
Hari berganti pagi. Cahaya matahari menyusup ke dalam kamar. Menyentuh kulit seorang Cahaya Bulan. Namun, agaknya sinar sang surya tak mengganggu si gadis cantik yang tampak masih bergelung dalam mimpi indah dengan masih mendekap erat sesuatu yang membuatnya terus merasa hangat sepanjang malam.
Caca masih merapatkan matanya meski silau matahari sudah mulai mengganggu tidurnya. Ia masih terlalu nyaman mendekap gulingnya yang terasa lebih hangat dan wangi hari ini. Namun, suara ketukan pintu dari luar membuat Caca mau tak mau harus membuka mata.
“Kak Caca, Kak Abi, bangun! Dicariin mama, nih!”
“Kak Caca, Kak Abi!”
Tok ... Tok ... Tok ...
Panggilan dan ketukan itu terus menggema hingga mau tak mau Caca menyahutinya.
“Iya, cerewet!”
Pelan tapi pasti, Caca pun membuka kelopak matanya setelah menjawab ketukan tersebut dengan suara teredam pada sesuatu yang sejak tadi ia peluk. Pemandangan pertama yang Caca lihat adalah sebuah kain berwarna biru muda dan aroma parfum yang tidak asing di indra penciumannya.
Caca ingat, sarung bantal miliknya semalam berwarna hijau. Jadi, apa yang saat ini Caca dekap? Perlahan Caca mendongakkan kepala. Betapa terkejutnya perempuan itu saat ternyata ia memeluk suaminya sendiri.
Bagaimana bisa?, batin Caca.
“Udah bangun?” tanya Abimanyu sembari mengulas senyumnya.
Caca segera mendudukkan tubuhnya tanpa menjawab pertanyaan Abimanyu. “Kenapa bisa ....” Caca tak bisa lagi meneruskan pertanyaannya yang mungkin saja terdengar konyol.
Abimanyu kembali tersenyum. “Sebenarnya sejak semalam kamu udah meluk aku. Bahkan aku nggak bisa geser sama sekali saking eratnya pelukan kamu,” ujar Abimanyu sembari memiringkan tubuh dan menekuk sikunya untuk menopangkan kepala.
“Aku juga udah bangun dari tadi, tapi setiap aku mindah tangan kamu, kamu malah semakin kenceng meluk aku.” Tawa kecil Abimanyu terdengar di akhir kalimatnya.
Netra Caca semakin lebar mendengar itu. Yang benar saja?, jerit gadis itu dalam hatinya.
“Nggak mungkin!” seru Caca.
“Terserah kamu mau percaya atau enggak,” balas Abimanyu setelah berdiri dan masuk ke dalam kamar mandi dan tawa pemuda itu pecah begitu saja tanpa peduli raut kesal istrinya.
Apa yang Abimanyu katakan tadi memang tak sepenuhnya bohong. Sejak semalam Caca memeluknya dengan erat. Hingga Abimanyu tak bisa tidur karenanya. Baru saat jam sudah menunjukkan pukul dua pagi ia bisa memejamkan mata dan ia baru membuka matanya beberapa saat sebelum ketukan di pintu kamar itu menggema. Namun, Abimanyu juga tak berusaha memindahkan tangan gadis itu. Ia ingin melihat reaksinya saat bangun seperti pagi ini. Dan ternyata sangat menghibur dirinya.
Lucu sekali, gumam Abimanyu dalam hatinya.
Masih bergeming di tempatnya. Caca masih tak ingin percaya bahwa dirinyalah yang melewati batas yang ia buat sendiri. Rasa malu mulai mengerubungi kepala Caca. Ingin rasanya Caca menguburkan dirinya ke dalam inti bumi.
Caca memejamkan mata sebentar dan berharap apa yang baru saja terjadi hanya mimpi. Namun, Caca semakin ingin menangis saat nyatanya semua itu adalah kenyataan yang senyata-nyatanya.
**
“Cie, pengantin baru jam segini baru turun.”
Ata mendapatkan lemparan sorot tajam dari Caca saat mengatakan itu. Bukannya takut, cowok yang kini tengah mengambil sepotong ayam dari piring saji itu justru terbahak-bahak.
“Gimana, Bang, Kak Caca kasar nggak?”
Pertanyaan yang terdengar ambigu itu membuat Caca melemparkan sendok plastik ke wajah Ata.
“Astaga, Kak!” pekik Ata sembari memegang dadanya. “Entar kalu kena muka gue terus lecet gimana? Ilang, dong kegantengan paripurna gue.” Cowok itu menggeleng masih dengan ekspresi terkejut. Lalu kembali mengalihkan pandangan pada kakak iparnya.
“Ta, lo bisa diem nggak, sih. Cerewet banget perasaan!” Caca menyahut kesal.
Abimanyu hanya mengulas senyum. Ia tak ingin menjawab pertanyaan Ata yang sejatinya hanya untuk menggoda Caca saja. Ia kemudian mendudukkan diri di kursi meja makan yang berseberangan langsung dengan Ata. Tak ingin ada kecanggungan yang melanda, Abimanyu menanyakan kegiatan Ata pada hari Minggu ini.
