Tak Akan Terganti

Tak Akan Terganti
Bab 90 : Pesta


Pagi harinya keempat remaja yang berada di vila itu duduk melingkari meja makan yang sudah penuh dengan menu sarapan. Mbok Isah yang memang tinggal di sana sudah menyiapkan bahan makanan satu hari sebelum mereka tiba. Sehingga wanita itu bisa memasak tanpa harus ke pasar pagi ini.


“Kakak kalian tu nggak laper apa dari semalem di kamar terus. Gila! Ini udah jam tujuh pagi dan mereka belum nongol juga!” gerutu Mika. Gadis itu menggelengkan kepalanya tak percaya.


Dio mengangkat bahunya tak peduli begitu juga dengan Ata. Bia bahkan tetap tenang dengan sarapannya pagi ini. Gadis itu seperti lupa dengan keinginannya semalam.


Mereka menikmati sarapan pagi itu. Sesekali Dio melirik Mika yang tengah memindai setiap sudut ruang makan tersebut. Dio terlalu asyik memperhatikan Mika hingga tanpa sadar sang kakak masuk ke ruang makan itu dan memergokinya.


Tanpa segan Abimanyu memukul kepala Dio dan membuat remaja itu memekik sakit.


“Astaga, Bang! Lo, gila, ya?” gerutu Dio seraya mengusapi kepala belakangnya.


“Ati-ati mata, lo jatuh!” sindir Abimanyu. Pemuda itu tersenyum menggoda, tetapi beberapa saat kemudian meringis kesakitan. Cubitan di lengannya dari sang istri terasa begitu menyakitkan.


“Kenapa sih, Sayang?” Abimanyu mengusap-usap lengannya yang masih terasa panas.


“Balesan buat kamu, karena udah mukul kepala Dio,” jawab Caca ketus.


Abimanyu menatap sinis pada adiknya yang sudah memasang tampang mengejek padanya. Kemudian, kembali menatap Caca tak terima.


“Kok, kamu belain dia sih!” protes Abimanyu. “Suami kamu tuh aku, bukan dia,” imbuhnya dengan nada merajuk. Sekali lagi Abimanyu menatap adiknya dengan kesal.


Caca meletakkan alat makannya. Ia tatap suaminya dengan datar. “Siapa kamu di hidup aku nggak penting, Abi! Kalau kamu salah aku nggak akan pernah belain kamu,” ucapnya mendapat sorakan dari keempat remaja yang ada di sana.


“Rasain tuh!” ejek Dio pada kakaknya.


Abimanyu mendengkus. Ia mengambil piring berisi nasi dan juga lauk yang baru saja Caca ambilkan untuknya.


Untuk sesaat meja makan itu begitu tenang. Keenam orang itu tidak ada yang berbicara. Mereka sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.


Setelah sarapan selesai, Ata yang biasa mencuci piringnya sendiri selama di rumah mengambil alih tugas itu di sana. Ia tidak biasa mengembankan tugas tersebut pada asisten rumah tangga. Sehingga Ata mengajak Caca untuk mencuci piring bersama, sedangkan yang lain sudah berada di depan vila untuk melihat keadaan sekitar.


“Acaranya jam berapa sih, Kak?” tanya Ata merujuk pada pesta yang kemarin ayahnya maksudkan.


Sembari membilas piring dan juga sendok yang sudah Ata beri sabun Caca menjawab, “Entar malem, Ta. Jam enam gue berangkat sama Abi. Nggak tahu nanti balik jam berapa.”


“Kita pulang lusa sore kan?” tanya Ata memastikan. Mereka memang berencana menginap selama tiga hari, karena hari Senin dan Selasa besok kebetulan tanggal merah. Keenam orang itu tentunya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk liburan di tempat itu.


“Iya, sekalian ngademin kepala. Ngebul rasanya kepala gue,” jawab Caca setengah bercanda.


Tak lama setelah itu mereka selesai mencuci piring. Caca mengajak adik laki-lakinya itu untuk ikut bergabung bersama yang lain di halaman vila. Mereka tampak asyik memandangi vila tersebut. Susana di sana yang sangat sejuk membuat mereka merasa betah berada di sana.


**


Pukul lima sore Abimanyu keluar dari kamar mandi. Pemuda itu tampak segar setelah membersihkan diri. Abimanyu berjalan mendekati istrinya yang tampak cantik dengan balutan dress yang panjangnya di bawah lutut. Warna hijau matcha dipadukan dengan batik lokal sangat cocok dipakai oleh Caca.


