Tak Akan Terganti

Tak Akan Terganti
21


“Udahlah, turutin aja perintah mama. Ya, dibiasain aja, Ca. Daripada durhaka sama orang tua,” usul Abimanyu setelah mencoba berpikir cepat.


Napas Caca terbuang berat. Ia menghadapkan tubuhnya pada Abimanyu. Kepalanya mendongak untuk menatap mata pemuda itu. Lalu, mengulurkan tangan tepat di depan Abimanyu.


“Deal?”


“Deal” jawab Abimanyu seraya meraih telapak tangan gadis itu.


“Oke, mari kita coba mulai hari ini.” Caca berdeham sekali, kemudian berkata, “Aku mau ke sana dulu, cari buku di sebelah sana.” Gadis itu mengulum senyum gelinya. Lidahnya terasa gatal saat mengatakan hal itu.


Abimanyu hanya tertawa kecil mendengar Caca berucap demikian. Kepala pemuda itu lantas mengangguk untuk mengiyakan istrinya.


Langkah Caca terseret cepat menuju rak buku di ujung toko. Ia baru melihat buku yang ia cari sepertinya berada di rak tersebut.


Netra Abimanyu mengawasi segala tindakan Caca. Hari ini pemuda itu bisa merasakan betapa berbedanya Caca dengan teman perempuannya yang lain.


Putri pemilik restoran dan kafe itu selalu berpenampilan sederhana di balik kekayaan yang dimiliki oleh ayahnya. Gadis yang kerap berkata-kata pedas itu nyatanya seorang gadis penyayang keluarga. Bisa ia lihat saat mereka akan keluar dari rumah sakit tadi. Gadis itu sempat mencium pipi kakeknya memberikan semangat agar cepat sembuh pada pria tua itu. Sifatnya yang terkenal keras kepala, nyatanya tetap menunduk takut saat ibunya berucap tegas.


Tak pernah Abimanyu sangka istrinya adalah gadis yang selalu menurut terhadap kedua orang tuanya. Meskipun terkadang kata-kata yang sedikit kurang ajar terkadang keluar dari bibir Caca saat berbicara dengan orang yang lebih tua, tetapi Abimanyu tahu Caca tidak pernah serius akan hal itu.


Gadis semester empat itu bukan gadis manja seperti di novel-novel yang pernah tak sengaja Abimanyu baca. Dia gadis mandiri yang sudah bekerja di tengah kehidupannya yang serba berkecukupan.


“Bi”


Abimanyu terenyak saat seseorang memukul bahunya. Pemuda itu lantas berbalik, menoleh pada seseorang yang ternyata adalah salah satu teman kampusnya yang tak lain adalah Jayden.


“Lo ngapain di sini?” tanya Jayden.


Bola mata Abimanyu bergerak liar. “Gu-gue cari buku lah,” jawabnya gugup.


“Sendiri? Kayaknya lo lagi ngawasin seseorang deh dari tadi.”


Kalimat itu tentu saja membuat Abimanyu membulatkan matanya.


“Ngaco, lo,” kilah Abimanyu seraya berpura-pura mencari sebuah buku.


Alis Abimanyu terangkat. Ia melirik pada deretan buku yang ternyata berisi novel remaja.


“Ah, itu. Gue nyariin kakak gue. Biasa, ibu-ibu suka repot di rumah.” Alasan yang masuk akal, batin pemuda itu.


Jayden mengangguk tak yakin. Tak ingin lebih mengurus temannya satu itu, Jayden pun pamit pergi dari sana untuk mencari buku yang lain.


Abimanyu mengelus dadanya pelan. Jantungnya berpacu cepat mendapati keberadaan Jayden di sana. Namun, ia sangat bersyukur Jayden segera pergi. Ia takut jika pemuda itu tidak segera pergi, pemuda itu melihat kebersamaannya bersama Caca.


Netra Abimanyu menelusuri penjuru toko itu. Ia mencari sang istri. Saat keberadaan gadis itu tak segera ia ketahui, Abimanyu memilih mengirim pesan dan keluar dari sana.


**


“Hai, Je,” sapa Caca saat melihat kakak tingkatnya berdiri tak jauh darinya.


“Lo di sini juga, Ca?” tanya Jayden semringah.


“Juga?” Alis Caca berkerut dalam. Tak mengerti kata 'juga' yang terlempar dari bibir pemuda di hadapannya ini.


“Iya, kebetulan Abimanyu di sini juga tadi,” ungkapnya membuat Caca gugup tiba-tiba.


“Oh, ya?” senyum kikuk Caca mewakili segala rasa gugupnya.


Jayden mengangguk. Pemuda itu tiba-tiba memasang wajah serius saat menatap Caca, lalu berkata, “Eh, Ca gue mau tanya sama lo.”


Alis Caca terangkat penuh tanya. “Tanya apa?”


“Dean ke mana sih? Perasaan udah lama gue nggak lihat dia di kampus.”


***


Jangan lupa like dan komen❤