Tak Akan Terganti

Tak Akan Terganti
Bab 67 : Masa lalu


“Kakak, kenapa Kakak diam saja? Tersenyumlah seperti aku. Begini!” seorang gadis kecil menarik kedua sudut bibirnya menggunakan jari telunjuk. Memperlihatkan deretan giginya yang putih.


Tidak ada respons apa pun dari bocah laki-laki yang sejak tadi ia ajak bicara. Gadis kecil itu pun kesal, kemudian memberanikan diri menaiki kursi dan duduk di samping bocah laki-laki yang tidak ia tahu namanya.


“Hei, Kakak pendiam. Tersenyumlah! Kamu pasti terlihat semakin tampan jika kamu tersenyum.” Gadis itu mengulurkan tangannya hendak menyentuh wajah bocah laki-laki itu. Namun, tangannya ditepis sedikit kasar oleh bocah itu.


“Kakak ini kasar sekali sih!” gerutu gadis itu, kesal.


“Mama, aku tidak mau dengan kakak itu. Dia jahat, tidak mau tersenyum, dia juga memukul tanganku tadi,” adu gadis itu dengan bibir mengerucut. Tangannya bersedekap di depan dada, menunjukkan rasa kesalnya pada sang ibu dan seorang wanita yang belum pernah ia lihat sebelumnya.


Kedua wanita dewasa itu tertawa kecil. Ibu dari gadis itu membelai kepala putrinya dengan lembut. Melepaskan lipatan tangannya untuk kemudian ia genggam.


“Kak Caca, nggak boleh kayak gitu. Kakaknya nggak jahat. Kakaknya kan masih sakit, jadi sedang malas. Mungkin karena kakaknya belum kenal dengan Kak Caca, jadi kakak itu belum mau berbicara dengan Kak Caca.” Wanita itu tersenyum lembut pada putrinya, mengusap lengan gadis itu lantas melanjutkan kalimatnya. “Coba Kak Caca ajak kenalan, mungkin nanti kakak itu mau berbicara dengan Kak Caca.”


Gadis kecil itu menghela napas pelan. Ia menganggukkan kepalanya, kemudian menghampiri bocah itu lagi dan mengajaknya berkenalan.


“Putri Anda sangat lucu, Dok,” ucap wanita satunya.


Wanita yang berprofesi sebagai dokter itu terkekeh menatap putrinya yang kini kembali berusaha mendekati salah satu pasiennya. “Dia seperti ayahnya, Bu Nabila. Suka bersama orang baru dan sangat ceria.” Ia tersenyum melihat putrinya yang masih sangat gigih mendekati pasien kecilnya. “Semoga dengan adanya Caca, Abimanyu bisa segera pulih.”


Caca mengerjapkan matanya manakala ia merasakan tangan besar sang suami menggenggam telapak tangannya. Kepalanya menoleh pelan, menatap tak percaya pada Abimanyu. Ia memandang lekat wajah sang suami yang mengingatkannya dengan seseorang dari masa lalu.


Setelah mendengar Abimanyu memperkenalkannya pada sang nenek, Caca belum tahu jelas maksud dari ucapan pemuda itu. Hanya saja ia jadi teringat dengan seorang anak kecil pasien ibunya. Seorang anak laki-laki yang ia panggil kakak tampan karena dia tidak pernah mau menyebutkan namanya setiap kali Caca bertanya.


“Apa kamu lupa dengan aku? Seperti aku yang juga lupa sama kamu?”


Netra Caca mengerjap. Mendengar pertanyaan itu dari bibir sang suami, Caca semakin yakin bahwa Abimanyu adalah kakak tampannya di masa lalu.


“Jadi, kamu–”


“Iya,” sahut Abimanyu sebelum Caca menyelesaikan kalimatnya. “Aku kakak tampanmu, yang dulu selalu kamu ajak main di rumah sakit.” Senyum Abimanyu terlukis tipis. Ia masih menggenggam tangan Caca meskipun pandangannya lurus ke jalan raya.


“Cewek ketus yang suka membantah perintah senior,” tukas Caca diiringi tawa.


Abimanyu ikut tertawa saat apa yang ingin ia ucapkan sudah tertebak oleh sang istri.


“Bener kan?” tanya Caca memastikan. Tidak ada raut kesal yang terpancar membuat Abimanyu berani menganggukkan kepalanya.


“Aku nggak nyangka kita bisa dipertemukan kembali.” Abimanyu menatap Caca sekilas. Lalu, membelokkan mobilnya ke kafe milik sang ayah mertua.


Mereka berdua keluar dari mobil bersama, memasuki ruangan Caca bersama-sama pula. Setelah menutup dan mengunci pintu, Abimanyu menghampiri kemudian memeluk Caca yang masih berdiri di samping kursi kerjanya sembari memainkan gawai.


“Aku rindu Caca cantik,” bisik Abimanyu tepat di samping telinga Caca.


Caca menelan salivanya dengan susah payah. Ia ingat semua itu, saat ia dengan percaya diri memperkenalkan namanya dengan Caca cantik.


Seperti Abimanyu yang merindukan dirinya, Caca pun juga merindukan kakak tampannya yang kini sudah menjadi suaminya.


“Apa kamu juga rindu sama aku?” tanya Abimanyu lirih.


Caca diam, belum tahu harus merespons seperti apa. Jelas ia juga sangat merindukan sosok bocah laki-laki kecil yang dulu selalu ia kunjungi di rumah sakit sebelum ia dan seluruh keluarganya pindah ke Singapura.


Masih dengan mendekap tubuh Caca. Abimanyu menatap pada dinding yang terpajang foto masa kecil sang istri. Ia baru tahu Caca adalah gadis yang sejak dulu ia rindukan selama ini, saat ia diharuskan menikahi Caca beberapa bulan yang lalu. Ia baru tahu Jingga adalah ibu dari gadis yang selama ini bagaikan musuh di kampusnya. Hanya saja, sepertinya Caca sudah lupa dengan dirinya. Ia pikir, Caca tidak mungkin mengingatnya, karena saat itu mereka masih sangat kecil. Ia berusia delapan tahun, sedangkan Caca masih berusia enam tahun. Memori gadis itu mungkin sudah hilang saat mereka kembali bertemu.


Caca membalikkan tubuhnya menghadap Abimanyu. Ia melepaskan dekapan Abimanyu dari pinggangnya.


“Kamu pikir aku juga kangen sama kamu?” tanya Caca sarkastis.


Terdiam, senyum Abimanyu sedikit surut mendengar nada sedikit sinis itu dari istrinya. Ia hendak menjawab, tetapi sebuah pukulan pada dadanya membuat Abimanyu mengatupkan kembali bibirnya.


“Kangen lah, masa enggak kangen sama kakak tampan aku!”