Tak Akan Terganti

Tak Akan Terganti
Bab 61 : Berlebihan


Setelah beberapa menit berlalu dan keheningan menyapa, Caca memberanikan diri membuka selimutnya, ia berpikir Abimanyu telah tertidur. Namun, betapa terkejutnya gadis itu saat ternyata Abimanyu masih setia menatap dirinya.


Caca pun salah tingkah sendiri. Ia bingung harus apa. Ia terlanjur malu telah menanyakan hubungan Abimanyu dan Crystal seolah ia sedang dilanda cemburu.


Deheman terdengar sekilas dari Caca sebelum gadis itu bertanya kenapa Abimanyu belum juga tidur.


“Aku nunggu kamu,” jawab pemuda itu santai.


Hanya dengan tiga kata itu saja membuat Caca kembali berpikir alasan Abimanyu menolak Crystal adalah dirinya. Namun, Caca buru-buru menepisnya kembali.


“Ngapain nunggu aku?” tanya Caca datar, seolah tidak terpengaruh dengan jawaban pemuda itu.


Seulas senyum Abimanyu terukir. Tidak ada alasan tepat kenapa ia masih enggan untuk menutup mata dan memilih menatap Caca yang tertutup selimut. Ia sendiri tidak tahu apa yang ia tunggu dari gadis itu. Hati kecilnya menyerukan perintah untuk jangan terlelap dulu karena mungkin saja Caca akan menampakkan dirinya kembali.


Dan benar saja. Saat ini Abimanyu bisa kembali menatap wajah cantik alami sang istri di tengah keremangan kamar mereka.


“Nggak papa, pengen nunggu kamu aja. Pengen natap muka kamu lebih lama,” jawabnya membuat Caca tersipu seketika.


Untung saja lampu kamar itu sangat redup, sehingga Abimanyu tak bisa melihat rona merah pada pipinya.


Caca kembali berdeham. Sungguh malam ini sangat canggung bagi Caca. Ia tak pernah mengobrol dengan Abimanyu sebelum terlelap. Dan sialnya rasa kantuk Caca sejak tadi belum hadir atau malah tidak akan hadir.


Netra Abimanyu masih setia menatap sang istri. Mengagumi kecantikan Caca yang dulu tak pernah ia lihat. Mengingatkannya pada gadis kecil masa lalunya. Seorang gadis yang dulu menghiburnya kala ia berada pada keterpurukan. Saat dulu ia berada dalam gelapnya ketakutan.


Apa gadis itu masih mengingatnya?


Pertanyaan itu selalu menggantung dalam benak Abimanyu belakangan ini. Selalu berusaha mencari jawaban di setiap harinya. Dan jikalau pun gadis itu lupa, Abimanyu akan dengan senang hati mengingatkannya. Mengingatkan bagaimana kedekatan mereka dulu yang sampai saat ini tak pernah Abimanyu lupakan.


“Aku tidur dulu, ya. Selamat malam!”


Caca mengubah posisi tidurnya membelakangi Abimanyu. Keheningan yang baru saja menyapa mereka kembali, membuat Caca sedikit merasakan kantuk. Ia pun segera menutup mata agar bisa lebih cepat menuju alam mimpinya.


Menit demi menit telah berlalu. Dalam keadaan setengah sadar Caca merasakan tubuhnya didekap dari belakang.


Hangat dan nyaman. Itu yang bisa Caca rasakan. Hingga ia terbuai dan kembali menyelami alam bawah sadarnya yang kini merasa tenang.


**


Abimanyu meminum air putih setelah menyelesaikan sarapannya. Ia menghampiri sang istri yang kini sedang mencuci tangan.


“Kamu berangkat sendiri atau bareng aku?”


Hampir setiap hari Abimanyu menanyakan itu pada Caca. Menawari istrinya dan bukan ingin memaksa. Jika gadis itu memilih untuk berangkat bersama, tentu menjadi salah satu semangatnya.


“Tapi aku jangan ditinggal lagi,” ujarnya memperingati sang suami.


Abimanyu mengulum senyumnya. “Iya,” gumamnya.


Caca tidak tahu apa yang membuatnya kesal kemarin. Apa karena ia jenuh menunggu Abimanyu atau karena Abimanyu mengantar Crystal.


Kepala Caca segera menggeleng. Tidak mungkin ia kesal karena yang kedua. Caca meyakinkan hatinya bahwa ia kesal karena menunggu Abimanyu terlalu lama.


“Udah siap?” tanya Abimanyu kemudian menyalakan motornya. Tak lama kemudian ia melajukan benda itu dan membawanya menuju jalan raya.


Mereka sudah sangat sering berangkat bersama naik motor. Hingga tanpa sungkan Caca melingkarkan tangannya pada pinggang Abimanyu. Mencari pegangan agar ia tidak terjatuh.


Tiga puluh menit berlalu. Abimanyu dan Caca telah sampai di tempat parkir fakultas mereka. Ketika Abimanyu masih menunggu istrinya mengikat rambut, Crystal datang menghampiri dan tanpa sungkan menyapa Abimanyu.


Caca sontak mendengkus dan pura-pura tidak peduli dengan basa-basi yang gadis itu lontarkan pada sang suami.


“Kak Abi Nanti bisa anter aku pulang lagi nggak?”


“Nggak bisa!” Jawaban bernada sarkasme itu bukan keluar dari Abimanyu. Melainkan dari istrinya.


Crystal memicing. “Gue nggak nanya lo ya!” balas Crystal tak kalah sarkastis. Ia pun kembali menatap Abimanyu yang masih bergeming di tempatnya.


“Kak Abi bisa kan ngan–”


“Dibilang Abi nggak bisa nganter, kok masih ngeyel sih!” sahut Caca sinis. “Abi mau keluar sama gue. Makanya hari ini kita berangkat bareng,” lanjut Caca.


“Iya kan, Bi?” Caca menatap Abimanyu dengan senyum manis terpatri di bibirnya.


Abimanyu hanya mengangguk. Sedikit aneh melihat tingkah Caca yang menurutnya agak ... berlebihan. Namun, Abimanyu menyukainya.


Apa Caca cemburu?, batin Abimanyu berharap.


“Mending lo cari taksi aja deh, Crys. Atau, lo bisa kan telepon sopir pribadi rumah, lo?” Caca menaikkan sebelah alisnya kala berucap demikian. Menaikkan sudut bibirnya, mengejek gadis di hadapannya.


Crystal mengepalkan tangannya. Ia ingin menampar Caca, jika saja Abimanyu tidak ada di sana.


“Gue ke kelas dulu, ya. Bye!”


Caca memutar tubuhnya menyeret Abimanyu, meninggalkan Crystal yang masih bergeming dengan kekesalan yang memuncak.