
Kafka menghentikan mobilnya di pinggir taman mencari keberadaan Diandra.
Menyapu setiap sudut taman dengan hati yg berbunga.
Matanya terlihat berbinar cerah-secerah mentari, hatinya telah berbunga seperti bunga di pagi hari.
Dia melihat Diandra duduk memaku di tengah taman.
Terlihat sangat cantik dan sangat memukau.
Hanya dia yg mampu melelehkan hati Kafka.
Kafka menghelai nafas panjang lalu melepaskan kasar.
Menata penampilannnya yg sedikit berantakan. Dia melangkah cepat mendekati keberadaan Diandra.
"Maaf aku telat apa kamu sudah lama menunggu ku."
Diandra menoleh sambil menggelengkan kepalanya.
Kafka duduk di sampingnya dengan senyuman manis.
"Maaf,, aku sudah menganggu pekerjaan mu.
Aku ingin bicara sesuatu padamu."ucap Diandra dengan menudukan pandangannya dan meremas- remas jemarinya. Dia berusaha menyembunyikan kekhawatirannya.
"Tidak apa-apa. Kenapa kau menyuruh ku ke sini?" jawab Kafka. Dia menatap wajah Diandra dari samping namun Diandra masih tetap membuang mukanya jauh entah ke mana.
"Kafka,,,." Panggilnya pelan, memandang wajah Kafka sebentar dan kembali membuang mukanya.
"Iya,, ada apa?"jawab Kafka yg masih memandang Diandra .
"Kafka,, sejak kapan kau memiliki perasaan itu kepada ku." Tanya Diandra lirih .
Dia masih tak berani menatap Kafka dengan benar, ia hanya melirik pelan lalu kembali membuang mukanya lagi.
Kafka mengambil tangan Diandra lalu menempelkan di atas dadanya.
"Sejak pertama kali aku melihat mu."jawab Kafka lalu menaruh kembali tanggan Diandra diatas bangku.
"Mungkin kamu tidak menyadarinya,.aku menyukaimu sejak kamu datang ke Restoran ku.
Diam- diam aku memperhatikan mu dari jauh. Semenjak itu perasaan ini tumbuh subur di dalam jiwa ku. Aku melihat dirimu berbeda dengan wanita lain, sangat dan sangat berbeda dengan gadis pada umumnya." jawab Kafka jujur.
"Itu sudah lama sekali lalu kenapa kau tak pernah menemui ku."tanya Diandra dan menatap wajah Kafka lekat.
Diandra merasa bersalah ternyata Kafka sudah lama menyimpan perasaan itu hampir dua tahun lamanya.
"Aku ingin lebih jauh tau tentang kehidupan diri mu. Hampir setiap hari aku membututi mu dan juga mencari info tentang mu. Siang itu aku ingin menemui mu di taman, aku membawa cincin dan juga seikat bunga untuk mu.
Aku ingin menyatakan perasaan ku padamu namun dia telah mengacaukan semuanya.
aku melihat ada Raffa duduk di bangku taman bersama mu. Kalian seperti sudah akrab dan aku tak ingin menganggu pertemuan kalian. Aku pikir dia hanya ingin berkenalan dengan mu tapi ternyata aku salah." Jelas Kafka.
Dia tersenyum tipis lalu membuang nafasnya kasar.
Diandra meneteskan air mata pelan lalu menyekanya dengan telunjuk jarinya. Dia tak ingin terpancing alasan Kafka.
"Maaf,, maafkan aku, aku telah menyakiti perasaan mu, aku sudah membiarkan perasaan mu menanam rasa itutapi jujur aku sangat tersiksa mendengar pengakuan mu." Jawab Diandra.
Dia menangis dengan perasaan sangat bersalah. Seandainya ia tidak pernah datang di kehidupan mereka maka semua tak akan serumit ini.
Dia merasa jika dia adalah gadis pembawa sial seperti yg di katakan Ayahnya dulu.
"Kafka, aku tau kau sangat tersiksa dengan perasaan mu tapi aku mohon pada mu buanglah rasa itu. Jangan kau siksa diri mu hanya demi gadis miskin seperti ku. Lupakan aku dan carilah gadis yg lebih baik yg pantas untuk mu." jawab Diandra serak.
Ia ingin memeluknya lalu mengusap air matanya namun Diandra menepisnya pelan.
"Aku tak yakin jika aku mampu untuk melupakan semua itu. Aku tahu perasaan ini salah tapi aku tak mampu menolaknya. Semakin aku melupakan mu semakin sakit dan tersiksa batin ku." Jawab Kafka.
"Dia adalah kakak mu mana mungkin kau akan menghianatinya karena dia sangat menyayangi mu.
