Terpaksa Menikahinya

Terpaksa Menikahinya
77. Salah paham


Kafka dan Diandra sudah kembali pulang.


Kafka tiduran di pangkuan Diandra.


Ia ingin bermanja di pangkuan sang istri sambil mengusap perutnya dan menciumi perut Diandra.


"Kamu jangan nakal ya di dalam, kasihan Mama kalau kamu nakal di dalam, muach...!"


"Kafka, kira-kira anak kita nanti cowok apa cewek ya?" Tanya Diandra sembari mengusap rambut Kafka.


Sejujurnya Ia kepingin punya anak cewek karena menurutnya cewek itu lebih lucu dan menggemaskan, apa lagi pakaian cewek lebih unik dan lucu.


"Apa pun jenis kelaminnya itu tidak masalah yg penting lahir dengan sehat." Kafka menginginkan bayi laki-laki karena jika anak pertama laki-laki maka kelak akan jadi pelindung bagi adik-adiknya dan juga orang tuanya.


Namun itu hanya sebuah keinginan, apapun yg Allah kasih Kafka akan menerima dengan lapang dada karena anak adalah sebuah titipin dan anugerah dari Tuhan yg harus di jaga.


Kafka kembali duduk dan pergi untuk membuatkan susu hangat buat istrinya.


Diandra agak susah buat minum susu karena dia paling ngak suka sama susu.


Kafka kembali dan memberikan susu hangat itu ke Istrinya.


"Sayang ayo di minum susunya!" Kafka memegangi gelas susu itu lalu menyodorkan di bibir istrinya.


Diandra selalu menutup hidungnya ketika harus minum susu, baunya susu membuat dirinya ingin muntah.


Perlahan tapi pasti, Diandra menyesapnya dikit demi sedikit hingga satu gelas susu itu benar-benar habis.


Setiap habis minum susu Diandra langsung makan permen kemudian menyandarkan kepalanya untuk menahan rasa mualnya.


"Rasanya aku pingin muntah." ucapnya sambil menutup mulutnya rapat.


"Kamu harus sabar ya, ini semua demi kesehatan kamu dan juga calon bayi kita." Tutur Kafka yg hanya di angguk'i oleh Diandra.


Dengan setia Dia selalu menuruti semua keinginan Istrinya. Hampir tiap hari Kafka selalu memberikan sentuhan lembut untuk kaki Istrinya. Pijit adalah jurus ampuh untuk memberikan sentuhan itu.


Kini Diandra benar dapat merasakan kabahagian akan menjadi seorang ibu.


Senyumannya selalu mengembang meski rasa sakit di punggungnya mencengkamnya, mual, pusing dan rasa pegel di kakinya tidak pernah Ia rasakan ketika Ia ingat akan bayi dalam kandungannya.


Diandra dan Kafka sudah berbaring di atas ranjang, sebelum tidur Kafka selalu mengusap perut Diandra terlebih dahulu hingga Istrinya terlelap tidur.


Bahkan rasa lelahnya tak pernah Ia hiraukan karena kehadiran dua mahkluk Tuhan itu mampu mengobati semua lelahnya.


Ia mencium perut Diandra lalu mengecup keningnya barulah Kafka akan tidur dengan tenang.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Di Tempat berbeda ada Rosi dan Egi sedang bertengkar hebat karena Rosi cemburu dengan pesan nyasar di hp Egi.


Entah siapa pengirim wa itu yg jelas Egi tidak mengenal no itu dan juga tidak kenal sama si pengirimnya.


Egi berani bersumpah tidak akan pernah berani selingkuh dari Sang Istri, karena Dia sangat mencintainya.


Egi bersujud di depan Rosi sambil memohon.


"Sayang, ku mohon percayalah pada ku, aku tidak tahu dan tidak kenal sama Dia, Kau percaya pada ku kan?" Ucap Egi sambil menyatukan kedua telapak tangannya.


Rosi masih diam mematung berdiri di depan Egi dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Pandangannya Dia lempar jauh entah ke mana yg jelas Ia sangat enggan untuk menatap wajah Suaminya.


Air matanya terus jatuh bergantian membasahi pipinya.


Ia tidak tahu kali ini Dia harus percaya atau tidak sama Suami yg Di nikahi beberapa bulan yg lalu.


Egi ingin meraih tangan Rosi namun Rosi menepisnya dengan kasar.


"Sayang, aku bersumpah pada mu, aku tidak mungkin akan melakukan hal serendah itu karena aku sangat mencintai mu, aku janji pada mu besok aku akan mengajak kamu buat bertemu dengannya agar dia menjelaskan kesalah pahaman ini, tapi sekarang percayalah pada ku?" Ucapnya memelas.


"Aku tidak tahu harus percaya sama kamu atau tidak, tapi untuk saat ini aku ingin sendiri." jawabnya serak karena Dia masih menangis.


"Ok aku mengerti, tapi untuk saat ini percayalah padaku!" timpalnya.


