
“Caca ke mana sih? Kenapa nggak pernah bales chat kita.”
Maya menopangkan dagunya pada kepalan tangan. Sudah hampir seminggu Caca absen dari kelas. Tidak ada kabar sama sekali dari perempuan itu maupun suaminya.
“Dia juga udah lama banget loh nggak bikin story di instagram,” timpal Sofi setelah meletakkan ponselnya ke atas meja.
Ia baru saja mengecek kotak obrolannya bersama Caca. Di sana tertulis terakhir kali Caca membuka aplikasi berbalas pesan tersebut empat hari yang lalu.
“Sibuk banget kali, ya?”
“Tapi nggak mungkin sampai absen selama ini kali, May.”
Kedua gadis itu mengembuskan napas berat. Mereka sama-sama takut terjadi sesuatu ke Caca dan tidak menerima kabar sama sekali. Namun, mereka juga tidak bisa mengunjungi rumah Caca sembarangan seperti dulu. Apalagi terkadang Caca tinggal di rumah mertuanya, sehingga mereka sungkan untuk berkunjung ke sana.
Maya dan Sofi masih asyik memikirkan bagaimana keadaan Caca saat ini. Hingga kedatangan seseorang membuat Maya seperti mendapat pencerahan.
Gadis manis dengan rambut tergerai lurus itu berdiri dan mendekati seorang pria sahabat Abimanyu. Tampangnya yang sangat dingin tak membuat Maya sungkan untuk menyapa.
“Kak Aldo,”
Dengan tatapannya yang sangat tajam Aldo memandang Maya. Keningnya mengernyit mencari tahu siapa gadis yang telah memanggil namanya di depan umum ini.
“Kak Aldo ke sini sama Kak Abi nggak?” tanya Maya tanpa merasa terganggu dengan tatapan Aldo.
“Enggak.”
Satu jawaban yang sangat menjengkelkan bagi Maya. Namun, gadis itu berusaha bersabar dan kembali bertanya di mana Abimanyu saat ini. Barangkali saja Abimanyu dan Caca sedang berlibur dan hanya Abimanyu yang mengabari temannya.
“Gue nggak tahu.”
Tak acuh Aldo menjawab. Tubuhnya telah berbalik ingin menjauhi gadis aneh itu. Namun, ia merasakan tangannya dicekal dan membuat pandangan matanya berpindah ke sana.
“Eh, maaf-maaf, Kak. Nggak sengaja.” Maya tersenyum canggung.
“Kak Aldo bener-bener nggak tahu ke mana Kak Abi sekarang? Bisa hubungi Kak Abi nggak? Aku cuma pengen tahu kabar Caca aja, Kak.”
Seperti telah memutus urat malunya sendiri. Maya memohon pada lelaki yang tidak ia kenal ini hanya untuk mendapat kabar sahabatnya.
“Nggak bisa. Gue sibuk!” jawab Aldo dengan sarkastis. Tanpa berpamitan ia melangkah meninggalkan Maya.
“Hih! Sombong banget jadi orang,” gerutu Maya sembari mengentakkan kakinya.
Dari tempat duduknya Sofi hanya bisa menggelengkan kepala. Keberanian Maya untuk bertanya pada manusia yang dijuluki kulkas seribu pintu itu patut diacungi jempol. Di fakultas mereka tak ada yang berani menegur Aldo kecuali teman-teman futsalnya. Pria tampan yang memiliki saudara kembar itu begitu dingin dan tak banyak bicara.
“Mending kita ke kafe Caca aja, May. Siapa tahu dia di sana. Yah, minimal kita bisa tanya kondisinya gimana ke karyawan-karyawannya,” usul Sofi saat Maya masih sibuk menggerutu sikap Aldo tadi.
Maya mengangguk saja. Setelah kelas selesai mereka akan meluncur ke kafe Caca dan mencari tahu kabar perempuan itu di sana.
**
Hari hampir petang saat Abimanyu tiba di kediaman mertuanya. Setelah beberapa hari bekerja dari rumah untuk menemani istrinya, hari ini ia kembali ke rutinitas sebenarnya. Walaupun sebenarnya ia tidak bisa fokus pada pekerjaannya. Kepalanya terus terisi dengan keadaan sang istri yang tidak bisa dianggap baik.
Beberapa hari ini Caca hanya diam merenung. Ia seperti tak memiliki semangat hidup lagi. Bahkan Caca tak memiliki niat untuk pergi ke kampus. Akan tetapi kabar baiknya, Caca tidak lagi membahas mengenai kebenciannya pada janin yang ia kandung.
Beberapa kali Abimanyu meyakinkan Caca untuk tidak lagi mengatakan hal keji itu. Mau bagaimanapun juga janin itu tidak berdosa. Terlepas dari benih siapa janin itu terbentuk.
Samar-samar telinga Abimanyu menangkap suara Caca yang terdengar cukup berat. Isak tangisnya masih sangat kentara.
“Kenapa aku selalu buat kalian kecewa? Terutama Abi. Aku nggak bisa jaga kehormatan aku untuk dia sebagai suami aku dan sekarang aku justru hamil anak orang lain.”
“Ca, jangan seperti itu, Nak.” Suara berat Banyu berusaha menenangkan sang putri.
Banyu tak menyangka kehidupan putri sulungnya akan sangat sulit seperti ini. Ia hanya berharap Tuhan semakin menguatkan pundak Caca dan Abimanyu agar tetap bisa menyelesaikan masalah mereka saat ini.
