
“Kenapa lo nyesel? Karena nggak bisa nikahin Caca?” tanya Abimanyu tanpa bisa menyembunyikan rasa tidak suka saat mendengar kata menyesal dari bibir pemuda itu.
Rasya menghela napas pelan. Menatap Abimanyu dan menjawab, “Iya”
Entah kenapa Abimanyu merasa semakin tidak suka dengan jawaban Rasya. Pemuda itu terlalu jujur padanya yang saat ini berstatus sebagai suami Caca. Namun, segala rasa tidak suka Abimanyu lenyap begitu saja saat tiba-tiba Rasya tertawa dan melanjutkan kalimatnya.
“Gue bukan nyesel karena itu, Bi. Tenang aja,” ucap Rasya menenangkan. Tangan pemuda itu menepuk-nepuk bahu Abimanyu. Ia tahu sempat ada kesalahpahaman pada diri Abimanyu beberapa detik yang lalu.
“Gue cuma nyesel, kenapa waktu itu gue nggak bisa bantu nyari Dean dan ngehajar dia habis-habisan.” Ada gurat emosi yang sedikit terpancar dari nada bicara Rasya saat membicarakan perkara kala itu.
“Caca udah gue anggep adik sendiri. Sampai kapan pun gue nggak akan pernah bisa suka sama dia sebagai seorang wanita, pun dengan Bia,” lanjut pemuda itu.
“Kami saling menyayangi sebagai saudara, nggak lebih.” Satu senyum simpul terukir pada bibir Rasya. Namun, sedetik kemudian gurat kesedihan kembali terlihat pada pemuda itu.
Tiba-tiba saja Abimanyu merasa lega mendengar jawaban Rasya. Ia bingung dengan perasaannya sendiri. Kenapa ia bisa merasa selega itu?. Kenapa tadi ia sempat merasa kesal saat melihat istrinya memeluk Rasya? dan semakin kesal saat beberapa menit yang lalu Rasya berkata menyesal tidak bisa menikahi istrinya kala itu.
“Gue tahu lo terpaksa nikah sama Caca.”
Fokus Abimanyu kembali pada Rasya, saat pemuda itu lanjut bersuara setelah keheningan sejenak menyapa mereka.
Abimanyu sedikit tersentak saat tiba-tiba Rasya menghadapnya dan kembali memegang bahunya. Kali ini Abimanyu dapat melihat sorot kasih sayang dari seorang kakak pada adiknya. Dan Abimanyu dibuat tak percaya saat tiba-tiba Rasya mengutarakan kalimatnya.
“Sebagai laki-laki tertua di antara kami, gue nitipin Caca ke lo. Gue harap sebagai laki-laki dewasa, lo bisa mengesampingkan ego dan terima dia bagaimanapun keadaannya. Gue harap lo bisa jaga dia sebaik mungkin. Jangan sakiti dia, Bi. Caca kelihatan kuat di luar, tapi tidak dalam dirinya yang lebih dalam. Gue yakin, lo orang terbaik yang Tuhan pilih untuk jaga Caca. Gue percaya sama lo.”
**
Langit sudah hampir gelap saat semua keluarga Caca dan Rasya berkumpul di ruang tengah. Mereka semua duduk lesehan membentuk lingkaran. Di tengah-tengah mereka ada dua kue ulang tahun untuk Ata dan di samping televisi ada beberapa kotak kado untuk remaja itu.
Setelah meniup lilin berangka tujuh belas. Ata memotong kue itu dan memberikan potongan pertamanya pada Jingga. Ia menyuapi sang ibu dengan penuh cinta. Lalu kembali menyendok potongan kue itu untuk ibu Rasya.
Apa mereka memang tidak diundang? Tapi, kenapa? Bukankah biasanya merayakan ulang tahun bersama keluarga besar?
Segala lamunan Abimanyu buyar saat Caca menepuk pahanya. Istrinya itu meminta Abimanyu mengambil beberapa kado untuk Ata, karena akan segera dibuka. Abimanyu pun segera mengambil kado-kado itu dengan dibantu oleh Rasya.
“Kado siapa nih paling gede?” tanya Ata girang. Bak seorang anak kecil. Ata tampak sangat antusias membuka satu persatu kado yang diberikan oleh keluarganya.
Kotak kado paling besar milik Caca dibuka paling akhir. Ata sangat bersemangat saat membuka kotak itu. Dalam kepalanya ia menerka isi kado tersebut tentu sangat besar juga. Mungkin saja sebuah ukulele yang sejak beberapa bulan yang lalu ia idam-idamkan. Atau mungkin juga satu set pakaian olahraga yang sedang ia incar beberapa minggu yang lalu. Namun, semua kemungkinan yang Ata pikirkan sirna saat kotak besar dengan panjang empat puluh lima senti dan tinggi empat puluh senti itu ternyata berisi snack.
Ata mengerjap tak percaya melihat itu. Ia menatap sang kakak dengan mata memicing. Gadis yang berusia dua tahun lebih tua darinya itu menahan senyum membuat Ata semakin kesal. Kenapa kakaknya memberi snack sebanyak itu. Untuk apa coba?
“Kak yang bener aja,” ucap Ata merengek.
“Gue nggak punya duit, Ta.”
Caca tertawa melihat adiknya mendengkus kesal. Gadis itu tak peduli dengan rengekan Ata setelahnya dan malah kembali melontarkan tawa.
Semua orang pun ikut tertawa melihat Ata yang merengek sebal. Dan gadis paling muda di keluarga itu malah mencari kesempatan. Ia mengeluarkan semua snack dalam kotak itu. Kala sudah hampir setengah dari tinggi kotak raib, Bia menemukan sebuah kotak cukup lebar di dalamnya. Ia pun mengeluarkan kotak itu dan membukanya. Netranya membulat sempurna menatap sesuatu yang ada di sana.
“Wow, MacBook terbaru!” seru Bia bersemangat.
***
Dah, ya jangan salah paham sama Bang Rasya😆. Untuk saat ini Abi nggak akan punya saingan, jadi tenang aja🤭
Jangan lupa like dan komen❤