
“Ini cuma perasaan gue atau lo emang lagi marahan sih sama Kak Abi?”
Maya menatap intens Caca yang tengah membereskan buku-bukunya di atas meja. Tadi pagi Maya melihat kedatangan sepasang suami-istri itu. Mereka berjalan bersisian, tetapi tidak menempel seperti biasa. Keduanya bahkan tidak mengucapkan sepatah kata pun selama melewati koridor menuju kelas mereka.
“Emang kenapa kalau gue marahan sama Abi? Masalah buat, lo?” tanya Caca ketus.
Maya dan Sofi mendengkus.
“Kalau lo marahan sama Kak Abi bukan masalah kita wahai yang mulia Caca, tapi bakal jadi masalah buat lo sendiri,” jawab Maya tak kalah ketus.
“Lo lupa kalau Kak Abi itu primadona di sini? Banyak yang suka sama dia. Lo nggak takut suami lo direbutin para cewek-cewek di sini?” timpal Sofi diangguki oleh Maya.
Caca berdecak. Kenapa ia baru ingat kalau suaminya itu incaran para wanita di kampusnya, terutama di fakultas mereka.
“Gue itu sebenarnya nggak lagi marah. Gue cuma lagi diemin dia aja,” balas Caca jujur.
“Lah, aneh benget lo. Ngapain suami seganteng itu lo diemin? Sayang banget punya suami ganteng dianggurin.”
Maya dan Sofi menggelengkan kepala tak percaya dengan apa yang Caca lakukan. Caca memang pintar dalam pelajaran, tetapi sepertinya cukup bodoh untuk masalah seperti ini. Maklum saja, usia Caca belum menginjak dua puluh tahun saat ini. Kedewasaan Caca masih belum terlalu matang.
“Ati-ati, Ca. Entar ada yang rebut suami lo kalau lo sering diemin dia. Cowok itu mudah bosen sama cewek yang suka ngambekan,” tutur Sofi menakut-nakuti. Kedua alisnya naik turun menatap Maya.
“Betul, tuh. Ati-ati aja, entar gue rebut suami lo baru tahu rasa!” imbuh Maya tak kalah menakuti.
Caca melebarkan mata menatap kedua temannya itu. Bisa-bisanya mereka mengancam Caca seperti itu. Dan apa tadi? Maya akan merebut Abimanyunya? Oh, tidak akan pernah Caca biarkan itu terjadi.
“Lo berdua nggak usah ngaco deh! Apalagi lo, May! Jangan pernah mikir buat ngrebut Abi dari gue. Cinta Abi itu cuma buat gue aja, nggak akan bisa dibagi buat lo ataupun cewek lain,” balas Caca angkuh. Gadis itu menaikkan dagunya seolah tak takut dengan ancaman Maya.
“Ciee, bucin amat, Neng. Takut banget suaminya direbut orang.”
Sofi mencolek dagu Caca seraya mengulum senyumnya.
“Hishh!”
Caca menepis tangan Sofi dengan kasar. Decakan sebal terdengar dari gadis itu saat melenggang pergi meninggalkan Maya dan Sofi yang asyik menertawakannya.
Langkah Caca sangat lebar menuruni tangga. Gadis itu akan mencari suaminya yang pasti sedang berada di kantin. Tiba-tiba saja bayangan para gadis pengagum Abimanyu yang tengah menggoda suaminya melintas begitu saja. Caca semakin kesal dan semakin memperlebar langkah kakinya.
Sejak semalam Caca memang tidak marah dengan suaminya. Ia hanya tidak suka jika Abimanyu tidak menuruti perintahnya. Bukankah semua itu untuk Abimanyu juga?. Caca hanya ingin memberi Abimanyu pelajaran dengan mendiami pemuda itu. Namun, sepertinya bukan Abimanyu yang tidak tahan dengan sikap saling diam mereka, tetapi justru Caca yang tiba-tiba khawatir.
Semua itu gara-gara Maya dan Sofi yang sejak tadi memprovokasinya. Caca jadi takut Abimanyu didekati oleh pengagum-pengagumnya. Caca tahu, ada banyak sekali pengagum Abimanyu di kampus ini. Bahkan, hampir setiap hari ada pesan masuk dari para pengagum Abimanyu melalui aplikasi instagram milik Abimanyu.
Ketakutan Caca semakin menjadi. Emosinya semakin meninggi. Apalagi saat ini Caca menangkap Crystal tengah berbicara dengan Abimanyu di kantin fakultasnya.
Caca pun mendekat. Namun, sebelum itu Caca menetralkan amarahnya. Menghadapi Crystal tidak boleh dengan amarah. Caca harus menunjukkan kepemilikan Abimanyu terhadapnya di depan Crystal atau siapa pun yang ada di sana.
