Tak Akan Terganti

Tak Akan Terganti
Bab 65 : Sederhana


“Jangan lupa minggu depan kelompok tujuh presentasi. Itu saja, selamat siang.”


“Siang, Miss.”


Maya memutar tubuhnya menyangga dagunya pada sandaran kursi. “Kantin nggak?” tanyanya pada Caca yang sedang membuka sebuah buku kosong.


Caca mendongak. Meletakkan penanya seraya menjawab, “Gue boleh nitip aja nggak? Masih banyak nih yang belum gue tulis buat tugas Pak Fikri.”


Maya mengangguk. “Lo mau nitip apa?” tanyanya seraya mengemasi barang-barang.


“Kayak biasanya aja, May. Yang penting gue kenyang.”


Maya dan Sofi mengangguk, lantas beranjak setelah menerima uang dari Caca.


Kembali melanjutkan mengerjakan tugasnya yang sejak kemarin belum selesai. Sesekali Caca membaca ulang buku yang ia letakkan di meja sampingnya, kemudian menggoreskan penanya ke atas buku berisi tugas tersebut.


Caca menaikkan kacamatanya dengan punggung jari telunjuk. Ia masih menundukkan kepala saat seseorang meletakkan sekotak sandwich di samping kertasnya. Caca pun melirik sekilas kemudian mengucapkan terima kasih pada seseorang yang ia pikir adalah Maya.


“Tumben di kantin ada sandwich,” ucap Caca tanpa mendongakkan kepalanya.


“Aku bawa dari rumah.”


Bola mata Caca bergerak ke kanan dan kiri. Suara berat milik seorang laki-laki membuat Caca tahu bahwa bukan Maya yang duduk di sana. Perlahan-lahan Caca menegakkan kepalanya. Tatapannya berserobok dengan bola mata berwarna hitam milik suaminya.


“Kamu ngapain di sini?” tanya Caca seraya memindai sekitar. Tidak ada siapa pun di dalam kelas kecuali dirinya dan Abimanyu. Ia pun bernapas lega, kemudian kembali menatap sandwich yang ada di sampingnya.


“Kamu takut ada yang lihat kita? Tenang, aku udah pastiin nggak ada orang sebelum masuk ke sini.” Senyum Abimanyu mengulas begitu saja.


“Tadi waktu kamu udah keluar rumah, bunda titip ini ke aku. Bunda bilang kamu nggak bakal sempet sarapan di kampus jadi dibawain bekel sama bunda,” tutur Abimanyu.


“Tapi tadi aku titip makanan ke Maya,” ujar Caca memberitahu. “Kamu aja yang makan, ya? Aku nggak bisa ngasih makanan aku ke kamu, entar kamu sakit lagi kayak kemarin.”


Berbekal pengalaman dari masa lalu, Caca tak mau kejadian itu terulang kembali. Ia sekuat tenaga selalu mengingat apa saja yang tidak boleh Abimanyu makan, supaya kejadian kemarin tidak terulang kembali.


“Kamu aja ya yang makan?” tawar Caca pada sang suami.


Abimanyu menatap roti isi yang ia bawa dengan bingung. Ia baru saja makan. Perutnya masih kenyang. Ia merasa tidak akan sanggup menjejalkan sandwich itu ke mulutnya.


“Gimana kalau kita bagi dua aja?” tanya Abimanyu sesaat setelah ide itu terlintas dalam kepalanya.


Napas Caca berembus pelan. Ia tidak masalah jika hanya memakan separuh roti isi itu, tetapi ia masih sangat sibuk dengan tugasnya yang harus dikumpulkan tiga jam yang akan datang.


“Aku suapin aja gimana? Jadi, kamu tetep bisa nulis.”


“Ish, yang bener aja, Bi. Kalau ada orang gimana?”


Caca berdecak. Ia kembali meraih pulpennya yang sempat ia taruh di atas bukunya. Kemudian kembali menggoreskan tintanya untuk segera menyelesaikan tugasnya.


