
Hari sudah hampir larut. Abimanyu masih setia memandangi layar laptopnya. Padahal lampu kamar sudah Caca matikan sejak satu jam yang lalu. Namun, Abimanyu masih enggan beranjak dari duduknya.
Pemuda itu terlalu fokus hingga ia tidak sadar Caca membawa selimut dan duduk di sampingnya. Abimanyu terlonjak saat gadis itu membawa kepalanya bersandar di bahunya tanpa permisi sembari bertanya kenapa ia belum juga tidur.
“Bikin kaget aja, Ca,” ujar Abimanyu tanpa rasa kesal sedikit pun. Ia mengecup sekilas pucuk kepala sang istri sebelum kembali menekuri laptopnya.
Caca tersenyum kecil. Ia memandang deretan kolom di dalam laptop sang suami. Dari tampilannya saja Caca sudah tahu bahwa suaminya tengah mengerjakan pekerjaan kantor.
“Kamu kenapa belum tidur, Bi?” tanya Caca lagi. “Ini udah larut banget loh,” ucapnya memberitahu tanpa melihat pukul berapa saat ini. Ia menguap lebar, jarinya mengusap sudut matanya yang berair.
“Masih jam sebelas, Ca,” jawab Abimanyu tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya. Namun, sang istri tidak memberikan respons apa pun padanya.
Merasa tak ada protes dari Caca, Abimanyu melanjutkan pekerjaannya. Hingga lama-kelamaan, Abimanyu merasakan deru napas Caca yang sangat teratur menabrak tengkuknya. Ia pun menelengkan kepala, melihat wajah sang istri yang ternyata sudah kembali memejamkan mata.
Senyum Abimanyu tak bisa disembunyikan. Melihat betapa tenangnya wajah gadis itu membuat Abimanyu merasa damai. Ada sedikit getaran dalam dadanya yang selalu mengganggu kala wajah gadis itu sangat dekat dengan dirinya.
“Itu foto siapa sih? Nenek kamu, ya?”
Pertanyaan itu membuat Abimanyu kembali terlonjak. Ia yang hendak mematikan laptop pun sampai berhenti dan menatap sekilas wajah sang istri yang kini sudah kembali membuka mata.
Abimanyu menatap layar laptopnya. Layar dekstop yang selalu menampilkan foto berbeda setiap menitnya itu kini menampakkan foto sang nenek. Bibir Abimanyu sedikit tertarik ke atas. Ia mengangguk pelan. Mengingat sudah cukup lama tak mengunjungi makam sang nenek, Abimanyu pun mengajak Caca ke sana esok hari.
“Besok temenin aku ke makam oma, ya?”
Caca mengangguk lemah. Rasa kantuknya tak bisa ditepis. Bahkan ia hampir saja jatuh saat hendak berdiri.
**
Matahari terasa begitu terik. Abimanyu menarik Caca agar berjongkok di samping nisan yang bertuliskan nama ibu dari ayahnya. Wanita yang sangat berjasa dalam hidupnya. Wanita yang akan selalu ia kenang dalam hatinya.
Caca meletakkan sebuah buket bunga di atas gundukan tanah di hadapannya. Netranya tertutup, merapalkan doa untuk seseorang yang ia yakini sangat berjasa dalam hidup sang suami.
“Oma,” panggil Abimanyu sembari mengusap batu nisan di sampingnya.
Caca membuka netranya perlahan kala mendengar suara sedikit serak dari suaminya. Ia menggenggam lembut tangan Abimanyu saat melihat pemuda itu berubah sendu.
Abimanyu tersenyum. Menatap sekilas istrinya yang kini juga menatapnya untuk kemudian menatap makam sang nenek lagi.
“Bagaimana kabar Oma sekarang? Aku yakin Oma sudah bahagia di sana.” Abimanyu menghela napas panjang sebelum kembali berucap. “Maaf, Abi baru bisa mengunjungi Oma. Akhir-akhir ini aku sibuk banget dengan pekerjaan di perusahaan ayah, karena aku sudah menikah,” imbuh Abimanyu. Ia mengerjapkan matanya berulang kali untuk menghalau air mata yang hendak meluncur dari kelopaknya.
“Oma, perkenalkan! Ini istriku, Cahaya Bulan,” ucap Abimanyu seraya kembali menatap istrinya penuh cinta.
“Kami menikah beberapa bulan yang lalu.” Kalimat Abimanyu terjeda, netranya mulai merambang. “Jika saja oma masih ada, mungkin oma akan lebih memanjakan Caca daripada aku.”
Caca sama sekali tak bisa mengalihkan pandangan dari Abimanyu yang sedang tersenyum menatap gundukan tanah di hadapan mereka. Namun, di balik senyum itu, Caca bisa melihat sorot rindu dan sendu dari Abimanyu untuk sang nenek yang ia tahu wajahnya hanya melalui foto saja.
“Apa oma tahu, Caca ini yang dulu membawa aku kembali tersenyum setelah kejadian itu. Setelah aku terpuruk karena melihat oma mengembuskan napas terakhir tepat di hadapanku.”
Kalimat tersebut sontak membuat Caca terperangah. Ia menatap bingung pada Abimanyu yang kini juga tengah menatapnya.