
Sopir Han keluar lalu membukakan pintu untuk Raffa. Raffa turun lalu berdiri di samping mobil menatap ke arah Diandra dan kafka tajam
Jantung Diandra berdetak tak beraturan, hatinya ingin menjerit ketakutan, matanya membulat lebar seperti mau copot dari tempatnya.
Badannya terasa bergemetar seluruh jiwanya seperti lumpuh sesaat.
Sedangkan kafka bersikap biasa dan santai seakan tidak pernah terjadi apa apa, sikapnya masih dingin membeku seperti es balok.
Dia tak takut jika kakaknya akan tahu semuanya mungkin itu lebih bagus menurutnya.
Raffa berjalan menghampiri Diandra dan kafka yg masih mematung di ambang pintu.
Langkahnya semakin dekat dan sangat dekat dengan adik dan istrinya.
Raffa tersenyum tipis lalu mengusap rambut Diandra lembut.
"Sayang,, kenapa kau belum tidur, ini kan sudah malam?" tanya Raffa lembut lalu mencium kening istrinya.
Diandra hanya diam membisu bingung cari alasan yg pas.
"Malam kak,, maaf tadi aku yg sudah membangunkan dia. Aku tidak sengaja lewat dan ada tukang bakso di depan jadi aku pikir tidak ada salahnya kalau aku membelikan untuk istri mu." Sahut kafka. Dia sengaja menjelaskannya lebih dulu sebelum Diandra menjelaskannya.
"Tidak masalah, terima kasih kamu sudah memperhatikan istriku." balas Raffa.
"Baiklah kalau begitu aku harus pergi, selamat malam." ucap Kafka lalu pergi meninggalkan Diandra dan Raffa.
"Malam,, hati hati di jalan."ucap Raffa kepada kafka.
kafka mengangguk dan pergi begitu saja.
Diandra masih merasa tegang namun ia sedikit lega karena kafka tidak mengatakan yg sebenarnya. Kini dirinya harus siap berakting lagi.
"Sayang,, kenapa kau tidak mengabari ku dulu." tanya Diandra lalu memeluk suaminya.
Sesungguhnya ia sangat merindukan suaminya hanya ada aja masalah yg harus ia hadapi hingga ia lupa apa bedanya antara sekedar rindu dan benar benar merindu.
"Benarkah kau merindukanku?" tanya Raffa lalu mengandeng istrinya masuk rumah.
"Tentu saja aku merindukanmu, Tuan Raffa ku sayang. Apa aku kelihatatan berbohong ya." ucap Diandra lalu menaruh bakso di atas meja.
"Sayang makanlah baksonya kasihan Kafka jika baksonya tidak dimakan." Ucap Raffa.
Diandra hanya mengangguk lalu mengambil kembali baksonya dan membawanya pergi ke dapur. Mengambil mangkuk dan sendok lalu menuangnya pelan.
Dia mulai memakan baksonya pelan sejujurnya ia tidak ingin makan bakso itu namun keadaanlah yg memaksanya.
Sedangkan Raffa hanya diam duduk di samping istrinya, dia hanya bisa menemani Diandra menikmati baksonya karena dia tidak boleh makan sembarangan. Rasa capek tidak ia hiraukan demi menemani istrinya makan bakso dari Kafka.
"Sayang,, apa kamu mau mencobanya rasanya enak banget pasti kamu suka."tanya Diandra menggoda suaminya. Menyendoknya lalu mendekatkan ke hidung dan mulut suaminya. Diandra tau jika Raffa tidak mungkin akan mau mencobanya walaupun hanya seujung sendok apa lagi Raffa juga tidak suka pedas
Raffa hanya diam menatap istrinya tajam.
Sebenarnya dia juga benar ngiler lihatnya namun demi kesehatannya ia berusaha menahannya. Dia hanya bisa menelan ludahnya yg dari tadi ingin menetes bahkan baunya terasa sangat menyengat hingga rongga hidung yg paling dalam.
"Cepat habiskan,,, aku sudah tidak sabar ingin menghukum mu karena kamu sudah berani membuatku keluar siung." ucap Raffa mengancam.
Selesei makan bakso Dindra dan Raffa kembali ke kamar.
Diandra mengandeng tangan suaminya dan menempelkan kepalanya di bahu suaminya.
"Sayang,,, jangan hukum aku maafkan aku, ok ."ucap Diandra merayu manja.
Raffa hanya meliriknya pelan tanpa membalas ucapan istrinya.
"Sayang, maafkan aku." Rengek Diandra yg masih bergelanyutan di tangan suaminya.
Memoncongkan bibirnya di depan wajah suaminya sembari memainkan mata karena itu senjata ampuhnya.
Raffa tidak menjawab dia mencoba menahan senyumnya meskipun Ia terpaksa melakukannya. Sesungguhnya dia juga tidak tahan pingin ketawa melihat kelucuan istrinya. Diandra sangat menggemaskan kalau dia sedang merayu.
****
Di tempat berbeda ada Kafka yg masih kesal kusut dengan hati yg terluka.
