
“Sini aku keringin rambut kamu.” Caca mengambil alih handuk kecil yang sedang Abimanyu gunakan untuk mengeringkan rambutnya.
Gadis itu menarik tangan Abimanyu, memintanya untuk duduk di tepi ranjang dan ia menumpukan lututnya di belakang sang suami. Caca mulai menggerakkan tangannya untuk mengeringkan rambut suaminya. Ia usap kepala Abimanyu dan sedikit memberi pijatan. Sesekali ia melirik ke arah cermin yang ada di hadapannya dan Abimanyu. Senyumnya terukir mendapati sang suami memandangnya tanpa henti.
“Aku tahu aku cantik. Nggak usah terus diliatin juga,” ucap Caca tanpa menatap Abimanyu. Ia bisa merasakan tubuh pemuda itu bergetar menahan tawa. Caca hanya tersenyum menanggapinya.
Hening melanda keduanya untuk beberapa saat. Setelah dirasa cukup, Abimanyu meminta Caca berhenti dengan menyentuh tangan gadis itu. Seketika itu juga, Caca menghentikan pergerakannya. Namun, Abimanyu tak jua melepas tangan sang istri dan justru membawanya mendekat ke bibir. Ia mencium sekilas tangan Caca sebelum meminta sang istri berdiri di depannya.
Abimanyu menatap bola mata Caca. Sesaat mereka saling mengunci pandangan. Sedetik kemudian Abimanyu merengkuh tubuh istrinya dan mendudukkan tubuh Caca di atas pangkuannya.
Mendapat pergerakan yang sangat tiba-tiba membuat Caca refleks melingkarkan lengannya pada leher Abimanyu. Netranya membulat kesal. Ia memukul dada Abimanyu untuk meluapkan rasa kesalnya.
“Ngagetin, Bi!”
Abimanyu tertawa. Ia mencium pipi gadis itu dengan gemas. Kemudian, menatap Caca penuh damba.
“Udah belum sih kamu datang bulannya?” tanya Abimanyu membuat Caca tertawa.
“Sabar dong, masih tiga hari. Kurang tujuh hari lagi.” Caca mengusap rambut Abimanyu yang kini kepalanya menempel pada bahunya. Abimanyu seperti anak kecil yang sedang merajuk.
“Nanti setelah aku dari kantor jalan-jalan, yuk. Bosen tahu di rumah terus,” ajak Abimanyu tanpa mengubah posisinya.
Tanpa menghentikan usapan tangannya pada kepala sang suami Caca tampak berpikir, mengingat jadwalnya di kafe hari ini. Sepertinya memang tidak ada yang penting hingga akhirnya ia mengiyakan ajakan Abimanyu.
“Jalan-jalan ke mana?” tanya Caca.
“Terserah kamu. Kamu maunya ke mana? Mal? Atau jalan-jalan di taman juga nggak masalah,” tawar Abimanyu. Senyumnya terukir manis menatap istrinya yang tengah memikirkan tujuan jalan-jalan mereka.
“Ke mal samping kantor ayah aja gimana?”
“Bolak-balik dong aku?”
“Yah, aku yang ke sana. Kamu nggak usah jemput ke kafe,” kata Caca.
“Jangan, dong!” seru Abimanyu. Ia memegangi pinggang Caca lebih erat. Takut gadis itu jatuh. “Masa kamu yang nyamperin aku!” imbuhnya.
“Nggak papa, Bi. Apa salahnya coba?”
Abimanyu berdecak. “Nggak ada yang salah, Sayang. Aku kasihan sama kamu.”
Bola mata Caca merotasi. “Apaan sih. Lebai deh. Kayak aku nggak pernah pergi sendiri aja.”
“Tapi, Ca–”
“Nggak ada tapi-tapi, Abi. Pokoknya kalau kamu mau kita nanti jalan-jalan, kamu harus nurut sama aku!” seru Caca seraya menaikkan kedua belah alisnya.
Abimanyu menghela napas pasrah. “Oke, asal kamu bisa jaga diri.”