“Nggak bakal ada yang lewat, Ca.” Tanpa persetujuan Caca Abimanyu mengangsurkan sepotong sandwich ke depan bibir Caca.


Demi menghargai apa yang Abimanyu lakukan, Caca pun membuka mulutnya menerima satu suapan itu tanpa sedikit pun melirik pada sang suami. Ia berusaha fokus menulis tugasnya meskipun sedikit kesulitan, karena konsentrasinya harus terpecah dengan perlakuan Abimanyu yang dirasanya terlampau manis.


Kedua sudut bibir Abimanyu tertarik ke atas. Setelah menyuapkan pada sang istri, Abimanyu menyuapkan sepotong lagi kepada dirinya sendiri. Entah karena terlalu senang atau memang begini efeknya saat berbagi makanan dengan orang yang kita cintai. Bagi Abimanyu roti isi kali ini rasanya jauh lebih enak dari biasanya.


Abimanyu masih terus menyuapi Caca, meskipun beberapa kali terdengar deheman dari istrinya yang mungkin sedikit gugup. Gadis itu sama sekali tak mau menatap Abimanyu. Sehingga Abimanyu tidak tahu ekspresi seperti apa yang tengah Caca berikan. Namun, ia senang dan tetap memberikan suapan terakhir pada Caca sebelum Maya dan Sofi masuk di antara mereka.


“Ehm, kita ganggu, ya?” tanya Sofi setelah mendudukkan dirinya di samping kursi Caca.


“Enggak, gue juga udah mau keluar, kok. Ada kelas setelah ini,” jawab Abimanyu seraya melemparkan senyum pada Sofi dan Maya.


Setelahnya Abimanyu beranjak berdiri. Memasukkan kotak bekalnya ke dalam tas dan berpamitan kepada Caca dan kedua sahabatnya.


“Gue cabut dulu,” ucap Abimanyu menatap Sofi dan Maya bergantian, kemudian menatap Caca yang kini juga tengah menatapnya. “Aku ke kelas dulu. Nanti aku jemput kamu di kafe,” ujarnya sembari mengusap kepala Caca.


Degup jantung Caca sangat berantakan meskipun Abimanyu hanya mengusap kepalanya. Ia bisa merasakan kehangatan menjalar ke dalam benaknya dan merasa hampa saat punggung lebar itu menjauh dari pandangannya.


Maya dan Sofi sama-sama menopangkan dagunya pada tangan. Mereka menatap tubuh Abimanyu yang telah menghilang dengan tatapan kagum dan memuja.


“Pengen deh punya suami kayak gitu,” ujar Maya seraya memiringkan kepala.


Caca memutar bola matanya malas. Ia mengambil sebungkus makanan dari atas meja Maya dengan kasar, hingga Maya pun sedikit terjingkat dan menggerutu pada Caca.


“Ih, Caca!”


“Makan, May. Laper!”


Maya hanya mencebik, sedangkan Sofi tertawa kecil melihat tingkah dua manusia itu.


**


Caca menatap sekelilingnya. Meletakkan bokongnya pada kursi yang baru saja Abimanyu tarik untuknya. Sesaat setelah mereka duduk, seorang pelayan restoran menghampiri mereka. Memberikan buku menu dan mencatat pesanan keduanya.


“Tumben ngajak dinner.” Caca berucap setelah keheningan mendera mereka selama beberapa detik.


Abimanyu mengulas senyum. Meletakkan ponsel yang hendak ia nyalakan.


“Pengen aja. Aku seneng bisa ngehabisin waktu sama kamu,” jawabnya membuat Caca tiba-tiba merona.


Caca berdeham kecil, mengurangi rasa gugup yang tiba-tiba melingkupi dirinya. Ia pun berusaha mengelak jawaban Abimanyu dan kembali bertanya kenapa pemuda itu membawanya ke sana. Namun, jawaban Abimanyu tetap sama, hingga Abimanyu pun mengalihkan pembicaraan.


