
“Lo mau ngajakin balapan?” Abimanyu bertanya setelah membuka helmnya.
Caca memicing. Ia bergerak meletakkan helmnya di atas rak khusus yang tersedia di garasi tersebut.
“Siapa yang ngajakin balapan? Setiap hari gue naik motor ya begitu. Gue itu manusia anti lelet,” jawab Caca. Gadis itu melangkah masuk ke dalam rumah.
Hanya menggelengkan kepala yang bisa Abimanyu lakukan setelah mendengar pernyataan gadis itu. Bagaimana bisa putri seorang dokter yang terkenal begitu lembut memiliki karakter yang cukup jauh berbeda dari ibunya?.
Namun, ada satu hal lagi yang membuat Abimanyu heran. Dari mana Caca hingga pulang semalam ini. Ia sangat yakin tadi melihat gadis itu keluar dari kelasnya saat waktu masih sore.
Ngapain gue kepo sama tu cewek sih. Palingan juga nongkrong sama temen-temennya, gumam Abimanyu. Ia pun bergegas mengikuti Caca yang sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah.
**
“Masak apa, Bun?”
“Lihat sendiri kali, Bi. Kamu ini kebiasaan banget tanya masak apa,” ujar Nabila. Ia mengelap tangannya yang basah setelah mencuci piring.
“Ya, kalau enggak nanya rasanya tu kayak ada yang kurang, Bun,” balas pria itu. Ia mengambil piring, menyentong nasi dan memasukkan beberapa olahan masakan sang ibu ke atas piring.
“Kamu enggak nungguin Caca dulu?”
Abimanyu mengurungkan niat ketika hendak memasukkan satu sendok nasi ke dalam mulutnya, hanya untuk menjawab pertanyaan Nabila.
“Ngapain ditunggu. Dia pasti udah makan, kok.”
Nabila berdecak. Ia menuangkan air putih untuk putranya, lalu memberikannya pada pria itu.
“Kamu nggak boleh kayak gitu, Sayang. Meskipun kamu menikah dengan Caca bukan atas dasar cinta, bagaimanapun juga dia itu tetap istri kamu. Seseorang yang harus kamu jaga dan kamu ayomi,” nasihat Nabila pada Abimanyu.
Sedang pria itu tampak tak acuh. Ia hanya mendengar saja dan terus mengunyah makanannya dengan lahap, seakan belum makan selama beberapa hari.
“Setelah kamu mandi nanti ke ruangan ayah, ya. Ayah mau ngobrol sama kamu,” ucap wanita itu, menghentikan kunyahan Abimanyu.
“Ngobrolin apa?” tanya pria itu heran.
Bahu Nabila mengedik tanda tak tahu. Setelah menyampaikan hal tersebut, wanita paruh baya itu pergi meninggalkan Abimanyu sendiri.
**
“Bun, tadi ada orang yang nganter buku, ya?”
Caca mendudukkan diri di samping ibu mertuanya yang tengah menatap layar televisi.
Saat masuk ke dalam kamar tadi, Caca melihat satu kardus besar di atas sofa. Saat ia buka ternyata di dalamnya berisi buku-buku yang selalu ia jadikan referensi.
“Iya, katanya sopir rumah kamu. Tadi, udah bunda taruh di kamar kamu,” jawab wanita itu.
“Makasih, ya, Bun,” ucap Caca tulus sembari melemparkan senyum manisnya.
“Itu buku untuk kuliah?” tanya Nabila penasaran.
Caca mengangguk. “Aku lupa bawa buku-buku aku kemarin. Tadi waktu di kafe aku inget ada tugas yang harus dikumpulin besok pagi. Terus aku minta Ata ambilin, tapi dia nggak bisa nganter. Jadi, minta tolong sama sopir,” jelas gadis itu.
Nabila mengangguk. Ia kembali bertanya, tetapi kali ini ia mengulik kehidupan Caca. Terutama terkait gadis itu yang bersikukuh membawa motor sendiri ke kampus, padahal dia bisa membawa salah satu mobil suaminya.
Tanpa terburu-buru Caca menjawab pertanyaan sang ibu mertua. Ia mengatakan bahwa sejak dulu ia sangat suka berkeliling naik motor sendiri. Hingga Caca memutuskan membeli sebuah motor impiannya dan akan terus menggunakan motor itu bagaimanapun keadaannya.
