Tak Akan Terganti

Tak Akan Terganti
Bab 29


Melangkah pelan melewati pintu penghubung menuju taman belakang rumah keluarga besar Banyu. Caca membawa empat gelas jus jeruk dan dua stoples biskuit dengan bantuan nampan kesayangan ibunya.


Sesaat setelah sampai di taman rumah ayahnya, Caca dapat melihat tiga orang lelaki berada di sana. Mereka terlihat begitu asyik mendribel bola basket dan melemparkannya ke ring.


Caca mendudukkan diri di bangku taman setelah meletakkan nampan tadi di atas meja. Gadis itu menatap lekat pada ketiga orang tadi yang tampak memancarkan aura bahagia. Terutama pada adiknya. Caca melengkungkan bibirnya, rasa bahagia itu turut menular padanya.


Senyum di bibir Caca semakin lebar tatkala ingatannya kembali pada beberapa menit yang lalu. Sesaat setelah Bia menemukan kado asli dari Caca, Ata tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih dan bahkan satu pelukan dan beberapa ciuman di pipi Ata layangkan pada kakaknya. Tak sampai di situ. Ata terus saja mengekori Caca ke mana pun gadis itu melangkah. Ata terus bertanya kenapa Caca memilih memberinya hadiah macbook. Karena sangat kebetulan laptop Ata sudah lama rusak dan ia belum berani memberitahu ayahnya.


Kepala Caca menggeleng, ia merutuki kebodohan adiknya saat terlampau senang seperti ini. Bukankah sangat jelas, bahwa adik iparnya adalah sahabat Ata?. Jadi, bukan hal yang sulit untuk Caca mencari tahu apa yang tengah Ata butuh kan tanpa harus bertanya secara langsung pada cowok itu.


“Ca, ayo main!”


Seruan dari tempat khusus bermain basket itu menyita atensi Caca. Tanpa basa-basi, Caca menghampiri ketiga manusia itu untuk memenuhi ajakan Rasya.


Baru saja kaki Caca menapak di antara tiga lelaki itu, ia sudah mendapat lemparan bola yang untungnya bisa ia tangkap dengan mudah.


“Ayo kita main, udah lama kayaknya gue nggak lawan lo” tantang Rasya dengan suara pongah.


Caca memiringkan kepala. Ia memindahkan bola ke samping pinggangnya dan tangan kirinya bertumpu pada pinggang.


“Lo nggak akan pernah menang lawan gue, Bang,” jawab Caca tak kalah jemawa.


“Kita lihat aja nanti,” balas Rasya seraya mengedikkan dagunya


“Oke, karena kita lagi berempat, kita jadi dua tim. Gue sama Bang Rasya dan Kak Caca sama Bang Abi. Setuju?” sahut Ata.


“Eh, gue ikut juga? Waduh gue nggak jago main basket,” kata Abimanyu setelah Caca dan Rasya mengangguk setuju.


“Tenang, Bang. Kak Caca itu jago banget main basket, lo nggak perlu khawatir.” Ata berujar serius.


Caca memang sangat pandai bermain basket. Sudah sangat sering Ata maupun Rasya kalah saat bermain melawan Caca.


“Gimana? Lo bisa ikut kan?” tanya Ata memastikan lagi.


Kali ini Abimanyu tak bisa menolak dan hanya bisa mengangguk. Sebenarnya ia masih ragu dengan permainannya sendiri. Ia takut Caca akan kalah jika satu tim dengannya.


Keempat orang itu mulai bertanding. Mereka saling berebut bola dari lawan dan melemparkan bola pada satu timnya. Saat waktu masih bergulir lima menit, Caca dapat memasukkan bola pertama pada ring basket. Gadis itu memekik senang dan meledek dua orang lawannya.


Permainan kembali dimulai. Pada menit berikutnya Ata yang dapat memasukkan bola, sehingga skor mereka sama. Mereka sangat asyik bermain malam itu. Abimanyu yang tadi mengaku tak bisa bermain basket, nyatanya bisa mengimbangi permainan Caca dan beberapa kali merebut bola dari lawan dan berhasil mencetak angka.


Setelah hampir setengah jam mereka saling mengejar skor, akhirnya skor mereka seimbang. Dan kali ini bola berada di tangan Rasya. Pemuda itu mendribel bola dengan pandangan lurus ke arah ring, membuat Caca merasa khawatir.


Perempuan yang kini rambutnya telah tergulung asal di atas kepala itu tak pernah mau kalah dengan siapa pun. Ia pun mencoba merebut bola dari Rasya, tetapi pergerakannya ternyata terbaca oleh pemuda itu dan bola pun terlempar ke arah Ata yang berada di dekat ring.


