Tak Akan Terganti

Tak Akan Terganti
Bab 99 : Tidak akan!


“Apa-apaan sih, lo! Lepas nggak?”


Caca menyentak tangannya dengan keras. Namun, pergelangan tangannya dicengkeram dengan sangat erat.


“Aku nggak akan lepas kamu sebelum kamu dengerin aku.”


“Nggak sudi gue dengerin suara, lo!” Caca menjawab dengan nada sarkastis. Ia berusaha melepaskan tangannya yang semakin terasa sakit akibat dicengkeram erat.


“Ca, please. Kita ngobrol dulu sebentar. Setelah itu aku nggak akan pernah temui kamu lagi.”


“Nggak, De! Sampai kapan pun gue nggak mau ketemu sama, lo!” balas Caca.


Mata Caca melebar, menyorot benci pada Dean yang sampai saat ini masih setia mencengkeram pergelangan tangannya.


“Lepasin, nggak?” bentak Caca.


Dean menggeleng. Ia masih kukuh dengan pendiriannya.


“Ca, please. Gue Cuma mau minta maaf sama, lo,” ucap Dean memohon.


Caca mendengkus sinis. Sebelah bibirnya terangkat, mencibir ucapan mantan kekasihnya.


“Lo pikir gampang minta maaf sama gue?” tantang Caca.


“Lo pernah nggak sih mikir seperti apa nasib gue waktu lo tinggalin kemarin? Lo pernah mikir nggak?”


Pertanyaan Caca diakhiri dengan bentakan. Meskipun begitu tidak ada satu orang pun yang lewat di depan kelas Caca, karena memang sudah lumayan sepi.


“Ya, karena itu aku ingin minta maaf sama kamu. Please, izinin aku berusaha biar bisa dapet maaf dari kamu,” jawab Dean tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya dari mata Caca.


“Lo, denger ini baik-baik, Dean! Seperti apa pun cara lo minta maaf ke gue, gue nggak akan pernah maafin, lo! Kesalahan yang lo buat terlalu fatal dan hati gue nggak akan pernah bisa terima!” balas Caca meluapkan segala isi hatinya.


Tidak ada setetes pun air mata yang menggenang di pelupuk mata Caca. Hanya ada sorot kebencian yang terpancar di sana. Caca sudah tidak lagi memiliki rasa dengan sang mantan kekasih. Rasa yang ia miliki hanya benci dan benci.


“De, lepasin tangan gue,” ucap Caca memerintah.


“Nggak! Aku nggak akan pernah lepasin kamu, sampai kamu maafin aku!”


Dean ingin mengeratkan cengkeramannya lagi, tetapi terlambat saat tangan Caca tiba-tiba diambil alih oleh orang lain.


“Ngapain, lo!” bentak Abimanyu seraya menarik lengan Caca. Membawanya ke belakang tubuhnya.


Dean semakin emosi dengan keberadaan Abimanyu di sana. Ia merutuki dirinya sendiri, karena tidak menutup pintu kelas itu dengan benar.


“Ini bukan urusan, lo!” balas Dean tak kalah membentak.


“Kalau yang lo maksud urusan itu sama istri gue, itu artinya jadi urusan gue juga!” sergah Abimanyu dengan menekan kata istri pada sang sepupu.


Abimanyu ingin mengingatkan Dean tentang posisi mereka saat ini. Tentang posisinya yang lebih berhak atas Caca.


Dean hanya memutar bola matanya malas. Ia kemudian kembali menatap Caca yang juga menatapnya dari balik punggung Abimanyu.


Gadis itu terlihat tidak takut sama sekali. Justru terlihat lebih marah dari sebelumnya.


“Ca, please! Dengerin aku sebentar aja, ya,” ucap Dean dengan nada sangat lembut.


Mendengar itu Abimanyu tentu saja murka. Pria muda itu lantas memajukan tubuhnya lebih dekat dengan sang sepupu. Ia menaikkan jari telunjuknya tepat di depan muka Dean.


“Gue kasih tahu, lo! Sebelum lo minta maaf dengan benar. Lo, harus renungin lagi semua kesalahan yang lo buat ke istri gue. Kalau lo udah sadar betul sama semua kesalahan lo, lo boleh minta maaf ke istri gue. Tapi, harus dengan cara yang bener!”


Setelah mengatakan kalimat panjang itu Abimanyu melenggang pergi dari sana. Namun, langkahnya berhenti di ambang pintu kala mendengar pertanyaan tak masuk akal Dean.


“Kenapa dari dulu lo tu selalu rebut apa yang seharusnya jadi milik gue?”


“Kalau lo lupa sama apa yang lo lakuim dengan senang hati bakal gue ingetin!”


Abimanyu merapikan kerah kemeja yang Dean kenakan. Abimanyu mengusap bahu sepupunya itu seraya berkata,


“Dari dulu sampai sekarang gue nggak pernah rebut apa pun dari, lo. Termasuk Caca. Lo harus inget kalau lo dengan sendirinya yang buat dia jadi milik gue sekarang. Mungkin kalau lo waktu itu nggak kabur, Caca masih milik lo dan sampai kapan pun gue nggak akan pernah iri sama apa yang lo miliki,” ucap Abimanyu tegas.


