
Mentari telah meninggi. Menghantarkan hawa panas kepada penduduk bumi. Caca baru saja memarkir motornya saat Sofi juga baru tiba.
“Udah masuk, lo?” tanya Sofi setelah menepuk bahu Caca.
“Lo lihatnya gimana?” jawab Caca sembari merapikan rambutnya di depan kaca spion motornya.
Sofi menyesal telah berbasa-basi dengan seseorang seperti Caca. Gadis itu selalu saja menjawab dengan jawaban yang ... benar. Tetapi bukan seperti itu juga maksud Sofi. Gadis itu pun mendengkus kesal. Namun, hal itu tak lantas membuatnya marah.
“Kak Abi udah dibawa pulang?” tanya Sofi lagi.
“Udah, kemarin siang sama dokter udah diizinin pulang. Ya, udah mendingan lah,” jawab Caca menyejajar langkah Sofi.
“Oh, iya. Thanks udah jengukin Abi,” ucap Caca tulus. Gadis itu melempar senyum pada sang sahabat.
Senyum Sofi ikut terukir, membalas senyum Caca yang terlihat cukup cerah hari ini.
“Berapa hari Kak Abi dirawat?”
“Berapa ya? Empat hari sih hitungannya. Awalnya kemarin butuh sehari doang, tapi ternyata Abi butuh istirahat yang lebih intens lagi. Jadi, dokter nyuruh Abi untuk tetep di sana sampai bener-bener pulih,” jelas Caca.
Kepala Sofi mengangguk mengerti. Setelah itu keduanya tak lagi membahas Abimanyu. Tempat yang mereka pijak saat ini cukup ramai untuk membicarakan suami Caca itu.
**
“Ca, lo bener-bener nggak ada perasaan apa-apa gitu ke ....” Maya melirik sekitar, memastikan tidak ada orang lain selain mereka bertiga di sana. “Kak Abi,” lanjutnya.
Netra Caca bergerak malas mendengar pertanyaan sekonyol itu. “Lo nggak ada topik lain gitu untuk ditanyain?” Caca berdecak sembari menggelengkan kepala.
Maya mengulum bibirnya. Sejujurnya ia sangat penasaran dengan Caca yang tak pernah mau membahas perilah perasaan gadis itu padanya ataupun Sofi. Ada banyak pertanyaan di kepala Maya dan Sofi mengenai kisah asmara yang Caca lalui. Tentang siapa yang saat ini ada dalam relung terdalam hati Caca. Apakah masih Dean atau sudah berganti dengan nama Abi?.
“Ya kepo aja sih. Masa lo nggak suka sama Kak Abi. Kalian kan setiap hari ketemu, sekarang juga sering berangkat bareng, dan bahkan kalian itu satu kamar.” Maya menatap Sofi sekilas seraya mengangguk bersama Sofi.
“Masa nggak ada benih-benih cinta yang tumbuh di hati lo untuk Kak Abi?” imbuhnya.
Sekali lagi Caca memutar netranya dengan malas. Kepalanya menggeleng kecil, tak tahu lagi harus menjawab seperti apa pada dua sahabatnya itu supaya mereka mengerti tidak ada satu pun perasaan yang mampir di hatinya untuk Abimanyu.
“Udah, ya, udah. Gue males bahas beginian sama kalian. Dan stop nanyain sesuatu yang nggak penting kayak gini ke gue,” ucap gadis itu malas.
“Lo masih ada rasa sama si bajingan Dean itu?”
“Tapi nyatanya Dean emang bajingan, Ca!” sahut Maya menimpali.
Netra Caca menyipit tak mengerti pada Maya dan Sofi. Seharusnya mereka tidak berkata seperti itu di depannya. Mereka pasti tahu bagaimana hubungannya dengan Dean dulu. Mereka juga tahu sebaik apa Dean padanya saat mereka pacaran dulu.
“Udah cukup ya, Sof, May.” Caca mengangkat kedua tangannya di depan dada lantas beranjak berdiri. Tangannya mengambil tas, kemudian melangkah keluar dari sana. Namun, sebelumnya Caca sempat berucap, “Gue nggak mau lagi kalian bahas hal kayak gini. Gue cabut dulu.”
“Sumpah, ya. Tu anak batu banget. Berapa kali sih kita harus ingetin dia, kalau Dean itu bukan cowok baik-baik.” Sofi menggebrak meja dengan perasaan kesal.
**
“Tumben jam segini udah pulang.”
Caca menatap malas pada suaminya. Ia sama sekali tak menghiraukan pertanyaan itu. Tangannya masih sibuk membuka sepatu dan kaus kakinya. Masih tak ingin menjawab, Caca pun bergegas ke kamar mandi dengan membawa selembar handuk kering.
Abimanyu menatap bingung pada sang istri yang tak menanggapi pertanyaannya. Dalam benaknya ia bertanya kesalahan apa yang ia lakukan. Padahal sejak tadi Abi tidak melakukan apa pun yang menyusahkan gadis itu.
Namun, Abi memilih diam dan berusaha mengerti. Barangkali saja Caca sedang kelelahan dan sedang tidak ingin diganggu.
Lima belas menit setelah Caca masuk ke dalam kamar mandi, Abimanyu mendapati pintu itu terbuka sedikit. Ia yang kini sedang duduk di sofa sembari membaca buku dapat melihat dengan jelas bahwa Caca tengah menyembulkan kepalanya saja.
“Bi, bisa keluar bentar nggak?” tanya gadis itu dengan raut gusar.
Abimanyu tahu, gadis itu pasti lupa membawa baju ganti ke dalam kamar mandi. Tiba-tiba saja ide sedikit licik memenuhi kepalanya.
Pemuda itu pura-pura tidak mendengar suara Caca. Ia tetap fokus pada bukunya bahkan saat Caca memanggilnya lagi. Abimanyu ingin membalas sikap Caca tadi, saat gadis itu tak menghiraukan pertanyaan darinya.
“Bi, keluar dulu dong bentar. Aku udah kedinginan ini,” rengek Caca bak seorang anak kecil.
Kepala Abimanyu mendongak. Satu jawaban pria itu membuat Caca kesal setengah mati.
“Nggak”
“Abi!” Caca kembali merengek dengan mengentakkan kakinya. Gadis itu pun tak punya pilihan selain keluar hanya dengan handuk yang membalut tubuhnya.
Malu. Satu kata itu yang kini tersangkut di kepalanya. Namun, ia tak bisa lagi berbuat apa-apa. Caca tak ingin mati kedinginan.
Awas lo! Batin Caca geram.