Tak Akan Terganti

Tak Akan Terganti
Bab 50 : Salah menilai


Mentari merayap naik. Sinarnya menyapa seluruh penduduk kota. Menemani para manusia yang tengah bersiap untuk beraktivitas.


Abimanyu mengusap rambutnya yang setengah basah. Aroma sabun mandi menguar dari tubuhnya yang kini terlihat sangat segar.


Kening pemuda itu terlipat halus saat baru saja keluar dari kamar mandi dan melihat istrinya masih bergelung nikmat di bawah selimut. Jam sudah menunjukkan hampir pukul tujuh, tetapi sepertinya Caca masih belum ingin beranjak dari sana.


Langkah Abimanyu terseret ringan mendekati sang istri. Ia mendaratkan bokongnya di tepi kasur, menyentuh kening gadis itu untuk memastikan Caca baik-baik saja. Napasnya pun terbuang lega saat ternyata suhu tubuh gadis itu terbilang normal. Lantas Abimanyu menepuk legan Caca dengan lembut. Memanggil nama gadis itu dengan suara normal.


“Ca, udah siang. Bangun!”


“Ca, kamu hari ini ada kelas kan? Ayo bangun entar kamu telat loh.”


Caca menggeliat, ia menarik selimutnya semakin tinggi.


“Ca, kok malah tidur lagi sih! Udah siang loh ini.” Abimanyu kembali menepuk lengan gadis itu. Ia berdecak bingung melihat Caca yang seperti tak ingin bergerak sama sekali.


“Kamu kuliah ngak sih? Bukannya ada kelas hari ini?” Suara Abimanyu terdengar sedikit meninggi.


“Enggak, males berangkat,” gumam Caca, tetapi masih bisa terdengar Abimanyu.


“Nggak boleh males dong, Ca. Masa nggak masuk kuliah cuma karena males.” Abimanyu kembali mengguncang tubuh Caca supaya gadis itu mau beranjak.


“Enggak, Bi!” seru Caca masih tak mau membuka matanya.


Abimanyu diam sejenak. Memikirkan cara agar istrinya mau bangun dan berangkat kuliah.


“Kalau kamu nggak mau bangun dan berangkat kuliah. Aku bakal cium kamu dengan paksa dan mandiin kamu secara paksa juga.”


Sontak netra Caca terbuka. Menatap tajam pada Abimanyu.


“Kamu nggak bakal berani lakuin itu ke aku,” tuturnya tak percaya.


Abimanyu tersenyum miring. Tanpa aba-aba, Abimanyu mendekatkan wajahnya pada Caca dan hendak menempelkan bibirnya pada bibir gadis itu.


“Oke aku bangun!” seru Caca menahan dada Abimanyu agar tidak semakin dekat dengan wajahnya.


Caca beranjak duduk sembari mendorong tubuh Abimanyu dengan pelan. Sorot matanya masih tajam memperingati Abimanyu untuk tidak melakukan apa yang tadi dia ucapkan.


“Udah sana keluar. Aku udah bangun, nih!” Caca kembali mendorong tubuh Abimanyu agar segera pergi.


“Aku nggak akan pergi sebelum kamu masuk kamar mandi. Aku mau mastiin kamu nggak bakal tidur lagi,” ujar Abimanyu masih duduk menghadap pada sang istri.


Caca berdecak. Ia pun menurunkan kedua kakinya berdiri di depan sang suami.


“Aku nggak bakal tidur lagi, Bi. Udah keluar sana.” Caca menarik lengan Abimanyu agar pemuda itu segera berdiri.


“Janji, ya?”


“Iya, bawel! Cepetan keluar.”


Caca kembali menarik lengan Abimanyu dan pemuda itu pun beranjak berdiri.


Abimanyu terkekeh melihat raut kesal istrinya. Gadis itu terlihat sangat cantik meski baru bangun tidur.


“Udah sana!” usir Caca lagi.


“Iya,”


Abimanyu sudah hampir melangkah, tetapi tidak jadi. Ia kembali berdiri di depan istrinya.


“Apa?” tanya Caca bingung. Tak lama kemudian netranya membulat saat tiba-tiba Abimanyu mencuri satu ciuman dari bibirnya.


Abimanyu hanya tertawa sembari berlari meninggalkan kamarnya.


