
“Loh, Aldi, Aldo.”
Nabila yang hendak keluar untuk membuang sampah terkejut melihat dua teman Abimanyu berada di depan pintu rumahnya.
“Tante buang sampah bentar, ya. Kalian masuk aja, ada ayahnya Abi di dalam,” suruh Nabila sebelum melenggang meninggalkan Aldi dan Aldo.
Sepasang pemuda kembar itu menuruti perintah nyonya pemilik rumah. Mereka yang sudah terbiasa ke sana tak canggung lagi saat Arjuna menghampiri keduanya dan menyuruh mereka untuk duduk.
“Abi ada, Om?” tanya Aldi setelah mencium tangan Arjuna dan duduk di seberang pria paruh baya itu.
“Loh, emang tadi kalian nggak ngomong Abi kalau mau ke sini?” tanya Arjun.
“Abi lagi nggak di rumah,” sahut Nabila yang baru saja masuk setelah membuang sampah di depan rumahnya.
“Emang Abi ke mana, Tan? Tumben malem-malem keluar.” Aldi tahu Abimanyu bukan tipe anak muda yang suka keluar malam kecuali jika ia ajak. Jadi, sangat mengherankan saat sudah jam sembilan malam dan Abimanyu tidak berada di kediamannya, sedangkan ia juga tidak sedang bersama Abimanyu.
“Kan Abi pulang kuliah langsung ke rumah mertuanya. Dia nginep di sana malam ini,” ucap Nabila tanpa tahu bahwa Abimanyu dan Caca menyembunyikan pernikahan mereka dari teman-teman kuliahnya termasuk dua pemuda itu.
“Mertua?” tanya Aldi dan Aldo bersamaan.
Nabila mengangguk. “Iya, mertua. Nginep di rumah Caca. Katanya mau pulang udah kemaleman dan Caca lagi pengen tidur di rumah orang tuanya, jadi–”
“Cahaya Bulan?” tanya Aldi lagi, memotong kalimat Nabila. Entah kenapa saat nama Caca disebutkan oleh Nabila, wajah gadis judes itu yang keluar dari kepalanya. Namun, sebagian dari logikanya menolak dengan apa yang ia dengar.
“Iya, dong, Al. Caca mana lagi yang jadi istri Abi?”
Jawaban Nabila membuat dua pemuda kembar itu bagai disambar petir. Tak pernah terlintas sedikit pun bayangan Abimanyu akan menyembunyikan sebuah rahasia sebesar ini dari mereka. Dan, bagaimana bisa Abimanyu diam saja selama ini?.
“Oh, ya udah, Tan. Aku titip buku ini aja. Katanya mau dipakai lusa. Aku besok nggak ada kelas, jadi aku kembaliin hari ini. Tadinya mau aku kasih waktu masih di kampus tapi ternyata tadi Abi pulang duluan.” Aldi memilih untuk tidak menyuarakan ketidaktahuannya akan pernikahan Abimanyu kepada Nabila. Lebih baik ia mencari tahu sendiri dari Abimanyu dan meminta penjelasan yang sejelas-jelasnya dari pemuda itu.
“Gue telepon Abi dulu.” Aldi mengetikkan nama kontak Abimanyu kemudian meneleponnya. Pada dering kedua suara Abimanyu sudah sampai di telinga Aldi.
“Bi, lo di mana?”
“Di rumah,”
“Rumah mertua maksud, lo?”
Setelah memberikan pertanyaan yang Aldi yakin membuat Abimanyu menegang, Aldi meminta penjelasan dari Abimanyu besok setelah perkuliahan pemuda itu selesai.
Dan di sini mereka saat ini. Di kafe milik mertua Abimanyu. Kafe tempat Caca menghabiskan sebagian waktunya setelah kegiatan kuliah selesai. BB Kafe.
Aldi menatap Abimanyu yang tampak bingung harus memulai penjelasan dari mana. Di sampingnya ada Aldo yang tampak tak peduli, tetapi raut penasaran itu jelas kentara.
Abimanyu menggaruk kepalanya yang tak gatal. Di dalam kepalanya ia menyusun penjelasan supaya kedua temannya ini tidak salah paham padanya.
“Oke, gue minta maaf karena udah nyembunyiin hubungan gue sama Caca,” ucap Abimanyu. Menutupi rasa gugupnya.
“Kita nggak butuh permintaan maaf lo, Bi. Kita cuma pengen dengar alasan lo bisa nikah sama cewek ini,” balas Aldi seraya melirik Caca sinis.
Abimanyu menghela napas pelan. Kemudian, sedikit menceritakan apa yang telah terjadi sampai mereka akhirnya harus menikah.
Namun, siapa sangka tanggapan Aldi membuat Caca naik darah.
“Lo jebak Abi, kan?”