Dengan sigap Ata menangkap bola tersebut dan melempar bola ke arah ring. Namun, siapa sangka Abimanyu dapat menggagalkan bola itu masuk ke ring dan mengambil alih permainan.


Pemuda itu mendribel bola sebanyak tiga kali, lalu melemparkan bola tersebut ke dalam ring dan bola berhasil masuk dengan Sempurna.


Caca berteriak senang saat kemenangan berada di pihaknya.


Cup


Caca mencium pipi Abimanyu secara spontan, membuat Abimanyu terdiam seketika.


“Aduh, Ta, balik yuk balik! Nggak kuat gue ngeliat pemandangan kayak gini, pacar gue jauh.”


Suara Rasya menyadarkan Caca dari apa yang baru saja ia lakukan. Gadis itu sontak menjauhkan tubuhnya dari Abimanyu dan meminta maaf tanpa suara.


Abimanyu yang masih belum tersadar sepenuhnya hanya bisa mengangguk. Ia bisa merasakan bagaimana detak jantungnya berdentam lebih cepat dari biasanya. Ada perasaan terkejut sekaligus bahagia mengerubungi dirinya saat ini.


“Ya ampun, Ta. Jadi pengen nikah gue.” Lagi-lagi suara Rasya yang dibuat seolah tengah bersedih menyita perhatian Caca.


Gadis itu berdecak sinis sembari memutar bola matanya. “Lebai, lo!” olok Caca seraya meninggalkan ketiga pria itu.


Abimanyu masih memandangi tubuh Caca yang bergerak menjauh darinya. Detak jantungnya masih berdetak cepat mengingat apa yang Caca lakukan padanya. Namun, ada satu pertanyaan di benak Abimanyu. Apa Caca tidak merasakan hal yang sama, sehingga bisa pergi begitu saja?.


**


“Itu bajunya Bang Rasya yang ada di sini. Kayaknya muat di badan kamu.” Caca meletakkan satu setel pakaian ke atas kasur kamarnya.


Hari sudah terlalu larut saat keluarga Rasya pulang, sehingga Abimanyu dan Caca memutuskan untuk menginap di rumah Banyu malam ini. Namun, karena tidak ada rencana menginap sebelumnya, jadilah Abimanyu tak membawa baju sama sekali dan akhirnya dipinjamkan baju Rasya yang memang pernah ditaruh di rumah itu.


“Makasih,” ucap Abimanyu. Pemuda itu bergegas mengambil pakaian tersebut dan membawanya ke kamar mandi.


Caca tampak memindai sekitar kamarnya. Sejak sore berada di rumah itu, tetapi Caca baru bisa melihat kamarnya sekarang. Dan saat mendapati sofa kamarnya menghilang, gadis itu mulai mencari ayahnya dan bertanya di mana benda itu berada.


Caca harus menelan kecewa saat Banyu mengatakan bahwa sofanya baru saja dicuci dan masih basah. Karena kemarin keponakan Caca datang dan saat mencari Caca, keponakannya itu menumpahkan sirop di sana. Dan Banyu baru ingat hal itu hari ini, jadi baru tadi pagi sofa itu dicuci.


“Sofa kamar aku lagi dicuci sama ayah dan belum kering. Nggak papa kalau kita tidur satu ranjang?”


Abimanyu yang baru saja selesai mandi mengangkat sebelah alisnya. Ia tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk.


Dengan rasa canggung yang amat menggunung, Caca merebahkan tubuhnya diikuti Abimanyu. Mereka tampak sama-sama saling memandang langit-langit kamar. Namun, sedetik kemudian Caca kembali mendudukkan dirinya dan memasang sorot mengancam pada Abimanyu.


“Awas, ya, Bi. Jangan macem-macem sama gue,” ucap Caca kembali menggunakan lo-gue.


Caca meletakkan guling di tengah ranjang. Ia mengatakan bahwa itu batas mereka dan tidak boleh dilewati.


Abimanyu hanya berdecak malas. Ia mengibaskan tangannya tak peduli sebelum memiringkan tubuhnya membelakangi Caca. Saat matanya hampir saja menutup karena kantuk, suara ponsel yang ia letakkan di atas nakas membuat Abimanyu harus kembali membuka mata. Ia melihat siapa yang menelepon dan saat nama Aldi muncul, Abimanyu bergegas mengangkatnya.


“Bi, lo di mana?”


“Di rumah,”


“Rumah mertua maksud, lo?”