Tak Akan Terganti

Tak Akan Terganti
Bab 92 : Mengenyahkan


Dean melemparkan ponselnya ke atas meja. Mantan kekasih Caca itu mengusap wajahnya frustrasi. Matanya memancarkan setitik emosi yang ia sendiri tak mengerti.


Kedua tangan pemuda itu bertaut di atas lutut. Pandangannya kosong dengan pikiran yang sudah berkelana. Ia tengah berpikir apa yang sedang ia rasakan saat ini merupakan kesalahan. Di mana sudut hatinya terasa berdenyut ngilu kala beberapa kali melihat foto sang mantan kekasih bersama suaminya, yang tak lain adalah sepupunya sendiri. Mereka berdua yang seharusnya saat ini ia buat menderita nyatanya terlihat bahagia, dan entah kenapa ia merasa tak terima.


Dean tersenyum miring mengingat apa yang ia lakukan beberapa hari ini. Ia dengan bodohnya membuat satu akun palsu hanya untuk melihat kegiatan mantan kekasihnya yang saat ini sedang berada di luar kota.


Dada Dean terasa mendidih. Beberapa foto Caca dan Abimanyu membuatnya sedikit emosi. Ia tidak tahu kenapa justru jadi begini. Ia merasa tak terima saat sepupunya terlihat begitu bahagia. Seharusnya pemuda itu menderita, karena menikahi musuhnya.


Pemuda itu menyugar rambutnya ke belakang. Frustrasi dengan apa yang saat ini ia rasakan.


“Kenapa gue jadi kepo sama kehidupan mereka, sih?” gerutunya kesal.


“Nggak mungkin gue jatuh cinta sama tu cewek,” gumamnya.


Dean menggelengkan kepala. Ia kemudian mendongakkan kepalanya seraya menutup mata. Sialnya bayangan Caca dan kebersamaan mereka dulu tiba-tiba melintas begitu saja.


“Sialan!” umpat Dean.


Pemuda itu bangkit. Tangannya mencengkeram erat pagar pembatas balkon kamarnya. Beberapa hari ini Dean begitu gelisah. Apalagi beberapa kali ia memimpikan kenangannya bersama Caca. Dean tidak tahu kenapa semua itu bisa terjadi. Padahal setelah Caca tahu niat busuknya itu, Dean tidak pernah lagi bertemu Caca. Ia bahkan mencoba menghindari gadis itu jika mereka hampir berpapasan.


“Gue nggak mungkin jatuh cinta sama Caca. Gue cuma cinta sama Crystal. Ya, cuma Crystal.”


**


“Hah, akhirnya sampai rumah juga.”


Abimanyu menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Punggungnya terasa sangat lelah, karena menyetir selama hampir empat jam.


Sore tadi, Abimanyu, Caca, dan adik-adik mereka kembali ke kota asal. Sudah cukup tiga hari tiga malam mereka berada di sana. Besok mereka harus kembali beraktivitas seperti biasa.


Melihat suaminya yang tampak sangat kelelahan, Caca berinisiatif memijat punggung pemuda itu. Tanpa meminta izin Caca mulai menggerakkan kedua tangannya di atas punggung sang suami. Abimanyu yang sedang tengkurap merasa terkejut dengan apa yang istrinya lakukan.


“Eh, nggak usah, Sayang. Kamu kan juga capek!” larang Abimanyu sembari berusaha membalikkan tubuhnya.


“Udah, nggak apa-apa, Bi. Aku nggak capek, kok,” elak Caca. Ia sedikit mendorong bahu Abimanyu untuk kembali ke posisi semula.


Kedua orang itu sudah akur. Caca sudah tidak lagi mempermasalahkan gadis bernama Alexa kemarin. Setelah pulang dari acara pesta, Abimanyu berulang kali meyakinkan Caca bahwa ia tak memiliki hubungan khusus dengan Alexa. Abimanyu menggunakan segala cara untuk membujuk Caca agar tidak lagi mendiaminya, hingga akhirnya Caca luluh juga.


Beberapa saat berlalu dengan keheningan. Caca menundukkan kepalanya, melihat apakah sang suami tertidur atau tidak. Netra pemuda itu terpejam. Wajahnya terlihat begitu damai. Sangat menggemaskan bagi Caca.


Merasa Abimanyu sudah tertidur, Caca pun ikut merebahkan diri di samping pemuda itu. Caca menghadapkan tubuhnya pada sang suami agar lebih leluasa menatapi wajahnya. Tangan Caca terulur mengusap rahang Abimanyu. Sekilas ia memberikan kecupan selamat malam di bibir Abimanyu. Berharap pemuda itu memimpikannya setelah ini.


Namun, siapa sangka ternyata Abimanyu terbangun. Pemuda itu mengulas senyum. Kemudian mengulurkan tangannya melingkari tubuh ramping Caca. Abimanyu kembali memejamkan mata, tetapi bibirnya lekas berbicara.