Dulu aku pernah membenci mu karena kamu begitu dingin dan kasar pada ku tapi kakak mu berusaha membelamu. Dia tak ingin aku membenci mu dan itu sangat menyakitkan bagi ku. Dia lebih membela mu daripada membela ku. Aku tidak tau jika kalian adalah saudara."ucap Diandra
"Iya,,, dia memang kakak ku tapi dia selalu beruntung daripada aku. Dia beruntung mendapatkan cinta mu, dia beruntung mendapatkan kasih sayang kedua orang tuaku, ia sangat beruntung." Jawab Kafka.
Kafka merasa kesal mendengar Diandra membela Raffa hatinya semakin terasa sakit dan dadanya semakin terasa sesak.
"Kau jangan salahkan dia.salahkanlah aku, kehadiran ku telah membuat keadaan semakin rumit."Sahut Diandra. Diandra menangis hingga terisak isak. Ia selalu menyalahkan dirinya sendiri atas semua yg terjadi.
Kafka memeluk Diandra lalu megusap rambutnya pelan. Dia tak sanggup melihat Diandra menangis bersedih.
Ia merasa bersalah telah membuat batin Diandra semakin tersiksa.
Diandra tak menolak pelukan Kafka tapi dia juga tak membalasnya. Kini ia butuh tempat untuk bersandar. Hatinya sangat hancur batinnya sangat perih dan terluka.
"Maafkan aku, aku telah membuat mu menangis." Ucap Kafka. Dia masih memeluk Diandra erat.
Diandra melepaskan pelukannya lalu menatap wajah Kafka tajam.
"Kafka, apa kau tahu belasan tahun aku telah hidup menderita aku berjuang hidup demi memenuhi kebutuhanku. Ayahku telah membenci ku, Dia tak mengharapkan kehadiran ku. Aku sangat tersiksa dengan sikap Ayah ku lalu Raffa datang memberi ku semangat. Dia mampu mambuat ku tersenyum dan melupakan kesedihan ku.
Dia seperti malaikat dalam hidup ku lalu Dia melamar dan menikahi ku. Kehidupan ku berubah aku telah merasakan kebahagian bersamanya." Jelas Diandra jujur lalu mengambil nafas panjang dan menghempaskan kasar.
"Jika kau memang benar mencintai ku maka kau akan membiarkan aku bahagia bersamanya. Jika kau mencintai ku maka kau rela mengorbankan perasaanmu untuk ku. jika kamu mencintaiku maka kau akan melupakanku dan membiarkan aku hidup bersama dia."ucapnya serak. Dia masih menangis namun ia berusaha menahannya.
Suaranya semakin lirih dan pelan.
Nafasnya semakin terasa sesak menahan tangisan.
Kafka memegang kedua bahu Diandra lalu menatap wajahnya tajam, tatapannya sungguh penuh arti.
Diandra membalas pandanggannya.
"Diandra, aku akan membuat mu bahagia, tolong biarkan perasaan ini tumbuh subur di hati ku. Aku janji aku akan membuat mu seribu kali bahagia seperti saat kau bersamanya."jawab Kafka
Diandra menepis tangan Kafka pelan, Dia masih menatap wajah Kafka denga mata berkaca- kaca.
"Kau harus tau jika cinta itu tidak harus memiliki cinta itu tidak bisa di paksa. Kau harus tau itu, aku memberikan cinta ku hanya untuknya. Jikalau kamu mampu membuat ku pisah dengannnya belum tentu aku akan hidup bersama mu. Semakin kau mengejar ku maka aku akan semakin jauh pergi meninggalkan mu, semakin kau mendekati ku maka aku akan semakin jauh untuk menghindari mu. Ku mohon lupakan aku anggap aku sudah mati anggap aku tidak pernah hadir dalam hidup mu. Kuburlah perasaaan mu atau aku akan pergi jauh hingga kau dan dia tak akan pernah menemukan ku." Ucap Diandra agak sedikit keras. Dia mengancam Kafka akan pergi jika Kafka terus mengejarnya. Dia sudah tidak tau harus bagaimana supaya Kafka pergi dan mengalah untuknya.
Kafka diam dan berfikir sejenak, air matanya menetes pelan hatinya sangat hancur dan sakit. Diandra akan pergi jika ia masih mengejarnya. Kafka sadar jika perasaannya telah salah ia sudah membuat orang yg ia cintai menderita. Kafka tak ingin Diandra pergi dari sisinya.
Mungkin benar kata Diandra jika cinta tak harus memiliki.
Diandra merasa lelah dengan semuanya. Dia sudah berusaha menyadarkan Kafka, ia tak tau apa yg akan terjadi selanjutnya jika memang ia harus pergi jauh dari Kafka dan juga Raffa maka ia rela harus kehilangan semuanya. Mungkin itu jalan yg terbaik untuk semuanya. Mungkin itu akan membuat kehidupan mereka lebih baik seperti saat dia belum hadir dalam kehidupan mereka.
πππππ
jangan lupa
πlike
vote dan
βrate 5
lalu tekan tanda β₯οΈ
terima kasihππ