Tak Akan Terganti

Tak Akan Terganti
Bab 96 : Maaf


“Sayang, nanti kamu jadi ngunjungin restoran-restoran ayah?”


“Apa?” Caca mendekatkan kepalanya di samping kepala Abimanyu. Deru motor yang saling bersahutan membuat suara Abimanyu tidak terdengar jelas.


“Nanti kamu jadi kunjungin restoran-restoran ayah?” tanya Abimanyu lagi dengan sedikit berteriak. Berusaha memperjelas suaranya agar sang istri mendengar.


“Ohh, jadi. Nanti kamu nggak perlu jemput aku. Sopir ayah yang bakal anter aku keliling,” jawab Caca.


Semalam Banyu menelepon Caca dan meminta anak gadisnya itu untuk mengecek beberapa restoran miliknya. Saat Caca bertukar suara dengan sang ayah, Abimanyu berada di samping gadis itu. Meskipun Abimanyu sudah tahu secara langsung dari sang ayah mertua, ternyata Caca tetap meminta izin setelah sambungan telepon terputus. Sekarang, Abimanyu ingin memastikan kembali.


Abimanyu menghentikan motornya di tempat parkir fakultas mereka. Setelah meletakkan helmnya dan helm Caca, Abimanyu menggandeng tangan sang istri. Mereka berjalan bersisian menuju kelas masing-masing.


“Nanti, sopir ayah anter aku pulang sekalian, jadi kamu nggak perlu jemput aku di kafe. Dari kantor kamu langsung pulang ke rumah aja,” ucap Caca memberitahu.


“Yah, kesepian dong aku nanti pulangnya,” ujar Abimanyu dengan nada lemas. Seolah semua itu menghilangkan tenaganya.


“Ya ampun, lebai banget kamu,” olok Caca sambil terkekeh.


Mereka berdua masih terus mengobrol selama menuju kelas. Tangan mereka juga masih saling bertaut seakan tak bisa lepas.


Seluruh mahasiswa kampus tersebut sudah tahu bagaimana hubungan Abimanyu dan Caca. Bahkan, sebagian besar dari mereka sudah tahu bahwa mereka pasangan suami istri. Beberapa hari yang lalu, Abimanyu mengunggah foto pernikahan mereka berdua dan membuat heboh seluruh alam kampus itu.


Beberapa pasang mata tampak terkagum-kagum dengan pasangan itu. Namun, tak bisa dipungkiri pula ada banyak yang mencibir Caca. Semua tentu sudah tahu bagaimana sifat Abimanyu dan Caca yang sangat bertolak belakang. Apalagi dulu mereka tahunya Caca merajut asmara dengan Dean. Semakin komplit saja bahan gosip untuk para netizen yang budiman.


Tatapan Abimanyu yang semula semringah karena obrolannya dengan Caca tiba-tiba meredup tatkala beradu pandang dengan sepupunya. Meskipun Caca saat ini sudah menjadi miliknya, tetapi sosok seperti Dean masih harus diwaspadai.


Abimanyu dan Caca melewati Dean dengan sangat santai, meski mereka tahu Dean sedang mengawasi langkah kaki mereka. Abimanyu dan Caca sama-sama sepakat untuk tidak memedulikan Dean apabila mereka bertemu.


Caca melambaikan tangannya pada Abimanyu saat ia masuk ke dalam kelas. Abimanyu pun tak lupa membalas lambaian tangan sang istri.


Dari kejauhan Dean melihat interaksi pasangan itu. Salah satu sisi dalam dirinya berteriak kesal dengan pemandangan menjijikkan itu. Dadanya semakin dibuat mendidih saat Abimanyu menatapnya sekilas dengan seringai di bibirnya.


**


Setelah menghabiskan makan siangnya Caca berpamitan kepada kedua sahabatnya yang masih ingin berada di kampus. Ini adalah hari ke tiga Caca mengecek restoran sang ayah. Pekerjaan satu ini ternyata memakan banyak waktu, karena ia harus benar-benar teliti dalam setiap pencatatan.


Caca berjalan sambil memainkan ponselnya. Ia membalas pesan Abimanyu dan juga Sopir Banyu yang sudah menunggunya di depan gerbang kampusnya. Caca berjalan sambil menunduk, hingga tiba-tiba Caca menabrak seseorang sampai ponselnya hampir jatuh.


“Eh, Sorry. Gue nggak sengaja,” ucap Caca sambil menahan ponselnya.


