
Caca dan Abimanyu melangkah bersama menuju gedung fakultas mereka. Tidak ada percakapan di antara keduanya, tetapi juga tidak ada niat untuk saling menjauh.
Banyak pasang mata yang menatap ke arah mereka, menyadari ada banyak perubahan hubungan di antara dua manusia itu. Mereka para biang kepo dan juga gosip mulai menerka bahwa Caca dan Abimanyu yang dulunya musuh kini telah saling melempar bendera putih.
Mereka yang dari fakultas dan jurusan yang sama sering melihat sepasang suami-istri yang masih menyembunyikan status mereka itu sering berangkat bersama. Tidak ada lagi sorot mata benci atau saling meremehkan di antara keduanya. Namun, interaksi di antara Abimanyu dan Caca juga masih jarang terlihat.
“Nanti aku pulang jam tiga,” beritahu Abimanyu saat mereka menaiki anak tangga. “Kamu kalau mau ke rumah Kak Ais duluan nggak papa,” imbuhnya.
“Nanti aku tunggu di kafe aja. Ada beberapa hal yang harus aku cek.” Caca menoleh sekilas pada Abimanyu. “Aku malu kalau ke sana sendiri,” imbuhnya diiringi tawa kecil.
“Malu sama siapa?” Kedua alis Abimanyu hampir bersentuhan menatap istrinya.
Caca hanya menggeleng sambil mengulum senyumnya. “Ayah sama bunda bakal nginep di sana?” tanya Caca.
“Enggak, cuma tadi malem doang,” jawab Abimanyu.
Bibir Caca membulat. Ia kembali menatap lurus ke depan. Ada dua sahabatnya yang tengah menunggu. Caca pun melambaikan tangan.
“Aku duluan, ya,” pamit Caca. Langkahnya meninggalkan Abimanyu dengan cepat.
Abimanyu hanya menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya. Langkahnya yang sempat terhenti akhirnya kembali terayun, menaiki tangga menuju kelasnya.
**
Tujuh jam terlewat begitu saja. Abimanyu yang tadinya harus pulang pukul tiga ternyata bisa keluar satu jam lebih cepat, karena dosen kelasnya ada urusan mendadak dan mereka bisa pulang lebih awal.
“Gue duluan, Bi.”
Abimanyu mengangkat tangannya pada Aldo yang sudah melesat meninggalkan area tempat parkir. Pemuda itu mengambil helm dari spion. Memakaikannya di atas kepala, kemudian hendak menyalakan motornya.
Namun, seseorang berlari cepat menghampiri Abimanyu dan menghentikan gerakan pemuda itu seketika.
“Kak Abi!”
“Hai, Crys.” Abimanyu tersenyum menatap Crystal.
Setelah Crystal menembaknya dan sempat ia bentak untuk membela Caca beberapa waktu yang lalu, Abimanyu memang tidak menghindari gadis itu. Namun, ia juga jarang bertemu lagi dengan Crystal.
“Kak Abi mau pulang?” tanya Crystal. “Aku boleh nebeng nggak, Kak? Hari ini papa nggak bisa jemput, katanya aku disuruh nebeng Kak Abi kalau Kak Abi mau.”
Ia sungkan dengan orang tua Crystal jika tidak mengantarkan putri mereka pulang. Namun, jika ia harus mengantarkan Crystal terlebih dahulu, ia akan sangat terlambat menjemput caca.
“Gimana, ya, Crys?”
Bola mata Crystal sedikit meredup melihat kebimbangan Abimanyu. Sepertinya pemuda itu tidak bisa, tetapi Crystal juga tidak mau ditolak. Ia ingin pulang bersama Abimanyu hari ini.
“Kalau nggak bisa nggak papa kok, Kak. Nanti aku bilang papa kalau Kak Abi lagi sibuk. Aku naik taksi aja,” tutur Crystal dengan memaksakan senyumnya. Ia segera meraih ponsel dan hendak mencari taksi online, tetapi Abimanyu menghentikannya.
“Nggak perlu. Gue anterin aja.”
Seketika itu juga senyum Crystal melebar. “Beneran, Kak?” tanya Crystal meyakinkan.
Abimanyu mengangguk, meminta Crystal untuk segera naik agar mereka bisa segera pulang.
Sekarang masih jam dua siang. Masih ada banyak waktu sampai nanti menjemput Caca, pikir Abimanyu sebelum melajukan motornya.
Crystal tersenyum puas selama perjalanan. Hari ini ia memang sengaja tidak membawa mobil sendiri dan berniat pulang bersama Abimanyu. Ia ingin membuktikan bahwa Abimanyu masih perhatian padanya meskipun ia pernah membuat Abimanyu marah.
Crystal ingin mencuri kembali setiap perhatian Abimanyu kepadanya. Ia ingin menjadi satu-satunya perempuan yang Abimanyu sayangi. Dengan memanfaatkan kedekatan keluarga mereka, Crystal ingin menjadikan Abimanyu miliknya.
**
Caca mematikan laptop. Menutup benda persegi itu sebelum meregangkan tubuhnya. Netranya melirik jam dinding, ia terkejut saat ternyata sudah jam empat sore.
Buru-buru Caca keluar dari ruangannya, mencoba mencari keberadaan sang suami. Seharusnya pemuda itu sudah menjemputnya sejak tadi, karena kelasnya berakhir pukul tiga sore dan ini sudah pukul empat.
Hari ini mereka akan mengunjungi rumah Kharris. Suami wanita itu sudah dibawa pulang sejak kemarin. Mereka ingin berkunjung bersama sore ini setelah kuliah mereka selesai. Namun, ternyata sampai sekarang Abimanyu belum juga berada di kafenya.
Caca melihat ponsel barangkali Abimanyu mengiriminya pesan, tetapi lagi-lagi Caca dibuat bingung karena tidak ada satu pesan pun dari Abimanyu. Caca mencoba berpikir positif. Mungkin saja kelasnya belum selesai, atau mungkin Abimanyu masih berkumpul dengan teman-temannya.
Satu jam berjalan sangat cepat. Caca melihat Abimanyu memarkirkan motornya. Ia bisa dengan jelas melihat Abimanyu masuk bukan dari arah kampus mereka. Tak lama kemudian pintu ruangannya terbuka. Menampakkan Abimanyu yang sedang tersenyum dengan wajah lelah.
“Kamu dari mana sih, Bi?”
Abimanyu yang baru saja duduk mendongakkan kepala. “Aku tadi nganter Crystal pulang dulu.”
“Nganter Crystal pulang?” tanya Caca mengulangi kalimat Abimanyu dengan tanda tanya besar di kepalanya.