Tak Akan Terganti

Tak Akan Terganti
Bab 114 : Nyaman


Pukul 23.07


Sekilas Abimanyu melirik jam digital di nakasnya. Pria itu kembali mengusap punggung sang istri tercinta yang sedang tidur lelap di dalam dekapannya. Wanita itu menggeliat, mencari kenyamanan di dalam pelukannya.


Hening. Tidak ada satu pun suara yang terdengar di dalam kamar tersebut setelah tiga puluh menit yang lalu istrinya singgah ke alam mimpi. Meninggalkan jejak basah pada wajahnya usai menangis seharian.


Menyibak anak rambut Caca yang menutupi sebagian wajahnya. Abimanyu mengusap pipi sang istri dengan begitu lembut. Pipi yang dulu terlihat sangat tembam kini berubah sedikit kurus. Beberapa hari ini Caca tidak memperhatikan asupan makanannya. Perempuan itu sangat tertekan dengan apa yang terjadi padanya. Caca bahkan ingin membunuh bayi tak berdosa itu.


Penyebab semua itu tak lain karena Caca terlalu mencintai Abimanyu. Caca sebenarnya tidak ingin kembali mengecewakan suami serta keluarganya. Namun, pemikiran perempuan yang sedang dilanda depresi itu terlalu pendek. Caca benar-benar kehilangan arah beberapa hari terakhir ini.


Akan tetapi saat ini Abimanyu begitu bersyukur, karena Caca sudah mau menerima keadaannya sekarang. Setelah berbincang dengan ayahnya Caca menjadi sadar akan apa yang harus ia lakukan sekarang. Caca menyadari semua orang begitu menyayanginya. Bahkan Arjuna dan Nabila tak segan datang dan memeluknya untuk menunjukkan pada Caca bahwa mereka sangat menyayanginya dalam kondisi apa pun.


Tak pernah lelah suami, ibu, bahkan adik-adiknya menyemangati Caca, menyadarkan Caca akan keputusan yang seharusnya ia ambil saat ini. Ayahnya adalah orang terakhir yang benar-benar menyadarkan Caca bahwa semua orang menyayanginya dan meminta Caca untuk tidak menggugurkan kandungannya sendiri. Bayi kecil yang bahkan belum terlihat bentuk kepalanya itu tak bersalah sama sekali.


Caca sadar tak sepatutnya rasa marah itu ia lampiaskan pada bayi tersebut. Dia tidak mengerti apa pun. Dia diciptakan oleh Tuhan. Dia adalah bentuk kuasa Tuhan di mana manusia tidak bisa melakukan apa-apa jika Tuhan sudah berkehendak demikian. Manusia hanya bisa menerima apa yang telah terjadi, memperbaiki masa depan, dan menjadikan masa lalu sebagai pelajaran.


Senyum Abimanyu terukir tipis kala ia merasakan tangan Caca yang mendekap pinggangnya dengan erat. Kepalanya kembali bergerak-gerak seolah mencari kenyamanan dalam dekapannya. Setelah beberapa hari, akhirnya ia bisa kembali merengkuh pujaan hatinya dan memberikan kenyamanan yang seharusnya pada wanita yang kini merajai seluruh kepalanya.


“I love you, Cahaya Bulan tersayang. Istirahatkan tubuh dan jiwamu malam ini. Kita hadapi hari esok bersama-sama. Jangan pernah pergi apa pun yang terjadi. Mari kita rawat titipan Tuhan ini dengan sepenuh hati.”


Netra Abimanyu terpejam setelah membisikkan kalimat tersebut tepat di telinga Caca.


**


“Ya ampun Caca, gimana kabar, lo? Lo ke mana aja hampir dua minggu nggak masuk? Lo sakit? Atau lo lagi banyak kerjaan?”


Senyum Caca tersungging tipis mendengar pertanyaan yang begitu heboh dari Maya. Ia bahkan belum duduk dengan benar dan Maya sudah memberondongnya dengan banyak pertanyaan.


Kini Maya memegang kedua belah pipi Caca. Menyisir seluruh wajah Caca yang terlihat begitu berbeda dari terakhir kali mereka bertemu.


“Mata lo cekung banget sih, Ca. Lo lembur kerjaan di rumah pasti, ya? Jahat banget deh bokap lo itu sekarang, masa anak sendiri disuruh kerja rodi. Gimana, sih!”


