
“Kak Abi ngapain masih di sini? Ayo, masuk!”
Suara Bia sejenak menyadarkan Abimanyu bahwa istrinya telah masuk ke dalam rumah lebih dulu bersama seorang pemuda yang entah siapa, dia tidak tahu.
Abimanyu membalas senyum manis Bia lantas mengikuti langkah kecil gadis itu.
“Ayah sama mama mana, Bi?” tanya Abimanyu pada adik iparnya. Saat ini mereka berada di ruang tengah rumah tersebut. Sejak masuk ke dalam rumah itu, ia tidak melihat keberadaan kedua mertuanya.
Bia mendongak menatap suami kakaknya. “Ayah lagi di kamar, mungkin istirahat, kalau mama belum pulang. Katanya tadi mau pulang cepet, mungkin bentar lagi,” jawab gadis itu. “Mau aku panggilin ayah?” tawar Bia sembari mengulas senyumnya.
Abimanyu tersenyum. “Enggak usah. Nanti juga ketemu, kok.”
Bia hanya mengangguk. Gadis remaja itu kembali fokus dengan ponselnya. Tak lama kemudian Bia berpamitan pada kakak iparnya untuk ke dapur sebentar dan meminta seseorang yang kini berjalan menuju mereka untuk menemani Abimanyu.
“Kak, temenin Kak Abi dulu, ya. Bia mau bantu Kak Caca.”
Pemuda yang Abimanyu lihat saat ia masuk tadi tampak tersenyum dan mengangguk sembari mengusap puncak kepala Bia. Setelah menatap langkah Bia, pemuda itu mendekati Abimanyu. Dalam jarak sedekat ini, Abimanyu yakin pemuda itu memiliki usia tak jauh darinya.
“Lo suaminya Caca?” tanya pemuda itu sembari duduk di samping Abimanyu. Ia mengulurkan tangan setelah Abimanyu mengangguk mengiyakan.
“Kenalin, gue Rasya,” ucap pemuda itu.
“Abimanyu,” balas Abimanyu sembari menerima uluran tangan pemuda itu.
Pemuda yang mengaku bernama Rasya itu tersenyum. Mereka mengurai jabatan tangan setelahnya.
Sesaat Abimanyu mengernyit. Ia merasa tak asing dengan wajah pemuda itu, hanya saja Abimanyu tak ingat pernah bertemu atau tidak sebelumnya.
“Gue kakaknya Mika kalau lo penasaran siapa gue,” ucap Rasya saat tahu Abimanyu memindai dirinya.
Bibir Abimanyu membulat. “Pantes, kayak pernah lihat muka, lo, tapi versi lain,” timpal Abimanyu sembari mengulas senyum.
“Kalian pernah ketemu?” tanya Rasya.
Mendengar sedikit gambaran penilaian Abimanyu tentang adiknya membuat Rasya tertawa. “Dia cerewet kan? Yah, pas lah kalau disandingin sama Bia dan Caca.”
Rasya sangat tahu maksud Abimanyu. Adiknya yang super cerewet itu memang tak pernah bisa mengendalikan ucapannya di depan siapa pun. Meskipun orang yang baru dia kenal, seperti Abimanyu. Bahkan Rasya tahu apa saja yang telah Mika katakan pada Abimanyu beberapa waktu yang lalu. Sebagai kakak laki-laki, Rasya memang sangat perhatian terhadap adiknya. Ia selalu menghubungi adiknya ketika senggang. Mereka akan saling berbagi cerita dan banyak hal, meskipun berjauhan.
“Oh, ya. Om Banyu punya kolam ikan di belakang rumah. Lo mau lihat?” tawar Rasya seraya menunjuk letak kolam ikan itu berada, menggunakan ibu jarinya.
Abimanyu tahu, ajakan itu bukan hanya sekadar untuk melihat koleksi ikan milik mertuanya. Pancaran rasa penasaran tentang dirinya dan banyaknya pertanyaan yang ingin Rasya tanyakan begitu kentara. Sehingga Abimanyu mengiyakan begitu saja ajakan Rasya.
Namun, sebelum ke belakang rumah, Rasya menyuruh Abimanyu meletakkan tasnya ke kamar Caca. Ia dengan senang hati mengantar Abimanyu yang tentu saja tidak tahu mengenai rumah itu.
“Kayaknya lo hafal banget sama setiap sudut rumah ini?” Entah itu pertanyaan atau pernyataan, yang pasti Rasya menjawab dengan anggukan.
“Gue di sini sejak masih kecil. Bahkan gue punya kamar pribadi di sini,” jawab Rasya sembari membuka pintu belakang rumah Banyu.
“Keluarga gue sama keluarga Om Banyu itu udah kayak saudara. Padahal kita nggak punya sambungan darah sama sekali. Orang tua gue sama Om Banyu itu sahabatan sejak SMA. Bahkan mami sama Om Banyu sahabatan sejak SMP. Jadi, udah kayak saudara sendiri.” Rasya menjawab dengan seulas senyum manis. Ia menyuruh Abimanyu duduk di kursi yang menatap langsung pada kolam ikan milik Banyu.
“Sedeket itu, ya?”
Rasya mengangguk. “Ya, sedeket itu. Mungkin kemarin waktu nikahan kalian, kalau gue ada di negara ini, gue yang bakal jadi suami Caca. Bukan lo,” ucap pemuda itu tanpa memandang Abimanyu. Ada gurat kesedihan yang terpancar dari diri Rasya dan Abimanyu dapat melihatnya dengan jelas.
“Gue tahu semua kejadian hari itu. Tapi, gue juga nggak bisa apa-apa. Di sana gue cuma bisa emosi sendiri. Gue nyesel nggak pulang.”
“Kenapa lo nyesel? Karena nggak bisa nikahin Caca?” tanya Abimanyu tanpa bisa menyembunyikan rasa tidak sukanya saat mendengar kata menyesal dari bibir pemuda itu.
Rasya menghela napas pelan. Menatap Abimanyu dan menjawab, “Iya”
***
Maaf, baru update. Aku sibuk beres-beres rumah. Maklum mau lebaran (:
Jangan lupa like dan komen❤