“Kamu nggak takut naik motor sendiri?” tanya Nabila.
“Enggak, dong, Bun. Kan jalanan rame,” jawab gadis itu bercanda.
Nabila menggeleng. Ia tersenyum melihat sikap Caca yang ternyata sangat mudah akrab dengannya. Dulu ia pikir, Caca merupakan gadis pemalu dan sedikit pendiam seperti Jingga, ibunya. Namun, ternyata dugaannya salah besar. Gadis itu berbanding terbalik dengan Jingga.
“Mulai besok kamu berangkat sama Abi aja, ya? Kan satu kampus,”
Mata Caca melebar seketika. Ia pun menggeleng dengan cepat. “Enggak, usah, Bun. Naik motor sendiri-sendiri aja.”
“Kenapa?” Manik mata wanita itu memicing.
Menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Mata Caca berkeliling guna mencari alasan yang tepat.
“Kan jadwal aku sama Abi nggak sama. Daripada saling nunggu. Mending naik motor sendiri.”
Alasan yang masuk akal, batin Caca tertawa senang.
“Iya juga, ya,” gumam Nabila.
Caca semakin terlihat senang melihat anggukan kepala ibu mertuanya, karena ia tidak akan ditanyai lagi perkara tersebut.
“Ayah lagi sibuk di ruang kerja. Dio lagi jalan-jalan sama temennya,” jawab Nabila. Ia memindahkan chanel televisi, karena acara talkshow kegemarannya hampir tayang.
Gadis itu mengangguk mengerti, setelah merasa cukup Caca berpamitan pada Nabila untuk ke kamar terlebih dahulu. Ia harus segera menyelesaikan tugas yang akan dikumpulkan besok pagi.
Caca berjalan santai menapaki setiap tangga yang akan membawanya menuju kamar. Ia tampak masih memindai rumah tersebut. Seolah sedang menghafal setiap sudut dan setiap barang yang melekat di sana.
Kaki Caca telah sampai di depan pintu kamar. Ia lantas menekan handle pintu dan membukanya. Namun, tak lama kemudian ia menutup pintu lagi dengan lebih keras, karena ternyata di dalam sana ada Abimanyu yang baru saja mandi dan masih belum mengenakan apa pun selain handuk putih yang melilit pada pinggangnya.
“Astaga mata gue!” Caca mengusap wajahnya beberapa kali. Berharap bayangan Abimanyu tanpa busana itu hilang.
Caca tak berani membuka pintu itu lagi. Ia hanya berdiri mematung, karena takut Abimanyu masih belum menggunakan pakaiannya. Hingga pada menit ke tujuh, pintu itu terbuka menampakkan Abimanyu dengan kaus hitam tanpa lengan dengan celana kolor pendek berwarna coklat.
Pria itu berjalan santai melewati Caca, tanpa menyuruhnya masuk ataupun bertanya kenapa gadis itu tadi menutup pintu kembali dengan cukup keras. Ia jelas tahu alasannya.
Tak memedulikan hendak ke mana Abimanyu. Caca bergegas masuk ke dalam kamarnya untuk segera mengerjakan tugas.
**
Seperti apa yang Nabila perintahkan. Abimanyu menemui ayahnya di ruang kerja. Tanpa harus mengetuk pintu, Abimanyu masuk begitu saja.
“Kenapa Ayah manggil aku? Tumben,” tanya Abimanyu setelah mendudukkan diri di depan meja kerja ayahnya.
Arjuna tampak melirik sekilas sebelum berkata, “Bentar, ayah selesaikan ini dulu, setelah itu kita bicara.”
Putra Arjuna itu mengangguk. Ia berdiri, berjalan menyusuri ruangan tersebut. Ia menatap foto-foto yang tergantung cantik di atas dinding-dinding itu.
Ada banyak sekali foto yang terpajang di sana. Mulai dari saat Abimanyu masih bayi hingga saat ia wisuda kemarin.
Terdapat juga foto ketiga saudaranya yang lain. Seperti foto Kharris dan Geriyo saat usia mereka sudah memasuki usia empat tahun dan foto Dio saat bocah itu masih bayi.