**


“Kamu kenapa sih tumben banget nggak semangat kuliah?” Abimanyu menengok istrinya yang duduk di sampingnya. Lampu merah membuat Abimanyu bisa lebih leluasa untuk sedikit bertanya pada gadis itu.


Caca memutar bola matanya, malas. Ia asyik menatap jalan raya. Menatap pada setiap kendaraan yang berhenti di samping mobilnya.


“Ya, males aja, Bi. Emangnya nggak boleh?” tanyanya ketus.


Abimanyu menggaruk kepalanya. “Ya, nggak biasa aja, Ca, liat kamu semales ini berangkat kuliah.” Lampu berubah hijau saat kalimat itu terlontar. Abimanyu pun kembali melajukan mobilnya, membelah jalanan.


Caca hanya berdecak tak menimpali apa yang Abimanyu ucapkan.


Netra Abimanyu melirik sang istri. Ia ingin menanyakan sesuatu, tetapi benaknya meragu. Ia takut istrinya tersinggung. Namun, benaknya juga meronta untuk segera bertanya.


Beberapa detik berlalu dengan keheningan. Abimanyu berdeham sekilas. Menghilangkan rasa canggung yang hampir merayapinya.


“Ca,” Abimanyu pun memberanikan diri memanggil sang istri yang hanya menyahutinya dengan deheman.


Tak mengalihkan pandang sama sekali. Gadis itu tampak enggan untuk berbicara meskipun hanya satu kata.


“Kamu semalem nangis, ya?” akhirnya pertanyaan itu mampu keluar dari bibir Abimanyu setelah benaknya bergelut dengan kepalanya yang sejak tadi mencegah keluarnya pertanyaan itu.


Tubuh Caca menegang, tetapi tidak ada satu jawaban yang keluar dari bibir gadis itu. Namun, mampu memberi jawaban kepada Abimanyu secara tidak langsung.


“Kenapa semalem nangis? Karena Crystal, ya?”


Semakin enggan saja Caca memberikan jawaban, karena jelas jawabannya adalah iya.


“Orang kayak kamu bisa nangis juga ya cuma karena hal itu?”


Pertanyaan terakhir yang Abimanyu lontarkan membuat Caca memutar kepala. Sorot matanya sungguh tak terbaca. Membuat Abimanyu sedikit merasa bersalah karenanya.


“Orang kayak aku tuh kayak gimana sih, Bi?” tanya Caca sarkasme. Netranya menyipit tajam.


Sebenarnya itu adalah pertanyaan yang beberapa kali terlontar dari orang-orang terdekat Caca. Ia paham betul maksud mereka. Namun, ia masih saja merasa direndahkan hanya dengan sederet kalimat tersebut.


Abimanyu mengulum bibirnya. Tidak mengerti bagaimana menjelaskannya.


“Ya, kayak kamu. Kamu kan–”


“Galak? Ketus? Cuek? Suka ngomong kasar? Apa lagi?”


Abimanyu terdiam. Suara Caca yang cukup tinggi mampu menyadarkan Abimanyu bahwa sang istri kini tengah emosi.


“Kamu pikir, aku yang kayak gitu nggak punya hati, Bi?” Dada Caca naik turun menahan segala luapan emosi yang sebenarnya sejak semalam ia tahan. “Kamu pikir, aku sekuat baja yang kalau diperlakukan seburuk itu tetap biasa aja?”


Abimanyu meneguk salivanya susah payah. Ini adalah kali pertama Caca marah padanya setelah pesta pernikahan mereka yang tak direncanakan sebelumnya.


“Aku tu juga manusia, Bi. Aku juga punya hati. Hati aku bahkan sakit waktu Crystal nyiram aku di depan semua pelanggan aku. Aku emang galak, aku juga kasar. Tapi, bukan berarti hati aku tahan kalau digituin sama orang. Aku nggak salah, Bi dan Crystal bales apa yang nggak aku lakuin.” Caca menunjuk dadanya. Seolah memberi tahu sang suami ada luka yang teramat dalam di sana.


Tanpa banyak bicara, Abimanyu menepikan mobilnya. Ia membuka sabuk pengamannya untuk kemudian merengkuh tubuh Caca yang kini tengah menangkup wajahnya dengan kedua tangan.


Bahu gadis itu bergetar. Menangis tersedu seperti semalam. Namun, kali ini rasanya berbeda, karena ada Abimanyu yang memeluknya.


“Maaf. Aku udah salah nilai kamu.”