
Hari ini Abimanyu benar-benar membawa istrinya bersenang-senang. Setelah kenyang menyantap bakso, mereka lanjut ke tempat lain. Abimanyu mengajak Caca menikmati matahari tenggelam di bibir pantai. Mereka berjalan-jalan menyusuri pantai, bermain pasir, dan bermain air sampai pakaian keduanya basah.
Tidak ada persiapan apa pun sebelumnya membuat mereka harus membeli baju baru. Mereka juga tidak bisa jika harus memakai pakaian basah itu sampai tiba di rumah. Bisa-bisa masuk angin keesokan harinya.
Suara pengering rambut terdengar nyaring. Caca mengarahkan benda itu ke ujung rambutnya terlebih dahulu. Banyak air yang menetes dari rambut itu membuat proses pengeringan rambut terjadi cukup lama. Caca masih betah menatap cermin di depannya saat Abimanyu datang membawa dua gelas susu hangat di tangannya.
“Kamu udah mandi belum?” tanya Caca masih dengan mengeringkan rambutnya.
“Males,” jawab Abimanyu datar.
Caca melirik sinis suaminya itu. Salah satu sifat buruk Abimanyu adalah malas mandi. Butuh banyak perjuangan hingga Abimanyu masuk ke dalam kamar mandinya setiap hari.
“Nanti kalau kamu sakit gimana coba?” sungut Caca.
“Ya, makanya aku buat susu biar nggak sakit,” kilah Abimanyu tetap tak mau membersihkan diri.
“Alesan!” sungut Caca.
Gadis itu mematikan pengering rambutnya. Memasukkannya ke dalam laci meja rias, kemudian beranjak dari duduknya. Caca melangkah menuju tempat tidur. Ia pun meminum susu yang suaminya buatkan untuk dirinya. Setelah tandas, Caca pun membaringkan diri tanpa mengajak suaminya berbicara.
Melihat istrinya yang tidak memandangnya sama sekali membuat Abimanyu tahu gadis itu sedang marah. Abimanyu menghela napas panjang, kemudian menyusul sang istri berbaring di belakangnya.
“Sayang, kamu marah?” tanya Abimanyu seraya memeluk Caca dari belakang.
Tidak ada tanggapan dari Caca, tetapi Abimanyu tahu gadis itu belum tidur. Abimanyu melesakkan wajahnya di lekukan leher Caca. Ia menghirup aroma mawar yang berasal dari sabun mandi miliknya.
Tangan Abimanyu mengusap permukaan perut Caca. Kepalanya melonggok untuk melihat istrinya.
“Sayang, jangan marah gitu dong,” ucap Abimanyu memohon.
“Masa gitu aja marah, sih,” keluh Abimanyu lagi. Ia kembali memosisikan wajahnya di punggung sang istri.
Sama sekali tidak ada jawaban yang keluar dari bibir Caca. Sepertinya istri Abimanyu itu benar-benar marah dan sedang tidak ingin diganggu.
Abimanyu tetap mempertahankan posisinya yang memeluk Caca dari belakang. Ia tidak lagi bertanya pada Caca sampai kemudian mereka tertidur secara bersamaan.
Pagi hari tiba. Abimanyu sudah tidak lagi mendapati Caca berada di dekapannya. Tanpa bertanya pun Abimanyu tahu pasti di mana istrinya berada.
Setelah melihat pukul berapa saat ini, Abimanyu pergi ke kamar mandi. Ia segera membersihkan diri dan berganti pakaian untuk kemudian berangkat menimba ilmu. Abimanyu memakai jam tangannya di depan cermin. Ia memandangi rambutnya yang kurang rapi. Lalu, mengambil sisir untuk kemudian merapikan rambutnya.
Beberapa saat kemudian pintu kamar Abimanyu terbuka. Caca yang masih mengenakan setelan santai tadi malam masuk ke dalam kamarnya. Gadis itu hanya memandang Abimanyu sekilas tanpa membuka suara. Gadis itu kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Abimanyu tahu, istrinya pasti masih marah hanya karena ia tidak mandi kemarin.
Terkadang mereka memang bertengkar hanya karena masalah sepele seperti ini. Mereka hanya manusia biasa yang sering membesar-besarkan masalah kecil. Layaknya rumah tangga pada umumnya. Mereka juga kerap adu mulut hanya karena masalah kecil dan berakhir dengan saling diam.
Abimanyu tidak ingin terlalu ambil pusing. Ia memilih untuk diam saja terlebih dahulu. Ia yakin nanti Caca pasti akan kembali bersikap seperti semula.
**
Mata kuliah hari ini membuat Abimanyu didera rasa pusing. Pria muda itu mengajak sahabat karibnya ke kantin guna mengisi daya tubuhnya. Rasanya tenaga Abimanyu terkuras habis hanya karena dua mata kuliah yang ia dapat hari ini.
