
“Caca!”
Caca menghentikan langkahnya mendengar seseorang memanggil namanya dengan lantang. Gadis itu memutar tubuh untuk melihat siapa yang telah memanggilnya.
Netra Caca merotasi saat ternyata gadis bernama Crystal berada di sana. Ia hanya bersedekap dada saja tanpa menjawab panggilan itu.
“Heh!” Crystal mendekat dengan dada membusung. Raut emosi terpancar cukup jelas di mata gadis itu, tetapi Caca tidak takut sama sekali. “Lo bisa nggak sih berhenti deketin Kak Abi?”
Netra Caca menyipit tak suka. “Sebenarnya kapan sih gue deketin Abi? Crystal! Gue itu nggak pernah deketin si Abi.”
Rasanya Caca sangat geram dengan perempuan satu ini. Ini adalah kali kedua Crystal menggertaknya mengenai Abimanyu.
“Lo nggak usah ngilah, deh! Beberapa kali gue lihat lo sama Kak Abi berangkat atau pulang kuliah bareng. Dan gue yakin, lo yang deketin dia!” ucap Crystal dengan emosi meluap.
Beberapa hari yang lalu Crystal memang melihat Caca turun dari mobil yang sama dengan Abimanyu. Ia yang sejak dulu menyukai dan memiliki hubungan cukup baik dengan Abimanyu tentu tak terima jika justru Caca yang lebih bisa dekat dengan pemuda itu.
Crystal yang sejak dulu memang tak menyukai Caca dibuat semakin tidak suka sejak melihat Caca sering berangkat bersama Abimanyu. Ia tidak akan membiarkan Caca lebih unggul darinya lagi seperti saat SMA dulu.
Kepala Caca menggeleng dengan muka datar. “Gini, ya, Crys. Gue emang sering berangkat sama Abi, tapi bukan karena kemauan gue. Dan lo, nggak berhak ngelarang gue ataupun Abimanyu!” tegas Caca yang tak mau kalah dengan gadis di depannya ini.
“Dan selama lo belum bisa jadi istri Abimanyu, siapa pun berhak deketin dia. Termasuk gue! Bye!”
Tak ingin lebih emosi dan merusak suasana hatinya, Caca pun memutar tubuhnya dan berjalan menjauhi Crystal.
Tangan Crystal terkepal kesal. “Caca, gue belum selesai ngomong!”
Caca mengangkat jari tengahnya mendengar teriakan Crystal. Ujung bibirnya terangkat saat sebuah umpatan juga keluar dari bibir gadis itu.
Caca tidak tahu apa alasan Crystal tidak menyukainya. Sejak ia masuk universitas, mereka hanya beberapa kali bertemu tanpa sengaja. Namun, sejak awal Sofi dan Maya selalu berkata bahwa Crystal selalu menatapnya dengan sengit, seolah mereka adalah musuh sejak lama.
Awalnya Caca menampik hal itu. Ia yang tak pernah bertemu dengan Crystal tentu tak percaya dengan prasangka kedua sahabatnya. Namun, lama-lama Crystal semakin berani mengungkapkan rasa tidak sukanya pada Caca melalui kalimat sindiran atau dengan Crystal yang tak pernah mau mendengarkan dirinya saat kegiatan sosialisasi kampus dulu.
Dan hari ini, Caca benar-benar sudah merasa sangat kesal dengan tingkah Crystal. Gadis itu bertingkah seolah-olah dia adalah kekasih Abimanyu dan tengah melabraknya karena berusaha merebut pemuda itu.
Huh!
Caca mendengkus mengingat setiap ucapan Crystal tadi. Secara tidak langsung gadis itu menyuruhnya menjauhi Abimanyu. Tidak tahu saja bahwa Caca adalah istri Abimanyu. Jika Crystal tahu mungkin gadis itu akan semakin membencinya.
Caca mengembuskan napasnya malas. Berdecak sekilas untuk kemudian menceritakan apa yang baru saja terjadi.
Bukannya ikut emosi. Maya malah terkekeh mendengar cerita sang sahabat yang terdengar sedikit lucu.
“Bisa-bisanya Crystal ngomong kayak gitu. Kayak dia ceweknya Kak Abi aja.” Maya menimpali cerita Caca sembari menggelengkan kepala.
“Lo tahu, May. Dulu dia pernah ngaku-ngaku sebagai calon istri Abi. Padahal waktu itu kita udah ....” Caca menunjukkan jari manisnya yang terpasang sebuah cincin sebagai kode untuk kalimat terakhirnya.
“Masa sih?” Tawa Maya semakin kencang mendengar itu. Hingga beberapa teman satu kelasnya menatap mereka bingung, karena sejak tadi mereka bercerita dengan suara lirih.
“Gila, sih, tu cewek. Nekat banget sampai bilang kayak gitu!” Maya menggelengkan kepala. Tak mengerti dengan jalan pikiran Crystal yang menurutnya sangat tidak masuk akal.
Kedua gadis itu masih lanjut membicarakan Crystal. Membicarakan keanehan sikap Crystal terhadap Caca yang menurut mereka terlalu berlebihan. Namun, percakapan mereka berhenti sejenak saat suara Sofi masuk ke telinga mereka.
“Makasih, ya, Kak udah ngasih aku tumpangan.” Sofi tersenyum menatap pemuda di depannya. Tangannya refleks melambai saat pemuda itu berpamitan untuk pergi ke kelasnya sendiri. Dengan raut muka sangat ceria, Sofi beranjak dari tempatnya berdiri setelah beberapa saat. Gadis itu duduk di kursinya masih dengan senyum mengembang.
“Dia kenapa sih?” bisik Caca pada Maya. Namun, gadis itu hanya mengedikkan bahu sebagai jawaban.
“Gue liat-liat makin deket aja lo sama Kak Jeje.”
“Jeje? Jeje siapa?” tanya Caca berusaha mengingat siapa pemilik nama itu. Dan ia menjentikkan jarinya saat sudah tahu siapa pemuda itu, yang tak lain adalah kakak tingkatnya yang memiliki nama asli Jayden.
“Apa sih!” geram Sofi dengan malu-malu saat kedua temannya itu menggodanya.
Dan Caca bersama Maya semakin gencar menggoda Sofi yang tampaknya tengah berada pada fase jatuh cinta.
**
“Kak Abi!”
“Kenapa Crys?” Abimanyu memasukkan potongan bakso pada mulutnya. Kemudian kembali menatap Crystal yang entah kenapa tiba-tiba duduk di hadapannya.
“Kak Abi mau jadi pacar aku?”