Tak Akan Terganti

Tak Akan Terganti
Bab 49 : Dibela


“Ah, sialan baju gue basah!” umpat perempuan itu saat jus alpukat yang Caca bawa tumpah ke bajunya.


“Maaf, Kak, maaf,” ucap Caca merasa bersalah. Ia meletakkan gelasnya di meja yang ada di dekatnya. Kemudian mendekati perempuan itu, berniat membantu membersihkan bajunya.


“Sialan, lo bikin baju gue basah tahu nggak!” maki gadis itu sembari mengangkat kepalanya.


“Lo sengaja nyiram gue pake itu?” tuduh perempuan itu asal saat tahu yang ada di depannya adalah Caca.


“Sorry, Crys. Gue nggak sengaja beneran.” Caca mengangkat jari telunjuk dan juga tengahnya ke atas kepala, untuk meyakinkan Crystal.


Caca juga merasa bersalah di sini, karena tak fokus dengan jalannya. Meskipun Crystal sendiri juga salah. Namun, Caca tak ingin membesarkan masalah kecil itu. Ia ingin mengalah saja malam ini.


“Halah, ngaku aja deh kalau lo itu sengaja. Pasti lo dendam kan sama gue, sampai-sampai lo sengaja nabrak gue biar jus lo itu tumpah ke baju gue.”


Suara Crystal yang cukup keras mampu menarik atensi para pengunjung kafe.


Kening Caca berkerut halus. Kedua alisnya bertaut bingung. “Lo ngomong apa sih, Crys? Gue nggak sengaja. Sumpah!” tutur Caca berusaha meyakinkan lagi. Gadis itu mencoba untuk tenang di atas gejolak emosi yang kian meluap di dalam dadanya, karena tuduhan tak jelas Crystal.


“Udah deh, Ca. Lo tu ngaku aja!”


“Apa yang harus gue akuin kalau gue emang nggak sengaja?” Napas Caca mulai tak beraturan. Suaranya pun kini terdengar lebih tinggi dari sebelumnya.


Sungguh berurusan dengan Crystal adalah hal yang paling menjengkelkan di dunia ini. Ingin rasanya Caca balik mengumpati Crystal. Namun, Caca masih tahu aturan. Ia tidak mungkin melakukan itu di depan para pelanggannya.


“Oke, gue minta maaf karena gue udah nggak sengaja tabrak, lo.” Caca memutuskan untuk mengalah saja supaya drama kecil ini lekas berhenti.


“Gampang banget lo minta maaf,” sarkas Crystal. “Baju gue basah gara-gara, lo. Lihat!” Crystal menarik ujung bajunya. Terlihat jelas bagian tengah baju itu basah kuyup.


“Terus gue harus gimana, Crystal?” tanya Caca yang kini sudah mulai muak. “Gue ada baju di sini. Lo mau ganti aja?” tawar Caca malas.


“Nggak perlu!” ketus Crystal.


“Terus, lo maunya apa?” Caca semakin emosi dengan tingkah Crystal.  


“Gue maunya lo juga basah kayak gue.” Seringai kecil timbul pada bibir Crystal.


“Maksud, lo–” 


Byur


Netra Caca terpejam seketika, tatkala Crystal menyiramnya dengan segelas air yang entah berisi apa, yang Crystal ambil dari meja sebelahnya.


“CRYSTAL!”


Suara lantang itu bukan dari Caca. Melainkan dari seseorang yang kini berdiri tepat di belakang Caca.


“Kak Abi”


“Lo gila, ya?” sentak Abimanyu. Pemuda itu berjalan mendekati Caca yang kini masih belum membuka mata.


Abimanyu membersihkan seluruh muka Caca dengan tisu yang baru saja diberikan oleh salah seorang karyawan di sana.


“Dan lo bales dengan cara yang sama?” Tampak sekali raut tak suka Abi akan kalimat yang Crystal ucapkan.


Crystal diam saja. Ini adalah kali pertama ia melihat Abimanyu seperti itu. Biasanya pemuda itu selalu tersenyum padanya. Namun, kali ini Abimanyu terlihat sangat marah.


“Gue nggak nyangka lo bakal kayak gitu, Crys.” Abimanyu menggeleng kecewa. “Kalau suatu saat gue lihat lo kayak gini lagi. Gue nggak segan-segan ngaduin perbuatan lo ini ke Om Dipta dan Tante Sinta,” ancam Abimanyu sebelum kemudian ia merangkul bahu Caca dan menyeretnya turun ke ruangan gadis itu.


Di tempatnya berdiri, Crystal mengepalkan tangannya. Ia benar-benar kesal dengan Caca yang kini dibela oleh Abimanyu. Crystal seperti dilupakan begitu saja oleh Abimanyu yang dulu sangat perhatian padanya. Dan semua itu gara-gara Caca.


“Caca sialan!” umpatnya kemudian berjalan keluar dari tempat itu.


**


“Kamu nggak papa?” tanya Abimanyu pada sang istri saat mereka sudah berada di ruangan itu.


Tadi, saat Caca ribut dengan Crystal, salah seorang karyawan kafe itu mengabari Abimanyu dan meminta pemuda itu untuk melerai mereka.


Awalnya Abimanyu tidak tahu siapa yang berdebat dengan istrinya. Ia pun dibuat tercengang saat orang itu ternyata Crystal. Abimanyu tidak menyangka saja, seseorang yang selalu berperilaku lemah kembut seperti Crystal bisa sebrutal itu pada orang lain. Suami Caca itu semakin dibuat terkejut sekaligus emosi saat Crystal menyiramkan sebuah minuman tepat di wajah istrinya.


Caca menghela napas pelan. Ia mengambil sebuah handuk kecil dari dalam lemarinya. Tangannya bergerak membersihkan seluruh wajahnya yang terasa sangat lengket.


“Ngga papa, Bi,” jawab Caca datar.


Setelah tiga kata itu meluncur dari bibir Caca, mereka terdiam beberapa saat. Abimanyu tidak tahu harus berbuat apa, karena Caca kini seperti sedang sangat kelelahan.


“Mau pulang sekarang aja?” tanya Abimanyu lembut.


Helaan napas Caca kembali terdengar. Gadis itu meletakkan handuknya di atas meja seraya mengangguk. “Udah males aku di sini.” Caca beranjak berdiri. Mengambil tas ranselnya dan juga kunci motor.


“Kamu yang nyetir, ya? Aku capek.”


Abimanyu menerima kunci motor Caca dengan senang hati.


Mereka pun kini sudah berada di jalan raya. Abimanyu dapat merasakan tangan Caca yang memegangi ujung jaketnya. Ia hendak menarik lengan Caca untuk memeluk pinggangnya, tetapi tanpa diduga, Caca melakukannya sendiri.


 


Gadis itu melingkarkan kedua lengannya di pinggang Abimanyu dengan erat. Kemudian disusul kepalanya yang sudah bertumpu pada bahunya yang kekar.


Abimanyu tersenyum. Ia tahu, mungkin Caca membutuhkan sedikit sandaran setelah apa yang Crystal lakukan padanya.


***


Ternyata semalem nggak sempet ngetik, gaes. Aku ada acara di kampus sampai sore. Abis itu lanjut ngerjain tugas🤧


Maaf, ya😄


Jangan lupa like dan komen ❤