
“Kok bisa-bisanya dia tiba-tiba ada di rumah gue?”
“Gue nggak mau tahu, lo harus cari tahu kenapa Dean bisa-bisanya muncul–”
“Abi!”
Si pemilik nama langsung menurunkan ponselnya. Pemuda itu membalik tubuhnya menatap sang istri yang juga tengah menatapnya.
“Jadi bener yang diomongin Dean, kalau ternyata kamu dalang di balik semua ini?”
Kening Abimanyu terlipat. “Kamu ngomong apa sih, Ca? Dalang apa?” tanya Abimanyu bingung. Ia lantas berjalan mendekati Caca, tetapi gadis itu justru memundurkan langkahnya. Langkah Abimanyu pun seketika berhenti.
“Kamu nggak usah pura-pura nggak tahu maksud aku, Abi!” seru Caca. Tatapannya sangat tajam menyorot Abimanyu. “Kamu kan yang rencanain penculikan Dean? Kamu nggak suka kan kalau aku sama dia nikah?” cecar Caca semakin membuat Abimanyu tak mengerti.
“Rencanain penculikan Dean? Untuk apa?” Abimanyu meraup wajahnya frustrasi. “Sumpah, Ca. Aku nggak tahu maksud yang kamu omongin itu!”
“Di dunia ini nggak ada maling yang mau ngaku! Jelas-jelas tadi aku denger kamu telepon sama seseorang dan tanya gimana bisa Dean ada di sini? Aku tahu maksudnya, Bi!” sentak Caca penuh emosi. “Kamu pasti sekarang bingung gimana Dean bisa lolos dari tempat penyekapan itu kan?”
Abimanyu semakin dibuat bingung dengan tuduhan Caca.
Caca kecewa, sangat kecewa dengan apa yang tadi ia dengar. Susah payah Caca memercayai Abimanyu, tetapi nyatanya pemuda itu sendiri yang menghancurkan kepercayaannya. Gadis itu tertawa miris saat setetes air mata mengalir di pipinya.
“Aku kecewa sama kamu, Bi!”
“Ca, kamu salah paham” Abimanyu berjalan mengikuti langkah Caca yang sedang mengambil kunci motor dan jaket.
“Telinga aku masih berfungsi dengan baik, Abi! Dan aku paham dengan maksud kamu!” Caca menyambar jaketnya yang tergantung di dalam lemari.
Abimanyu masih mengikuti pergerakan Caca yang semakin membuatnya khawatir.
“Aku bisa jelasin, Ca!”
“Nggak ada yang perlu kamu jelasin, Bi!” ucap Caca penuh penekanan. Tatapan gadis itu penuh dengan rasa kecewa.
“Kamu sejak dulu benci kan sama aku? Kamu juga nggak suka kan sama Dean, makanya kamu berusaha untuk batalin pernikahan aku sama Dean dengan kamu culik Dean. Tapi ternyata kamu sendiri yang harus gantiin dia dan jadi suami aku, huh!” buliran bening itu kembali meluncur dari netra indah Caca. Buru-buru Caca menghapusnya dengan punggung tangan. Setelahnya Caca mengambil langkah menjauhi Abimanyu.
“Ca, kamu salah paham.” Abimanyu mencekal lengan Caca.
“Lepasin, Bi!”
“Nggak, aku nggak akan lepasin kamu sampai kamu denger penjelasan dari aku!”
“Lepas, atau aku akan semakin benci sama kamu!”
Seketika itu juga Abimanyu melepaskan pergelangan tangan istrinya. Ia hanya bisa menatap kepergian istrinya dengan rasa berkecamuk dalam dadanya.
“Bangsat!” umpat Abimanyu seraya mengacak-acak rambutnya
**
Caca benci kondisi seperti ini. Saat ia mulai mencintai, ia harus dikhianati dengan sebuah fakta yang sangat mencengangkan. Bagaimana bisa Abimanyu berbuat demikian. Caca benar-benar kecewa dengan apa yang tadi ia dengar.
Setelah tiga puluh menit berada di jalan raya, Caca membelokkan motornya di sebuah gedung apartemen yang dulu sering ia kunjungi. Caca bergegas masuk ke dalam lift dan naik ke lantai teratas.
Di dalam kotak besi itu Caca kembali menangis. Dadanya terasa sangat sakit mengingat kembali apa yang telah Abimanyu lakukan.
Kenapa Abimanyu tega memisahkannya dengan Dean saat itu? Apa kebenciannya terhadap Caca sangat besar hingga membuat Abimanyu berbuat hal itu?
Caca masih terisak saat memasukkan kode pin. Gadis itu semakin menangis saat pintu itu terbuka dan menampakkan sosok mantan kekasihnya di sana.
Tanpa berpikir dua kali Caca masuk ke dalam flat itu dan memeluk tubuh Dean dengan sangat erat. Ia tumpahkan segala sedih yang ia rasakan sejak tadi.
“Aku selalu ada untuk kamu, Bu,” ucap Dean seraya membalas dekapan Caca.
**
Abimanyu mencengkeram erat pagar balkon. Ia mengumpat tanpa suara. Sudah sejak satu jam yang lalu Caca keluar dari rumah, meninggalkan dirinya dengan segala kesalahpahaman.
Abimanyu merutuki kebodohannya yang tidak menahan Caca untuk keluar. Seharusnya ia tidak menuruti perkataan Caca dan langsung saja menjelaskan. Namun, semua sudah berlalu. Abimanyu hanya bisa menunggu gadis itu pulang ke rumah. Ingin menghubungi Caca, tetapi ponselnya tidak dibawa. Rasanya Abimanyu ingin membanting saja ponsel itu.
Dalam kepalanya Abimanyu berpikir. Apa yang sudah Dean katakan pada Caca, hingga hanya karena tidak mendengar keseluruhan dari percakapannya gadis itu menuduhnya menculik Dean.
Huh? Guyonan macam apa itu?
Abimanyu tidak mungkin melakukan hal itu. Sangat tidak berguna. Seluruh alasan yang Caca katakan tadi benar-benar tidak masuk akal.
Di saat Abimanyu berpikir keras, Abimanyu melihat istrinya memasuki pekarangan rumah. Gadis itu masih mengenakan pakaian yang sama seperti tadi. Ia bisa melihat gadis itu masuk ke dalam rumah tanpa mengetuk pintu.
Tak lama kemudian Abimanyu mendengar langkah kaki istrinya. Ia pun bergegas membukakan pintu dan menyambut istrinya.
Tatapan Caca sangat dingin, hingga menusuk ke dalam tulang Abimanyu. Namun, Abimanyu tidak peduli. Ia cekal pergelangan tangan sang istri saat gadis itu hendak masuk melewatinya.
“Aku bisa jelasin semuanya, Ca,” ucap Abimanyu dengan nada sangat pelan.
“Nggak ada yang perlu kamu jelasin lagi, Bi. Semua udah jelas, kamu yang–”
“Aku nggak pernah punya rencana nyulik Dean dan menghancurkan pernikahan kalian!”
**
Sabar guys sabar. Caca perlu diruqyah dulu🤣
Like dan komennya jangan lupa😙😍