“Abi pasti jijik sama aku, Yah.” Tangisan Caca teredam di bahu ayahnya. Bahu yang dulu selalu menumpu semua beban hidupnya, yang selalu menampung kesedihan dan air matanya.
“Abi nggak gitu, Ca. Ayah yakin dia akan nerima anak itu. Kita juga belum tahu pasti dia anak Abi atau Dean. Dan anak siapa pun itu dia hanya janin yang tak berdosa dan harus kita rawat dengan sepenuh hati,” nasihat Banyu seraya mengusap punggung putrinya.
Beberapa hari ini Banyu tak berani membahas ini dengan putrinya. Ia pasti tidak bisa menahan diri dan berakhir menangis di hadapan Caca. Tak boleh setetes pun air mata yang terlihat oleh Caca dan kedua anaknya yang lain. Hari ini sekuat hati Banyu kembali bertatap mata dengan Caca.
Ia ingin menguatkan hati sang putri dan menahannya untuk tetap berada jalan yang lurus. Banyu sempat mendengar Caca ingin menggugurkan kandungannya dan Banyu tidak akan membiarkan itu terjadi.
Sepasang ayah dan anak itu masih saling berpelukan, hingga tak sadar ada Abimanyu yang sudah pulang dari kantor dan tengah memperhatikan. Tak ingin menginterupsi istri dan ayah mertuanya, Abimanyu memilih pergi ke kamar dan bergegas mandi.
**
Pukul sembilan malam Caca berdiri sendiri di balkon kamar. Mata perempuan itu masih sembab akibat tak berhenti menangis sejak empat hari yang lalu. Pikirannya sudah tak keruan. Perempuan itu seperti hilang arah. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi. Sudah cukup ia mengecewakan Abimanyu yang begitu mencintainya. Rasanya Caca ingin menyerah, tetapi ia juga tidak akan sanggup untuk melakukannya.
Abimanyu adalah sandarannya selama ini. Jika pria itu pergi hidupnya sudah tidak akan ada artinya lagi. Kehadiran bayi yang sangat tidak diinginkan membuat hatinya terasa seperti layangan putus. Terombang-ambing ke sana ke mari tak tentu arah.
Tangan Caca terulur menyentuh permukaan perutnya. Ia dapat merasakan adanya kehidupan di dalam sana. Namun, Caca juga membencinya. Kenapa ia harus hadir dengan cara seperti ini. Jika saja bayi ini hadir dengan cara yang benar, mungkin Caca akan menyambutnya dengan sukacita.
Pipi Caca kembali digenangi air mata. Ia merasa bersalah dengan pemikirannya yang baru saja terlintas. Benar kata ayah dan suaminya. Bayi ini tidak bersalah sama sekali. Ia tidak boleh membencinya. Jika ia membenci bayi ini artinya ia juga membenci Tuhan yang telah menciptakannya.
Rasa hangat tiba-tiba menyergap. Selembar selimut tebal bertengger di bahunya. Di susul dengan lengan besar yang melingkar di pinggangnya. Caca semakin tidak bisa menahan laju air matanya. Lagi-lagi Abimanyu yang memberikan dukungan besar terhadapnya untuk tetap hidup.
“Aku sayang sama kamu, Ca. Aku nggak peduli dengan keadaan kamu sekarang. Yang aku inginkan kita tetap bersama.”
Bisikan lembut itu mengalun pelan. Merasuki jiwa Caca yang semakin histeris.
“Bayi ini.” Abimanyu meletakkan tangannya di atas perut Caca dan mengusapnya pelan.
“Mungkin adalah bentuk isyarat Tuhan bahwa kita sudah siap untuk merawatnya. Bukankah dulu kita sering berpikir tidak akan siap memiliki anak sebelum kamu lulus kuliah? Mungkin kita tidak boleh berkata seperti itu. Nyatanya Tuhan yang menguatkan kita untuk menjalani kerasnya kehidupan ini.”
“Bi”
“Ayo kita rawat dia dengan penuh cinta. Kita berikan kehidupan yang layak untuk dia. Lupakan siapa ayahnya yang sebenarnya. Aku akan menjadi ayahnya mulai dari sekarang hingga maut menjemputku suatu saat nanti.”
Untuk pertama kalinya setelah beberapa waktu termenung sendiri, Caca mau memeluk Abimanyu terlebih dahulu. Perempuan itu membiarkan selimutnya terjatuh. Tak peduli dengan suhu dingin yang menyerangnya malam itu, karena nyatanya dekapan Abimanyu lebih hangat dari bara api sekalipun.
“Makasih, Bi. Makasih udah selalu manjadi penguat aku. Makasih udah selalu nerima aku apa adanya.” Lirih Caca berucap di balik leher suaminya.
Masih dengan isak tangis yang belum berhenti Caca kembali berucap,
“Maafin aku yang selalu kecewain kamu, Bi. Maaf.”
“Jangan pernah nyalahin diri kamu dan bayi ini Caca sayang. Dia nggak salah, nggak ada yang salah di antara kalian berdua.”
Caca mengangguk pelan tanpa melepaskan dekapannya pada sang suami. Setelah beberapa hari memikirkan semua bujukan Abimanyu dan keluarganya, Caca memutuskan untuk merawat bayi itu hingga lahir. Ia tidak peduli siapa ayah bayi ini. Ia yakin bisa melewati semua ini dengan mudah. Asal Abimanyu tetap di sampingnya.