“Kamu tahu nggak obat capek paling manjur itu apa?” tanyanya.


“Tidur?” tebak Caca. Namun, Abimanyu menggelengkan kepalanya.


“Terus?” tanyanya kemudian.


Seringai Abimanyu terbit begitu saja. “Kamu mau tahu?”


Tanpa ragu Caca menganggukkan kepala. Barang kali saja informasi dari Abimanyu bisa ia gunakan untuk menghilangkan rasa lelah yang saat ini mendera mereka.


Caca tahu ke mana arah ciuman ini berakhir. Tidak Caca sangka obat yang dimaksudkan suaminya ternyata adalah menghabiskan malam bersama.


Caca mendorong dada Abimanyu pelan. Melepaskan pagutan mereka. Caca bisa melihat tatapan protes yang Abimanyu layangkan padanya.


“Kamu belum mandi, Bi!” protes Caca. Dadanya bergerak naik turun seiring deru napasnya yang berantakan.


“Aku males mandi, Sayang.”


Abimanyu kembali mendekatkan bibir mereka. Ia hendak meraih kembali kenikmatan yang telah Caca hentikan. Namun, Caca kembali mendorongnya, membuatnya urung untuk mencium bibir itu kembali.


“Mandi dulu, Bi!” pinta Caca lagi.


“Entar, aku buat wajib dulu mandinya.”


Kening Caca berkerut dalam. Ia tak mengerti maksud sang suami. Hingga apa yang Abimanyu lakukan selanjutnya membuat Caca mengerti. Gadis itu tertawa dalam hatinya. Menertawakan kelakuan sang suami yang saat ini tidak bisa ia tolak sama sekali.


**


“Gara-gara kamu, semalem aku lupa mau ngabarin Mbak Gia buat ngirim laporan ke aku,” omel Caca.


Gadis itu berulang kali mengembuskan napas kasar. Namun, tidak benar-benar terlihat kesal.


Abimanyu yang berjalan di sampingnya hanya terkekeh tanpa dosa.


“Tapi, kamu juga nikmatin, kan? Tanyanya mendapatkan hadiah cubitan di perutnya.


Caca melirik sinis suaminya. Kemudian, kembali menatap lurus ke depan dengan malas.


Semalam mereka menghentikan 'permainan' saat dini hari. Caca yang sudah tidak kuat lagi langsung tertidur, bahkan tanpa membersihkan diri. Hingga tadi pagi Caca terbangun saat hari sudah beranjak siang. Ia sampai tidak sempat sarapan.


Caca pun mengajak Abimanyu untuk pergi ke kantin kampus terlebih dahulu. Perutnya sejak semalam belum terisi. Cacing-cacing di perutnya sudah berkoar-koar minta diberi makan.


Saat langkah mereka berbelok, Caca merasakan tangan Abimanyu tiba-tiba menggenggam tangannya. Caca pun terheran, tetapi tidak ingin bertanya. Mereka sudah sering seperti ini. Hingga gosip-gosip kampus mengabarkan mereka memiliki hubungan spesial. Caca sama sekali tak memedulikan gosip-gosip murahan seperti itu dan lebih suka melakukan apa yang ingin ia lakukan.


Setelah sampai di kantin, Caca meminta Abimanyu untuk duduk di salah satu kursi kosong yang ada di sana. Ia akan memesan makanan untuk sarapan mereka berdua.


Tanpa Caca tahu, Abimanyu tengah menyorot tajam pada seorang pemuda yang sejak tadi memperhatikan mereka. Ia tersenyum mencibir pada pemuda itu, seolah ia baru saja mengalahkan salah satu lawannya.


Di sudut yang berbeda, Dean mengepalkan kedua tangannya. Pemuda itu terlihat sangat kesal. Kilatan emosi terpancar cukup jelas di matanya setelah melihat kemesraan Caca dan suaminya.


Suami? Cih!


Dean mendecih sinis mengingat Abimanyu yang langsung menggenggam tangan Caca dengan sangat posesif. Ia tahu maksud Abimanyu itu. Dia ingin menunjukkan kepemilikan Caca terhadapnya.


Kepala Dean menggeleng cepat saat tersadar dengan apa yang ia pikirkan. Pemuda itu langsung berusaha menyingkirkan rasa sakit yang tiba-tiba menyerang ulu hatinya. Ia mencoba mengenyahkan bayang-bayang Caca dari dalam kepalanya.


Dean pun mengambil langkah. Melanjutkan langkahnya menuju kelas yang sempat tertunda karena melihat Caca dan Abimanyu tiba.


“Nggak! Nggak mungkin gue jatuh cinta sama Caca,” pikir Dean seraya mengayunkan kakinya untuk menjauh dari tempat itu.