Abimanyu memasukkan kedua tangannya ke dalam kantung celana. Sorot matanya tajam menghunjam ke dalam bola mata Dean yang sama memancarkan kebencian.


“Mulai sekarang jangan pernah lo deketin Caca lagi. Caca itu istri gue. Gue punya hak buat ngelarang siapa aja yang mau deketin dia. Termasuk bajingan kayak lo ini!”


Dengan jari telunjuknya Abimanyu mendorong bahu Dean dengan cukup kuat. Hingga tubuh Dean mundur satu langkah dari tempatnya.


Setelah itu Abimanyu kembali melangkah menghampiri Caca. Ia dengan sengaja menautkan jari mereka untuk menunjukkan pada Dean bahwa ia adalah pemilik gadis itu. Tanpa menoleh lagi ke belakang, Abimanyu menarik Caca dengan sangat lembut. Ia membawa wanitanya itu meninggalkan Dean yang masih berdiri di sana.


Tangan Dean terkepal erat. Segala emosi dan benci terkumpul menjadi satu. Mendidihkan kepalanya dan sekarang terasa seperti hampir meledak.


“Aaarrrggghhh! Bangsat!” umpatnya tanpa peduli ada beberapa orang yang menatapnya dari arah luar kelas.


“Dari dulu lo selalu menang dari gue Abi! Tapi, untuk sekarang gue nggak akan pernah diem aja. Gue bakal rebut apa yang seharusnya jadi milik gue,” gumam Dean seraya menumpukan kedua tangannya pada meja dosen yang ada di sampingnya.


**


“Kamu nggak papa kan?”


Abimanyu menangkupkan kedua tangannya pada wajah sang istri. Pemuda itu menatap khawatir pada Caca yang saat ini justru tersenyum. Ketika teringat Dean sempat mencengkeram pergelangan tangan Caca, Abimanyu pun buru-buru memeriksa bagian tubuh itu. Ia mengangkat tangan Caca, menatapnya dengan saksama. Abimanyu takut istri tercintanya ini terluka.


“Tangan kamu ... Dean sialan!”


Melihat pergelangan tangan istrinya memerah membuat amarah Abimanyu memuncak begitu saja. Abimanyu lantas melepaskan tangan Caca dan hendak membuka pintu mobilnya. Ia ingin membuat perhitungan dengan si sialan satu itu. Namun, lengan tangan Abimanyu tiba-tiba ditarik oleh Caca.


“Hei, Abi. Kamu mau ke mana?”


“Aku mau buat perhitungan ke Dean. Dia udah bikin tangan kamu merah. Aku mau bales apa yang udah Dean lakuin ke kamu,” jawab Abimanyu emosi.


Pemuda itu hampir keluar kembali dari mobilnya. Namun, lagi-lagi Caca menahannya.


“Abi, nggak perlu. Ini nggak sakit, kok.”


“Nggak, Ca. Aku nggak bisa diemin ini. Aku harus kasih dia pelajaran biar dia nggak deketin kamu lagi dan nggak nyakitin kamu lagi,” ucap Abimanyu menggebu.


“Abi, udah nggak perlu,” cegah Caca. Gadis berkacamata itu masih memegangi lengan suaminya dengan erat.


“Tapi, Sayang–”


“Hei, hei. Aku nggak mau kalau kamu berantem sama Dean. Aku nggak mau kamu terluka, Bi,” tukas Caca.


“Udah nggak papa, kok. Ini nggak sakit, beneran deh,” imbuh Caca mencoba menenangkan hati suaminya.


Napas Abimanyu berembus kasar. Ia pun kembali mendudukkan dirinya seperti semula. Beberapa kali Abimanyu menghela napas panjang guna menetralkan emosi dalam dadanya. Setelah cukup reda, Abimanyu kembali menghadapkan tubuhnya pada Caca. Abimanyu menggenggam tangan Caca dengan penuh cinta, memberinya sorot mata hangat untuk menghangatkan hati Caca.


“Ca, kamu harus janji sama aku,” ucap Abimanyu diangguki oleh sang istri.


“Aku mohon, jangan pernah cegah aku lagi kayak gini kalau Dean berani paksa kamu kayak tadi. Aku nggak akan tinggal diem setelah apa pun yang dia lakukan ke kamu,” ucap Abimanyu dengan sangat memohon.


“Aku itu suami kamu. Aku udah janji ke ayah untuk selalu jagain kamu. Jadi, tolong! Jangan pernah cegah aku lagi jika suatu saat ada yang nyakitin kamu. Aku nggak mau ngliat kamu terluka,” imbuhnya membuat Caca terharu.


Netra gadis itu berkaca-kaca. Caca menganggukkan kepalanya dengan tenang sebelum kemudian menghambur memeluk suaminya dengan sangat erat.


“Makasih ya, Bi. Kamu selalu ada buat aku,” ucap Caca seraya mengembangkan senyumnya.


Abimanyu mengusap punggung istrinya, mencium puncak kepala Caca dengan penuh kasih sayang.