Maya berbicara dengan bersungut-sungut tanpa mendengar penjelasan dari Caca terlebih dahulu. Gadis yang rambutnya terikat rendah itu berdecak dan hampir kembali menyemburkan kekesalannya saat Caca lebih dulu menyahut.


“Gue nggak apa-apa, May. Gue nggak lembur, kok. Ayah nggak pernah nyuruh gue lembur apalagi kerja rodi.”


Caca terkekeh pelan melihat tatapan Maya yang begitu khawatir dengan dirinya. Sekarang ia sadar, semua orang benar-benar menyayanginya. Ia jadi menyesal telah memiliki pikiran yang begitu jahat beberapa waktu yang lalu.


“Nanti setelah kuliah gue bakal cerita ke lo sama Sofi. Tapi, nanti ya. Kita kuliah dulu,” ucap Caca dengan lembut. Senyumnya yang begitu manis juga bertengger indah di atas bibirnya yang masih terlihat pucat.


Belum sampai Maya menjawab, suara Sofi dari luar membuat Caca menoleh dengan senyum merekah.


“Astaga, Caca. Akhirnya lo masuk juga.”


Sofi menarik tubuh Caca dan mendekapnya dengan erat. Menggoyangkan tubuh kecil Caca ke kanan dan kiri untuk menyalurkan rasa bahagianya setelah beberapa hari tidak bertemu dan tidak mendapat kabar darinya.


“Lo sehat kan? Kemana aja lo tiba-tiba ngilanag gini? Mana nggak ada kabar sama sekali.”


Hati Caca benar-benar menghangat melihat betapa khawatirnya kedua sahabatnya ini. Mereka benar-benar peduli padanya.


“Gue baik, Sof. Nanti gue bakal cerita. Tapi, nanti.”


Caca akan menceritakan semuanya pada kedua sahabatnya ini. Ia tidak peduli bagaimana reaksi mereka. Namun, Caca yakin mereka berdua pasti juga akan menguatkannya sama seperti seluruh keluarganya.


**


“Abi bener, Ca. Anak ini nggak salah. Dia punya hak untuk hidup. Gue yakin saat dia lahir nanti, dia pasti akan bangga punya ibu kayak, lo.”


Netra Caca merambang mendengar penuturan Maya. Kedua sahabatnya itu lantas memeluk tubuhnya dengan erat. Mereka saling menyalurkan kekuatan, hingga menimbulkan rasa haru pada Caca dan wanita itu kembali menangis.


“Gue yakin lo pasti kuat menghadapi semua ini,” bisik Sofi sembari mengusap punggung Caca. Kemudian beralih mengusap pipi Caca yang telah basah.


“Lo boleh nangis sekarang, tapi nggak boleh sedih terus,” imbuhnya kemudian.


“Sofi, bener. Gue pernah denger dari seseorang, kalau waktu hamil ibunya sering nangis nanti anaknya jadi cengeng,” timpal Maya seraya terkekeh.


“Ibu hamil harus selalu happy. Nggak boleh sedih-sedih terus.”


Sofi mengangguk membenarkan kalimat terakhir Maya.


Caca masih sesenggukan saat berucap. Membuat Sofi dan Maya tertawa kecil. Meskipun mereka berteman sejak lama, Caca tak pernah memperlihatkan air matanya pada kedua sahabatnya. Sehingga ketika Caca berbicara dengan kondisi sesenggukan menjadi hal lucu bagi Maya dan Sofi.


“Jadi, setelah lahiran lo bakal cuti dulu atau ikut kelas online?”


“Gue bakal cuti setahun. Atau senggaknya sampai anak gue bisa ditinggal sama kakek neneknya.”


Caca tersenyum. Mengusap permukaan perutnya yang masih datar.


“Sof, May, gue pengen sesuatu deh,” ucap Caca setelah keheningan sempat menghinggapi mereka.


Sofi dan Maya menoleh antusias.


“Lo mau apa?” tanya mereka bersamaan.


“Pengen es boba. Tapi ...”


“Tapi apa? Nanti gue beliin deh. Depan kampus kan ada,” sahut Sofi tak sabar.


“Tapi nggak pakai boba. Gue juga pengen kalian yang buat.”