Abimanyu menatap setumpuk pakaiannya yang ada di atas tempat tidur. Satu set kemeja dengan warna dan motif yang sama dengan baju istrinya terlipat rapi di sana. Abimanyu mengambilnya dan kemudian memakainya.


Selesai mengenakan seluruh pakaiannya, Abimanyu menghampiri Caca yang masih memoles wajahnya. Ia mengambil sisir sang istri yang ada di atas meja rias. Abimanyu menatap dirinya dari pantulan cermin sambil menyisir rambut pendeknya. Pandangannya tentu terarah pula pada sang istri yang malam ini terlihat begitu cantik.


Abimanyu mengembalikan sisirnya ke atas meja. Ia mencium puncak kepala Caca dengan begitu lembut. Kemudian, beralih pada pipinya yang kini terlihat sedikit merah karena baru saja dipoles blush on.


“Cantik banget istri aku,” ucap Abimanyu menggoda. Ia menumpukan kedua tangannya pada meja, menatap mata sang istri melalui cermin di depannya.


“Jadi nggak rela bawa kamu keluar,” imbuhnya membuat kekehan Caca keluar.


“Lebai, deh!”


Caca semakin tergelak melihat ekspresi Abimanyu yang tiba-tiba merengut. Ia mengambil parfum yang biasa Abimanyu gunakan. Meminta Abimanyu menggunakannya secara tidak langsung.


Beberapa saat kemudian Caca selesai dengan kegiatan merias diri. Ia kembali mengamati wajahnya di depan cermin sebelum mengarahkan dirinya pada sang suami.


Pemuda itu menatap tak rela pada Caca. Gadis itu terlalu cantik untuk ia bawa ke tempat yang sangat ramai. Abimanyu tidak rela kecantikan Caca dinikmati oleh orang lain. Namun, mau bagaimanapun juga Abimanyu tak bisa melakukan apa-apa.


“Cantik nggak?” tanya Caca seraya memutar tubuhnya.


Abimanyu menangkap tubuh ramping Caca. Memerangkap tubuh gadis itu dalam dekapannya.


Caca balas melingkarkan tangannya pada tubuh Abimanyu. Ia tersenyum menatap pemuda itu. Dengan gerakan yang begitu lamban Caca menyandarkan kepalanya pada dada Abimanyu. Menikmati setiap degup jantung pemuda itu. Meresapi rasa hangat yang hanya ia dapat dari suaminya.


“Harusnya kamu itu bangga punya istri cantik kayak aku,” ucap Caca diiringi tawa kecil. Tawanya terus menguar saat mendengar dengusan kecil dari Abimanyu.


Caca mengurai dekapan mereka. Mengajak Abimanyu untuk segera berangkat, karena hari sudah mulai menggelap. Mereka juga masih harus mencari lokasi diselenggarakannya pesta.


Dengan penuh rasa malas Abimanyu berjalan di samping Caca. Mereka menuruni tangga tanpa saling melempar suara.


Di bawah sana keempat remaja yang baru saja selesai mandi menatap kagum pada sepasang manusia itu. Mereka menganga tak percaya melihat keserasian keduanya.


“Ta, fotoin gue dong. Mumpung lagi cantik,” ucap Caca seraya menyerahkan ponselnya pada sang adik.


Caca merangkul lengan Abimanyu. Menyandarkan kepalanya di lengan pemuda itu. Caca dan Abimanyu tersenyum menatap ke arah kamera yang sedang dipegang Ata.


Kedua manusia itu mengambil beberapa pose yang begitu romantis. Abimanyu tak sungkan berpose mengecup pipi Caca. Membuat keempat remaja itu berdecak iri.


Keenam orang itu kemudian berfoto bersama. Mereka meminta Mbok Isah memotret mereka. Setelah mendapat beberapa gambar, Abimanyu mengajak Caca untuk segera berangkat. Pak Trio sudah menunggu mereka di samping mobil yang sudah Arjuna siapkan.


Saat perjalanan ke tempat acara, Caca menyempatkan diri mengunggah foto mereka tadi ke akun instagram miliknya. Tanpa ia tahu, ada seseorang yang begitu kesal melihat fotonya dan Abimanyu yang saling pandang dengan senyuman lebar.