Sedangkan Caca melenggang masuk ke dapur untuk mencari ibunya yang tidak terlihat di meja makan. Benar saja, wanita paruh baya itu sedang asyik membuat jus melon di sana. Caca pun mendudukkan diri di samping wanita itu.
“Mau juga, Kak?” tawar Jingga pada putri sulungnya.
Ini yang Caca suka dari ibunya. Beliau selalu memanggilnya Kakak. Terdengar sangat manis dan penuh cinta di telinga Caca.
“Mau,” jawab gadis itu antusias. “Mama punya buah apa aja?” Caca sudah membuka kulkasnya saat bertanya.
“Jus wortel kayaknya bagus buat kamu, Kak. Siapa tahu bisa nyembuhin minus kamu,” ucap Jingga sedikit menasihati. Lalu, mengambil wortel dari dalam kulkas setelah Caca mengangguk setuju. Kemudian mengupasnya dan membuatkannya untuk Caca.
“Kamu nggak buatin Abi teh atau kopi gitu?” tanya Jingga mendapati sang putri hanya duduk sambil menopangkan kepala pada kedua tangannya.
“Abi nggak biasa minum teh, apalagi kopi. Dia Cuma minum air putih aja kalau sarapan gini,” jawab Caca. Ia menegakkan tubuhnya untuk mengambil segelas jus yang baru saja dituangkan sang ibu ke dalam gelas.
“Makasih, Mama Sayang.” Caca mengecup pipi Jingga sebelum keluar dari dapur.
Saat sampai di meja makan, semua anggota keluarga Caca sudah berkumpul. Gadis itu pun segera bergabung dan duduk di samping sang suami seperti biasa. Tak lupa Caca mengambilkan sarapan untuk Abimanyu.
Sarapan pagi itu terasa lebih ramai dengan adanya Caca yang selalu menanggapi setiap ocehan Bia hingga membuat adik bungsu Caca itu kesal.
**
“Lagi ngapain, Bang?”
Abimanyu yang tengah mendengarkan lagu melalui earphone sembari membaca sebuah buku menoleh mendapati bayangan seseorang duduk di sampingnya. Saat ini ia duduk di gazebo rumah Caca. Pemuda itu tersenyum melihat adik iparnya yang juga tersenyum padanya. Ia kemudian melepaskan earphones wireless-nya dan mengalungkannya di leher.
“Lagi baca buku aja, sambil nikmatin udara di sini,” jawabnya yang masih bisa mendengar pertanyaan Ata meski telinganya tertutup earphones.
“Kalian punya hobi yang sama, ya, ternyata,” celetuk Ata membuat kening Abimanyu berkerut, tidak mengerti siapa yang adik iparnya maksud. “Lo sama Kak Caca maksudnya,” jelas Ata menguraikan kebingungan kakak iparnya.
Bibir Abimanyu membulat sembari menganggukkan kepala. “Gue nggak hobi baca, sih. Cuma emang lagi butuh baca aja, buat referensi presentasi minggu depan,” ucap Abimanyu. “Emang kalau Caca hobi banget baca buku?” tanya Abimanyu yang sekarang malah penasaran dengan kehidupan istrinya.
Ata mengangguk. Ia mengerti hubungan antara kakak dan kakak iparnya ini. Jadi, Ata tidak terkejut jika mereka tidak mengetahui hobi masing-masing.
“Gimana hubungan lo sama Kak Caca?” tanya Ata setelah ia terdiam cukup lama. Memikirkan kata yang tepat untuk menanyakan hal ini.
Abimanyu menaikkan sebelah alisnya. “Gimana apanya?”
“Ya, hubungan kalian udah ada perkembangan belum? Atau masih stuck dengan kalian yang selalu berantem atau udah ada sedikit kemajuan?” Ata meringis saat Abimanyu tiba-tiba terkekeh mendengar pertanyaannya yang mungkin sangat konyol.
“Gue tahu, Kak Caca bukan orang yang mudah jatuh cinta. Sekalinya cinta dia bisa ngorbanin apa aja.” Ata tersenyum. “Kalau Abang emang nggak bisa cinta sama Kak Caca jangan disakiti, ya, Bang. Meskipun omongannya kasar, Kak Caca itu juga cengeng kayak cewek-cewek lain, yang kalau dibentak atau disakiti pasti tetep nangis. Tapi, tetep nggak ditunjukin ke orang lain.”
Abimanyu tertegun. Mengingat bagaimana jailnya Ata pada Caca ternyata merupakan bentuk kasih sayang dari cowok itu pada kakaknya. Abimanyu mengulas senyum seraya menepuk bahu Ata beberapa kali.
“Gue usahain nggak bakal nyakitin dia secara sadar. Lo boleh hukum gue sendiri kalau gue sampai nyakitin kakak, lo.”