“Jaga omongan lo, Crystal atau gue bakal–”
“Bakal apa?” tukas Crystal seolah tak merasa takut sama sekali.
“Gue nggak segan mukul mulut busuk lo itu dengan tangan gue. Gue nggak tak–”
“Sayang,” panggil Caca dengan nada manja. Gadis itu menggelayuti lengan Abimanyu yang tengah menunjuk wajah Crystal.
“Kamu kasar banget sama Crystal,” ucap Caca seolah sedang membela gadis itu.
“Kamu itu cowok. Enggak boleh kasar sama cewek, Sayang,” imbuh Caca memasang wajah imut.
Emosi Abimanyu langsung lenyap begitu saja. Melihat tingkah Caca saat ini membuatnya sedikit keheranan. Bukannya tadi pagi Caca masih marah? Lantas kenapa sekarang sudah semanja ini?.
“Sayang, kok malah bengong sih,” tegur Caca seraya memukul dada Abimanyu dengan pelan.
Abimanyu menggenggam tangan kecil Caca. Kemudian kembali menatap Crystal juga sedang menatapnya.
“Lo lihat kan gimana istri gue? Dia itu baik di mata gue. Gue nggak peduli sama semua kata-kata provokasi lo, Crystal!” tegas Abimanyu dengan tatapan tajam.
Caca tersenyum miring. “Crystal, lo inget kan kalau Abi ini udah punya istri? Kayaknya mending lo udahan aja deh berharap ke suami gue. Abi nggak butuh istri ke dua. Jadi, lo udah nggak punya tempat di hati Abi,” ucap Caca dengan nada sangat angkuh.
“Di luar sana masih banyak yang suka sama lo, Crys. Ada Dean yang bahkan siap ngorbanin diri buat lo. So, jangan lagi lo berharap sama Abi gue. Dia nggak akan pernah lirik lo, karena udah ada gue di hati Abi,” imbuh Caca tegas.
Caca benar-benar ingin menyadarkan Crystal bahwa Abimanyu tidak pernah tertarik padanya. Caca tidak mau Crystal mengganggu kehidupan mereka lagi. Caca sudah bosan dengan semua yang terjadi saat ini.
Crystal terdiam di tempatnya. Perempuan itu sama sekali tidak merespons kalimat Caca. Sebenarnya ia cukup malu saat ini, karena beberapa mahasiswa yang ada di sana tengah menatapnya.
“Crystal, sebaiknya lo lupain Abi. Lo lihatkan mereka itu udah nikah dan lo udah nggak bisa lagi berharap sama laki-laki yang udah beristri,” tutur Aldo kemudian.
Laki-laki yang sejak tadi hanya mengawasi mereka bertiga itu akhirnya buka suara. Pemuda itu menyentuh bahu Crystal yang duduk di sampingnya. Ia tak sungkan mengusap bahu Crystal dengan tangan lembutnya.
“Lo itu cantik, Crys. Banyak cowok yang pasti suka sama, lo. Lo harus bisa hapus nama Abi dari hati lo. Perasaan lo ke Abi itu bukan cinta, tapi obsesi. Sadar, Crys! Lo bisa dapet yang lebih baik dari Abi.”
Crystal memutar kepalanya menatap Aldo di sampingnya. Crystal seakan terhipnotis dengan ucapan Aldo. Seseorang yang bisa dikatakan sangat pendiam itu angkat suara? Entah kenapa Crystal jadi memikirkan perkataan Aldo padanya.
Benar. Sejak dulu ia hanya terobsesi dengan Abimanyu. Pemuda itu selalu baik padanya, tetapi tidak pernah mengungkapkan perasaannya. Sehingga Crystal salah mengartikan segala sikap baik dan perhatian Abimanyu padanya.
Crystal mengejar Abimanyu hanya karena penasaran bagaimana perasaan pemuda itu padanya. Ia juga hanya ingin menjadi kekasih seseorang yang sangat populer di kampusnya. Ditambah dengan dendamnya pada Caca dan saat melihat Caca terus saja menempel pada Abimanyu membuat Crystal semakin ingin membuat Abimanyu menjadi miliknya.
Namun, semua itu sepertinya memang harus ia pupuskan. Senyum dan tatapan hangat Abimanyu telah menghilang untuknya. Sudah berganti dengan tatapan dingin dan ekspresi datar ketika mereka bertemu.
Crystal tak ingin menanggung malu dengan apa yang baru saja ia sadari. Ia pun beranjak dari sana tanpa mengatakan sepatah kata pun. Meninggalkan ketiga orang itu dengan raut penasaran yang cukup kentara.