Tak Akan Terganti

Tak Akan Terganti
Bab 53 : Rencana


Abimanyu menarik sebuah kursi kecil ke dekat meja rias. Ia menopangkan kepala di tangannya yang telah bersiku pada meja. Menatap istrinya yang kini tengah menyisir rambut melalui cermin.


Sebelah alis Caca naik beberapa senti melihat kelakuan absurd Abimanyu pagi ini. Sembari mengikat rambutnya menjadi satu, Caca bertanya apa yang tengah pemuda itu lakukan.


“Ngliatin kamu dandan,” jawab Abimanyu tanpa rasa malu. Ia bahkan tak menyembunyikan tatapan kekaguman yang ia miliki pada sang istri.


Caca berdecak tak mengindahkan ucapan suaminya. Ia melirik pemuda itu melalui cermin tanpa ingin bertanya lagi.


“Nanti kelas kamu selesai jam berapa?” tanya Abimanyu masih dengan menatap sang istri melalui cermin.


Caca berpikir cepat, kemudian menjawab, “Jam dua udah selesai.” Gadis itu menyapukan bedak ke wajahnya. Kemudian, memoles bibirnya dengan lipstik berwarna pink. Membuat bibir Caca terlihat semakin manis.


“Nanti pulang kuliah ikut aku ke mal bisa?”


“Ngapain?” tanya Caca bingung. Tidak biasanya Abimanyu mengajaknya keluar secara terang-terangan seperti ini.


“Beli buku,” jawab Abimanyu tanpa mengalihkan pandangan dari wajah sang istri.


“Tumben ngajak aku.” Caca memutar tubuhnya untuk menghadap Abimanyu sepenuhnya.


“Ngggak boleh?”


Caca berdecak sambil memutar bola mata malas. “Nggak gitu, Bi. Nanti aku harus ke kafe deh kayaknya ... eh bentar-bentar.” Caca hendak melihat agenda di kalender ponselnya. Namun, urung saat satu pesan dari sang ayah muncul tiba-tiba. “Eh, kayaknya bisa, Bi. Ayah bilang nggak jadi ketemu aku. Ayah ada urusan, aku juga boleh nggak masuk kalau udah nggak ada kerjaan,” lanjut Caca kembali meletakkan ponselnya ke atas meja rias.


“Jadi?” tanya Abimanyu memastikan kembali jawaban sang istri.


Gadis itu mengangguk. “Ya, nanti aku temenin.”


Abimanyu berseru senang dalam hatinya. Tidak sia-sia ia menghubungi ayah mertuanya pagi-pagi sekali untuk membatalkan pertemuan pria itu dengan istrinya, karena ia ingin mengajak Caca jalan-jalan.


Flashback


Abimanyu berdiri di balkon dengan ponsel menempel di telinganya. Ia menunggu ayah mertuanya mengangkat telepon darinya, hingga pada dering ke lima, sang ayah mertua mengangkatnya.


“Tumben, Bi, pagi-pagi telepon. Ada masalah?” tanya Banyu dari seberang sana.


“Nggak ada masalah, Yah.” Abimanyu tersenyum sungkan, meskipun tak bisa dilihat oleh Banyu. “Hari ini ayah ada janji sama Caca?”


“Iya, rencananya nanti setelah Caca selesai kuliah ayah mau ketemu sama Caca.”


“Aku pengen ngajak Caca keluar kalau pertemuan Ayah sama Caca bisa ditunda,” jelas Abimanyu sebelum Banyu bertanya.


Tawa Banyu pecah seketika. Ia tahu maksud menantunya itu adalah mengajak Caca berkencan. Banyu pun mengiyakan permintaan Abimanyu. Ia sama sekali tak masalah dengan permintaan kecil itu. Ia bahkan berharap pemuda itu bisa mengambil hati putrinya dan bisa membuat Caca melupakan kekasih brengseknya itu.


“Makasih, Yah,” ucap Abimanyu tak bisa menutupi rasa bahagianya.


Banyu kembali tertawa. “Kamu bisa hubungi ayah lagi kalau butuh bantuan.”


Abimanyu mengangguk. Menggumamkan kata iya sebelum menutup sambungan telepon itu.


Flashback off


**


Siang harinya Abimanyu duduk dengan bersedekap dada di ruang tengah rumahnya. Mukanya terlihat muram sekaligus kesal. Netranya menyorot tajam pada kakak perempuannya yang kini duduk di seberangnya, bersanding dengan putrinya yang berusia dua tahun.


“Naya sama Ante Caca sini.” Caca mengulurkan tangannya pada sang keponakan yang terlihat berbinar menatapnya. Ia memangku gadis kecil itu dengan senang hati.


“Kak, gue mau pergi sama Caca. Kok, lo malah nitipin anak lo ke kita sih?”


Kharris, kakak kedua Abimanyu memasang muka melas. “Bi, papinya Naya masuk rumah sakit. Nggak mungkin gue jagain papinya Naya dan Naya ikut. Kasihan dia kalau kelamaan di rumah sakit,” ucapnya.


“Bi, tolongin Kakak, dong. Jagain Naya sampai papinya boleh pulang, ya?” pinta Kharris.


Abimanyu mendengkus kesal. Tadi pagi ibunya yang saat ini sedang melakukan perjalanan bisnis dengan ayahnya meminta Abimanyu untuk pulang lebih cepat bersama Caca. Beliau mengabarkan kakak iparnya baru saja kecelakaan dan masuk rumah sakit. Abimanyu pun mengiyakan perintah sang ibu dan tanpa ia sangka-sangka sang kakak kini malah menitipkan putri satu-satunya dan membuat rencana Abimanyu yang tadinya ingin mengajak Caca kencan pun menjadi berantakan.


“Kenapa nggak lo titipin ke Bang Riyo aja sih, Kak?” tanya Abimanyu kesal.


“Lo kan tahu Saski sekarang lagi hamil. Kasihan kalau gue bebanin Naya ke dia,” jawab Kharris.


Perempuan berusia dua puluh enam tahun itu kembali memohon kepada Abimanyu untuk menjaga putrinya selama beberapa hari sampai suaminya bisa dibawa pulang.


“Nggak papa kali, Bi, Naya sama kita dulu. Kasihan Kak Ais nggak ada yang bantuin,” ucap Caca mendapatkan kata terima kasih dari kakak iparnya.


Kharris tidak tahu lagi harus menitipkan putrinya ke mana. Selama ini ia tidak menggunakan jasa pengasuh. Ia mengurus putrinya sendiri. Kedua orang tua suami Kharris sudah meninggal sejak beberapa tahun yang lalu. Sehingga hanya Abimanyu saja yang bisa ia percaya untuk mengasuh putrinya.


Abimanyu kembali berdecak. Ia sangat kesal sekaligus merasa iba dengan kakaknya. Akhirnya Abimanyu pun mengiyakan permintaan sang kakak untuk menjaga keponakannya selama beberapa hari ke depan.