**
Senja telah pergi saat Caca dan Abimanyu keluar dari salah satu foodcourt yang ada di dalam pusat perbelanjaan yang saat ini mereka kunjungi. Setelah merasa cukup kenyang dengan hidangan sederhana yang disajikan, mereka mengambil langkah menuju lantai paling atas. Mereka berdua ingin menonton sebuah film komedi yang baru saja tayang beberapa hari yang lalu.
Saat tiba di sana, Abimanyu meminta Caca menunggunya di kursi tunggu selama ia membeli tiket masuk. Setelah mendapatkan anggukan dari sang istri, Abimanyu pun meninggalkannya sendiri.
Abimanyu berdiri mengantre pada barisan paling belakang. Sesekali ia menoleh pada Caca yang berada di belakangnya. Setelah mendapatkan tiket, Abimanyu menghampiri istrinya. Ia mengajak Caca berjalan-jalan terlebih dahulu sebelum film diputar.
“Masih satu jam lagi diputer, kamu mau jalan-jalan dulu?”
“Boleh, aku tadi juga baru inget mau beli sepatu buat Bia,” jawab Caca. Ia melingkarkan tangannya pada lengan Abimanyu dan menyeretnya pergi dari sana.
“Kamu hafal nomor sepatu adik kamu?” tanya Abimanyu.
“Hafal, dong. Aku sering beliin Bia sama Ata sepatu. Aku juga hafal nomor baju mereka,” jawabnya seraya mengembangkan senyum.
Salah satu hal yang Abimanyu suka dari Caca adalah ini. Gadis itu sangat perhatian dengan adiknya. Caca selalu memanjakan adik-adiknya dengan caranya sendiri. Padahal setiap kali mereka berkunjung ke rumah Banyu dan Jingga, Caca selalu bertengkar kedua adiknya. Namun, diam-diam mereka saling menyayangi dengan cara mereka sendiri.
Caca menyeret Abimanyu menuju toko berisi sepatu masa kini. Ia melihat-lihat koleksi toko tersebut. Mencari sepatu yang sekiranya disukai oleh sang adik.
Setelah mendapatkan sepatu untuk adiknya, Abimanyu mengajak Caca untuk kembali ke bioskop, karena film akan segera diputar. Caca pun mengikuti saja langkah suaminya.
**
Hari ini kelas Caca berakhir lebih cepat. Gadis itu memanfaatkan waktunya untuk bekerja. Ia mengecek dapur, gudang, dan keuangan.
Selesai mencatat apa saja yang harus diperbarui atau yang masih bisa dimanfaatkan lagi, Caca masuk ke ruangannya. Ia menyelesaikan laporan-laporan yang beberapa hari ini ia tinggal.
Caca fokus dengan monitor di hadapannya. Sesekali ia membalas pesan dari Abimanyu yang menanyakan keberadaannya. Ia pun mengakhiri acara berbalas pesan dengan sang suami saat pemuda itu berkata akan pergi ke kantor dan akan menjemputnya nanti.
Tak lama setelah mematikan ponsel, telepon ruangannya berbunyi. Caca menggeram kesal. Ia mengumpat dalam hatinya untuk siapa saja yang telah mengganggu konsentrasinya, tetapi Caca tetap menjawab telepon tersebut.
“Kenapa?” tanya Caca pada seseorang di seberang telepon itu.
“Ca, ada yang cariin kamu,” jawab karyawan kafe itu.
“Siapa? Suruh ke ruangan aku aja!” titah Caca. Ia mematikan sambungan telepon itu, kemudian kembali menyelesaikan laporannya.
Beberapa menit kemudian pintu ruangan Caca diketuk. Ia pun menyuruh untuk masuk saja. Telinganya menangkap suara pintu terbuka. Namun, karena belum selesai dengan pekerjaannya Caca memilih untuk abai sejenak.
Hingga satu panggilan dari seseorang yang kini berada satu ruangan dengannya membuat Caca terbeku.
“Bu!”