
“Kamu dari mana sih, Bi?”
Abimanyu yang baru saja duduk mendongakkan kepala. “Aku tadi nganter Crystal pulang dulu.”
“Nganter Crystal pulang?” tanya Caca mengulangi kalimat Abimanyu dengan tanda tanya besar di kepalanya.
Abimanyu mengangguk. “Tadi Crystal nggak bawa mobil. Papanya juga nggak bisa jemput, jadi dia minta aku nganter dia pulang,” jelas Abimanyu tanpa ada yang ia tutupi.
Caca berdecak. Modus, gumamnya seraya memalingkan muka. Entah kenapa ia jadi kesal sendiri membayangkan Crystal mengemis pada Abimanyu untuk diantar pulang. Benar-benar tidak tahu malu!
“Terus, kenapa kamu nggak ngasih aku kabar? Aku dari tadi nunggu kamu, Bi!” sentak Caca. Ia mengemasi barang-barangnya. “Bunda dari tadi juga hubungin aku. Tanya, jadi ke sana enggak? Bunda mau titip sesuatu kalau kita ke sana. Kamu juga nggak bisa dihubungi katanya.” Caca melipat tangannya di depan dada. Menyandarkan bokongnya pada meja kerja.
“Iya maaf, ponsel aku lowbat tadi,” ujar Abimanyu santai.
Caca memutar bola matanya malas. “Terus kamu tadi juga mampir dulu di rumah si batu kaca itu?” tanya Caca. “Sampai jam segini baru sampai!” gumam Caca lirih.
“Batu kaca?” Kening Abimanyu mengernyit tak mengerti.
Lagi-lagi Caca memutar bola matanya. “Yang baru kamu anter pulang, Bi!” Sumpah demi apa pun. Caca benar-benar kesal dengan Abimanyu saat ini. Mungkin efek lapar dan karena sejak tadi didesak ibu mertuanya untuk segera berangkat. Sehingga kekesalan Caca semakin naik ke ubun-ubunnya.
“Oh,” gumam Abimanyu, kemudian tertawa.
“Aku enggak mam–”
“Halah, ngaku aja. Jam segini baru sampe di sini mau alesan nggak mampir.” Caca menggelengkan kepalanya. Matanya menyorot kesal pada suaminya, kemudian membuang muka.
Abimanyu tersenyum menatap Caca yang tidak mau lagi menatap dirinya. “Kamu cemburu, ya?”
Caca memicing tajam mendengar pertanyaan itu. “Enggak lah!” jawabnya tegas.
“Ngapain juga cemburu sama cewek nggak jelas itu,” gumamnya. Ia pun mengambil tas ranselnya kemudian mengajak Abimanyu untuk segera berangkat, karena hari sudah sangat sore.
Abimanyu hanya tersenyum mengikuti langkah istrinya.
**
Caca meletakkan helmnya di atas spion motor Abimanyu. Mereka baru saja sampai di rumah Kharris. Ada satu mobil selain mobil ayah mertuanya. Caca bisa menebak bahwa itu mobil milik kakak pertama suaminya. Geriyo.
“Ada Bang Riyo juga,” ujar Abimanyu seolah mengiyakan apa yang Caca pikirkan.
Mereka pun masuk ke dalam rumah. Benar saja rumah sederhana dua lantai itu terdengar sangat ramai. Tawa dua anak kecil menggema hingga Caca dan Abimanyu yang masih berada di teras mendengarnya.
“Keponakan kamu yang satunya namanya siapa?” tanya Caca menoleh sekilas pada Abimanyu.
“Namanya Alfa,” jawab Abimanyu dan Caca pun mengangguk.
Caca dan Abimanyu disambut dua keponakan perempuan mereka. Abimanyu menggendong Alfa dan Caca menggandeng tangan Naya.
“Kamu dari mana aja sih, Bi? Caca dari tadi nungguin kamu, loh.” Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibir Nabila, saat Abimanyu dan Caca baru saja duduk di ruang tengah rumah itu.
Wanita itu menghubungi Caca beberapa kali dan bisa menyimpulkan bahwa menantunya juga tengah menunggu kedatangan sang putra.
Abimanyu meringis. “Aku tadi nganter Crystal pulang dulu, Bun. Waktu perjalanan balik ke kafe ada kecelakaan besar, jadi macet hampir dua jam,” tuturnya memberitahu.
“Crystal nggak dijemput Om Dipta?” tanya Nabila.
Abimanyu menggeleng. “Om Dipta sama Tante Sinta ke luar negeri katanya.”
“Oh. Bunda kira kamu tadi main sendiri, Bi. Nggak tahu kalau kamu nganter Crystal pulang dulu,” ucap Nabila. “Lain kali ngomong kalau mau keluar dulu, jangan nggak ngabarin kayak tadi. Bikin khawatir semua orang.”
Abimanyu mengangguk.
Saat ini ada beberapa pertanyaan di kepala Caca setelah mendengar percakapan singkat antara Abimanyu dan ibunya.
Sedekat apa hubungan Abimanyu dan Crystal?