ia sudah berbohong pada istrinya jika ia akan pergi lama namun pada kenyataannya ia hanya pergi untuk beberapa hari.


Ia juga sengaja tak membalas pesan atau menelpon istrinya.


Raffa ingin memberi kejutan pada istrinya.


"Sayang...maafkan aku, aku telah membuat khawatir semoga kau senang dengan kehadiran ku yg tiba- tiba ini." Ucap Raffa dalam hati dengan senyuman yg merekah.


***


Hari sudah mulai gelap, Diandra duduk mematung di ruangn tv.


Mengeser geser ponselnya berharap suaminya akan menelpon atau membalas pesen yg ia kirim tadi pagi.


Diandra merasa kecewa hingga malam tiba Raffa tak memberi kabar padanya.


Dia mencoba menelponnya berharap akan ada jawaban dari Raffa lagi- lagi Diandra di buat kecewa olehnya. Nomor ponsel Raffa tak bisa di hubungi.


"Ada apa dengannya apa dia masih sibuk, kenapa nomornya ngak aktif lalu kenapa juga tidak membalas pesan dari ku. Sungguh menyebalkan awas aku pasti akan menghukum mu Tuan.


Hari sudah mulai larut, Diandra beranjak dari duduknya lalu melangkah pergi untuk kembali ke kamar.


Ponsel yg dia buang di atas kasur berbunyi keras.


Ada panggilan masuk dari seseorang.


Diandra mengambilnya lalu mengeser tombol hijau.


"Hallo...ada apa ?" jawab Diandra malas


"Bisakah kita bertemu ?" tanya Kafka dari seberang sana.


"Maaf ini sudah terlalu malam aku ingin istirahat ."


Diandra tak ingin menemuinya apalagi hari sudah larut malam. Ia tak ingin ada hal yg tak di inginkan terjadi pada dirinya.


"Hanya sebentar keluarlah aku sudah di bawah." ucap Kafka.


Diandra kaget dan glagapan mendengar ucapan Kafka.


"Dasar gila, kenapa dia malam malam datang ke sini apa yg ia inginkan dari ku."ucap Diandra lirih. Dulia sangat kesal dengan sikap Kafka yg kekanak- kanakan itu.


Diandra keluar dari kamar lalu turun ke lantai satu.


Membuka pintu kasar dan menatap wajah Kafka tajam.


Kafka berdiri di depan pintu menenteng tas kresek di tangan kanannya.


"Malan Nona maaf aku sudah menganggu waktu istirahat mu."ucap Kafka.


"Ada apa? Kenapa malam- malam kamu datang ke sini?"


"Aku hanya ingin memberi mu ini." jawab Kafka sambil menyodorkan tas kresek ke Diandra.


Diandra menerimanya.


Di waktu yg bersamaan ada mobil mewah datang memasuki gerbang rumah.


Diandra dan Kafka melihatnya.


Hati Diandra merasa bingung dan cemas melihat suaminya pulang.


Sopir Han keluar lalu membukakan pintu untuk Raffa. Raffa turun dan berdiri di samping mobil menatap ke arah Diandra dan Kafka tajam


♥️♥️♥️♥️


jangan lupa 👍like,komen dan sarannya.


vote + ⭐rate 5


terima kasih🙏🙏