**


Perjalanan menuju lokasi pesta memakan waktu kurang lebih empat puluh lima menit. Lokasi tersebut memang cukup jauh dari vila. Saat ini mereka sudah berada di pelataran sebuah hotel mewah di daerah tersebut.


Pak Trio menurunkan Caca dan Abimanyu di depan lobi. Sedangkan ia sendiri akan menunggu di dalam mobil selama pesta itu berlangsung.


Caca melingkarkan tangannya pada lengan Abimanyu. Mereka berjalan bersisian memasuki ballroom hotel tersebut. Caca memberikan undangan yang kemarin ayahnya berikan kepada seorang wanita yang ditugaskan untuk mencatat nama para tamu undangan. Setelah memberikan tanda tangan, Caca dan Abimanyu masuk ke ruangan yang digunakan untuk menyelenggarakan pesta.


Suasana ruangan itu sangat ramai. Ada banyak orang dari kalangan atas berkeliaran di sana. Mereka tampak sangat rapi dan berkelas. Abimanyu bahkan sampai berdecak kagum dengan penampilan glamor para tamu undangan itu.


“Ini kita harus ke mana?” bisik Abimanyu tepat di samping telinga Caca.


Sejak tadi mereka masih berdiri di dekat pintu masuk. Mereka hanya menyapu seluruh isi ruangan dan berharap menemukan seseorang yang mereka kenal. Namun, hasilnya nihil. Hampir semua tamu undangan di sini seusia ayah mereka. Ada beberapa yang masih muda yang mereka yakini teman sebaya si pengantin.


“Nggak tahu,” jawab Caca. Kepalanya menengok ke arah kanan dan kiri, berusaha mencari si pemilik acara.


“Eh, kayaknya itu deh yang punya acara ini.” Caca menunjuk seseorang yang berdiri beberapa meter di depan mereka dengan dagunya.


Caca mengajak Abimanyu menghampiri pria itu. Pria yang ia yakini memiliki usia lebih tua dari ayahnya. Belum sampai Caca pada pria tersebut. Pria itu justru turut menghampirinya. Senyum hangat pria itu terukir manis di bibirnya.


“Kamu, putrinya Pak Banyu?” tanya pria bertubuh tambun itu.


“Iya, saya putri Pak Banyu,” jawab Caca seraya mengangguk kecil.


“Sebelumnya kita pernah bertemu kan?” tanya pria itu basa-basi.


Caca kembali membenarkan. Kemudian, menyampaikan permintaan maaf sang ayah yang tidak bisa hadir secara langsung di acara ini. Caca juga menjelaskan alasan sang ayah tidak bisa datang secara pribadi.


“Oh, iya. Perkenalkan ini suami saya.” Caca memperkenalkan Abimanyu saat pria itu bertanya ia bersama siapa.


Abimanyu mengulurkan tangannya dengan seulas senyum ramah. Ia menyebutkan namanya yang kemudian disambut oleh pria itu.


“Wah, sayang sekali Nak Caca sudah punya suami. Padahal saya punya rencana ingin menjodohkan kamu dengan putra bungsu saya,” ucap pria itu diakhiri tawa.


Caca hanya tersenyum menanggapi ucapan kolega ayahnya itu. Ia sedikit memiringkan kepalanya untuk melihat ketegangan yang tiba-tiba merasuki suaminya. Caca mengulum senyumnya saat melihat ekspresi tidak suka dari sang suami.


“Ya, sudah. Kalian nikmati saja pestanya. Saya mau bertemu dengan tamu saya yang lain dulu,” ucap pria itu berpamitan.


Abimanyu mendengkus seiring dengan langkah mereka yang kini pergi menjauh dari tempat sebelumnya. Di sampingnya Caca hanya tertawa geli sambil menyandarkan kepalanya pada lengan Abimanyu.


Mereka menuju ke sebuah meja kosong. Sebelumnya Abimanyu mengambilkan puding dan minuman untuknya dan juga Caca. Saat mereka menikmati hidangan kecil pesta itu, suara seorang wanita terdengar masuk ke gendang telinga mereka.


“Abimanyu?”


Caca mengurungkan niatnya memasukkan satu sendok puding ke dalam mulutnya. Hanya demi menatap seorang wanita seusia Abimanyu yang tiba-tiba duduk di kursi samping suaminya.