Egi berdiri depan Rosi sambil mengusap air mata Istrinya.


Ia tidak tega melihat istri yg paling Dia cintai terluka hatinya karena ada pesan nyasar di ponselnya.


"Sekarang istirahatlah, besok kita akan temui orang yg sudah berani membuatmu menangis." Bujuknya.


"Apa kau yakin jika kau benar tidak mengenalnya. Hah.. aku tidak yakin dengan itu, pasti kau sudah berbohong pada ku." Sinisnya.


Rosi menatap tajam Ke arah Egi dengan matanya yg masih berkaca-kaca. Kecurigaannya memang sudah membuat hatinya perih seperti tersayat sembilu.


Ia bersumpah akan mengutuknya seumur hidupnya jika Egi berani menghianatinya.


Rosi segera berbalik badan dan meninggalkan Egi.


Ia membaringkan badannya membelakangi Egi, sebenarnya Dia tidak ingin tidur seranjang dengan Egi, tapi karena Rosi masih tinggal serumah sama Mamanya dia tidak mungkin akan mengusir Egi dari dalam kamarnya.


Egi mengelengkan kepalanya saat tahu jika kali ini Dia di cuekin sang Istri. Apa boleh buat dari pada di suruh tidur diluar mending tidur seranjang meskipun di cuekin.


"Nasib-nasib kalau punya istri pecemburu ya kaya gini, tidur aja di cuekin." Batinnya sambil mengusap wajahnya kasar.


Ke esokan harinya Egi sudah bersiap hendak pergi bersama Rosi untuk menemui Si pengirim pesan nyasar itu.


Saat ada di meja makan mereka saling diam tanpa bertegur sapa yg membuat Mamanya Rosi menangkap sinyal tidak beres.


Mama tau jika mereka sedang ada masalah tapi mama kali ini tidak ingin ikut campur urusan mereka, mama ingin mereka menyeleseikan masalahnya sendiri.


Mama lebih memilih pergi ke kantor lebih dulu sebelum Egi dan Rosi berangkat duluan


"Sayang, Mama berangkat ke kantor dulu ya." Tuturnya lembut kepada anak dan menantunya.


Rosi dan Egi mencium punggung tangan Mama sebelum Mamanya berangkat duluan.


"Hati-hati Ma!" jawab Egi.


"Iya sayang." Balas Mama.


"Hati-hati di jalan Ma, jangan lembur-lembur kerjanya." Tutur Rosi dingin.


"Iya sayang, Mama berangkat dulu ya, daaa...!" Mama pergi di antar pak sopir, sebenarnya Mama juga kepikiran dengan masalah mereka tapi Mama sengaja diam karena ingin anak sama menantunya bisa berpikir lebih dewasa dalam menghadapi masalah rumah tangganya.


Egi dan Rosi pergi ke suatu tempat dengan mengendarai mobilnya.


Egi berhenti di pinggir jalan dekat taman, karena orang itu ingin bertemu di situ.


Egi dan Rosi turun dan duduk di bangku panjang yg ada di pinggir taman itu.


Walaupun duduk dalam satu bangku Rosi masih melempar pandangannya dan tidak ingin menatap sedikitpun wajah suaminya.


Tak berselang lama ada seorang wanita bersama seorang pria datang menghampirinya.


"Maaf apa benar ini Tuan Egi?" tanya si wanita itu.


"Iya saya Egi." Jawabnya singkat.


Egi berdiri menyambut mereka dengan senyuman tipisnya, Dia sedikit lega karena akhirnya wanita itu datang mengajak suaminya.


"Nama saya Chika dan ini suami saya, maaf ya sudah membuat kalian menunggu. Saya tidak bisa lama karena saya sama suami saya harus berangkat ke luar kota.


Maaf atas kesalah pahaman ini, kemaren


saya telah salah kirim pesan ke no kamu sehingga membuat kalian harus bertengkar." Jawab Wanita itu dengan nada bicara yg sopan dan anggun.


"Tidak masalah Nona, yg penting kamu sudah mau datang ke sini menjelaskan semuanya di depan Istri saya. Maaf jika sudah menyusahkan mu." Jawab Egi sambil menunjuk ke arah Istrinya.


"Ok tidak masalah, seharusnya saya yg harus minta maaf, kalau gitu saya anggap masalah ini sudah kelar jadi saya sama suami harus pamit duluan, semoga rumah tangga kalian lebih harmonis lagi." Ucap Wanita sambil menepuk pundak Rosi pelan.


Chika bersama Suaminya pergi meninggalkan Egi dan juga Rosi.


Rosi masih diam dan tidak ingin berbicara sama Egi.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Terima kasih Kaka sudah mau membaca cerita aku semoga kalian semakin suka dengan novel aku.


Jangan lupa


Like


Komen


Rate


Vote.


Mampir juga di karya aku yg terbaru.


"Cowok pecemburu"