Ada satu foto di mana itu membuat Abimanyu selalu dirundung rasa bersalah. Ia menatap foto itu begitu lama. Bahkan ia tak menyadari akan kehadiran ayahnya. Pria itu terperanjat saat merasakan sebuah tepukan di bahunya. Ia segera mengusap ujung matanya yang tiba-tiba terasa basah.
“Kamu rindu sama oma?” tanya Arjuna. Ia tahu ke mana arah mata putranya menatap pada foto tersebut.
Abimanyu hanya tersenyum kecil. Kemudian berbalik dan kembali duduk di sofa panjang ruangan tersebut. Merasa hari ini cukup melelahkan, Abimanyu mengubah posisinya menjadi tiduran.
Mengikuti putranya. Arjuna tak mempermasalahkan posisi Abimanyu yang tengah tiduran. Arjuna pun lantas segera ikut mendudukkan diri pada sofa singgel yang terletak tepat di sisi kepala Abimanyu. Ia menyandarkan punggungnya supaya lebih nyaman setelah melepas kacamatanya.
“Mau ngomong apa, Yah?” tanya Abimanyu sekali lagi.
Arjuna berdeham sekilas lalu mengutarakan maksud dan tujuannya memanggil Abimanyu ke sana.
**
Tak terasa waktu bergulir begitu cepat. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam saat Abimanyu masuk ke dalam kamarnya.
Di sana ia mendapati Caca tengah duduk di depan sofa dengan merebahkan kepalanya di atas meja. Dua buku besar tampak terbuka di samping laptop Caca yang telah padam. Mungkin saja Caca sudah tertidur sejak tadi.
Abimanyu ingin tak acuh pada gadis itu. Ia bahkan hampir merebahkan dirinya di atas tempat tidur sebelum pada akhirnya ia memilih untuk beranjak mendekati istrinya.
Pria itu tidak bisa bersikap egois pada seorang wanita. Ia merasa tak akan menjadi lelaki sejati jika mengingkari janjinya sendiri. Hari ini bukan waktunya Abimanyu tidur di tempat tidur, karena kemarin malam ia yang tidur di sana.
Mengguncang tubuh Caca pelan. Bukannya terbangun, gadis itu hanya menggumam tidak jelas. Abimanyu berdecak, ia hampir menyerah membangunkan Caca, karena gadis itu tak kunjung bangun juga.
Tak memiliki pilihan lain. Abimanyu memberanikan diri mengangkat tubuh Caca. Ia menggendong gadis itu ala bridal style. Kepala Abimanyu menggeleng saat ternyata Caca sama sekali tak terbangun.
“Berat banget sih, lo. Kebanyakan dosa gara-gara suka julid sama orang ya lo?” tanya Abimanyu lirih.
Akhirnya setelah berjalan dengan sedikit tertatih, Abimanyu dapat meletakkan Caca dengan sempurna di atas tempat tidur. Tak lupa ia menaikkan selimut untuk menutupi tubuh gadis itu.
Untuk sesaat Abimanyu terdiam menatap lekat wajah ayu istrinya. Ia jadi teringat percakapannya dengan sang ayah beberapa saat yang lalu.
Ayahnya menyuruh Abimanyu untuk mulai belajar di perusahaan seperti kakaknya, Geriyo. Arjuna ingin Abimanyu memiliki gaji sendiri, karena pria itu sudah beristri saat ini. Abimanyu harus bertanggungjawab pada Caca, terlepas dari alasan mereka menikah.
“Meskipun kamu belum mencintai Caca, ayah ingin kamu tetap bertanggungjawab atas kehidupan dia.”
“Jika kamu tidak ingin bertanggungjawab atas Caca, setidaknya pikirkan dokter Jingga. Pikirkan, bagaimana wanita itu dulu menyelamatkan nyawa kamu. Padahal dia berhak untuk meninggalkan kamu saat itu.”
“Kamu harus bisa menjadi kepala keluarga yang baik, Abi.”
Abimanyu tersenyum miring. “Kenapa gue iya-iya aja waktu ayah nyuruh nanggung semua biaya hidup lo?”
Setelah mengatakan itu, ia beranjak dari tempatnya berdiri. Ia membuka sofa lebih lebar, karena sofa itu memang memiliki desain cukup canggih. Sehingga Abimanyu bisa tetap nyaman meskipun tidur di sofa itu.
***
Jangan lupa like dan komen❤