
“Dean ke mana sih? Perasaan udah lama gue nggak lihat dia di kampus.”
Pertanyaan itu jelas membuat Caca terkejut. Gadis itu tak pernah menyiapkan diri akan pertanyaan semacam itu. Caca bahkan lupa bahwa Dean satu kampus dengannya meskipun berbeda jurusan.
“Kalian masih pacaran kan?” tanya Jayden lagi mencoba memastikan.
“Ah, Dean ... bentar-bentar ada telepon. Gue angkat dulu, dari bokap.” Caca menyingkir dari hadapan Jayden. Ia menyambungkan teleponnya dengan sang ayah yang memang tengah menghubunginya.
Setelah mematikan sambungan telepon, Caca melihat ada satu pesan dari Abimanyu.
Abi: Aku tunggu di mobil. Tadi aku ketemu sama Jayden. Aku takut dia melihat kita berdua
Caca kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ia kembali mendekati Jayden. Alih-alih menjawab pertanyaan pemuda itu, Caca memilih untuk berpamitan. Ia beralasan sudah mendapat buku yang ia cari dan ayahnya meminta dia segera pulang.
Dengan berat hati Jayden mengiyakan Caca. Sebenarnya pemuda itu ingin lebih lama berbincang-bincang dengan gadis itu. Gadis yang sejujurnya membuat hatinya tertarik sejak pertama bertemu.
**
Sejak kembali dari toko buku Abimanyu melihat ada sedikit perubahan dengan istrinya. Gadis itu tampak diam saja sejak perjalanan pulang hingga sekarang.
Abimanyu berinisiatif membuat coklat hangat untuknya dan Caca, mengingat betapa dinginnya malam ini.
Caca mendongak saat tiba-tiba seseorang meletakkan satu cangkir coklat hangat kesukaannya. Seseorang yang tak lain adalah suaminya itu duduk di samping Caca.
“Ada masalah?” tanya Abimanyu tanpa menatap istrinya. Pandangannya lurus ke depan menatap langit tanpa bintang.
Balkon kamar memang tempat favorit keduanya. Tempat itu sangat nyaman. Mereka bisa melihat langit tanpa penghalang. Di sana sangat cocok digunakan untuk menenangkan pikiran.
Memalingkan muka menatap suaminya. Caca meletakkan coklat hangat yang baru saja ia sesap ke atas pangkuannya. Gadis itu tersenyum getir sembari menggeleng.
“Anggap saja aku ini temanmu, jadi kamu bisa menceritakan segala kegundahanmu. Daripada kamu simpan sendiri kemudian menjadi beban, lebih kamu ceritakan. Aku janji tidak akan menyela atau membeberkannya kepada orang lain,” ucap Abimanyu. Pemuda itu mengulas senyum manisnya menatap sang istri. Kemudian kembali menghadap lurus ke depan.
Caca mengembuskan napasnya pelan. Ia tampak bimbang untuk menceritakan kegundahan yang memang melanda hatinya. Gadis itu memang merasa memerlukan seseorang untuk bercerita. Meski tidak memberikan saran, setidaknya Caca puas mengungkapkan isi hatinya pada orang lain. Namun, Caca merasa ragu jika itu kepada Abimanyu.
Setelah merasa yakin, Caca menghadapkan tubuhnya pada Abimanyu. Ia yang terlalu malu meminta Abimanyu tak menatapnya dan tetap menatap ke luar sana.
Abimanyu pun tak keberatan. Ia hanya perlu mendengarkan istrinya. Menjawab apa yang mungkin gadis itu tanyakan. Sudah cukup bukan sebagai pendengar yang budiman?
Namun, satu pertanyaan Caca membuat Abimanyu mau tak mau menolehkan kepalanya pada gadis itu.
“Apa keluargamu masih mencari keberadaan Dean?”
Napas Abimanyu terembus pelan. Ia kembali menatap depan sebelum menjawab, “Sebenarnya aku udah nggak peduli sama Dean. Tapi, aku nggak sengaja pernah dengar om dan tante bilang nggak pernah lagi mencari keberadaan sepupuku itu. Mereka terlalu kecewa dengan dia sampai-sampai sudah tidak ingin lagi mencari keberadaan Dean.”
Caca menatap suaminya dengan alis bertaut. Ia tidak menyangka orang tua Dean setega itu membiarkan anaknya hilang.
“Apa kamu masih mengharapkan Dean kembali?” tanya Abimanyu membuat Caca mengatupkan bibirnya.
“Apa itu yang membuat kamu sejak tadi hanya diam saja?” tanya Abimanyu lagi. Entah kenapa sudut hatinya terasa perih mendapati sang istri menanyakan perihal pria tak bertanggung jawab itu.
Lagi-lagi Caca hanya diam saja, karena apa yang Abimanyu tanyakan memang benar adanya.
Sejak pertemuannya dengan Jayden siang tadi ia teringat perihal Dean. Ia kembali menanyakan kabar Dean kepada orang-orang suruhannya, tetapi mereka kembali menjawab dengan jawaban yang sama.
“Kami masih belum menemukan Dean, Nona.”
Caca sedikit terlonjak saat Abimanyu tiba-tiba menepuk bahunya. Gadis itu menatap sang suami yang juga menatapnya.
“Aku tahu memang berat melupakan seseorang di masa lalu. Aku tidak memintamu belajar menyukaiku, tapi belajarlah untuk melupakan sepupuku itu. Masa depanmu masih panjang. Masih banyak orang lain yang mungkin menyukaimu dan akan lebih bertanggung jawab padamu.”
Setelah mengutarakan kalimat itu Abimanyu beranjak. Ia mengembalikan gelas berisi coklatnya hangatnya yang telah tandas tadi ke dapur sebelum kemudian ia merebahkan diri di sofa kamarnya. Dari sana, Abimanyu masih bisa memperhatikan Caca yang masih duduk termenung sendiri di tempatnya tadi.
***
Jangan lupa like dan komen❤