Putra Arjuna itu sedikit menceritakan tentang kegiatannya selama bekerja di kantor sang ayah. Ia menceritakan ketegasan sang kakak yang bisa membuatnya terkadang merasa tidak betah dan juga stres. Tak luput juga Abimanyu menceritakan bagaimana dirinya cepat akrab dengan karyawan-karyawan di sana yang satu divisi dengannya.


Tak lama kemudian pesanan mereka datang, Abimanyu dengan sangat terpaksa menyudahi ceritanya dan menyantap hidangan yang telah ia dan Caca pesan sebelum makanan itu berubah dingin.


Tidak terlalu banyak percakapan selama mereka mengisi energi. Sesekali hanya suara Caca menanggapi rasa makanan tersebut yang kemudian direspons baik oleh Abimanyu.


“Aku punya sesuatu untuk kamu,” ucap Abimanyu setelah mengelap bibirnya dengan tisu. Makanan dalam piringnya baru saja tandas.


Abimanyu mengambil sesuatu dari dalam tas yang ia letakkan di kursi sampingnya. Sebuah kotak panjang dengan pita di atasnya Abimanyu letakkan di hadapan Caca.


Sebuah kerutan tampak di kening Caca. Ia pun bertanya hadiah apa yang Abimanyu berikan padanya dan dalam rangka apa.


Tanpa menjawab, Abimanyu membuka kotak tersebut. Sebuah kalung dengan liontin nama ‘Caca' terpampang begitu saja, membuat Caca melebarkan matanya seketika.


“Sebenarnya aku pengen namaku yang tertulis di sini, tapi kayaknya belum saatnya kamu memakai namaku dan memperlihatkannya ke mana pun kamu pergi,” ujar Abimanyu seraya memulas senyum.


Hening, Caca masih terpaku dengan hadiah yang Abimanyu berikan. Ia tak pernah menyangka Abimanyu akan sejauh ini.


Kalung itu sangat sederhana. Namun, tak memberikan kesan biasa saja. Seperti ada banyak cinta yang tersemat di sana, sehingga kalung itu terlihat sangat indah.


“Kamu nggak suka ya sama kalungnya?” tanya Abimanyu lirih. “Ini memang sangat sederhana, aku juga sudah bisa menebak kalau kamu mungkin nggak akan suka–”


“Aku suka,” tukas Caca cepat. Tak bisa dipungkiri lagi betapa Caca sangat menyukai hadiah kecil itu dari Abimanyu. Mereka sama-sama menyukai kesederhanaan dan Caca tidak mempermasalahkan betapa sederhana benda itu.


“Aku cuma nggak tahu harus ngomong apa selain terima kasih dan aku juga masih bingung dalam rangka apa kamu ngasih aku hadiah. Ulang tahunku masih sangat lama,” ujar Caca menjelaskan kenapa sejak tadi hanya diam saja.


Bibir Abimanyu kembali tersenyum. Ia beranjak dan meminta izin untuk memakaikan kalung tersebut di leher Caca dan tanpa ada keraguan Caca mengiyakannya.


“Aku Cuma pengen ngasih hadiah ke kamu. By the way, ini aku beli pakai gaji pertama aku,” jelas Abimanyu sembari mengaitkan kalung itu di belakang leher Caca.


Caca menyentuh liontin kalung tersebut. Bibirnya mengulas senyum kecil, tetapi terlihat sangat bahagia dan tulus. Netranya menatap Abimanyu yang kini sudah duduk kembali di depannya. Ia bisa melihat sorot cinta dari Abimanyu untuknya. Sorot yang selalu ia lihat di mata Abimanyu sejak satu bulan terakhir, tetapi sering ia abaikan.


***


Haloha semuanya. Bagaimana ini kabarnya? :v. Maaf baru muncul lagi setelah sekian luamaaaaa menghilang wkwk


Doain semoga kegiatan aku segera selesai, biar bisa nulis lagi dengan lancar wkwk.