“Gila, bisa-bisanya itu dosen ngasih kita kuis dadakan. Mana gue nggak belajar lagi akhir-akhir ini,” keluh Abimanyu seraya memijit pelipisnya.
“Tumben banget lo nggak bisa ngerjain kuis. Biasanya lo paling semangat,” tutur Aldo heran.
Pemuda itu menggeser jus mangga pesanan Abimanyu dan mengambil kopi pesanannya. Ia menyesap kopinya yang masih mengepulkan asap sembari menunggu jawaban Abimanyu.
“Lo tahu kan gue baru aja dipindah divisi sama ayah? Semua itu bikin kepala gue pusing. Kerjaan gue jadi numpuk banget dan gue jadi nggak sempet baca-baca materi.”
Abimanyu mengaduk jusnya dengan sedotan. Ia menopangkan pipinya pada tangannya yang bertumpu di meja.
“Lo kok bisa sih tetep konsen sama kuliah padahal lo juga bantu bokap lo di perusahaan?” tanya Abimanyu penasaran.
Sudah beberapa hari ini Abimanyu memendam pertanyaan tersebut. Karena terlalu sibuk, Abimanyu jarang bertemu atau menghubungi Aldo untuk mendapatkan tips agar bisa tetap konsentrasi dalam belajar meskipun disambi bekerja.
“Mungkin karena lo belum terbiasa aja, Bi. Gue dulu juga kayak lo, tapi nggak keliatan aja.”
Aldo kemudian memberi saran pada Abimanyu agar tidak tertekan dengan pekerjaan dan juga tugas kuliahnya. Ia juga memberi pesan agar Abimanyu tidak membawa pekerjaan kantor ke rumah agar Abimanyu tetap bisa belajar atau sekadar mengerjakan tugas saat malam hari.
Bagi Aldo urusan kantor hanya boleh dipikirkan saat di kantor saja. Rumah dan kampus merupakan tempatnya belajar masalah perkuliahan saja.
“Lo kalau malem jangan suka begadang yang nggak penting. Begadang itu boleh asal buat ngerjain tugas,” tutur Aldo menasihati.
“Lo suka nyelesain tugas kantor di rumah?” tanya Aldo kemudian.
Abimanyu menggelengkan kepalanya.
Kening Aldo mengernyit. “Kalau lo nggak pernah bawa kerjaan ke rumah, terus kenapa lo sekarang sering telat ngumpulin tugas? Lo ngapain aja di rumah?” tanyanya heran.
Abimanyu berdecak. Ia tampak salah tingkah dengan pertanyaan Aldo.
“Lo, kan tahu gue udah punya istri,” tutur Abimanyu mengingatkan.
Alis Aldo terangkat sebelah. Masih tak mengerti maksud temannya ini.
“Lo tahu nggak sih kalau suami istri itu ngapain aja waktu malem?” tanya Abimanyu kesal. Tidak mungkin ia secara terang-terangan memberitahu Aldo dengan kegiatan malamnya bersama sang istri.
Aldo mengerjapkan mata sebentar. Masih berusaha mencerna maksud sahabatnya. Saat sudah sadar pemuda itu mendengkus kesal. Ia harus menggelengkan kepalanya guna mengenyahkan bayangan Abimanyu bersama Caca yang tiba-tiba melintas di kepalanya.
“Gila, lo!” umpat Aldo kesal.
“Nggak gila kali. Gue normal,” bantah Abimanyu seraya tertawa kecil.
Tak ingin lagi melanjutkan pembicaraan yang nanti akan membuat Aldo jadi ingin menikah, mereka pun menyantap makanan mereka yang baru saja tiba. Tidak ada lagi percakapan di antara kedua orang itu. Hanya suara denting sendok yang beradu dengan mangkuk yang mendominasi di antara keduanya.
Hingga beberapa saat kemudian seseorang datang dan duduk di depan Abimanyu tanpa permisi.
“Ngapain, lo?” ketus Abimanyu menatap gadis itu.
“Aku mau bicara sama Kak Abi.”
“Lo tu nggak tahu malu atau gimana? Bukannya gue udah pernah bilang untuk jangan temuin gue lagi. Gue males liat muka, lo.”
Abimanyu memandang malas pada putri sahabat ayah dan ibunya. Ia menatap gadis itu dengan sangat datar. Tatapan hangat yang dulu bisa membuat luluh Crystal kini berubah sangat dingin.
“Kak Abi berubah, ya, setelah nikah sama Caca. Pasti gara-gara dia Kak Abi jadi gini,” tutur Crystal membuat Abimanyu menggebrak mejanya.
“Jaga omongan lo, Crystal atau gue bakal–”
“Bakal apa?” tukas Crystal seolah tak merasa takut sama sekali.