Sesampai di kamar Kafka melemparkan tubuhnya kasar di atas ranjang.
tangannya terkepal keras dan melampiaskanya di atas kasur.
Hatinya masih terasa kesal dan mengeras.
"Sial,,, kau memang beruntung tapi aku sangat membencimu, kau sudah merebut semuanya dariku, haaaah...kau memang sialan, Raffa." Ucap Kafka keras dan kesal. Hatinya terasa terbelenggu tapi apalah daya dia hanya bisa merasakan tanpa bisa memilikinya.
Kafka mencoba melupakan Diandra namun usahanya hanya sebuah kesia- siaan. Semakin dia melupakannya semakin dia terbayang wajahnya.
Semakin ia menjauh semakin ia merindukannya. Diandra sudah membuatnya gila. Diandra telah membuatnya menjadi bucin.
Kini dia benar benar tidak tahan dengan perasaannya. perasaan itu telah menyiksa batinnya hingga hampir se*arat.
Perasaan itu telah membunuhnya hidup hidup
Dalam gelapnya malam hanya ada Diandra yg bersianar terang.
*****
Malam telah berganti siang, kehidupan dan aktifitas telah berganti dan tifak sama seperti hari kemaren.
Kafka selesei menghadiri pertemuan dengan seseorang yg sangat penting waktu itu. Dia berjalan terburu buru ingin cepat sampai kantor tak sengaja dia menabrak seseorang.
"Bruukkk...!"
Kafka menabrak seorang gadis cantik dan anggun. Pakainnya juga berkelas dan bermerk terkenal sudah jelas gadis itu bukan gadis biasa.
"Maaf Nona saya tidak sengaja." Ucap Kafka kepada gadis itu. Kafka membantu memunguti barang gadis itu yg jatuh berserakan di lantai.
"Tidak apa apa Tuan." Jawab gadis itu sopan.
Gadis itu ingin berdiri namum kakiny terkilir san dia merintih kesakitan.
Kafka tidak tega melihatnya, dia mencoba memapahnya dan mengajaknya duduk di atas kursi yg ada di tempat itu.
Kafka membantu memijatnya pelan tidak ingin hal buruk menimpa gadis itu.
Gadis itu menatap wajah Kafka lekat lalu tersenyum tipis.
"Ya Tuhan.. dia sangat tampan sekali, dia juga perhatian sungguh beruntungnya aku bisa bertemu dengan pangeran setampan dia." Ucap gadis itu dalam hati.
"Apa masih sakit."tanya Kafka.
"Sedikit, terima kasih sudah mau menolongku."ucap gadis itu .
"He'em,,aku akan mengantarmu pulang."ucap Kafka lalu mengendongnya keluar dari lestoran.
Gadis itu diam mematung tidak menolak dan juga tidak menjawab. Gadis itu kini ada dalam gendongan Kafka. Dia terus memandang wajah Kafka tanpa berkedip dan tersenyum tipis dengan menyembunyikan wajahnya di dada Kafka.
"Omg,, ini nyatakan aku ngak mimpikan, semalam aku mimpi apa sampak bisa aku bertemu cowok ini?hingga kini ada pangeran setampan dia mengendongku. Hu...uh..gk kuat aku menahannya ingin rasanya aku berteriak karena aku sangat bahagia."ucap gadis itu.
Kafka menurunkan gadis itu di samping mobilnya, membukakan pintu untuk gadis itu. Gadis itu masuk dan duduk di samping setir.
Kafka masuk dan duduk di bangku pengemudi.
"Dimana rumahmu."tanya Kafka.
gadis itu hanya diam tidak menjawab dan senyum senyum sendiri .
"Hai,,di mana rumahmu."tanya Kafka sedikit keras.
Gadis itu tersadar dari lamunannya mendengar pertanyaan kafka.
"Iya, maaf kak, rumah aku ada di jalan cempaka."Ucap gadis itu sedikit gugup.
"siapa nama kakak, namaku Rosi."tambah gadis itu.
"Aku kafka."jawabnya singkat.
"Ow...terima kasih kak sudah mau mengantarku pulang." Ucap Rosi bahagia.
Dia sangat bahagia bisa bertemu pria setampan dan sebaik Kafka. Dia berharap Tuhan akan menyisakan satu orang seperti Kafka untuknya.
Kafka mengangguk lalu menyodorkan kartu namanya.
"Ini untukmu jika kakimu belum sembuh hubungi aku, aku akan bertanggung jawab."ucap Kafka
Rosi mengambilnya lalu menyimpannya di dalam tasnya.
"Terima kasih."jawab Rosi.
Rosi tidak berhenti memandang kafka, dia mencuri curi pandang.
Tidak tau jika Kafka adalah adik dari suami Diandra.
Kafka menghentikan mobilnya di halaman rumah Rosi.
Kafka turun lebih dulu lalu membukakan pintu untuk Rosi.
Dia juga membantu memapah Rosi untuk masuk kedalam rumah..
♥️♥️♥️
selesei membaca jangan lupa like,komen dan sarannya.
vote dan rate 5 .
makasih semoga kalian suka
jangan lupa mampir ke karya aku yg lainnya
🙏🙏🙏