Gadis itu mendongak. Ia yang awalnya ingin kembali meminta maaf ter urungkan saat ternyata Dean yang baru saja ia tabrak. Tatapan Caca berubah malas. Ia mendengkus sebelum mengucap kata maaf lagi dengan nada lemah.


“Sorry, gue nggak sengaja.”


Tak ingin lagi berhadapan dengan Dean. Caca pun melangkahkan kembali kakinya melewati Dean. Namun, tiba-tiba saja pergelangan tangannya dicekal oleh Dean, hingga ia pun mau tak mau harus berhenti.


Caca melepaskan tangannya dengan mudah. Ia menatap Dean sekilas sebelum membuang muka.


“Apaan sih, lo? Nggak sopan!” ketus Caca. Ia menatap kesal pada mantan kekasihnya.


Tak kunjung mendapat jawaban dari Dean, Caca pun kembali mengambil langkahnya untuk menjauhi pemuda itu. Namun, lagi-lagi kakinya berhenti saat Dean mengeluarkan suaranya.


“Gue minta maaf,” ucap pemuda itu. Suaranya lirih, tetapi masih bisa didengar oleh Caca yang berada tiga meter di depannya.


Caca tertawa sumbang. Ia membalikkan tubuhnya kembali menghadap Dean. Napas Caca berembus tenang.


“Gue nggak salah denger?” tanyanya dengan senyum mencibir. “Lo pikir mudah minta maaf ke gue?” Sorot mata Caca berubah tajam.


“Lo simpen kata maaf lo itu, karena sampai kapan pun gue nggak akan pernah bisa maafin semua yang lo lakuin ke gue.”


Caca segera mengambil langkah seribu. Ia tidak ingin lagi berinteraksi dengan Dean. Dean tidak lagi memiliki tempat di hatinya. Seluruh sayatan luka di dalam hatinya menutup kebaikan yang Caca miliki.


Dean bergeming di tempatnya. Pandangannya masih lurus ke depan menatap punggung Caca yang lambat laun menghilang. Dean tahu semua ini pasti akan terjadi, tetapi Dean tetap menerjangnya.


Setelah pertengkarannya dengan Crystal beberapa hari yang lalu, Dean tidak lagi berhubungan dengan gadis itu. Seluruh akun sosial media Dean telah diblokir oleh Crystal berikut dengan nomor teleponnya pula.


Sejak saat itu juga Dean mulai berpikir bahwa selama ini ia memang dibutakan dengan perasaannya terhadap Crystal. Sikap baik yang selalu Crystal perlihatkan ternyata hanya sandiwara. Hingga akhirnya kenangannya bersama Caca kembali berputar di kepalanya.


Selama mengenal sosok Caca, Dean sering dibuat kagum dengan sikap tersembunyi gadis itu. Di balik ucapannya yang selalu sinis dan sangat menohok, Caca memiliki sisi positif yang sangat banyak. Caca merupakan sosok yang sangat perhatian dengan siapa saja, terutama dengan orang yang dia sayangi. Hanya saja, Caca sering tidak bisa mengontrol ucapannya saat berbicara dengan orang lain.


Ini adalah kali pertama Dean merasa sangat kehilangan seseorang. Dean cukup ... menyesalinya.


**


Caca menyandarkan kepalanya di jendela mobil. Beberapa menit yang lalu ia telah melaju bersama sopir sang ayah. Beberapa kali Caca memejamkan mata untuk menetralkan rasa berkecamuk di dalam dadanya.


Bertemu Dean dan mendengar kata maaf dari pemuda itu membuat Caca meradang. Seluruh jiwanya telah membenci Dean. Tidak akan ada satu celah pun untuk membuat Dean masuk ke dalam hidupnya lagi. Namun, satu sayatan luka kembali membekas dalam hatinya. Permintaan maaf Dean membuatnya semakin merasa sakit di ulu hatinya.


“Mbak Caca capek, ya?” tanya sopir itu. Pria berusia di atas lima puluh tahun itu melirik Caca dari kaca mobil.


Caca mengulas senyumnya seraya menganggukkan kepala.


“Mau istirahat aja, Mbak? Nanti saya kasih tahu Pak Banyu,” ujar pria itu memberi saran.


“Nggak usah, Pak. Saya nggak papa, kok. Lagi kepikiran tugas kuliah aja,” balas Caca berbohong.


Sang sopir kemudian mengangguk mengerti. Sedangkan Caca kembali merebahkan kepalanya di sandaran kursi.