“Lah?”


**


“Skripsi kamu udah sampai mana?”


Abimanyu mendongakkan kepala. Menjatuhkan punggungnya pada sandaran ranjang tanpa melepas tangannya dari kepala sang istri.


“Masih bab satu. Banyak revisi ternyata,” jawabnya mengeluh.


Suami Caca itu tak mengira menyusun latar belakang dan rumusan masalah dari skripsi saja bisa sampai serumit ini. Dulu ia berpikir membuat skripsi hanya sibuk pada penelitian saja. Namun, ternyata dugaannya salah. Menyusun bab satu saja rasanya ia ingin menyerah.


Siang tadi adalah bimbingan ke duanya dan bab satu yang ia ajukan masih banyak yang harus diperbaiki. Mulai dari penyusunan kalimat serta urutan dari setiap paragraf yang harus saling berkesinambungan.


Referensi yang ia ambil pun ternyata masih banyak yang kurang. Ia harus lebih teliti lagi sebelum mengerjakan kembali skripsi tersebut agar besok bisa melanjutkan pada bab dua dan seterusnya.


“Sabar, masih bimbingan ke dua, waktu kamu masih panjang, Bi.”


Bukannya semakin semangat, kalimat yang terlontar dari bibir Caca nyatanya malah membuat Abimanyu semakin tak berminat untuk mengerjakan skripsinya. Faktanya, waktu akan semakin cepat berlalu dalam kondisi tertekan seperti ini.


Caca mengerti dengan kegundahan hati sang suami. Wanita itu tak lagi mengeluarkan kata-kata. Ia memilih memiringkan tubuhnya. Kepalanya tepat berada di perut Abimanyu yang sangat rata. Kepalanya mengusap-usap perut itu hingga tawa Abimanyu terdengar.


“Geli, Yang,” ucap Abimanyu tanpa menjauhkan kepala Caca dari pangkuannya. Tak lama kemudian Caca menegakkan badannya dengan tiba-tiba.


“Hati-hati dong, Ca. Nanti kalau anak kita kaget gimana coba?” omel Abimanyu terkejut.


Hati Caca terasa hangat saat Abimanyu menyebut janinnya dengan anak kita. Wanita itu tiba-tiba saja mencium bibir Abimanyu dan memeluknya tanpa aba-aba.


“Kangen dipeluk kamu, Bi,” bisik Caca dengan suara parau.


Tangan Abimanyu naik ke punggung Caca. Mengusapnya pelan seolah sedang menidurkan anak.


“Kan semalem udah pelukan sampai pagi,” jawab Abimanyu tanpa melepas dekapannya dari sang istri.


“Itu kan semalem, Bi. Kita baru ketemu loh dari tadi pagi. Aku capek pulang kuliah, kamu malah pulang malem,” omel Caca. Bibirnya mengerucut di balik leher Abimanyu.


Tak ada jawaban dari Abimanyu. Pria itu hanya tersenyum tipis tanpa menghentikan kegiatan tangannya mengusap punggung istrinya. Ia tahu tak akan bisa melawan istrinya yang sedang sibuk bermanja ini. Sudah dipastikan ia akan kalah jika ia mendebat.


“Iya maaf.” Hanya itu yang mampu keluar dari bibirnya.


Tanpa mengubah posisinya Caca mulai menceritakan kegiatannya seharian ini. Mulai dari kuliahnya hingga pekerjaannya di kafe. Sejak beberapa hari ini Caca sangat senang bercerita kepada Abimanyu dengan posisi seperti ini. Ia akan merasa sangat diperhatikan dan didengarkan dengan baik. Bahu Abimanyu terasa begitu nyaman hingga Caca kerap tertidur dalam posisi tersebut.


Seperti saat ini. Caca bahkan belum menyelesaikan ceritanya, tetapi perempuan itu sudah terdiam tak berkutik. Embusan napasnya terasa hangat di leher Abimanyu. Dengan penuh hati-hati Abimanyu menidurkan istrinya, kemudian menaikkan selimut Caca sampai sebatas dada.


Sudut bibir Abimanyu naik beberapa mili. Ia begitu senang mendengar kemajuan Caca yang sudah mulai kembali ke aktivitasnya. Ia hanya berharap Caca tetap sehat hingga hari kelahiran itu tiba.